Friday, December 26, 2008

Pragmatisme:

Sejarah Pragmatisme
Charles Sanders Pierce, sebagai bapak pramagtisme yang memaklumatkan pemikirannya pada tahun 1878 di Amerika, kemudian dia menulis sebuah buku dengan judul : “ How to Make Our Ideas Clear”. Secara kelahirannya, adalah William James yang mempopulerkan lewat tulisannya yang berjudul “Philosophycal Conceptions and Practical Result” tahun 1898. Aliran ini semakin berkembang, apalagi John Dewey dalam bukunya yang berjudul “Democracy and Education” ;” Reconstruction in Philosophy” ; dan “Experience in Education” serta “How We Think” menyoroti secara tuntas dan terbuka mengenai pragmatisme. Namun , John Dewey dan para pengikutnya lebih suka menyebut pemikirannya tentang pragmatisme sebagai “Instrumentalisme”

Aliran ini tersebar luas dalam koridor filsafat modern. Pragmatisme merupakan inti dari filsafat pragmatik, dan menentukan nilai pengetahuan berdasarkan kegunaan praktisnya.

Kegunaan praktis disini, bukan berarti adanya pengakuan kebenaran obyektif dengan kriteria praksis, melainkan apa yang memenuhi kepentingan- kepentingan subyek individu.



Ditinjau dari beberapa pandangan dasar :

1. Pengetahuan harus digunakan untuk memecahkan masalah-masalah setiap hari, masalah-masalah praktis; membantu kita beradaptasi dengan lingkungan kita. Pemikiran harus berhubungan dengan praksis dan aksi.
2. Pengetahuan berasal dari pengalaman, metode-metode eksperimental dan usaha- usaha praktis. Pragmatisme kritis terhadap spekulasi metafisik dalam meraih kebenaran.
3. Kebenaran dan arti gagasan harus dikaitkan dengan konsekuensinya (hasil, penggunaan). Gagasan merupakan pedoman bagi aksi positif dan bagi rekonstruksi kreatif atas pengalaman dalam berhadapan menyesuaikan dengan pengalaman-pengalam an baru.
4. Kebenaran adalah apa yang bernilai praktis dalam pengalaman hidup kita, dan ia bertindak sebagai instrumen atau sasaran yaitu :

4.1. Dalam mencapai tujuan-tujuan kita

4.2. Dalam kemampuan kita untuk meramalkan dan menyusun masa depan bagi penggunaan kita.

5. Kebenaran itu berubah, bersifat tentatif dan asimtotis.

6. Arti gagasan (teori,konsep, keyakinan) sama dengan :

6.1. Kegunaan praktis yang dapat diberikan oleh gagasan itu, dan

6.2. konsekuensi yang berasal dari gagasan itu.


Dalam menjelaskan realitas, pragmatisme mengambil pendirian ”empirisme radikal”, yang berkaitan erat dengan empiriokritisisme. Dalam pragmatisme, realitas obyektif diindentikkan dengan ”experience” atau ”pengalaman”, dan pembagian pengetahuan kedalam obyek dan subyek hanya dilakukan di dalam pengalaman.

No comments: