Monday, December 1, 2008

Pesona Babileta di Bukit Lenin

Minggu, 26 Oktober 2008 pukul 09:15:00


Berkunjung ke kota termahal di dunia, Moskow, tidak afdol bila tidak berziarah ke Kremlin dan lapangan merah. Tapi, juga tidak lengkap kalau tidak berfotoria di Leninsky Gory, atau Bukit Lenin. Bertepatan dengan musim gugur, bukit kejayaan komunis ini sering disebut-sebut sebagai salah satu titik paling romantis di dunia.

Pada akhir Ramadhan, atau minggu pertama Oktober 2008, bumi bagian utara sudah resmi memasuki musim gugur. Daun-daun menguning dan dimanapun Anda pergi, akan melihat bagaimana genitnya ciptaan Tuhan itu melayang-layang untuk kemudian bersujud di bumiNya. Dalam hitungan hari ke depan semua pohon akan meranggas, melepas semua atributnya untuk berpuasa hingga datangnya musim semi, setengah tahun ke depan.

Uniknya, setelah dihantam hawa dingin yang hampir mencapai titik nol selama Ramadan, kota Moskow kembali menghangat. Sampai dengan sepertiga bulan Oktober lalu temperatur bisa mencapai 20 derajat Celcius. Matahari kembali mencorong dan bersahabat. Mantel dingin sementara ditanggalkan, cukup mengenakan jaket tipis. Bahkan angin dari kutub utara pun seolah berhenti sejenak. Inilah yang sering disebut masyarakat Rusia dengan Babileta, atau menurut orang Amerika Serikat (AS), sebagai Indian Summer.

Tentu saja, semua orang tidak akan menyia-nyiakan suasana hangat sesaat itu. Sebab, dapat dipastikan, begitu Babileta pergi maka dunia akan semakin kelam. Matahari menjadi enggan muncul dan langitpun seolah mendung tanpa henti. Belum lagi hawa dingin dan hujan yang membuat aktivitas semakin sempit. Pada saat demikian, bagi yang berduit tentu lebih suka pergi melancong ke tempat yang panas, sebagaimana layaknya naluri aneka unggas (burung).

Bagi orang Moskow dan pelancong yang kebetulan singgah di kota termahal di dunia itu, Babileta adalah saat yang tepat untuk berkunjung ke Leninsky Gory, sebuah tempat tertinggi di Moskow yang terdiri dari bukit-bukit kecil dan bisa memandang dengan lepas kota yang menjadi modern dalam waktu singkat itu. Keindahan alamnya ditopang oleh kontur tanah yang naik turun dan dipadukan dengan arsitektur maupun pengelolaan taman yang sangat elok. Inilah salah satu surga yang diturunkan Tuhan di tanah komunis.

Untuk mencapai Bukit Lenin dari pusat kota, hanya diperlukan waktu sekitar 20 menit dengan mobil pribadi, atau setengah jam dengan ankutan umum. Dengan jarak 13 km dan transportasi yang saat ini sudah mulai modern, bukit itu sangat mudah dijangkau. Bahkan, kadang terlihat gerombolan anak muda yang dengan sengaja jalan kaki atau bersepeda sambil menikmati suasana alam dan lingkungan yang indah.

Empat kilometer menuju bukit kejayaan komunis itu lingkungan yang diciptakan sudah mulai terasa eloknya. Begitu belok kanan dari patung kosmonot Gagarin, jalan enam jalur dibelah dengan pepohonan yang diatur dengan rapinya. Baik jarak, besar dan rindangnya, direkayasa sedemikian rupa sehingga semuanya menjadi mirip.

Pada musim gugur, daun-daunnya menjadi kuning dan setiap detik ada saja yang berjatuhan. Di tengah-tengah rentetan pepohonan tadi dibuat jogging track yang dilapisi beton. Orang tua maupun anak muda terlihat menikmati suasana area itu, baik dengan bercanda, memotret maupun membaca buku.

Tiba di bagian atas bukit Lenin suasana yang terbangun adalah perpaduan antara man-made dan God-made -- ciptaan manusia dan ciptaan Tuhan. Hanya dua kata yang mampu menggambarkannya: luar biasa. Di sisi kiri terlihat lapangan sangat luas yang di belakangnya berdiri bangunan kampus MGU atau Moskow State University. Universitas paling terkemuka di Moskow ini memiliki arsitektur dan nilai politis yang tinggi.

Vysotki
Bangunan menjulang dengan gayanya yang modern yang dibangun pada tahun 50-an adalah salah satu dari the Seven Sisters atau Vysotki yang sangat terkenal itu. Diresmikan tahun 1953, gedung ini merupakan bangunan tertinggi (240 meter) di Eropa sampai dengan 1990 dan hingga kini masih merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia.

Pembangunannya dilakukan oleh 14.290 pekerja yang utamanya adalah para tawanan perang dan menghabiskan 40 ribu metrik ton baja. Setiap ujungnya yang semakin meruncing mengingatkan kita pada stupa-stupa candi Borobudur.

Bangunan megah berwibawa tersebut sengaja dibuat oleh Lenin dengan para arsitek pilihan saat itu untuk semata-mata menunjukkan bahwa Soviet tidak kalah dengan Amerika Serikat (The Manhattan Municipal Building, 1915) dan Inggris (The Royal Liver Building, 1911). Penempatannya di bukit tertinggi di Moskow tentulah bukan sebuah kebetulan semata, namun merupakan campur tangan orang nomor wahid di Soviet saat itu.

Di bagian kanan jalan yang berdempetan dengan lereng bukit, sengaja dibuat trotoar yang lebarnya 20 meter sepanjang seratusan meter. Di tengah-tengahnya terdapat pedagang kaki lima yang menjajakan aneka souvenir khas Rusia seperti boneka matrioshka, jam kuno zaman komunis, topi bulu hingga gantungan kunci. Semua berjajar rapi dengan lapak yang sama.

Terlihat para pengunjung mengerubungi semua lapak yang ada sambil menawar. Maklum saja harga souvenir di sini setinggi langit, sehingga bagi yang ahli menawar, harga bisa turun dibawah 50 persen. Dari belakang para penjaja itulah para pengunjung biasanya mengambil gambar dan berfotoria dengan latar belakang kota Moskow.


Panorama Kota dan Hutan

Pemandangan yang tercipta oleh alam juga sangat mempesona. Dari Leninsky Gory terlihat hutan Lenin yang cukup luas yang diakhiri dengan aliran Sungai Moskow yang tenang.

Di sebelahnya terlihat stadion sepakbola yang megah dan aneka gedung kota menjulur ke langit. Hebatnya lagi, menghadap ke kota kita akan dapat melihat 'saudara-saudara' MGU Building yang berada persis di belakang kita.

Untuk melengkapi alam rekreasi pada era 50-an, pada lereng bukit dibangun peralatan ski jumping baik untuk musim panas maupun ketika dipenuhi salju. Para atlet yang sudah meluncur turun dapat kembali naik dengan peralatan gondola yang disediakan.

Meluncur dari Bukit Lenin sungguh menakjubkan karena para atlet seolah akan terbang lepas landas dan mendarat di Sungai Moskow atau di tengah-tengah kota.


Danau dan Aneka Warna Bebek

Menuruni Bukit Lenin dengan ketinggian sekitar 250 meter merupakan keasyikan tersendiri. Jalan berkelok dengan tangga yang berjumlah ratusan. Di sisi kanan dan kiri aneka pohon besar berdiri tegak. Angin semilir pada Babileta ini telah menerbangkan ribuan daun kuning pada setiap menitnya.

Kotornya dedaunan di tanah menambah keunikan dari alam nan elok tersebut. Tiba di bagian bawah, para pengunjung disuguhi dengan danau yang masih dihuni oleh aneka bebek warna-warni. Sepanjang jalan setapak beberapa saung dan kursi panjang siap dipakai untuk melepaskan penat.

Terlihat banyak anak muda dan nenek-nenek yang mengumpulkan daun-daun kuning berdimensi lebar. Ada yang sekedar untuk mainan, menancapkan di rambut, berfotoria hingga dibawa pulang. Bagi sebagian orang, daun musim gugur dipercaya dapat memberikan berkah atau setidaknya dipakai alat hiasan di rumah.

Sejumlah pengumuman terpampang dengan perawatan yang baik. Di hutan kecil ini terdapat aneka binatang dan tumbuhan yang dilindungi. Mulai dari burung hingga jamur. Semua hanya boleh dilihat dan difoto, tidak diambil dan dimiliki. Bahkan memberikan makanan kepada hewanpun tidak diperbolehkan.

Dari sisi bawah juga, para pengunjung dapat menikmati pemandangan luncuran ski jumping yang dilakukan di atas sana. Para atlet seolah sedang berlaga dengan para supporter yang berada di bawah. Mereka mengangkat tangan sebelum meluncur dan ketika sampai di bawah mendapatkan hadiah tepukan tangan meriah.

Sejenak, lupakan zaman komunis dengan segala kekakuannya. Lupakan antrian roti yang panjang seperti ular. Lupakan mobil Lada yang tak ber-AC. Bila kantong sudah tebal, sekarang juga Anda bisa mendapatkan semuanya di Moskow dengan mudahnya, seperti layaknya selebriti dunia yang telah jenuh keliling dunia dan ingin mencicipi romantisme Rusia baru. m aji surya
(-)

Pesona Libya

ovember 2008 pukul 10:20:00

"Marhaban". Ucapan selamat datang yang terpampang di Bandara Internasional Tripoli itu menyambut setiap tamu yang singgah di Negeri Sahara, Libya.Bayangan saya tentang Negeri Petro Dolar itu seketika buyar saat pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Tripoli. Ternyata bandara milik negara bernama Great Socialist People's Libyan Arab Jamahiriya itu tak seperti yang saya bayangkan.

Kemegahan bangunannya masih kalah jauh bila dibandingkan Bandara Hasanudin, Makassar, yang baru-baru ini diresmikan."Inilah Libya, negeri ini sedang membangun setelah diembargo selama lebih dari 10 tahun," kata KH Muhyiddin Junaidi, alumni mahasiswa Fakultas Dakwah Islamiyah Libya yang mengundang saya untuk bertandang ke negara itu.

Untuk mencapai negara yang berada di benua Afrika Utara ini, saya harus menempuh perjalanan udara sekitar 13 jam. Sekitar delapan jam dari Jakarta ke bandara Internasional Dubai untuk transit selama tiga jam. Perjalanan dari Dubai ke Tripoli -- ibu kota Libya -- mencapai lima jam. Rasa lelah pun terasa hilang begitu bus yang menjemput saya dan rombongan melaju di jalanan.

Di sepanjang jalan yang saya lalui, pembangunan tampak tengah gencar ddilakukan. Jalanan kota Tripoli tampak lengang. Di sepanjang jalan, hanya poster foto Pemimpin Libya Kolonel Muamar Kaddafi yang terlihat serta gambar-gambar peringatan 39 Tahun Revolusi Al-Fatih. Tanggal 1 September 2008 adalah tahun ke-39 Libya menyatakan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Kendaraan di kota ini didominasi mobil Jepang dan Korea berwarna putih. Berbeda dengan di Indonesia, tak satu pun sepeda motor yang melaju di jalanan yang mulus dan lengang itu. Satu-satunya motor yang saya jumpai adalah sepeda motor besar merek BMW yang digunakan polisi lalu lintas untuk mengawal tamu negara.

Dua peradaban
Libya memang khas dan unik. Negeri ini menghadirkan dua peradaban sekaligus. Nuansa Arab dan Eropa kental mewarnai kota Tripoli, khususnya. Satu lagi yang membuat saya sempat heran, hotel berbintang lima tempat saya menginap di Tripoli namanya Bab Al-Bahar -- terletak di pinggir Laut Mediterania -- ternyata tak jauh beda dengan hotel bintang tiga di Indonesia.

"Dua atau tiga tahun lagi pasti berubah. Sekarang hotel-hotel internasional sedang dibangun di sini," kata Kusworo Nursidik, ketua Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia (KKMI) Libya.Yang membuat saya betah di negeri ini adalah hidangan khas Arab dan Libya yang sangat unik, namun enak. Hidangan daging kambing, ayam dan ikan dari Laut Mediterania terasa nikmat di lidah.

Keliling kota
Ditemani Atriadi Musthafa, mahasiswa Indonesia di Libya saya berkeliling kota Tripoli. Untuk mencapai pusat kota, ada dua pilihan angkutan umum yang bisa dipilih. Ada angkutan kota dan taksi. Angkutan umum di sana disebut ipeko. Bentuknya mirip mikrolet. Untuk mencapai kota ongkosnya hanya seperempat dinar Libya. Satu dinar nilainya mencapai Rp 7.500.

Sedangkan, jika menumpang taksi ongkosnya mencapai dua dinar. "Tergantung pintar-pintar kita menawar, karena di sini tak pake argo," tutur Atriadi.Tujuan pertama saya adalah Jalan Medan Aljazair. Di jalan ini berdiri dengan megah Masjid Gamal Abdul Naser. Dulunya bangunan itu adalah bekas gereja Katedral yang disulap menjadi masjid. "Orang Libya itu begitu mengagumi Gamal Abdul Naser dan Soekarno," kata Atriadi.

Penduduk Tripoli begitu ramah kepada orang Indonesia. "Indonesia and Malaysia good," celetuk dua pemuda saat melihat kami berjalan. Ada dua nama kota di Indonesia yang diabadikan di Tripoli, yakni Jalan Bandung dan Jakarta.

Di sebelah kiri masjid terdapat bangunan megah yang dijadikan tempat santai sembari menyeruput kopi khas Arab. Setelah mencoba mencicipi kopi dan roti yang cukup aneh di lidah, saya sempat mengunjungi taman kota Tripoli. Rumput yang hijau serta pohon kurma yang berbuah lebat menjadi pemandangan yang sangat indah. Seakan-akan, saya tak berada di negeri padang pasir."Jakarta saja, tak punya taman seasri dan sesejuk ini," kata seorang warga Jakarta, Alimin Abdulah, yang juga tengah bertandang ke Tripoli.

Setelah melepas lelah, saya kembali menelusuri jalan-jalan di kota yang dalam bahasa Arab disebut Tarabulus ini. Sepanjang jalan yang saya susuri bangunan pertokoan dan perumahan di pusat kota umumnya bergaya Italia. Maklum saja, negeri ini sempat dijajah Italia pada pertengahan abad ke-20 M.

Tempat bersejarah lainnya yang tak boleh dilewatkan adalah Benteng Peninggalan Turki Usmani. Letaknya di jalan Medan Syuhada. Berwarna cokelat, benteng itu masih tegap berdiri. Di sebelahnya terdapat Pasar Turki yang selalu ramai dikunjungi pembeli. Pasar ini paling ramai dikunjungi pada siang menjelang sore hari.

Satu lagi, bangunan bersejarah yang tak boleh dilewatkan yakni Istana Malik Idris raja Libya yang digulingkan perwira muda tentara pada 1 September 1969. Letaknya di Jalan Dohro. Semua tempat itu bisa dicapai dengan berjalan kaki."Indonesia, apa kabar? Ahmed Soekarno is good. Soeharto no good," sapaan seorang pria Libya itu membuat saya tertawa lepas. heri ruslan



Leptis Magna Keajaiban Dunia di Libya

Tak lengkap rasanya berkunjung ke Libya, jika tak sempat singgah ke Leptis Magna. Inilah saksi sejarah kejayaan Imperium Romawi di permulaan abad masehi. Saya dan rombongan delegasi Konferensi Umum Dakwah Islamiyah ke-8 langsung dibuat takjub ketika pertama kali melihat gerbang Leptis Magna.

"Serasa berada di Yunani," ucap Prof Juhaya S Praja, guru besar UIN Bandung.Ya, nuansa Eropa begitu kental di sini. Gerbang bekas kota peninggalan Romawi itu masih menjulang dengan kokoh. Bekas kota peninggalan Romawi itu berada di sebelah Timur Tripoli menuju ke arah kota Benghazi. Jaraknya mencapai 120 kilometer dan dengan waktu tempuh 1,5 jam.

Untuk bisa sampai di Leptis Magna, Anda bisa menumpang taksi atau menyewa mobil dari Tripoli. "Kalau naik taksi ke sini ongkosnya 30 dinar," kata Kusworo Nursidik.Untuk bisa melihat peninggalan Romawi yang memukau itu setiap orang harus membayar tiket masuk sekitar enam dinar. Kota bekas kejayaan Romawi di Libya itu begitu luas. Letaknya berada di pinggir Laut Mediterania. hri


Gedung Teater Romawi

Yang membuat saya lebih terpukau, ketika berada di dalam bangunan teater yang dibangun pada tahun 1-2 M, di kawasan Leptis Magna. Di temani angin laut Mediterania serta pemandangan yang menakjubkan, berada di gedung teater ini sungguh mengesankan.

Para pengunjung pun mengabadikan setiap sudut tempat di teater ini. Setelah mengunjungi teater, bekas pasar di zaman Romawi yang begitu megah dan unik sungguh sayang untuk dilewatkan.Bangunan lainnya yang tak kalah indahnya adalah bekas istana raja Romawi. Begitu kokoh dan megah. Sayangnya, sudah banyak bagian yang tinggal puing-puing. Di dalam istana raja, terdapat mimbar tempat raja Romawi berpidato.

Di Leptis Magna juga terdapat lapangan olahraga serta bekas kolam pemandian. Bila Anda akan mengunjungi tempat ini sebaiknya memakai topi, maklum suhunya cukup panas.Meski telah puas mengelilingi bekas-bekas kejayaan Romawi di Leptis Magna, namun rasanya sangat berat untuk meninggalkannya. Kekaguman akan Leptis Magna masih terasa hingga kini. hri
(-)

Sunday, November 23, 2008

MENcari entry point DALAM Menggerakkan persyarikatan

Posted on October 1st, 2008 in 15 Wawasan Muhammadiyah by redaksi

Jabrohim

Banyak sekali pengalaman yang penulis dapat ketika ikut terjun mengelola Kuliah Kerja Nyata mahasiswa di pelosok-pelosok. Kehidupan riil masyarakat dapat terasa denyutnya. Demikian juga, kehidupan riil persyarikatan di pelosok-pelosok desa dan daerah yang jauh itu. Ada fakta-fakta yang menggembirakan, karena di sana persyarikatan dapat hidup dan berkembang pesat. Ada pula fakta-fakta yang memrihatinkan karena di sana persyarikatannya mengalami kemandegan, kembang kempis dan ada pula yang nyaris almarhum.

Di daerah dan di pelosok desa itu, maju mundurnya Persyarikatan ditandai oleh adanya regenerasi yang lancar atau mandek. Regenerasi bisa menyangkut usia tokoh penggerak Persyarikatan, bisa menyangkut peralihan atau transfer ide dan ideologi gerakan Muhammadiyah itu sendiri. Kadang regenerasi tokoh tidak jalan dan transfer ideologi gerakan juga tidak jalan. Kalau sudah demikian, kisah sukses Persyarikatan di tempat ini tinggal menjadi masa silam. Kehebatan para perintis, kehebatan para penggerak dan para pejuang Muhammadiyah dulu, tinggal menjadi kisah sukses yang enak dikenang, tetapi tidak enak untuk dihadirkan di tengah kondisi Persyarikatan yang kurang menggembirakan. Muhammadiyah menjadi organisasi para simbah dalam arti faktual dan simbolik sekaligus. Artinya, geraknya lamban dan kurang mampu menghadapi berbagai perubahan baru dalam masyarakat.
Ada pula yang regenerasi tokoh tidak jalan tetapi proses transfer ide dan ideologi gerakan berlangsung lancar. Ini biasanya ditandai oleh suburnya Ortom anak muda. Juga, satu dua majelis yang diisi oleh aktivis muda. Kegiatan ortom sangat mewarnai masyarakat itu, meski kegiatan Muhammadiyah sendiri cenderung semakin rutin. Karena tokoh tua Persyarikatan cukup arif untuk memberi ruang dan kesempatan kepada aktivis ortom dan aktivis majelis, maka para anak muda tetap memiliki gairah untuk tetap bergerak, berjuang dan mengembangkan masyarakat dalam kerangka perjuangan Muhammadiyah. Kondisi yang demikian masih memungkinkan Persyarikatan untuk memahami dan menghadapi berbagai perubahan zaman, yang paling kini sekalipun. Mereka bisa mengantisipasi perubahan tanpa gagap dan tergagap sedikitpun.
Yang paling ideal dan optimal manakala regenerasi tokoh dan proses transfer ide serta ideologi perjuangan dan gerakan berlangsung sama-sama mulusnya. Hampir dipastikan, Persyarikatan di tempat ini maju pesat. Kemajuan Persyarikatan ditandai, secara fisik, memiliki kantor yang bagus, masjid yang bersih dan representatif, amal usaha pendidikan yang jenjangnya lengkap, punya amal sosial yang tidak mengecewakan, amal usaha kesehatan pun tidak kalah dengan tempat lain, ditambah hadirnya lembaga keuangan syariah Muhammadiyah yang dapat menjadi pusat penggerakan ekonomi masyarakat setempat. Kemajuan pesyarikatan di tempat ini secara nonfisik tampak dari gerakan dakwah jamaah, dakwah media dan multimedia, dakwah kultural dan dakwah sosial. Kemampuan Muhammadiyah setempat untuk memecahkan persoalan masyarakat menjadi maksimal. Orang miskin terlindungi dan orang kaya terayomi. Semua dapat hidup berdampingan dalam suasana kehidupan yang relatif tenteram, tenang, tetapi sekaligus dinamis, berkemajuan dan mampu hadir berada di depan kelompok masyarakat yang lain.
Ketika mahasiswa kami berada di tempat yang kondisinya masuk dalam kategori kedua dan ketiga, mereka tidak begitu mengeluh. Bahkan, para mahasiswa itu dapat berguru ke masyarakat setempat. Mereka mendapat pengalaman yang luar biasa tentang bagaimana mengelola dan menggerakkan Persyarikatan. Tetapi, ketika mahasiswa kami kebetulan berada di tempat yang kondisinya termasuk kategori pertama, maka mereka banyak mengeluh. Dalam usia yang masih muda dan miskin pengalaman, meski punya ilmu agak banyak tetapi mereka belum terampil mempraktikkan ilmunya. Masyarakat setempat yang tahu kalau para mahsiswa itu berasal dari kampus Muhammadiyah, sangat berharap dan sering memperlakukan para mahasiswa sebagai konsultan tentang bagaimana menggerakkan Muhammadiyah. Untung pembekalan yang diberikan biasanya cukup memadai. Mereka yang tangkas dalam berfikir dan bertindak biasanya mampu dan berhasil menjadi konsultan Persyarikatan ini.
Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana mencari entry point untuk menggerakkan Persyarikatan yang kondisinya sudah terlanjur parah ini. Bahkan tidak jarang, Persyarikatan di tempat ini benar-benar sudah almarhum karena aktivisnya sudah tidak ada lagi. Yang tersisa tinggal satu dua tokoh tua, atau anak muda yang kebetulan pernah sekolah atau dididik di sekolah Muhammadiyah. Untuk ini kondisi sosial serta semacam peta dakwah setempat harus diketahui dengan lengkap dan cermat terlebih dahulu. Kita dapat meniru metode Buya AR Sutan Mansur, yang ketika masuk ke daerah baru beliau melakukan pengamatan yang cermat selama berbulan-bulan dulu. Istilahnya, mencari titik subur dari sebidang tanah dan mencari segenggam benih yang siap ditabur dan disiram.
Mencari entry point untuk menggerakkan Persyarikatan sungguh tidak gampang. Kemungkinannya banyak. Misalnya, pertama, dengan mendekati ibu-ibu. Kalau di tempat itu belum ada TK ABA, maka upaya untuk merintis dan mendirikan TK ABA hampir dipastikan merupakan entry point yang manjur. Sebab di banyak sekali tempat, para pasukan ibu-ibu Asiyiyah ini yang lebih dahulu bergerak mendirikan TK ABA sebelum mendirikan Aisyiyah. Dengan berdirinya TK ABA, maka para aktivis bisa berkumpul, bisa selalu ada waktu untuk berembug, ada alasan untuk ketemu. Demikian juga, masyarakat, mereka dapat diajak bertemu lalu secara bersama-sama diajak untuk merawat dan memajukan TK ABA ini. Biasanya, para ibu-ibu ini senang diajak kumpul-kumpul. Para wali anak TK ABA pun dapat diajak kumpul, pengajian atau arisan atau apa. Dari sini kemudian, kalau kondisinya sudah oke, baru dirintis berdirinya Aisiyah. Kalau Aisyiyahnya berdiri, maju maka bapaknya akan lebih mudah untuk diajak pengajian, lalu merintis ranting Muhammadiyah, anaknya mendirikan ranting ortom.
Kemungkinan kedua justru dengan menggerakkan anak mudanya. Pernah ada aktivis Pemuda Muhammadiyah mengeluh,”Mas, kenapa ya, anak muda di sini sulit digerakkan. Tetapi, ketika diajak latihan Kokam mereka mau, berbondong-bondong dan semangat.” Lho, ini malah bagus. Tak usah dikeluhkan. Artinya, naluri bela negara dan naluri anak muda untuk mengatasi tantangan masih ada. Gerakan menumbuhkan Kokam, dapat menjadi entry point tersendiri. Mulai dari potensi Kokam, anak-anak muda setempat mau menggerakkan Pemuda Muhammadiyah. Mereka kemudian dapat memancing para pemudi untuk bangkit mendirikan NA. Dengan entry point berbeda.
Kalau masyarakat di situ kebetulan masyarakat yang memiliki semangat kependekaran yang tinggi, maka entry point ketiga adalah tentu saja dengan merintis latihan Tapak Suci. Kalau masyarakat setempat suka main sepakbola dan nonton sepakbola, maka sepakbola HW dapat dikenalkan dan dirintis untuk dididirkan di situ. Bisa mulai dari anak-anak, atau mulai dari anak mudanya. Kalau ada tokoh pandu HW ada di dekat tempat itu, maka perintisan dan upaya menghidupkan kembali pandu HW dapat dijadikan pilihan sebagai entry point. Sekarang ini terdapat begitu banyak fakta yang menggembirakan, yaitu bagaimana masyarakat yang dulu dikenal sebagai basis Muhammadiyah kemudian mati suri, dapat dibangkitkan kembali Muhammadiyahnya lewat gerakan Pandu HW lintas usia dan lintas generasi. Semua semangat nabuh drum band HW, dan rajin kalau diminta untuk pawai. Dari sebuah gerakan pandu HW, maka gairah ber-Muhammadiyah pun dapat dikobarkan kembali.
Masih ada entry point lain. Misalnya, keempat, dengan menghadirkan lembaga keuangan mikro dan lembaga konsultasi usaha kecil di tengah masyarakat miskin. Jangan biarkan mereka putus asa kemudian menjadi gerombolan pengemis. Mereka perlu didekati dan ditolong. Lewat upaya pertolongan pertama pada kebutuhan finansial. Caranya bisa dimulai dari langkah sederhana. Para pedagang kecil dan para pembuat makanan, atau pemilik warung kecil itu dikumpulkan. Biasanya mereka mengeluh tidak punya modal untuk mengembangkan usaha. Kalau mau pinjam rentenir atau bank resmi bunganya mencekik. Dengan mengenalkan dan dibantu modal untuk membuat dana bergulir tanpa bunga yang berasal dari zakat atau sedekah, mereka akan punya harapan untuk maju secara ekonomi. Kalau mereka sudah tertolong secara ekonomi, maka upaya untuk mendakwahi mereka menjadi lebih mudah. Dan ini, sekaligus merupakan upaya untuk membentengi iman mereka. Dan untuk masyarakat pedesaan, pola penitipan atau menggaduhkan ternak juga dapat dipilih sebagai entry point. Ternak pedaging berupa sapi atau kambing, ternak penghasil telur berupa induk ayam atau itik dapat dititipkan ke warga desa, mereka diminta untuk memelihara, kemudian hasilnya dibagi. Upaya ini merupakan kegiatan pengentasan kemiskinan yang konkret, produktif, rasional dan halal. Biasanya, mereka yang tertolong secara ekonomi ini kemudian tidak merasa berat ketika kemudian harus menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Muhammadiyah.
Entry point sederhana yang lain, entry point kelima, adalah dengan aktif mengisi pengajian di masjid, musholla, dan aktif mendidik anak-anak warga di TPA-TPA. Ini memerlukan stamina, kelompok mujahid dakwah yang tangguh, dan harus disertai rencana yang rapi dan berkelanjutan. Biasanya salah satu tanda-tanda kemunduran dan kematian persyarikatan di suatu tempat ditandai oleh matinya pengajian di tingkat ranting atau jamaah. Nah, kalau ini dihidupkan lagi, ada harapan Persyarikatan akan hidup lagi.
Tentu saja sebuah entry point memiliki kehebatan dan kelemahan tersendiri. Jadi, perlu dipilih mana yang tepat untuk kondisi masyarakat setempat. Untuk ini memang dibutuhkan apa yang bisa disebut sebagai kecerdasan berPersyarikatan, kecerdasan ber-Muhammadiyah. Para pendiri, perintis dan pelanjut Muhammadiyah kita di mana-mana ketika suskes memimpin Muhammadiyah hampir dipastikan memiliki kecerdasan ber-Muhammadiyah seperti itu. Termasuk kecerdasan dalam menentukan sebuah atau beberapa buah entry point, yang ketika disentuh akan menimbulkan efek berantai yang positif di masyarakat. Dan kuncinya hanya dua. Selama kita ikhlas dan selama kita mampu hadir sebagai pemecah masalah, maka masyarakat mana pun akan menerima kita dan Muhammadiyah kita. Begitu sebaliknya, kalau kita tidak ikhlas dan hadir justru menimbulkan masalah baru maka kita dan Muhammdiyah kita tidak bakalan diterima.l
Penulis adalah Kepala LPM Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta