Monday, December 8, 2008

Teknologi, Syarat Mutlak Memajukan Industri

Dewi Lusiana
Mahasiswi Program Doktor Administrasi Bisnis, Newcastle University, Australia.


Dalam ekonomi pasar berlaku dalil sukses dan berhasilnya sebuah badan usaha dan bahkan ekonomi sebuah negara ditentukan oleh kehendak pasar, sedangkan kata kunci merebut kehendak pasar ini pun jelas pula, yaitu persaingan bebas. Dalam kaitan ini, muncul adegium yang mengatakan siapa yang sanggup memenangkan persaingan bebas, akan merebut kehendak pasar, dan siapa yang merebut kehendak pasar, akan menjadi penguasa dalam imperium ekonomi dunia.

Persoalan apakah peranan negara di dalam aktivitas ekonomi semakin terpinggirkan oleh pasar (market) ataukah tidak dan termasuk pula baik atau tidaknya peminggiran masih dalam perdebatan. Ini tentu bermakna pemikiran yang berasal dari ide-ide kapitalis masih belum mencapai kata akhir.

Kecenderungan perekonomian dunia dalam beberapa dekade terakhir ini menjurus ke arah ekonomi pasar. Persoalan paling krusial yang harus dijawab oleh negara-negara berkembang adalah bagaimana caranya agar mereka tidak tergilas roda perekonomian. Atau jika mungkin, justru merekalah (negara-negara berkembang) yang menjadi pemutar (atau setidaknya ikut memutar) roda tersebut.

Jika kita mengabaikan pandangan monetarist dan mengatakan industri riil motor utama yang akan memberi kemakmuran, pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimanakah negara-negara berkembang menguasai dan mengejar ketertinggalan teknologi. Sejak industri dunia bangkit melalui revolusi industri pada abad ke-18, sejak itu jelas inti pertumbuhan industri adalah teknologi.

Industri tanpa teknologi adalah ilusi. Karena itu, syarat utama menjadi negara industri adalah penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi bukanlah perkara mudah, apalagi karena teknologi bersifat inovatif atau up-date.

Upaya menguasai teknologi, terutama oleh negara berkembang, sering mirip dengan mengejar fatamorgana atau mirip perpacuan Achilles dan Hector dalam Perang Troya. Namun, karena adanya bukti-bukti negara-negara yang tadinya agraris dapat mengubah menjadi negara industri (misalnya, Jepang, India, Korea Selatan, dan Taiwan), dapat disimpulkan penguasaan teknologi oleh negara berkembang (termasuk Indonesia) bukanlah mustahil.

Bukan alih teknologi
Berharap alih teknologi dari negara-negara maju dan perusahaan-perusahaan multinasional, tidak akan menjadi solusi bagi persoalan di atas, melainkan (lagi-lagi) ilusi. Kalau kita melihat kegiatan berproduksi dan merebut pasar global adalah suatu persaingan dan bahkan pertarungan, sebuah negara yang memberikan teknologi maju dan terdepannya ke negara lain akan sama halnya dengan membekali musuh dengan peluru.

Dari kasus industri mobil di Indonesia (dan juga industri lainnya), di mana perusahaan-perusahaan lokal di Indonesia bertahun-tahun hanya dijadikan perusahaan perakit dan pemasar, sementara sebagian besar komponen produksi masih didatangkan dari luar negeri. Maka, persoalan sudah amat jelas, alih teknologi memang tidak terjadi dan tidak dapat diharapkan.

Kalau kita tidak boleh terlalu banyak berharap dari bangsa lain dalam hal pengembangan teknologi, apakah solusi yang mungkin ditemui? Jomo K S, ekonom kenamaan asal Malaysia, sekaligus pula penulis sejumlah buku dan analisis tentang perkembangan industri dan teknologi negara-negara Asia, belum lama ini mengatakan sebagai berikut. Dengan derasnya aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dari negara-negara maju dan perusahaan-perusahaan multinasional beberapa tahun terakhir ini, negara berkembang seharusnya mampu mengambil manfaat berlipat.

Selain mendapat tambahan kapital untuk pertumbuhan ekonomi nasional, hal tersebut juga memungkinkan mereka meminjam, merekayasa terbalik, dan bahkan meniru teknologi negara maju dan perusahaan besar tadi, kemudian memodifikasinya sesuai kebutuhan dalam negeri masing-masing.

Menciptakan teknologi baru dari kondisi nol, di samping membutuhkan biaya besar dan waktu panjang juga memerlukan kesiapan sumber daya manusia ahli dan terlatih sebagai pelaku. Karena itu tidak heran banyak negara berkembang yang umumnya tidak memiliki kemampuan dan dana cukup untuk invensi, di samping pula terdesak kebutuhan meningkatkan daya saing global, lebih memilih menempuh cara-cara yang disebutkan di atas sebagai jalan pintas untuk menguasai teknologi.

Kebangkitan teknologi India, Korea Selatan, dan Taiwan dalam 10 tahun terakhir, termasuk pula jatuh bangunnya sejumlah industri bidang teknologi di tiga negara ini pada masa transisi menjadi negara industri, suka atau tidak fakta bahwa negara berkembang pun sanggup mematahkan dominasi negara maju dalam hal penguasaan teknologi.

Dalam kasus India, misalnya, ini dapat dilihat dalam industri farmasi yang memegang peranan penting dalam perekonomian mereka, sekaligus menjadi salah satu yang terbesar dan termaju di dunia (22 persen dari total obat global disuplai India). Keberhasilan ini dicapai berkat penguasaan teknologi maju yang mereka peroleh melalui reverse engineering seperti disebutkan sebelumnya, yaitu meneliti teknologi pembuatan obat-obatan yang diciptakan negara Barat dan kemudian membuat versi lokalnya untuk menghasilkan obat sejenis dengan biaya lebih murah.

Padahal, hingga pertengahan 1990-an industri farmasi India belum dianggap penting dan bahkan belum masuk hitungan para pengamat dunia. Mirip dengan India, kemajuan teknologi yang dimiliki Korea Selatan saat ini pun tidak murni berasal dari invensi.

Seperti ditulis Dr Isa Ducke, akademisi dan peneliti yang ahli Jepang, dalam bukunya: Status Power: Japanese Foreign Policy Making Toward Korea, kemajuan industri mobil di Korea Selatan hasil mempelajari secara diam-diam dan meniru teknologi Jepang selama bertahun-tahun. Melihat kemiripan antara mobil Korea dan Jepang, fakta teknologi yang digunakan adalah sama memang sulit dibantah.

Memerhatikan kemajuan spektakuler India, Korea Selatan, dan juga negara-negara lain dalam pengembangan dan penguasaan teknologi, mungkin kita dapat mengambil kesimpulan: akuisisi teknologi bisa dilakukan dengan cepat, bukan dengan melakukan invensi, melainkan dengan cara mencari jejak negara-negara pendahulu (melalui riset) dan kemudian mengikutinya. Bahkan, dalam konteks kemajuan teknologi di Jepang, Profesor Kaname Akamatsu, pencipta Flying Geese Model, yang terkenal itu pun secara eksplisit mengatakan tentang adanya peniruan tersebut.

Uraian di atas langsung atau tidak sekaligus pula mengisyaratkan Indonesia harus segera menentukan langkah dan mengambil sikap terkait upaya pengembangan dan penguasaan teknologi. Jika dilihat dari konteks kepentingan nasional, di mana pengembangan teknologi menjadi syarat mutlak memajukan ekonomi, maka menempuh cara di atas merupakan alternatif, dan kalau bukannya keharusan.

Bagaimana menyiasati tuntutan hukum, terutama mengkaji sampai sejauh mana dapat dikatakan menjiplak dan sejauh mana tidak, tentu merupakan seni tersendiri. Jika kita mengatakan industri berasal dari Eropa, kemudian disusul oleh Amerika, Jepang dan negara-negara lain di Asia, maka langkah pertama dan utama para follower ini dalam pengembangan teknologi tampaknya memang telah menapak jalan di atas.

Ikhtisar:
- Alih teknologi tidak akan menjadi solusi bagi persoalan negara-negara berkembang.
- Reverse engineering mutlak agar bisa menguasai teknologi maju untuk kepentingan industri.
(-)

No comments: