Wednesday, January 28, 2009

MATEMATIKA SULIT, TAK MESTI HARUS LES!

Bagi sebagian murid sekolah, matematika dianggap pelajaran sulit,
meskipun tidak sedikit yang menyenangi pelajaran ini. Kalau kebetulan
anak kita termasuk murid yang kesulitan dalam matematika, maka kita
lah yang harus belajar. Sebab, les atau kursus belum tentu tepat
untuk membantunya.

Meski tidak semua, banyak di antara murid sekolah, terutama SD yang
merupakan tingkat dasar dari seluruh pendidikan yang akan dijalani
anak, mengeluhkan soal pelajaran matematika. Mereka menganggap
matematika sebagai pelajaran sulit. Terlebih lagi bila mereka
mendapat nilai di bawah rata-rata. Yang punya niat akan lebih tekun
mempelajari, kembali hilang semangat.

Celakanya, kalau keadaan ini terus berlanjut hingga ke jenjang
pendidikan berikutnya. Maka, sepanjang masa pendidikan mereka
menganggap matematika menjadi pelajaran paling menyeramkan.

Padahal, matematika sebenarnya pelajaran mengasyikkan. Apalagi, untuk
murid SD. Pada tingkat pendidikan dasar ini pelajaran matematika
masih berkenaan dengan berhitung, yang merupakan bagian dari
matematika, yakni operasi tambah, kurang, kali, dan bagi. Mula-mula
menggunakan bilangan bulat. Kemudian meningkat ke bilangan pecahan.
Operasi hitung itu bisa dipelajarai sambil bermain yang memang
merupakan kegiatan utama anak-anak.

Pada tingkatan lebih tinggi pun matematika tak perlu jadi momok.
Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion, pakar matematika dari Institut
Pertanian Bogor (IPB), memberikan bukti. Setiap tahun ada tiga puluh
murid terbaik dari setiap propinsi ikut seleksi olimpiade
matematika. "Ini bukti mereka tidak takut matematika. Mereka malah
senang matematika, meskipun ketika latihan di BP3G IPA di Bandung
mereka diberi soal-soal sulit," tuturnya.

Kalau pun anak gagal mendapatkan nilai baik ketika pada awal-awal
sekolah SD, orang tua tak perlu gusar. Kesempatan untuk meraih sukses
masih ada. Bahkan, tak tertutup kemungkinan menjadi pakar matematika
seperti yang dialami Andi Hakim. "Saya dulu belajar berhitung dari
buku Bouwman en van Zelm di kelas satu HIS Ardjoena, yaitu pada
triwulan pertama tahun ajaran 1937/1938. Nilai berhitung saya di
rapor waktu itu empat. Sangking marahnya ayah saya hendak menukar
otak saya dengan otak ayam percobaannya di kandang. Katanya, ayam
betina lebih pintar berhitung dari pada saya. Ketika itu saya benci
sekali terhadap pelajaran berhitung," cerita mantan rektor Institut
Pertanian Bogor ini. Namun, yang terjadi kemudian, Andi Hakim menjadi
pakar matematika.

Prakondisi kurang tepat

Matematika memang bukan berhitung, tetapi berhitung pasti matematika.
Pasalnya, berhitung merupakan bagian dari matematika. Matematika
sendiri merupakan ilmu struktur, urutan (order), dan hubungan yang
meliputi dasar-dasar penghitungan, pengukuran, dan penggambaran
bentuk objek. Ilmu ini melibatkan logika dan kalkulasi kuantitatif,
dan pengembangannya telah meningkatkan derajad idealisasi dan
abstraksi subjeknya.

Menurut Andi Hakim, matematika memang harus diajarkan sejak SD kelas
satu. "Namun, bahan yang perlu diajarkan disesuaikan dengan daya
cerna murid. Masalahnya, banyak sekali guru SD yang tidak memahami
berhitung sekali pun, karena dia tidak menguasai teorinya, yakni
matematika," jelasnya. Akibatnya, ada di antara muridnya tidak
bersemangat, bahkan takut, pada pelajaran matematika.

Andi Hakim dan Henny Supolo Sitepu, seorang pendidik dari sekolah Al-
Idhzar, menduga ketakutan anak itu besar sekali kemungkinannya karena
si anak sudah diprakondisikan oleh orang tuanya yang menakut-
nakutinya. "Kalau orang tua menganggap matematika sebagai momok, anak
juga mempunyai anggapan yang sama," ujar Henny. Andi Hakim bahkan
menyatakan ada guru yang menggunakan soal matematika untuk menghukum
muridnya yang nakal. Lebih celaka lagi, sebagian masyarakat pun tidak
memberikan apresiasi yang positif terhadap pelajaran
matematika. "Saya pernah mengirimkan press release tentang prestasi
pemuda Indonesia dalam Asia Pasific Mathematics Olympiad tahun 2000.
Mereka memperoleh satu medali perak, lima medali perunggu, dan empat
honorable mention. Tidak ada koran atau majalah yang mau memuatnya!,"
tutur Andi hakim memberi contoh. "Media lebih baik memuat pertanyaan
mengapa perempuan, yang sedang dipenjara, bisa hamil dan siapa
agaknya yang menghamilinya. Kita ini bangsa yang lebih suka mendengar
sensasi daripada menyerap pengetahuan bermanfaat," tambahnya sedikit
geram.

Belum lagi para pejabat yang berkompeten ternyata juga bukan orang
tepat. Andi Hakim menceritakan, "Pada suatu ketika, sebelum berangkat
ke olimpiade matematika internasional, seluruh regu peserta
berniat `matur' kepada menteri. Tetapi menterinya terlalu sibuk untuk
masalah matematika. Akhirnya kami dipersilakan bertemu bawahannya,
yang cukup tinggi kedudukannya, untuk mendapatkan `sangu' sebelum
berlaga di gelanggang internasional. Apa `sangu'nya? Dia bilang, dia
paling bodoh mengenai matematika. Untung ada SMA bagian A, sehingga
dia bisa lulus SMA. Kalau tidak begitu mana mungkin dia menjadi
mahasiswa di universitas, menjadi sarjana, doktor, profesor, dan
kemudian menjadi rektor. Kalau tidak pernah menjadi rektor, mana
mungkin dia mendapat kedudukan bawahan menteri. Semua siswa yang akan
berangkat tertawa. Tetapi saya merasa kena sindir, karena setelah
saya berhenti jadi rektor, tidak mampu masuk eselon satu, cuma bisa
mengantar siswa yang senang matematika ke olimpiade matematika."

Peran orang tua sangat penting

Lalu, bagaimana menyelamatkan anak dari atmosfer matematika yang
sedikit "mendung"? Di sini peran orang tua menjadi sangat
penting. "Orang yang lebih diharapkan untuk bisa diandalkan mengerti
kebutuhan anak adalah orang tua, bukan guru. Orang yang diharapkan
bisa diandalkan untuk tahu pintu masuk paling efektif dalam
memberikan pemahaman apa pun, adalah orang tua. Orang yang harusnya
mengerti gaya belajar anak adalah orang tua," tegas Henny.

Yang pertama dilakukan tentu mengubah persepsi matematika yang
menakutkan itu menjadi menyenangkan. "Kalau matematika dipandang
sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka pelajaran itu menjadi bagian
kehidupan yang menyenangkan, " tegas Henny. Orang tua juga mesti
segera mengambil tindakan untuk membantu anak belajar matematika
dengan cara menyenangkan. Caranya, dengan memberi contoh kongkrit,
bukan yang abstrak. "Kongkritkan dulu dalam suatu benda yang mereka
lihat. Berapa kali berapa menjadi berapa. Lalu latihlah dalam
kehidupan sehari-hari, " tambahnya. Memang, idealnya sekolah juga
melakukan pendekatan sama yakni mencoba memberikan konsep-konsep itu
secara kongkrit dan mencoba untuk memberikan latihan-latihan sesuai
dengan kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh anak. "Yang jadi
masalah, di sekolah 'kan tidak seperti itu. Karena itu, kita
sebaiknya melakukan segala sesuatu dari hal yang bisa kita lakukan.
Jangan melihat sesuatu dari yang tidak bisa kita lakukan," tutur
Henny lagi.

Umpamanya, dengan mengamati lukisan karapan sapi. Dalam karapan itu
anak bisa menghitung berapa pesertanya, kalau setiap peserta ditarik
dua ekor sapi, berapa jumlah seluruh sapinya. Contoh lainnya, kalau
ada delapan orang hendak bepergian, kira-kira perlu berapa mobil
sedan. Jawaban memang bisa macam-macam. Itu merupakan gagasan.
Misalnya jawabannya satu mobil. Alasannya, ada yang dipangku. Lewat
cara ini anak juga diajak berimajinasi dan bisa mempunyai berbagai
pilihan.

Sementara, untuk anak yang kurang paham soal uang, anak diajari
belanja sendiri ke warung. Ia membawa uang berapa, memperkirakan
kembaliannya, menghitung di situ kembaliannya. Dengan cara macam itu
kita membuat anak merasakan bahwa itu merupakan bagian dari kehidupan
sehari-hari. Atau, dengan membuatkannya uang-uangan dari potongan
kertas dan diberi nilai 25, 50, 100, 500. dsb., sesuai dengan pecahan
uang yang beredar. Sambil belajar anak sekaligus diajak bermain.
Dengan cara seperti itu anak jadi lebih tertarik dan lebih paham
masalah nilai uang, meskipun perlu waktu dan kesabaran.

Hal sama sebenarnya bisa pula dilakukan sekolah. Misalnya seperti
yang di lakukan sekolah Al-Idhzar. Setiap akhir tahun diadakan acara
bazar. Anak-anak diminta berjualan. Misalnya ada yang berjualan
sirup. Contoh lainnya, suatu hari murid ditugasi menghitung temannya
yang memakai kerudung. Berapa yang memakai kerudung putih, kerudung
merah, dan kerudung hitam. Selanjutnya menjumlahkan semua murid yang
memakai kerudung. Kalau, jumlah siswanya sekian, yang tidak pakai
kerudung berapa?

Dalam membantu anak belajar matematika dengan cara tadi, maka peran
alat peraga menjadi sangat besar, terutama untuk anak SD. Tidak perlu
yang mahal. Henny mencontohkan penggunaan daun kering untuk
menghitung luas suatu bidang tertentu. Dengan daun sebesar ini,
berapa daun dibutuhkan untuk menutupi bidang tertentu. Atau dengan
menggunakan kendaraan yang lewat di depan rumah. Dalam jangka waktu
tertentu ada berapa kendaraan lewat? Berapa kendaraan roda tiganya,
dan berapa roda empatnya? Jam berikutnya, dihitung lagi. Kemudian
dalam seminggu bisa dilihat perbedaannya. Lalu dianalisis, kenapa
pada hari Senin dan Jumat sangat ramai dan hari lain tidak
terlalu. "Itu semua latihan logika dan matematika," jelasnya.

Jadi tidak perlu alat peraga istimewa dan mahal. Yang dibutuhkan
kreativitas kita. Mula-mula dilakukan pendataan, apa saja yang bisa
dipakai. Lalu kita mencoba memikirkan bagaimana mempergunakan potensi
yang dimilikinya untuk memudahkan anak-anak belajar.

Dalam praktik, kalau kita mengikuti pelajaran matematika anak sejak
awal, kita bisa mencari jalan apa yang harus kita lakukan di rumah
untuk menerangkan suatu hal. Masalah akan menjadi rumit kalau kita
tidak mengikutinya sejak awal. Memang pada saat yang diajarkan
istilah-istilah, anak menjadi bingung. Namun bingung dalam istilah
tidak berarti bingung dalam pemahamannya. Itulah yang tetap kita
jembatani dengan mencarinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
mencari pemahaman dasar dalam kehidupan sehari-hari, maka matematika
tidak akan menjadi sesuatu yang menakutkan.

Les atau kursus belum tentu berguna

Sudah tentu orang tua zaman sekarang tidak boleh judeg atau putus
asa. "Itulah risikonya menjadi orang tua. Jadi, mereka harus tetap
berupaya. Konsep belajar seharusnya adalah konsep yang terus kita
lakukan sampai kita mati. Sebaiknya, konsep itu dipahami dan
dilakukan, bukan hanya diucapkan," tutur Henny mengingatkan.

Bisa saja orang tua mencoba membantu anak dengan cara meleskan atau
mengkursuskan. Namun, menurut Henny, kita mesti tahu terlebih dahulu
masalah yang dihadapi si anak. Jangan-jangan dia anak yang punya
masalah diskalkuli; ada sesuatu yang membuat anak ini berpikir lain
dalam soal penomoran. Atau mungkin anak ini tidak suka pada gurunya?
Sehingga masalahnya lebih berhubungan ke emosi daripada yang lain.
Mungkin juga anak ini sedang protes kepada orang tua. "Les atau
kursus kita berikan kalau kita sudah tahu betul apa masalahnya,"
jelas ibu dua orang remaja ini.

Anak perlu dileskan kalau ia membutuhkan kontak satu-satu untuk tiba
pada tingkat pemahaman. Kadang-kadang itu pun hanya pada topik-topik
tertentu. Kalau demikian halnya, mungkin bisa dimintakan remedial.
Guru atau orang tua menjelaskan topik-topik tertentu. "Jadi tidak
perlu setiap saat dileskan. Karena dileskan itu, apalagi kalau terus
tanpa kita tahu penyebabnya, bisa menyebabkan ketergantungan. Juga
kita jadi tidak tahu seberapa jauh anak tertantang untuk
mengembangkan dirinya," tambahnya.

Kursus pun belum tentu bisa membantu anak mencapai sasaran. "Saya
pernah melihat stand salah satu metode pengajaran matematika di
International Conference on Matematics Education tahun 1996 di
Totonto. Isinya tidak lain adalah landasan teori matematika untuk
mengajarkan berhitung. Jadi sebenarnya pesertanya cuma belajar
landasan teorinya," jelas Andi Hakim.

Melihat plus-minus kursus yang berkaitan dengan matematika, Henny
menyarankan orang tua untuk mempertimbangkan betul kegunaan kursus-
kursus itu bagi anaknya dan bagaimana perkembangan anaknya secara
menyeluruh. Anak itu membutuhkan banyak perkembangan.

Sementara untuk orang tuanya, dalam pandangan Henny, forum untuk
sharing, adalah tempat yang tepat. Tidak perlu formal, yang penting
bisa menjadi kumpulan orang tua dengan minat sama, kebutuhan sama,
dan bisa berbagi. Mungkin pada saat berbagi itu ditemukan lebih
banyak gagasan. Tidak hanya dalam hal matematika, tetapi berbagai
hal, termasuk bagaimana mengatasi kesulitan belajar.

Memang, forum semacam ini belum terdengar ada. Namun, di Singapura
sudah ada lembaga formal yang secara berkala menggelar lokakarya
untuk membantu orang tua yang memiliki anak bermasalah dalam hal
matematika. Ini menggambarkan, bila anak mengalami kesulitan belajar
matematika, orang tua lah yang mesti belajar. (I Gede Agung
Y./Anglingsari Saptono

1 comment:

media sukses said...

Menurut saya kuncinya ada di latihan agar matematika menjadi mudah. Hal dasar seperti penjumlahan dan pengurangan dan perkalian dasar harus sudah dikuasai dengan berlatih. Latihan mandiri bisa dilakukan dengan bantuan seperti layanan web berikut (perkalian dasar) :

http://kali.biosmn.com

selamat berlatih..