Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Sunday, May 31, 2009

PUISI " CINTA TANAH AIR "

Alam Mengadu

Sayang… sayang… sayang…
Keping uang menina-bobokan Tuan
Kealpaan menghanyutkan penumpang
Ketulian membutakan mata-hati Tuan
Tak hiraukan kanan-kiri kehancuran

Hijauku jadi abu
Tanahku gersang
Air bah pun menyerang
Menderai tangis alam

Merkuri ikut merajam lautku
Istana biruku
Jadi kelabu
Terlumuri limbah nistamu

Tuan…
Tak cukup kau sematkan
Racun itu dalam kehidupanku
Tapi juga merasuk, menggerogoti
Otak anak negeriku
Jadi pilu, dungu, sendu

Tak merindukah kau…?!!
Bersitatap dengan keelokan nusantara kala itu
Jernih, tersenyum indah
Bak mutiara, yaqut dan marjan
Berseri-seri seperti mentari pagi
Menentramkan hati
Tuan…
Rangkul aku, peluk aku
Rawat aku, sayangi aku

Ar-Rahmaan*…
Jerit pohonku mengadu
Alun-isak bayuku mendayu merayu
Pun Ayat-Ayat Kauniyah-Mu
Tunduk di hadap-Mu
Atas seruan Rabbul ‘Alamin ku
Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadz dzibaan*…
Tundukkan pula tangan, hati hamba-hamba-Mu
Dari durja
Di atas nestapa alamku.

*Ayat-ayat dalam surat Ar-Rahman

Written by: Izzah Anwar
Batu,
On Sunday, April 13, 2008
At 18:20
#

By sulis on Apr 16, 2008 | Reply

Hmm..boleh jug,,ntar mau ikutan…
#

By asep on Apr 16, 2008 | Reply

gemetar tangan ini meraihnya
gemetar hati ini merasakannya
aku dijajah…
dijajah oleh pemikiranku yang tak bisa membangun negeri ini…
aku dijajah..
dijajah oleh anggapanku yang tak mungkin membanggakan negeri ini
tanah kupijak..
hatiku terinjak
laut kutatap
tangis terisak
inikah negeriku yang gagah?
inikah negeriku yang megah?
ya!
aku mengerti
aku memang tak punya prestasi yang bisa membuat dadaku busung didepan dunia internasional
tapi aku punya cinta yang bisa mengiringi negeriku dengan alunan surga
yap IT’S OUR LOST PARADISE
IT”S OUR GOD’S ISLANDS,,,our land in our heart,,,with our love…
#

By Bibidapi on Apr 18, 2008 | Reply

Baitii Jannatii

Biarkan aku bernafas
Di sini
Bersama angin-angin yang memenuhi langit
Dan samudera yang siap mengalir
Hari itu
Adalah saat pertama kujejakkan kaki
Maka kutetapkan untuk berdiri di sini
Hingga akhir, hingga entah
Di tempat darah para durjana pernah singgah
Tempat raja-raja membangun singgasana
Tempat rempah-rempah bernaung dalam kerak bumi

Negeriku adalah surga dunia
Kucari tempat sempurna ke pelosok negeri
Dimana tak ada korupsi,
Tak ada kejahatan,
Tak ada kelalaian,
Tak ada dusta,
Tak ada kemunafikan,
Namun entah
Ada sesuatu di hati ini berbisik,
Tanah airku adalah surgaku
#

By nani on Apr 18, 2008 | Reply

Negeriku

Di negeri ini
tangisan pertamaku menggema
disambut seutas senyum dan belaian lembut
ibu pertiwi

Aku menjelma jadi bocah ceria
dari asupan gemah ripah bumi pertiwi
masih kurasakan hangat dekapannya
dan segarnya hembusan angin
disela-sela hijau dedaunan

aliran sungai menebar aroma rempah-rempah
kebanggan negeri
dan nyanyian burung-burung di pagi hari
pertanda damainya jiwa menyongsong hari

kini………..
air mata membanjiri lorong-lorong hati
menyaksikan ibu pertiwi tak lagi tersenyum
belantara tak lagi hijau
dan sungai-sungai hitam pekat
menjadi saksi pancaroba negeri ini

Aku yang tertegun……….
bukan saatnya mencari kambing hitam
tapi, bangkit bersama
kembalikan negeriku yang nyaman
#

By enno' purwa on Apr 21, 2008 | Reply

Pertiwiku

kelam abu
menerpa semestaku
raut senja tak elakkan
senyap membisu
ketika pertiwiku tidur
nyanyian tangis mengiringi
do’a pilu terlontar
ahh ………
kandung jiwa telahir darah
kandung raga terlahir noda
bunda, jangan kau pergi
bangunlah bersama sajak harapku
bangkitlah bersama rinduku
nafasku, rohku untukmu
pangkulah aku
tuk indahnya pertiwiku
#

By shanty on Apr 22, 2008 | Reply

Tanya kami padamu
Karya : Shanty

apa yang kau beri selain utang di negeri asing
apa yang kau wariskan selain tingkat ekonomi yang bikin pusing
apa yang kau ceritakan saat ini hanyalah koalisi
konglomerasi, perbudakan politik yang buat rakyat mati berdiri

negeriku, disini dulu ku tumpahkan darahku
disini dulu kami bersatu
disini dulu kami saling membahu
melupakan perbedaan ras, agama dan suku

negeriku, mengapa wajahmu bermuram durja
kenapa tanahmu tak lagi indah
kenapa bumimu kini porak poranda
kenapa manusiamu hanya berebut kekuasaan dan harta

di setiap sudut desa
di setiap sudut kota
masih ada anak-anakmu yang berjuang
berpikir dan mencoba bangkit dari kemelaratan

kau tahu kami disini masih cinta
kami disini masih suka
negeriku satu bernama Indonesia
bhineka ika tunggal ika
#

By amanatia on Apr 23, 2008 | Reply

Judul : Dear Ibu pertiwi

Maafkan Kami…, Ibu

Keluh lidah kami, Ibu

Hanya untuk mengucapkan sepenggal kalimat tulus

Permintaan maaf pun

Kami sungguh kesusahan

Pedih mata ini…, Ibu

Hingga mata kami tak sanggup mengerjap

Kami telah lupa bagaimana cara menangis

Sungguh, dimana letak telaga air mata?

Kami tak pernah tahu

Apa yang harus kami perbuat…, Ibu?

Untuk dapat merobek daftar panjang dosa kami

Untuk mengganti segala kesadisan kami

Yang tanpa segan mencoretkan warna nista

Kepada realita bangsa

Kami khilaf…, Ibu

Kami telah menghancurkan peradaban!

Kami mulai porak-porandakan tanpa iba!

Kepada suatu dinasti Negara

Yang masih tertatih-tatih belajar berjalan

Seperti bayi, Indonesia

Ibu Pertiwi…

Kami mohon, janganlah engkau menangis darah

Mungkin hanya inilah wujud pengakuan kami

Generasi tak kenal balas budi

Cacilah kami… Ibu

Karena kami pantas untuk dicaci
#

By Siti Nur Hidayati, SH on Apr 23, 2008 | Reply

RAUT-RAUT WAJAH CINTA
(Oleh : Siti Nur Hidayati)

Di sini…….. pada sebuah cermin tak berbingkai
Sungguh tempatnya mengabarkan berita
Dari raut-raut wajah berbaur makna
Bercerita tentang pergulatan antara hidup dan mati

Lihatlah…….. wahai siapapun yang sudi saksikan
Ada raut-raut wajah cinta yang pucat bergurat letih
Sorot mata nanap menerawang kosong
Menatapi kejauhan yang tak bertepi

Itu….. wajah cinta si bocah pengemis?
Entah karena suasana apa……………..
Ia terdampar merayap dilembah kemiskinan
Terbelit berbagai kesulitan yang tak bertepi
Dan kini letih menunggu uluran tangan sang dermawan

Itu….. wajah cinta si pemuda penganggur?
Entah karena suasana apa……………..
Ia terapung dihempas sang mujur
Terjerembab diantara kolusi dan nepotisme yang tak bertepi
Dan kini letih menggapai nasib baik

Itu….. wajah cinta si bocah narkoba?
Entah karena suasana apa……………..
Ia tenggelam dalam buaian impian yang melupakan
Lari dari carut marut hidupnya yang tak bertepi
Dan kini letih mencari tempat berpijak

Itu….. wajah cinta si bocah pemabok pencuri?
Entah karena suasana apa……………..
Ia terjebak dalam lingkaran setan penyamun
Terdampar ditandusan kasih yang tak bertepi
Dan kini letih menggapai nasib baik

Atau Itu….. wajah cinta sang koruptor?
Entah karena suasana apa……………..
Ia bergelimang dalam perbuatan yang tak punya malu
Terbuai dalam kesenangan diatas penderitaan kaum miskin
Dan kini letih menghadapi persidangan dunia

Lihatlah…….. wahai siapapun yang sudi saksikan
Ada raut-raut wajah cinta yang pucat bergurat letih
Sorot mata nanap menerawang kosong
Menatapi kejauhan yang tak bertepi

Melihat kepedihan ada diantero negeri
Tapi…… semua hendak kabarkan cinta
Meski entah karena apa …………………..
Ini cinta! Untuk Indonesiaku……..
Purbalingga 5 April 2008

CAHAYA CAHAYA
(Oleh : Siti Nur Hidayati)

Kau hadir dikedalamanku
Ketika gelap menyergap relungku
Pengap tak tahu kemanapun arah
Serasa ada sembilu menghujam
Mengiris perih ke relung rasa
Mengapa…………………………. ?
Tak kuasa aku menolak
Tak sampai aku meraih

Kulihat nyalaMu abadi di singgasana tertinggi
Berpijar hingga tembus di kegelapan penjuruku
Aku terpana…………………………
Ku lihat jelas batin yang keruh
Di situ ada buih-buih kotor!
Mengalir keluar dari hati cela

Itu buih takabur ………….!
Itu buih dusta ……………..!
Itu buih ria …………………!
Itu buih dengki ……………!
Itu buih dendam ………….!

Buih-buih itu terus berurai
Nafasku telah tercekat sesak
Penyakit hati itu meradang
Aku tak berdaya
Terkapar di titik terendah

Lemah ………….!
Papa ……………..!
Hina ……………..!

Jangan bicara salah
Jangan bicara dosa
Biarkan hening sunyi
Biarkan sendiri

Di situ ada taman kedamaian
Tempat aku mencari aku
Dalam pergulatan tanya berjawab
Aku muncul hilang berganti aku
Berjalan seiring denyut
Detak-detak semakin cepat
Hingga letih ronggaku k o s o n g
Aku sebut A S M A M U

A l l a h u A k b a r ………….. !
Bergama di seluruh penjuru ronggaku

A l l a h u A k b a r ………….. !
Berkumandang mengisi ruangku

A l l a h u A k b a r ………….. !
Cahayua itu terang benderang

A l l a h u A k b a r ………….. !
Cahaya itulah Cahaya

A l l a h u A k b a r ………….. !
Cahaya segala cahaya
Purbalingga 5 April 2008
#

By meiy on Apr 24, 2008 | Reply

Takkan kutukar cinta padamu, bunda pertiwi

Satu;

Hari ini

catatan cinta kueja tadi malam, bunda
ketika terdampar pada resah
tanahku
seolah jerit bumi berteriak
minta tolong pada penghuninya
yang tak peduli
tetap tergesa-gesa
kesana kemari memperkosa dirimu yang semakin tua
meratakan hutan jadi tanah kering
menuangkan banjir, menyisakan kerontang bergantian
asap kebakaran racun timbal tak cukup mencemari
bertambah intensitas hari ke hari
mereka menodai lautmu, sungaimu dengan racun kimia
membotaki gunung-gunung
melobangi tubuhmu seperti bopeng-bopeng bulan
mengerikan!

(sungguh aku tak ingin jadi mereka!)

mereka
memperebutkan apa saja dengan loba
tamak menginjak-injak yang kalah
si miskin, si melarat,
sengsara
mengais-ngais sisa remah
disudut-sudut kota yang sesak
berhimpitan berbagi ruang sempit
di desa petani-petani kehilangan sawah
menangis kalah

ada anak yang mati kelaparan, kata media
“hanya sebuah kabar, tak perlulah dibesar-besarkan,”
kata orang itu, entah siapa
datang dalam mimpiku menjijikkan
melubangi lumbung pertiwi tercabik-cabik menyeramkan

aku terpelanting
pada realita
pening
kuheningkan hati mencari jawab
belum bisa banyak berbuat
masih terbatas mencoba
berbagi yang tak berlimpah,
dan harapan, Tuhan pasti cukupkan untuk mereka
tak sanggup kusaksikan bening mata bocah menangis
berkaca-kaca menahan lapar.

Dua;

Dulu

menelusuri jejak cinta padamu pertiwi
apakah cinta mesti menuangkan darahku dalam perang?
aku hanya punya perang melawan diri
sejak dini
walau hanya bertahan tak menyontek waktu ujian kala remaja
biarlah nilaiku jeblok
tapi aku tak goblok, bunda

kubaca jejakku pada cinta:

dimana cinta diuji?
ketika kau mampu menolak amplop tebal dihadapanmu
mencoba membeli kejujuran
padahal kebutuhanmu menderu-deru

kapan kesetiaan terbukti?
ketika nafsu memburu-buru
ingin memiliki yang bukan milikmu
kau memilih siksa.

ketika perawan rela menukar cinta demi sekedar bedak lipstik
menjual cinta pada bandot tua demi materi
kau memilih menderita.

kubaca lagi jejak dimana cinta pernah tertoreh
di Aceh, di Aceh!

kutahankan cinta di tengah ledakan bom, hujan peluru menderu-deru
ketakutan, darah dan trauma,
takkan kutinggalkan bunda pertiwi
mendesah di tiap doa, janganlah negeriku terpecah-pecah
damai-damailah, jangan hanya dalam mimpi
sampai aku lelah
kehilangan kata. doa terhenti
dalam hening mengeja cintaNya

lalu ombak yang menghempas, mencipta neraka di hadapanku
terpana membaca kehendakNya
kucoba lagi menghayati cinta
tetap kucinta kau
sebab kurasakan tangismu bunda
perih, perih menyayat hati
dikhianati anak-anak sendiri
kekasih jiwa.

Tiga;

Di hati, sekarang

meski terbatas di pikir dan zikir
kueja namamu dalam kasihNya
semoga tetap bertahan
dari perpecahan oleh tangan-tangan
gergasi, siluman, manusia
yang ingin membelah negeri
yang ingin kau tak ada lagi
menjadi serpihan-serpihan kecil tak berarti
semoga kau bertahan
sebab masih ada anak-anak bumi yang peduli
tersenyum, tersenyumlah bunda pertiwi
meski pahit menggigit hati

Ruang Biru, 24 April 2008
#

By meiy on Apr 24, 2008 | Reply

baru baca setelah posting, ternyata banyak puisi cinta tersayat luka pada nasib pertiwi hiks..hiks
#

By yunita p on Apr 24, 2008 | Reply

Ratapan Senja

Apa yang diperjuangkan, kini dihancurkan
Apa yang dimenangkan, kini dienyahkan
Negeri tercintaku luruh dalam balutan nafas sang waktu
Bar-bar menjadi identitas tersohor bagi bumiku
Semerbak wewangingan damai, tercerabut oleh anyir permusuhan
Etika moral bergelayut di titik nadir
Menanti terperosok…
Negeriku malang, negeriku jalang
Tenggelam dalam kebobrokan mental yang kental
Apa yang ku cinta, kini terbalur rancu
Semua samar…
Kemajuan yang kasat mata,
Hanya bermuara pada barisan pelahap ilegal rupiah berjamaah
Selebihnya,
Tergeletak pasrah pada guratan takdir Hyang Jagat
Bahkan lingkaran cahaya mentari hanya memantulkan semburat nestapa
Tak terelakkan,
Air mata menggantung di pipi bulan
Menangisi alam yang menggerutu tak bersahabat
Negeriku dipenuhi lubang-lubang borok yang tak sempat terjamah
Perut membuncit menjadi pertanda derita, bukan makmur
Sedih…
Miris…
Aku menyaksikan ratapan senja nan malang
Adakah yang masih peduli?
Kemana perginya sang pekerti?
Bahkan seorang pahlawan kesiangan pun enggan turun tangan…
Lakukan sesuatu!!!
Jika kau tak sanggup menjadi sebongkah karang yang kokoh
Jadilah kerikil yang tak bergeming terlindas zaman
Jika kau tak sanggup menjadi khalayak yang bersatu padu
Jadilah sekawanan lebah pekerja yang gencar membela sang ratu
Kayuh seluruh roda cinta sang nurani
Lalu tebarkan ke setiap sudut Ibu Pertiwi
Berikan yang terbaik…
Demi Indonesia maju…
#

By M. Rizky Adha on Apr 25, 2008 | Reply

Negeri Sebatas Khayal

Sejauh mata memandang
Tak Kulihat senyum
Elok nan permai
Dari Sang Pertiwi…

Nyanyian-nyanyian alam
Berubah menjadi tangisan
Yang tak berujung…

Ku rindu saat-saat berada
Dalam pangkuanmu…
Membelaiku dalam tidur panjangku…
Memimpikan sebuah negeri
Yang kekal nan damai…

Tak kurasa kini, hanya ada jeritan-jeritan
Membahana…
Menyemarakkan hati
Sekaligus mencengangkannya
Dalam satu euforia… (Bjm, April 2008)
#

By ichsan on Apr 28, 2008 | Reply

judul : aku? TKI

kubuka mata kubuka jendela
kulihat indah
wajahmu
menghias hariku
dengan senyum yang makin tak kumengerti
arti

hari ini
hari terakhir aku melihatmu
esok
aku kan pergi
meninggalkanmu

bukan
maksudku tinggalkanmu
inginku dustai cintamu

mungkin semua akan jadi indah
jika aku mampu terimamu apa adanya

jangan
jangan salahkan dirimu
salahkan aku yang tak mampu berikan yang terbaik untukmu
salahkan aku yang tak mampu lakukan yang terbaik untukku

paling tidak
kau masih punya hatiku
paling tidak
ku masih ingat kamu
aku hanya coba teruskan hidup ini
mengais asa demi nikmat dunia

jika kau butuh hadirku
pangil aku
janjiku takkkan jadi orang yang mendurhakaimu
aku akan datang seperti saat dulu
saat aku masih bersamamu
membelamu dari sgala yang merusakmu

oh, negeriku
maafkan aku

Bdg, 15 April 2008
#

By ichsan on Apr 28, 2008 | Reply

judul: Hijau kuning merah dan kelabu warnai bangsaku
karya: Ichsan Gana

Hijau kuning merah dan kelabu warnai bangsaku

Seperti langit
yang tak selalu biru

Awan mulai menghitam
Menutup membuyarkan kesadaran

Suaramu masih riang
Walo tak sedahulu

Kakimu terus melangkah
Langkah lari
nyeri

Dinding rumahmu mulai buta
Tuli
Bisu
tak mampu berpetuah

Caya

Kau masih mampu memelukku

Bdg, 15 April 2008
#

By Fatah on Apr 30, 2008 | Reply

Judul : Bangga (Aku) Jadi Orang Indonesia

Penulis : Lalu Abdul Fatah

Boleh saja Taufik Ismail
Merasa malu jadi orang Indonesia
Merutuk-rutuk seribu dosa
Berjamaah bangsa kita
Namun, aku di sini berdiri
Berikrar segenap-penuh hati
: Bangga aku jadi orang Indonesia.

Boleh saja kita akui
Indonesia keadaannya memang begini
Hancur di segala segi
Namun, tak layak kita pesimis
Berkicau mencela sampai menangis
Berharap Indonesia berhenti diguyur gerimis.

Optimis satu-satunya harapan yang tersisa
‘kan menjadi senjata pamungkas kita
Menatap hari esok yang cerah
Bumi pertiwi yang cantik sumringah.

Lihatlah…
Indonesia sepotong surgaloka nan jelita
Terhampar di sepanjang khatulistiwa
Kaya budayanya
Subur tanahnya
Makmur lautnya
Laksana pelangi aneka rupa
Itulah Indonesia
Membuat iri bangsa lain di dunia.

Boleh saja Taufik Ismail
Merasa malu jadi orang Indonesia
Namun, kita di sini
Mari berjanji segenap-penuh hati
Ikrarkan selalu tiap detak nadi
: Bangga aku jadi orang Indonesia.

Surabaya, 30 April 2008
#

By novicharullah on May 1, 2008 | Reply

Kursi kebatilan dihantam keriuhan batinku
memporak-porandakan revolusi yang memuncak
menghardik bumi pertiwi ini
bencana membuncah bak air yang tak bertepi

Indonesia……
Berteriaklah….
Hingga Riak air menggema
memperkuat tali kemerdekaan
membanggakan tanah hijau yang lapang

Indonesia….
Berkaryalah Hingga gedung kesenian
menjadi warna rupa yang terus terisi
Kecintaan pada kebudayaanku
membuat semangat raksa terus mengepul

Indonesia….
Kibarrkan sang saka
pada tiang keyakinan tertinggi
bersorak bahwa kemerdekaan terus
membahana membawa rakyat tuk trus
mencintai negara ini

Aku cinta Indonesia
sebuah keyakinan yang trus terpatri di dada
yang melekatkan Pancasila sebagai simbol
tanah air…
Proklamasi trus terngiang dimemoarku
membangkitkanku tuk hadapi masa depan…..

Cukup satu kata tuk raih
keberhasilan
Aku Cinta Indonesia…..
#

By novicharullah on May 1, 2008 | Reply

Aku Cinta Indonesiaku…

Kursi kebatilan dihantam keriuhan batinku
memporak-porandakan revolusi yang memuncak
menghardik bumi pertiwi ini
bencana membuncah bak air yang tak bertepi

Indonesia……
Berteriaklah….
Hingga Riak air menggema
memperkuat tali kemerdekaan
membanggakan tanah hijau yang lapang

Indonesia….
Berkaryalah Hingga gedung kesenian
menjadi warna rupa yang terus terisi
Kecintaan pada kebudayaanku
membuat semangat raksa terus mengepul

Indonesia….
Kibarrkan sang saka
pada tiang keyakinan tertinggi
bersorak bahwa kemerdekaan terus
membahana membawa rakyat tuk trus
mencintai negara ini

Aku cinta Indonesia
sebuah keyakinan yang trus terpatri di dada
yang melekatkan Pancasila sebagai simbol
tanah air…
Proklamasi trus terngiang dimemoarku
membangkitkanku tuk hadapi masa depan…..

Cukup satu kata tuk raih
keberhasilan
Aku Cinta Indonesia…..

Karya:Novicharullah Arkie
#

By eka first on May 3, 2008 | Reply

Namai Negara Ini Cinta

Katakan bahwa negara kami negara miskin..
Aku tak pernah malu
Katakan bangsa kami bangsa bodoh…
Aku takkan kecewa
Katakan pemimpin kami tak bermoral..
Aku menerima kenyataan

Jika semua itu membuat kau tertawa
Aku hanya tersenyum
Ini negaraku…
Bagaimanapun kalian mencacinya,
sebenci apapun kalian terhadapnya
Semua cermin kebencianmu…
merefleksikan kecintaanku padanya

Negaraku memang negara miskin..
Kemarin aku menatap bocah kecil lemah
Yang kelaparan namun tertidur…
Kadang ia terbatuk-batuk di sela tidurnya
Dan ia juga menaruh mangkuk kecil di samping tubuhnya
Yang diisikan oleh orang-orang dermawan yang melewatinya
Bukan oleh pelindungnya yang bersembunyi di gedung ber-AC

Bangsaku juga bodoh..
Tetanggaku tak melanjutkan sekolahnya sekalipun ia mampu
Tanpa sadar betapa berharganya pendidikan itu
Tanpa sadar bahwa tak berartinya ia tanpa ilmu
Tanpa sadar betapa bodoh bangsanya…
Tanpa sadar ia menambah bodoh bangsanya itu

Pemimpinku tak bermoral…
Ia yang tertidur di tengah membicarakan rakyatnya
Kalu begitu, apa ia juga mendengar suara rakyatnya?
Apa ia melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati?
Atau hanya ingin mengangkat namanya, lalu korupsi?
Aku tak ingin peduli

Seburuk itukah negaraku?
Tentu saja tidak
Aku terpana melihat candi borobudur sang kejaiban dunia
Aku bangga miliki Habibie yang brilian
Aku senang bisa menari tradisional kala semua gila modern dance
aku bangga… kau mesti tahu itu
#

By shanty on May 3, 2008 | Reply

Tanya kami padamu
Karya : Shanty

apa yang kau beri selain utang di negeri asing
apa yang kau wariskan selain tingkat ekonomi yang bikin pusing
apa yang kau ceritakan saat ini hanyalah koalisi
konglomerasi, perbudakan politik yang buat rakyat mati berdiri

negeriku, disini dulu ku tumpahkan darahku
disini dulu kami bersatu
disini dulu kami saling membahu
melupakan perbedaan ras, agama dan suku

negeriku, mengapa wajahmu bermuram durja
kenapa tanahmu tak lagi indah
kenapa bumimu kini porak poranda
kenapa manusiamu hanya berebut kekuasaan dan harta

di setiap sudut desa
di setiap sudut kota
masih ada anak-anakmu yang berjuang
berpikir dan mencoba bangkit dari kemelaratan

kau tahu kami disini masih cinta
kami disini masih suka
negeriku satu bernama Indonesia
bhineka tunggal ika
#

By shanty on May 3, 2008 | Reply

Ini negeriku

baru kemarin kita tertawa
lalu kini kita berduka
baru kemarin kita merdeka
lalu kini kita terjajah

mahasiswa berontak lalu berorasi
wakil rakyat berteriak senang diatas kursi
rakyat kecil menjerit kelaparan
para pejabat kenyang kemewahan

ini negeriku
gemah ripah loh jinawi
ini wakil rakyatku
demi kursi mati hati
#

By makaribi on May 4, 2008 | Reply

DESAKU

u l
B a

n
P s B
u a u
r t k
n a i
a i t
m D
a
#

By makaribi on May 4, 2008 | Reply

DESAKU TERCINTA

..u..l
B……a
…..n
P…
.u……………..s..B
..r…………..a……u
…n………..t………..k
…..m…….a……………i
……a….i………………t
………D

PUISI " CINTA TANAH AIR "

By Fien Prasetyo on Apr 8, 2008 | Reply

Potret Negeri

Aku berdiri menatap langit bangsaku…biru, abu-abu…lalu menghitam
Lukisan indah alam negeri berubah menjadi pemandangan penuh haru
Di setiap sudut bumi pertiwi menangis…sedu sedan..
Perut membuncit, raga hanya belulang yang sesaat lagi akan patah

Ibu pertiwi…aku tak pernah lagi melihat senyummu
Tak jua kembali aku mendengar petuah-petuahmu
Yang ada kini kau membisu diantara keluh kesah anak negeri
Semakin hari semakin membuatmu nelangsa

Tanah airku tak lagi punya belantara, laut melepas, atau gunung menjulang
Panas, datar, bah, api, kerontang, hitam mengabu, semuanya kini jadi warnamu
Menangisku hampir membakar pelupuk mata…sendu…pilu…
Sementara sanubariku terpekur, tak sanggup menatap dunia

Ibu pertiwi tiba-tiba menamparku, berkali-kali, bertubi-tubi !
Sakit, perih, tapi aku merasakan kasih yang selama ini hilang ditelan kesombongan
Mataku terbelalak saat hutanku terbakar, lautku tercemar, dan gunungku meletus
Bah menelan tempat tinggal kami, asap membumbung menyesakkan dada

Rasanya tak ada lagi waktu untukku terisak kembali
Menatap negeri tercinta dalam lahat kehancuran
Indonesia, aku tak ingin kehilangan tanah kelahiranku
Tanah yang akan dan selamanya menjadi tumpah darahku

Kurajut asa lukisan negeri ini hanya sepintas lalu…
Berlalu..berlalu..dan berganti potret abadi bersama Indonesia sejati
Biarlah nanti lukisan pedih tanah air terbingkai dalam kenangan
Karena cinta akan membawa kedamaian dan kebaikan
Kapanpun…dimanapun…siapapun…dan selamanya…
Aek Nabara, 2008
#

By hasti dwi nugrahani on Apr 8, 2008 | Reply

warnanya biru
langit luas dalam cengkraman awan gelap
warnanya biru
lautan dan ombak yang tak pernah mesra
warnanya hitam
tanah gersang dan batang pohon yang berderak rapuh
warnanya hitam
luapan lumpur rawa yang menghisap pepohonan
negeri ini tak indah lagi
tanah ini tak hangat lagi
jiwa
#

By hasti dwi nugrahani on Apr 8, 2008 | Reply

Cintaku pada negeri ini

warnanya biru
langit luas dalam cengkraman awan gelap
warnanya biru
lautan dan ombak yang tak pernah mesra
warnanya hitam
tanah gersang dan batang pohon yang berderak rapuh
warnanya hitam
luapan lumpur rawa yang menghisap pepohonan
negeri ini tak indah lagi
tanah ini tak hangat lagi
jiwa jiwa merapuh dalam asa yang senyap
karena rumput dan bunga tak lagi bisa teriak, bernyanyi atau mengeluh
namun kakiku berpijak disini
dan menyirami mimpi dengan air mataku
tanah airku adalah pembangun cinta
dan aku adalah jiwa yang ditumbuhkannya
aku mencintai seluruh tanah yang gersang dan retak
seluruh lautan yang senyap oleh ikan yang berlalu
dan saat airmataku tak lagi mampu menumbuhkan harapan
darahku mengalir disana untuk sebuah asa kehidupan
#

By paundra on Apr 9, 2008 | Reply

oleh : paundra

judul puisi : * kami pewaris negeri ini *

kami disini…
menatap langit membelah cakrawala tanah air kami
tak apa,
bersandal jepit kami bersekolah
kadang tak beralas ini kaki dengan sepatu model terbaru
melewati tanah basah kaki-kaki kami
dimana tersiram hujan sawah padi menguning
menelusuri ngarai sungai
berlari kami pada tanah pertiwi,hijau menghampar surga hutanku
sesekali menyeka peluh pada wajah
peluh jatuh dari badan karena cinta pada negeri
karena cita-cita tanah air gemilang ada pada puncak jiwa kami
tak gentar kami bila badai hujan menghadang
dimana membasahi baju dan tas terbuat dari anyaman bambu
karena kami tahu membangun tanah air adalah mulia

gunung krakatau menampakan kegagahanya
karang dihantam deburan ombak mengila
tetap kokoh ia berdiri
jiwa semangat ditempa sang guru
agar tak menjadi generasi cengeng

lihat…!
matahari mulai menampakan sinar cahayanya
berlari kita bersama
menuju indonesia bangkit
karena kami pewaris negeri ini.

sidoarjo april* 2008………
#

By paundra on Apr 9, 2008 | Reply

NB : berlari kami pada tanah pertiwi,hijau menghampar surga hutan negeri kami ( maaf bukan hutanku..,terimaksih)
#

By paundra on Apr 9, 2008 | Reply

oleh: paundra

judul puisi : ” selamat berjuang anak-anak’ku…”

kamu tahu apa itu cinta kepada tanah air?
pegang ini buku dan pena, kau gali ilmu dari jiwa-jiwa para guru-gurumu.agar kau menjadi generasi cerdas
bangsa yang besar tak akan ada !
bila kau berdiam pada kebodohan dirimu
cinta kepada tanah air,tak akan ada dalam jiwamu,
bila kau tak menghargai para jasa pahlawan bangsamu
sekarang sudah tiba waktunya kau tumpahkan semangat dalam jiwa dan ragamu.untuk membangun tanah airmu
sana..! berangkatlah..!
sinsingkan lengan bajumu,
doaku ada dalam dirimu
” selamat berjuang anak-anak’ku…”

sidoarjo april*2008……..
#

By Wendie Razif Soetikno, S.Si., MDM on Apr 9, 2008 | Reply

NEGERI YANG TERLUKA

Ibu pertiwi seperti buku yang tergeletak,
lupa tak tersentuh,
dan membiarkan anak negeri berlari dengan senja,
setelah lelah menantang mentari pagi.

Ibu pertiwi seperti Durga yang terbelalak,
melihat tugu yang runtuh,
dan membiaskan rona yang berbusur seroja,
menuju ke pusara yang diguyur doa dan sesaji,
Visit Indonesia, Enjoy Jakarta, Stay with us …..
But what for ???
#

By Febry abrar on Apr 10, 2008 | Reply

Satu Buat Ibu Pertiwi

Negri Langit Biru
Dalam dongeng Ibuku…
Tentang Tanah harum
Di Ujung Pulau
Yang Kehilangan Bapa
Sunyinya nyanyian
Anak-anak seribu pulau

Rataplah….
Senyum-senyum awan
Yang Hampir Pudar
Bunga-bunga indah
Yang Berguguran
Hilangnya Buaian-buaian angin
Yang Lembut
Tentang benang-benang
Yang kusut
Kaca-kaca yang retak
Dalam keluh kesahnya

Dekaplah…
Seribu pulau yang sedang piatu
Taburkan Bunga-bunga
Yang Kembali Mekar
Rentangkan benang-benang yang kusut
Satukan kaca-kaca yang retak
Dalam Satu Ibu

Agar Awan-awan Kembali Tersenyum
Dalam persembahahan
Nyanyian Anak-anak Seribu pulau
Untuk Satu
Ibu Pertiwi.

Febry abrar
Banjarmasin 10 april 2008
#

By zie_noer on Apr 10, 2008 | Reply

antara aku,angin, dan bangsaku

kala itu aku tersindir
oleh desir angin yang mengisyaratkan kegetiran
kalau bukan karena firman tuhan
aku tak akan sudi lagi menari
di atas hamparan mega birumu
tak sudi aku menyaksikan bangsamu
yang dipenuhi darah amarah

diamlah kau angin!
jangan kau salahkan bangsaku
kau hanya bisa mencibir
menyebarkan kejelekan bangsaku kenegeri-negeri tetangga
tidakkah kau ingat di negeri siapakah kau sedang menari
negeriku negeri suci
bangsaku bangsa beradab!

kesucian negerimu hanyalah rekayasa belaka
berapa juta galon darah tertumpahkan di negerimu
atas nama kesucian menurut versi bangsamu
kau kemanakan daftar orang-orang hilang
yang sampai aku serenta ini
tidak ada kabar yang jelas
itupun atas nama keberadaban
menurut versi bangsamu

sindiran itu masih mengabut dalam kalbuku
mengaburkan pandangan cintaku pada ibu pertiwi
akankah kecintaanku pada negeri ini luntur
akankah kidung cinta yang senentiasa kudendangkan pada ibu pertiwi harus terhenti

tak mungkin aku memandang sebelah mata
pada tanah airku yang kucinta
wahai dunia
tunggulah saatnya
ketika bangsaku telah sembuh
mercusuar dunia akan berada dalam tangan kami!

sang angin tersenyum sinis
dianggapnya aku bangsa bedebah yang membual
ia berlalu sambil berkata
semoga tuhan memberimu keberuntungan

ngayogyakarta hadiningrat
segaris dengan puncak merapi
10 April 2008
#

By Ahmad Nur Irsan Finazli on Apr 10, 2008 | Reply

Salam kemerdekaan INDONESIA, MERDEKA, ALLAHU AKBAR…!
#

By zie_noer on Apr 10, 2008 | Reply

surat untuk kawan seperjuangan

‘desaku yang kusinta’
‘pujaan hatiku’
kawan,nyanyian itu masih kuingat betul
beberapa generasi setelah kita sering menembangkannya
nyanyian itu adalah ikrar cinta mereka pada ibu pertiwi
sungguh sayang
mengapa ikrar cinta yang sering mereka nyanyikan
kini tak lagi terdengar
apakah generasi setelahnya tak lagi mengenal

kawan,mungkin aku salah mempermasalahkannya
dunia ini telah berubah
umat manusia sudah terlalu akrab dengan istilah globalisme
tapi, apakah bangsa ini akan mampu hidup hanya dengan globalisme
yang menurutku hanyalah istilah gombal belaka

tidak kawan,globalisme tak akan mampu mencukupi kebutuhan bangsa ini
bangsa ini butuh reinkarnasi bung karno dan bung hatta
kita butuh proklamator handal
bukan provokator yang sering kita saksikan dalam layar kaca

kawan, hati ini sebenarnya menangis
ketika menyaksikan pertikaian bangsa kita sekarang
itukah penghargaan mereka terhadap jutaan kusuma bangsa yang berjuang angkat senjata

kawanku,mungkin sudah bukan waktunya lagi kita mengurusi bangsa ini
sudah banyak peluh mengucur demi sejengkal tanah air kita
berbagai pangkat dan jabatan pernah kita duduki
lebih baik kita duduk tentram bersama anak cucu kita
menyaksikan kedurhakaan penghuni tanah ini

kawanku,walaupun kita pernah berjuang untuk bangsa ini
jangan sakit hati bila saat mati kita disebut pengkhianat

ngayogyakarta hadiningrat
10 april 2008
#

By Fien Prasetyo on Apr 11, 2008 | Reply

Bangun…!!!

Silam tangisku memecah sunyi bumi pertiwi
Jadi hingar diantara bingar terdengar
Seperti menjamu tamu anak negeri
Dielu…dipuja…penuh selaksa harap

Aku masih diam meski jiwa merayu
Masih menggeleng tatkala kawan menyeru
Turun ke jalan…
Satu…dua sahabat masih setia padamu
Yang lain sudah digerogoti kebebasan tak terbatas

Lantang…tegap…katanya bela engkau
Bakar mimpi-mimpi busuk yang terlanjur merasuk

Rasanya tak usah tangisi langit negeri
Tak perlu jua menantang mendung bergemuruh
Karena sudah ada angin yang menghalau
Pelangi terkembang memanjang, usai itu…

Bangun saja dari tidur panjang dengan segepok pintalan mimpi
Malu menelusup karena bangsa ini tak pernah terlelap
Selalu terjaga untuk menjaga
Menguntai bhineka menjadi satu asa
Mematri cinta yang terlanjur dirasa
Jauh dalam jiwa ragawi…tak terbalas…

Aek Nabara, 2008
#

By Iva on Apr 11, 2008 | Reply

Penyakit dan Bangkit

Badannya penuh borok
mukanya penuh jerawat bernanah
kulitnya ditumbuhi bisul beringas
semua menambah bebannya

Hamparan kulit mulus yang dulu ku lihat
hancur tercabik-cabik luka
luka durjana karena bakteri yang memiliki otak pintar
pintar membuat luka di dalam hatinya

Jantung yang tertusuk perasaan marah
namun hanya gempa dan bencana yang dapat membalasnya
walaupun sudah berjuang melepas cinta
dalam tumbuhnya benih-benih pohon harapan
namun yang ada masih saja polusi laknat
untuk kegemukan segelintir kuman penyakit

Biarkan aku menjadi ulat
walaupun menjijikkan namun bisa menjadi kupu-kupu
yang memperindah parasmu

biarkan aku menjadi pohon
yang akan tumbuh kokoh beranak pinak
yang menyembuhkan lukamu

biarkan aku menjadi diriku
yang mencintaimu apa adanya
karena hanya turut menanggung hutang
dari orang yang tidak merasa harus bertanggung jawab

biarkan doaku menyelimutimu
biarkan cintaku membakar semua kelam sejarahmu
sekarang kita akan bangkit bersama
menyongsong hari esok yang cemerlang
yang tiada luka

matilah semua durjana
perusak bangsa, penyakit semesta.
damailah bangsaku, puaslah rakyatku.
#

By Ainun on Apr 11, 2008 | Reply

Indonesiaku………..
Kau Tak Lagi Harum Mewangi
Hutan Mu Tak Lagi Perawan Sejati
Karena Telah Di Jamah Di Kotori Dan Di Perkosa
Oleh Tangan Manusia Yang Tak Bertanggung Jawab
Mereka Tebangi, Mereka Bakar Dan Mereka Curi

Tanahmu Telah Di Nodai
Bumimu Yang Asri Kini Menangis Sedih
Karena Mereka Sudah Di Cemari
Lautmu Nan Indah telah Dikotori

nanti kalau ada lagi bolehkan pak?
#

By makaribi on Apr 11, 2008 | Reply

SURAT BUAT GENERASI BERIKUTNYA.
:Indonesia 11 April 2008

Dalam remang cahaya lampu, kutulis surat untukmu.
Agar setiap kenangan terawetkan dalam tulisan.

1\ : Buat Anakku nanti
jika kau telah mampu membaca tulisan ini
mungkin saat itu kau mulai melawan hari
Aku ingin ceritakan tentang hariku dan negeriku
saat masih pagi dan langit biru
sebiru hati ditengah udara kota bertuba
Kupilih kupilah kenangan yang ada
hingga kuingat saat tumbuh ditanah tercinta
tanah yang hijau dengan langit seluas samuderanya.
aku lahir disebuah pulau
pulau terpadat dari puluhan ribu pulau
tapi yang ingin kuceritakan bukan tentang keindahannya
bukan tentang kekayaan alamnya, bukan pula
tentang ramahtamah penduduknya, bukan pula
tentang kesuburan dan kesejahteraannya
cukuplah kiranya kaudapatkan cerita itu
dari dongeng guru sejarahmu.

2\ : Janganjangan negeri kita telah digadaikan
Hari ini utang kita menumpuk, sudah sangat menumpuk
kuingin tahu darimu saat kau dewasa,
utang itu berkurang atau bertambah berapa ?
aku tak tahu bagaimana sebabnya
negeri yang kaya kekayaan alamnya
bisa miskin begini rupa
seperti tikus mati dilumbung padi.
tidak, aku tidak ingin ceritakan tentang rentenir
yang sering datang kesini
dan suka mencampuri urusan dalam negeri
aku juga tak ingin ceritakan tentang tetangga kita
diseberang samudera, yang menguras kekayaan alam kita
dan hanya meninggalkan sampahnya
dan suka pula mengintimidasi dengan senjata
tidak, aku tidak ingin ceritakan itu semua
aku juga tidak ingin menceritakan pejabat, pegawai
atau temanteman yang suka korupsi dana APBD atau APBN,
ditambah kolusi dan nepotisme disingkat KKN.
aku tak ingin menceritakannya, karena bisabisa aku diseretnya juga
aku ini bukan orang suci atau ulama
jadi jangan paksa aku menghakiminya,
tapi jangan cobacoba jadi koruptor
jika tak ingin gelisah tidurmu, atau ketangkap dan tekor.
tapi tenang jika kau dijebak atau menjebakkan diri dalam korupsi
tidak akan kau dihukum mati, apalagi jika kau bisa negoisasi
itu lebih bagus lagi, kau bisa dibebaskan atau setidaknya diringankan.
ah sudahlah jangan diperpanjang.

3\ : hari ini kita makin susah
aku hanya ingin ceritakan padamu
kemarin ada ibuibu membunuh anakanaknya dan dirinya sendiri
karena kabarnya sudah tak mampu lagi beli nasi.
susah cari kerjaan
maka banyak peminta dijalanjalan
ingin kukasih setiap orang
apa boleh buat, buat makan aja paspasan.
ada juga kisah gadis diperkosa,
banyak yang kira nafsu pemicunya
tapi kukira juga karena nikah mahal biaya
apalagi belum punya kerja
ada lagi cerita, orangorang keluar negeri jadi tenaga kerja
disana mereka disiksa, pulang hanya tinggal nama.
yang paling mengerikan perampokan dengan pembunuhan
tak bisa kubayangkan, dirimu hartaku satusatunya
dirampas dan diperbudak jaman.

Saturday, April 11, 2009

CERITA TENTANG TANAH DAN AIR

Berlabuh kapal ku tersiar ke 4 penjuru mata angin
suara deburan air laut begitu keraaaaas!!
bau laut yang begitu haruuuuuuuuum, , melekat semakin dekat
balutan angin berdesing seperti bernyanyi menemani perjalanan ku
Sampailah aku di ujung rangkai pulau misterius
dengan berjuta khayalan di benak ku..
pelan2 ku tapaki tanah ini saat berlabuh..
hmmmmmmmm aroma tanah yg begitu memikat,
setelah iring-iringan tarian hujan selesai..
ada sahabat jauh melambaikan tangan padaku
dan dia berkata “wahai sahabat nama ku Sanjaya!!”
lantas ia jabat erat tangan ku,,ia meneruskan perkenalan ini
“aku adalah sanjaya,,aku berkebudayaan tanah”
sembari ia tunjukan tanah nya yang begitu subuuuuuur nan permai
sesaat kita berjalan menikmati pemandangan laut
dari kejauhan seorang memanggil2 kami berdua…
ternyata sanjaya sangat mengenal sosok orang itu..
lalu org itu mendekati ku dan berkata “wahai sahabat nama ku purnawarman” ia pun menjabat tangan kami berdua,,ia berkata lagi
“aku adalah purnawarman, ,aku berkebudayaan tanah”
lalu ia tunjukan hasil2 laut yang begitu berlimpaaah ruah..
dan intan berlian yg bersinar di tengah lautan di saat metahari akan terbenam,,,
dalam hati ku,,,
dua kebudayaan ini ada dalam satu teritori
apakah ini tanah air??
apa kah ini yang sering di ceritakan ibunda ku?!
tanah yg mashur,,laut yang permai?!
ibunda ku sering bercerita tentang hal ini,,
nama ibunda ku ibu pertiwi
beliau yang ajarkan aku tetang kehidupan
mmm aku telah lama pergi…aku rindu ibu pertiwi
saat nya aku untuk kembali,,
aku dengar ibu pertiwi terus-terusan memanggil ku
di kejauhan,,
di ufuk barat aku dengar ia menantikan aku pulang
entah tahun-tahun ini beliau terlihat sedih sekali…
aku harus pulang untuk menghibur nya…
(Nurendra Bagas)

Tuesday, February 3, 2009

Ikhlas Memaafkan
Oleh : Dede Farhan Aulawi

Sahabat...
Masing - masing kita telah melewati jalan yang terbentang panjang
Ada masa - masa indah yang tak mudah dilupakan
Terekam...terpatri...dan terukir dalam nota nostalgia
Dan ada masa penuh duka dan luka,
...yang terkadang terasa sangat pedih dan menyakitkan
Ya...,warna warni kehidupan macam itu pernah kita lewati

Sahabat...
Aku mohon maaf,
...karena tidak berarti tuk mengingatkan masa pahit yang telah kita lewati
Dengan sisa kerikil yang masih menusuk tajam,
Terasa pedih...seiring lelehan darah yang merayap senyap
Dimana tubuh berbalut keringat...
Bau...busuk....gundah...dan rasa yang berkecamuk
Tak mudah tuk melupakan...
Tak mudah tuk meninggalkan...
Tak mudah tuk menjauh...,karena harus kita akui...
...bahwa asa itu masih ada
Bertengger...bermukim di rongga dada yang terdalam

Mungkin kita pernah berharap pada seseorang,
...agar ia menjadi dinding penyangga pundak manakala kita lelah
...agar ia menjadi pembimbing dan pelindung dalam menelusuri lorong waktu
...agar ia mampu mencurahkan segenap kasih sayangnya pada kita
Kita berharap ia menepati...
...tapi ternyata ia mengingkari
Kita berharap ia bisa mengerti
...tapi ternyata ia tak pernah mau memahami

Di pegang kepala...,ekor yang berkibas
Di pegang ekor ...,kepala yang menyalak
Semua jadi serba salah...
Dan akhirnya kita memendam dendam

Sahabat...
Sebenarnya apa yang pernah kita lewati
...adalah episode waktu yang mau tidak mau harus kita lewati
Memang tidak sejalan dengan keinginan dan harapan kita
Tapi itulah fakta yang kita miliki dan harus siap kita hadapi
Kita takkan pernah menang hanya dengan mengeluh
Kita takkan pernah sukses hanya dengan mengharapkan
Tapi kita akan menang dan sukses...
...manakala kita mampu menaklukan terjalnya jalan kehidupan

Sahabat...
Jika ada orang yang pernah menyakiti kita
...hamparkanlah sajadah maaf sebelum ia meminta
...berikanlah apa yang ia inginkan sebelum ia memohon
Ikhlaskanlah semua yang telah terjadi
Karena sesungguhnya...merekalah yang telah menggembleng kita
...agar lebih dewasa, lebih sabar, dalam menjalani kenyataan
Kumpulkanlah bongkahan maaf yang masih tersisa
Berikanlah pada siapapun yang membutuhkannya
Itu adalah benih kebajikan yang bisa kita tanamkan
Dan niscaya kita kan peroleh kebahagiaan

Wednesday, January 14, 2009

Michael Heart, seorang musisi asal LA menciptakan sebuah lagu untuk Gaza We Will Not Go Down For Gaza A blinding flash of white light Lit up the sky

Michael Heart, seorang musisi asal LA menciptakan sebuah lagu untuk Gaza

Michael Heart, seorang musisi asal LA menciptakan sebuah lagu untuk Gaza

We Will Not Go Down For Gaza

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Michael Heart
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ---

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ------

For info and mp3, link : http://michaelheart .com/Song_ for_Gaza. html
Nice video : http://kaskus. us/showthread. php?t=1347548



A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Michael Heart
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ---

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Saturday, January 10, 2009

Doa Perpisahan

Langit diujung jalan sana, terasa galau

Mengingatkan hari-hari gaduh

Dalam lautan gurau

Mega di pinggir jalan sana juga mendung

Mengalunkan musik cinta yang sendu

Bersama ranting kisah dalam naungan

Kasih dan rindu

Kemarin begitu banyak hamparan melati

Bertaburan dibawah pohon rindang dalam gang

Riuhnya melambai mengalunkan wewangian

Begitu banyak cinta menghampiri

Dan cinta pun berkata:

“kalau kepergianku membuatmu menangis,

maka menangis jangan membuat pergi hati dan nurani

hati yang kita beri hanyalah luapan emosi

nurani yang kita miliki hanyalah tempat peraduan”

kemarin cinta disini melimpah, bertaburan antara kita

cinta yang satu memberikan pengayoman

cinta yang lain menciptakan penghormatan

terukir dalam satu jalin kekeluargaan

ada juga cinta lain yang tercipta

cinta anak dan orang tua

sekarang cinta itu mulai goyah,

dibawa gelombang waktu dan kata…..”perpisahan”

perpisahan adalah sebuah peristiwa

perpisahan adalah sebuah seremonia

perpisahan adalah sebuah penomena

perpisahan adalah sebuah cipta

perpisahan hanyalah cerita

dalam sebuah ketidakberdayaan…..

kemudian kita harus rela

pergi jauh meninggalkan semua

hanya secercah harapan dan doa yang ku damba:

Yaa Ilahi…..

Sekiranya kepergianku merupakan beban, Jangan Kau berikan beban itu

Sekiranya perpisahan ini merupakan keharusan, kuatkanlah ketabahan. Jadikanlah perpisahan ini pembelajaran kedewasaan, dan janganlah Kau jadikan sebuah pembebasan.

Yaa Ilahi….

Perpisahan yang ku alami merupakan tahap awal kehidupan, maka berikanlah kesuksesan dilangkah berikutnya. Berikanlah cinta dan rahmanmu, berikanlah kasih dan sayangmu

Demikian gumam doa kecilku

Mengiringi alunan tangis kehilangan.

Selamat berpisah guru ku

Selamat tinggal sembilan belas ku

Dalam kamar

21.15 – 06.15

7 Juni 2004

rd