Friday, November 9, 2007

Buntut Konflik Kegagalan Musdalub

SUARA MERDEKA

Sabtu, 10 Nopember 2007

PERPECAHAN antara kubu Ketua Pelaksana Harian Humam Mashudi dengan kubu ketua DPD Golkar Haris Subiyakto sebenarnya buntut dari perseturuan lama. Itu terjadi sejak adanya desakan digelarnya Musyarawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) oleh sejumlah PK dan kelompok Humam.

Wacana digelarnya Musdalub, dimunculkan antara tahun 2005-2006 terkait adanya status ketua DPD yang saat itu masih menjalani masa hukuman, karena kasus korupsi APBD 2002-2003.

Namun tuntutan tersebut bisa diredam, setelah Ketua DPD Jatang Bambang Sadono "turun gunung" untuk meredakan ketegangan.

Humam kemudian ditunjuk sebagai Pelaksana Harian DPD Golkar saat Haris masih berada di penjara. Bahkan istilah PLH di Golkar sepertinya hanya berlaku di Banyumas saja.

Di sejumlah daerah lain, istilah seperti itu tak digunakan. Bahkan ketika Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung dipenjara, dia tetap bisa menjalankan roda organisasi dari balik jeruji.

Di jajaran Golkar Banyumas pengelompokan tidak hanya antara kubu Haris dan Humam. Ada juga kubu mantan ketua DPD Golkar Nurkamilah yang juga masih memiliki dukungan riil di tingkat arus bawah. Belum lagi kelompok sempalan di sejumlah anggota fraksi di DPRD yang sempat diusulkan oleh DPD untuk diganti. Kelompok ini dimotori oleh Isworobroto. Sikap-sikapnya terlihat jelas saat menyikapi masalah Golkar.

Berbagai persoalan itulah yang membuat sejumlah pihak memandang bahwa partai itu tak lagi solid. Menyikapi soal adanya indikasi perpecahan saat Pilbup ini, Humam dan Haris tetap membantah. Humam menyatakan, kedatangan ke rumah Wisnu bukan karena terkait perpecahan di tubuh Golkar."Ini juga bukan sebagai bentuk perpecahan di Golkar. Kedatangan kami hanya untuk bersilahturahmi dan berkomunikasi biasa," bantah

No comments: