Tuesday, October 9, 2007

Mengungkap Penganut Al Maw'ud (2-Habis)

Rabu, 10 Oktober 2007
Nama Baiat Anggota Berbau Islam dan Nasrani

TERUNGKAPNYA penganut Al Maw'ud menjadi pelajaran sekaligus peringatan bagi para orang tua. Sebab tidak menutup kemungkinan, anak-anak mereka yang masih duduk bangku sekolah lanjutan (setingkat SMA) menjadi ''korban'' aliran tersebut.

Bila melihat kejadian itu, untuk sementara ini diketahui para pengikut Al Maw'ud adalah para remaja yang masih duduk di bangku sekolah lanjutan. Kondisi emosi mereka yang labil, pengetahuan agama yang dangkal, dan keingintahuan yang besar, rupanya sangat dimengerti oleh para penyebar aliran Al Qiyadah Al Islamiyah itu. Yang menarik, ajaran itu bisa begitu kuat menancap dalam pikiran para penganutnya. Bahkan, mereka memiliki etos dakwah Al Maw'ud yang pantang menyerah membela kesesatan.

Oleh karena itu, tak ada salahnya bila setiap orang tua harus selalu mendampingi dan mengawasi anak-anak mereka. Tak berlebihan bila orang tua hendaknya senantiasa memperhatikan amalan ibadah anak-anaknya, sesuai syariat atau tidak.

Adapun modus yang dilakukan oleh penyebar aliran itu diduga menggunakan tahapan yang cukup sistematis. Sebagaimana dijelaskan Zaenal Mustofa, seorang pelajar dan penganut aliran itu, sistem perekrutan yang digunakan ''satu lawan satu''.

Artinya, satu ustad menggodok satu calon penganut. Dengan cara satu lawan satu, penanaman aqidah Al Maw'ud sangat efektif. Di sebuah ruang tersendiri, sang ustad mengubah keyakinan lama calon penganut baru. ''Pengajian yang kami ikuti di sebuah rumah di Kawasan Genuk Karanglo dan di Jl Sawi. Setiap pengajian tidak banyak yang ikut, hanya saya dengan ustad,'' kata Zaenal.

Dia mengaku tertarik dengan ajaran itu karena dianggapnya menawarkan hal baru dalam pemahaman ajaran Islam. Ajaran itu dirasakan lebih pas karena menjelaskan esensi sebuah ibadah meninggalkan kewajiban fisik. Begitu keyakinan itu menancap, dia tidak lagi terbebani kewajiban syar'i dalam simbol-simbol ibadah, seperti shalat, puasa, zakat dan seterusnya.

Ilmunya Dangkal

Anehnya, mereka mengaku tak mengetahui siapa nama guru dan tempat tinggalnya. Adapun materi yang menjadi bahan kajian adalah Alquran terjemahan dan Injil. Pada umumnya mereka memiliki pemahaman ilmu alat (bahasa Arab), ilmu fiqh, dan ilmu syariat yang tidak memadai.

Untuk memahami Alquran saja mereka menggunakan terjemahan Alquran. Mereka tanpa susah-susah memahami Alquran dengan menguasai ilmu nahwu, sharaf (tata bahasa Arab) atau ilmu balagah (penyampaian Alquran). Setiap dialog yang mereka lakukan, berdasarkan pokoke. Kalau tidak mampu menjawab pertanyaan, mereka mengalihkan perhatian ke bab lain yang sama sekali tidak berhubungan.

Setiap anggota bergerilya mencari satu orang calon penganut. Biasanya, mereka mengambil sasaran teman-teman terdekat di sekolah mereka. Seperti Arif Kurniawan alias David Hasan mengajak Masrinah, yang teman satu kelas di sebuah SMKN di kawasan Jl Pandanaran Semarang.

Lalu Masrinah mengajak Zaenal Mustofa, yang tinggal satu asrama di Sayung. Sedangkan Zaenal mengajak beberapa orang temannya sekolahnya di sebuah SMA swasta di Demak. Bahkan, Masrinah juga berhasil menggaet seorang teman perempuannya yang tinggal satu asrama lagi, dan seterusnya.

Selanjutnya, mereka menyerahkan kepada ustadnya untuk menggodok teman-temannya secara face to face. Sebagaimana ajaran organisasi Islam, ajaran yang diutamakan adalah soal keimanan. Bedanya, aqidah yang dikembangkan aqidah tauhid dan Al Masih Al Maw'ud.

Selanjutnya mereka memasuki tetapi pembangkitan girah (semangat beragama). Saat itulah mulai terjadi distorsi pemahaman tentang kelompok-kelompok beragama. Mereka dicekoki keyakinan bahwa kelompoknya yang paling benar.

Seorang penganut sekaligus pendakwah, Masrinah menganggap orang yang tidak mengikuti ajarannya disamakan dengan sampah. Alasannya, orang-orang yang tidak sepaham dengannya dianggap tidak mengamalkan Alquran.

Begitu keimanan mereka mapan, maka mereka memasuki tahap berikutnya yakni baiat. Pembaiatan dilakukan di tempat yang dirahasiakan. Setiap anggota yang telah dibaiat diberi nama baru.

Seperti yang dialami Masrinah, memiliki nama baiat berkesan sinkrestime Islam dan Nasrani, Fransisca Nurul atau, Arif Kurniawan memiliki nama baiat David Hasan. (Karyadi-60)

3 comments:

Raden Kasep said...

Al-Masih Mawud (The promised Messiah)

nuri said...

juru selamat telah datang.. rosul yang dijanjikan Alloh telah hadir
Al masih Al mawud


sambutlah dengan penuh suka cita

nuri said...

juru selamat telah datang.... rosul yang dijanjikan Allloh telah hadir..
Al Masih al mawud....

sambutlah dengan penuh suka cita



Nuri