Showing posts with label KERUKUNAN. Show all posts
Showing posts with label KERUKUNAN. Show all posts

Monday, December 8, 2008

Gereja Katolik Surabaya Bagikan 600 Paket Daging Kurban

By Republika Contributor
Selasa, 09 Desember 2008 pukul 00:58:00


SURABAYA -- Gereja Katolik Santo Aloysius Gonzaga Surabaya, Jawa Timur ikut merayakan Hari Raya Iduladha dengan membagikan 600 paket daging kurban kepada kaum "dhuafa" (masyarakat miskin) di Surabaya, Senin.

Pastor Paroki (PR) Gereja Katolik Santo Aloysius Gonzaga Surabaya, Romo Harjanto Prajitno mengatakan, penyembelihan hewan kurban dan membagikan daging ke masyarakat miskin di sekitar gereja tersebut merupakan kegiatan tahunan yang biasa digelar oleh Forum Komunikasi Masyarakat Pelangi (FKMP) yang terdiri dari gabungan umat tanpa memandang asal-usul agama."Tujuannya untuk mempererat tali persaudaraan antara umat Islam dan Kristen di Surabaya," katanya.

Menurut dia, persaudaraan sejati itu meliputi lintas agama dan sosial. Untuk itu, ia berpesan agar semua umat beragama menghilangkan sekat-sekat itu karena semuanya sama-sama ciptaan Tuhan.FKMP sendiri, kata dia, secara rutin mengambil tempat di gereja agar masyarakat mampu hidup berdampingan dan terbiasa menerima perbedaan.

Melalui momen Iduladha, menurut Romo Harijanto, menekankan inti kerelaan berbagi dalam kehidupan umat beragama. Untuk itu, ia mengimbau semua umat beragama agar peka terhadap lingkungan termasuk para tetangga yang belum tentu memiliki keyakinan yang sama.Kegiatan tersebut mendapat sambutan baik dari masyarakat penerima kurban seperti halnya yang diungkapkan salah satu warga Tanjungsari, Surabaya, Masripah yang mengaku senang karena masih ada yang mau peduli padanya."Saya bersyukur tahun ini masih dapat daging kurban, walaupun ini dari gereja," katanya.

Panitia sendiri menyiapkan 600 paket daging kurban kepada keluarga penerima paket daging kurban. Penerima daging kurban meliputi kawasan Tanjungsari, Sukomanunggal dan Donowati.Hingga tahun ini FKMP sudah melaksanakan delapan kali pembagian daging kurban di Gereja Katolik Santo Aloysius Gonzaga Surabaya.ant/kp

Monday, October 22, 2007

Mengembalikan Kerukunan Umat Beragama

oleh: Budhy Munawar-Rachman
(Staf Pengajar Universitas Paramadina Mulya Jakarta)

Dalam tahun-tahun belakangan ini semakin banyak didiskusikan mengenai kerukunan hidup beragama. Diskusi-diskusi ini sangat penting, bersamaan dengan berkembangnya sentimen-sentimen keagamaan, yang setidak-tidaknya telah menantang pemikiran teologi kerukunan hidup beragama itu sendiri, khususnya untuk membangun masa depan hubungan antaragama yang lebih baik--lebih terbuka, adil dan demokratis.

Kita semua tahu, bahwa masalah hubungan antaragama di Indonesia belakangan ini memang sangat kompleks. Banyak kepentingan ekonomi, sosial dan politik yang mewarnai ketegangan tersebut. Belum lagi agama sering dijadikan alat pemecah belah atau disintegrasi, karena adanya konflik-konflik di tingkat elite dan militer.

Tulisan ini tidak akan membahas latar-belakang ekonomi, sosial, dan politik dari kehidupan antaragama di Indonesia belakangan ini--yang memang sudah banyak dianalisis--tetapi justru ingin kembali ke pertanyaan dasar: Adakah dasar teologis yang diperlukan untuk suatu basis kerukunan hidup beragama?

Pertanyaan ini penting, karena selama ini teologi dianggap sebagai ilmu dogmatis, karena menyangkut masalah akidah, sehingga itu tidaklah perlu dibicarakan--apalagi dalam hal antaragama. Sehingga terkesan teologi sebagai ilmu yang tertutup, dan menghasilkan masyarakat beragama yang tertutup. Padahal iklim masyarakat global dan pascamodern dewasa ini lebih bersifat terbuka dan pluralistis.
Eksklusif atau Pluralis?

Memang, dalam sejarah telah lama berkembang doktrin mengenai eksklusivitas agama sendiri: Bahwa agama sayalah yang paling benar, agama lain sesat dan menyesatkan. Pandangan semacam ini masih sangat kental, bahkan sampai sekarang, seperti termuat dalam tidak hanya buku-buku polemis, tetapi juga buku ilmiah.

Rumusan dari Ajith Fernando, teolog kontemporer misalnya masih menarik untuk diungkapkan di sini. Katanya "Other religions are false paths, that mislead their followers" (Agama lain adalah jalan sesat, dan menyesatkan pengikutnya). Ungkapan Ajith Fernando ini memang sangat keras dan langsung tergambar segi keesklusivitasannya. Dan yang menjadikan kita kaget adalah Kitab Suci ternyata dianggapnya membenarkan hal tersebut.

Pandangan eksklusif seperti itu memang bisa dilegitimasikan--atau tepatnya dicarikan legitimasinya--lewat Kitab Suci. Tetapi itu bukan satu-satunya kemungkinan. Sebagai contoh, dalam tradisi Katolik, sejak Konsili Vatikan II (1965), sudah jelaslah bahwa pandangan menjadi sangat terbuka ke arah adanya kebenaran dan keselamatan dalam agama-agama non-Kristiani.

Karl Rahner, teolog besar yang menafsirkan Konsili Vatikan II, merumuskan teologi inklusifnya yang begitu terbuka, kira-kira dengan mengatakan. "Other religions are implicit forms of our own religion" (Agama lain adalah bentuk-bentuk implisit dari agama kita). Tulisan Karl Rahner mengenai ini dibahas dalam bab "Christianity and the Non-Chrisitian Religions" dan "Observations on the Problem of the 'anonymous Christian'," dalam bukunya Theological Investigations, vol. 5 dan 14.

Dalam pemikiran Islam, masalah ini juga terjadi secara ekspresif. Walaupun dalam Islam sejak awal sudah ada konsep "Ahl al-Kitab" (Ahli Kitab) yang memberi kedudukan kurang lebih setara pada kelompok non-muslim, dan ini dibenarkan oleh Alquran sendiri, tetapi selalu saja ada interpretation away--yaitu suatu cara penafsiran yang pada akhirnya menafsirkan sesuatu yang tidak sesuai lagi dengan bunyi tekstual Kitab Suci, sehingga ayat yang inklusif misalnya malah dibaca secara eksklusif.
Perspektif Baru

Kembali pada teologi eksklusif di atas, begitulah, kita baik kaum Muslim maupun umat Kristen telah mewarisi begitu mendalam teologi eksklusif yang rumusan inti ajarannya adalah--seperti ditulis oleh filsuf agama terkemuka Alvin Plantiga--"the tenets of one religions are in fact true; any propositions that are incompatible with these tenets are false" atau John Hick, "The exclusivivits think that their description of God is the true description and the others are mistaken insofar they differ from it."

Karena pandangan tersebut, maka mereka menganggap bahwa hanya ada satu jalan keselamatan: yaitu agama mereka sendiri. Pandangan ini jelas mempunyai kecenderungan fanatik, dogmatis, dan otoriter!!!

Oleh karena itulah diperlukan suatu perspektif baru dalam melihat "Apa yang dipikirkan oleh suatu agama, mengenai agama lain dibandingkan dengan agama sendiri" Perspektif ini akan menentukan apakah seorang beragama itu menganut suatu paham keberagamaan yang eksklusif, inklusif atau pluralis. Apakah ia seorang yang terbuka atau otoriter?

Menganut suatu teologi eksklusif dalam beragama bukan hal yang sulit. Karena secara umum, sepanjang sejarah sebenarnya kebanyakan orang beragama secara eksklusif. Kalau ukurannya adalah Konsili Vatikal II, maka baru sejak 1965 lah secara resmi ada usaha-usaha global untuk memulai perkembangan teologi ke arah yang inklusif.

Dan baru belakangan ini saja berkembang teologi yang lebih pluralis--yang lebih merentangkan inklusivitas ke arah pluralis dengan menekankan lebih luas sisi yang disebut paralelisme dalam agama-agama--yang digali lewat kajian teologi agama-agama.

Teologi pluralis melihat agama-agama lain dibanding dengan agama-agama sendiri, dalam rumusan: Other religions are equally valid ways to the same truth (John Hick); Other religions speak of different but equally valid truths (John B Cobb Jr); Each religion expresses an important part of the truth (Raimundo Panikkar); atau setiap agama sebenarnya mengekspresikan adanya The One in the many (Sayyed Hossein Nasr). Di sini jelas teologi pluralis menolak paham eksklusivisme, sebab dalam eksklusivisme itu ada kecenderungan opresif terhadap agama lain.
Teologi Agama-Agama

Di antara perkembangan baru mengenai teologi pluralis ini, sekarang berkembang suatu cabang ilmu yang disebut teologi agama-agama (theology of religions). Kita perlu memperhatikan perkembangan baru ini, karena dalam teologi ini termuat suatu pijakan modern dalam membangun kerukunan hidup beragama: Suatu pijakan yang berangkat dari kesadaran pentingnya memperhatikan pluralitas dari dalam teologi itu sendiri.

Dewasa ini penerimaan atas pluralisme tidak bisa hanya didasarkan atas kesadaran bahwa kita ini adalah bangsa yang majemuk dari segala segi SARA-nya, sebab kalau ini pijakannya, maka kita sebenarnya berangkat dari kenyataan sosial yang terfragmentasi (terpecah-pecah)--yang karena itu diperlukan pluralisme sebagai cara untuk menghindari kefanatikan, jadi fungsinya hanya sebagai a negative good.

Padahal kebutuhan sekarang bukan hanya karena fakta sosiologis saja, tapi bisakah paham pluralisme itu dibangun karena begitulah faktanya mengenai Kebenaran Agama, bukan hanya karena fakta sosialnya! Pluralisme adalah bagian dari--seperti sering dikatakan Prof Dr Nurcholish Madjid--"pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bonds of civility).

Nah, persis sejalan dengan kebutuhan itu, teologi agama-agama bisa menjelaskan alasan teologisnya mengapa suatu agama perlu masuk dalam dialog antar-agama, yang didalamnya akan didalami bersama partner dialog, "a new depths of understanding of God's saving ways". Di sini teologi agama-agama akan mempersiapkan komunitas beragama dalam kepemimpinan teologis dalam memasuki dialog antaragama itu.

Ini penting sebab sekarang diyakini diktum: Those who know only their own religion, know mone. Those who are not decisively committed to one faith, know no others. To be religious today is to be interreligious! Jika diktum ini sudah diterima, akan lebih mudahlah memasuki dialog antaragama dan selanjutnya segi teologisnya, yang dari sini pemerkayaan iman akan sangat dimungkinkan. Usaha-usaha besar pencarian "Etika Global" dari agama-agama yang populer sejak Sidang Parlemen Agama-agama (1993), menurut saya akan jauh lebih mendasar jika berangkat dari dialog teologis, yang meneguhkan sikap paralelisme itu--yang mengekspresikan kesadaran "Satu Tuhan, dalam banyak jalan".

Saya ingin menutup artikel ini dengan kutipan dari ajaran Sufi. Para sufi tidak saja menegaskan kesatuan wahyu, tetapi juga menganggap diri mereka sendiri sebagai pelindung Islam dan pelindung agama-agama lain. Pemimpin Sufi seperti Jalal al-Din Rumi, misalnya melukiskan pandangan pluralisnya dengan menggunakan gambaran berikut.

"Meskipun ada bermacam-macam agama, tujuannya adalah satu. Apakah Anda tidak tahu bahwa ada banyak jalan menuju ka'bah?...OLeh karena itu apabila yang Anda pertimbangkan adalah jalannya maka sangat beraneka ragam dan sangat tidak terbatas jumlahnya; tetapi apabila yang Anda perimbangkan adalah tujuannya, maka semuanya terarah hanya pada satu tujuan."

Akhirnya dalam spirit kesatuan inilah, kita menghargai keberbedaan. Perbedaan agama-agama ini harus dikenal dan diolah lebih lanjut, karena perbedaan ini secara potensial bernilai dan penting bagi setiap orang beragama dalam pemerkayaan imannya.

Date: Wed, 28 Jun 2000 14:28:53 +0700
From: Mohamad Zaki Hussein
To: is-lam@isnet.org

Sunday, October 21, 2007

Tiga Agenda Kongres I Pemuka Agama se-Indonesia

Arifin Asydhad - detikcom


Jakarta, Untuk pertama kali akan digelar Kongres Pemuka Agama se-Indonesia, Selasa (22/8/2006). Kongres akan dibuka Menko Kesra Aburizal Bakri. Pentingkah kongres ini? Ada tiga agenda yang akan dibahas dalam kongres ini.

Tiga agenda tersebut adalah pertama, merancang keberagaman umat ke depan supaya beragama secara dewasa. Kedua, Pancasila sebagai etika bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan ketiga, merumuskan aksi bersama umat beragama menghadapi tantangan global dan tantangan internal bangsa.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Agama (Depag) Bachrul Hayat, Ph.D selaku Ketua OC Kongres I Pemuka Agama se Indonesia, dalam rilis Depag yang diterima detikcom, Senin (21/8/2006).

Menurut Bachrul, keinginan untuk menyelenggarakan kongres ini didasarkan pada pemikiran, bahwa Umat beragama dewasa ini tengah dihadapkan pada berbagai persoalan yang menyangkut isu-isu global yang turut mempengaruhi sikap dan perilaku keberagamaan masyarakat di tingkat lokal. Pengaruh tersebut pada tingkat tertentu dapat dilihat sebagai problem kultural dan sosial, persoalan Hak Asasi Manusia (HAM), harmonisasi sosial, demokrasi beragama dan tidak kalah pentingnya adalah persoalan-persoalan yang menyangkut absolutisme dan relativisme pada tingkat kesadaran teologis umat beragama.

Terhadap kompleksitas persoalan umat beragama akhir-akhir ini, kata Bachrul, maka pemerintah perlu melakukan langkah-langkah kongkret sebagai respons positif terhadap persoalan bangsa pada umumnya. Pendekatan terhadap umat beragama, kata Bachrul, yang masih relevan untuk dilakukan adalah menjadikan para tokoh agama dan majelis-majelis agama sebagai mitra pemerintah, baik yang menyangkut sosialisasi berbagai kebijakan maupun yang menyangkut rumusan-rumusan mendasar yang menyentuh langsung kehidupan umat beragama guna menyongsong masa depan yang lebih baik.

"Langkah-langkah seperti ini perlu dilakukan atas dasar asumsi bahwa agama masih sangat relevan dijadikan sebagai modal sosial utama masyarakat Indonesia untuk bisa kompetitif dalam meraih kemajuan di masa depan," tutur Bachrul Hayat.

Kongres I Tokoh Agama se Indonesia ini mengangkat tema Membangun Kerjasama, Mengatasi Berbagai Problema, Meningkatkan Kontribusi Umat Bagi Kemajuan Bangsa. Kongres akan diikuti 225 peserta, terdiri dari: Utusan Provinsi, masing-masing 6 orang berupa wakil dari majelis-majelis Agama tingkat pusat dan provinsi (MUI, PGI, KWI, PHDI, WALUBI, MATAKIN) atau Ormas Keagamaan dan Kepala Kanwil Agama setempat. Kongres akan digelar di Hotel Acacia, Jakarta hingga Kamis (24/8/2006).

Pengajian Syiah Diserang Massa, Polisi Diminta Bertindak Fair

Rafika Qurrata A'yun aba - detikcom

Jakarta,(detik portal ) Buntut penyerangan pengajian Syiah di Bondowoso, Ikatan Jamaah Ahlul Bait (Ijabi) mendesak polisi bertindak fair. Jamaah Syiah ditegaskan tidak berniat membenturkan diri dengan kelompok lainnya.

"Agar masalah itu tidak berlarut-larut, kami minta aparat penegak hukum berlaku fair dan seimbang," cetus anggota Presidium Nasional Ijabi Deddy Prihambudi dalam jumpa pers di Kafe Pisa, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (28/12/2006).

Jamaah Syiah selama ini belum pernah diserang di daerah yang lain. Dalam mengembangkan organisasi, Ijabi selalu menghindari benturan dengan kelompok-kelompok lain.

"Kami mencoba melokalisasi persoalan. Kejadian Bondowoso ini jangan sampai jadi preseden buruk bagi perkembangan dakwah. Memang banyak perbedaan memahami ajaran Islam, tapi kan tidak perlu lagi dipermasalahkan furu (cabang-cabang ilmu) dan khilafiyah (perbedaan madzhab) itu," ujar anggota presidium Ijabi Safinuddin menambahkan.

Penyerangan terhadap anggota Ijabi di Bondowoso terjadi pada 23 Desember 2006 lalu. 400 Orang yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah Waljamaah menyerang pengajian di sebuah rumah milik anggota Ijabi. Mereka melemparkan pasir dan batu ke rumah tersebut.

Polisi kemudian menahan 17 orang tokoh Ijabi Bondowoso. Mereka menginap selama 8 jam di Polres Bondowoso usai kejadian itu.

Tiga bulan sebelumnya, 12 September 2006, juga terjadi usaha pembakaran rumah tokoh Ijabi, Kiai Musawir di desa Jambesari, Bondowoso. Bensin disiramkan ke eternit rumah dan mobil pengasuh Ponpes Al-Wafa itu.