Showing posts with label JALAN-JALAN. Show all posts
Showing posts with label JALAN-JALAN. Show all posts

Monday, December 1, 2008

Eksotika Lapangan Merah

Minggu, 02 November 2008 pukul 10:11:00

Jalan-jalan ke Moskow, ibukota Russia, sayang jika melewatkan Lapangan Merah. Kawasan wisata termasyhur yang berada di pusat kota ini dikelilingi bangunan-bangunan tua yang eksotik, yang memang dilestarikan sebagai cagar budaya.

Bangunan tua yang populer di kota termahal di dunia itu, antara lain adalah Kremlin (istana kenegaraan tempat tinggal presiden Rusia) dan pusat perbelanjaan Kataigorod, yang berada hampir bersebarangan, dipisahkan Lapangan Merah.

Uniknya, Kremlin dihiasi 20 menara. Salah satu menaranya yang paling terkenal adalah Spasskaya, karena ketinggiannya. Menara ini dibangun pada 1725, dengan ketinggian 71 meter. Kremlin dikelilingi tembok yang memagari areal yang sangat luas, sekitar 27,5 hektar.

Bangunan unik lainnya di dekat Lapangan Merah adalah Katedral Saint Basil, sebuah gereja yang mempunyai banyak atap berbentuk kerucut dan kubah berwarna-warni -- kubah-kubahnya mirip stupa candi Borobudur.

Sebagai kota termahal, Moskow memang dapat dianggap sebagai kota yang unik dan eksotik, karena tidak menampilkan bangunan-bangunan modern layaknya kota-kota besar di dunia. Yang bertebaran justru bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah masa lalu. Namun, justru di situlah letak pesona Moskow sebagai kota tujuan wisata yang banyak didatangi turis asing.

Tidak jauh dari Lapangan Merah, beberapa blok dari Kremlin, di dekat Sungai Moskow, ada juga gereja tua Katedral Christ the Saviour. Sementara, di bagian lain ibukota Rusia itu, ada Menara Ostankino setinggi 540 meter, yang merupakan pemancar televisi dan radio. Menara yang dirancang oleh Nikolai Nikitin ini tertinggi ketiga di dunia.

Metro bawah tanah
Untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di Moskow, tidak harus menyewa mobil, meskipun semua merek mobil ada dan tersedia. Cukup naik metro bawah tanah saja. Dengan naik metro, dijamin banyak hal yang bisa didapatkan. Mulai dari efisiensi waktu, mengenal lingkungan, faham sejarah, hingga menikmati keindahan karya-karya besar peninggalan masa komunis.

Dengan metro Anda akan lebih cepat menuju tujuan, sedang dengan kendaraan darat akan menghadapi kemacetan yang luar biasa. Dari Bandara Domodedovo hingga pusat kota di pagi atau sore hari misalnya, mobil yang kita tumpangi bisa terseok-seok hingga tiga jam. Belum lagi sikap pengendara yang belum matang, sehingga banyak terjadi kecelakaan lalu lintas. Hampir setiap berkendara 10 km di kota Moskow akan terlihat setidaknya satu kecelakaan.

Naik metro bawah tanah relatif lebih aman dan murah. Dalam satu hari mampu mengangkut 9 juta commuter tanpa kecelakaan yang berarti. Jika pada tahun 1935 metro hanya memiliki 13 stasiun, saat ini sudah terbangun lebih dari 160 stasiun dengan 11 jalur, sehingga dapat menjangkau hampir ke seluruh sudut kota Moskow dan kawasan-kawasan penting di sekitarnya. m aji suryo


'Istana Bawah Tanah'

Stasiun metro di Moskow merupakan stasiun yang terindah di dunia, sehingga mirip istana bawah tanah. Lupakan sejenak kenyamanan metro di kota mode Paris yang sudah mencapai tiga line ke bawah, ataupun metro Singapura yang terkenal sangat bersih karena banyaknya larangan.

Metro Moskow yang mulai dibuat pada masa Stalin ini menjanjikan pemandangan mata yang menyentuh jiwa. Setiap stasiun dibangun secara serius baik dari sisi keselamatan, kenyamanan maupun artistiknya. Para artis bekerja siang dan malam untuk menghias setiap stasiun sehingga para pengguna jasa metro dibuat berkelana dari satu galeri ke galeri lainnya.

Begitu memasuki gerbang dalam, Anda mungkin terkejut karena ternyata metro pertama ada pada kedalaman sekitar 30 meter. Dengan menggunakan escalator kita akan sampai pada istana yang dipenuhi ornamen penuh makna mulai dari mozaik, patung dari marmer tua hingga lampu kristal kuno.

Stasiun Komsomolskaya misalnya, di design oleh seorang arsitek terkemuka, Shchusev. Inilah stasiun yang paling indah yang atapnya dihiasi panel-panel mozaik karya Korin yang menggambarkan keperkasaan pimpinan militer pada abad ke-14.

Semua mozaik pada dinding stasiun ini dibuat dengan menggunakan teknik kuno Bizantium yang mengawinkan kaca, marmer dan granit. Disini pula pernah dipajang panel berjudul Penyerahan Bendera Jaga yang menggambarkan Stalin memegang bendera dan seorang serdadu jongkok dan menciumnya.n aji
(-)

Pesona Babileta di Bukit Lenin

Minggu, 26 Oktober 2008 pukul 09:15:00


Berkunjung ke kota termahal di dunia, Moskow, tidak afdol bila tidak berziarah ke Kremlin dan lapangan merah. Tapi, juga tidak lengkap kalau tidak berfotoria di Leninsky Gory, atau Bukit Lenin. Bertepatan dengan musim gugur, bukit kejayaan komunis ini sering disebut-sebut sebagai salah satu titik paling romantis di dunia.

Pada akhir Ramadhan, atau minggu pertama Oktober 2008, bumi bagian utara sudah resmi memasuki musim gugur. Daun-daun menguning dan dimanapun Anda pergi, akan melihat bagaimana genitnya ciptaan Tuhan itu melayang-layang untuk kemudian bersujud di bumiNya. Dalam hitungan hari ke depan semua pohon akan meranggas, melepas semua atributnya untuk berpuasa hingga datangnya musim semi, setengah tahun ke depan.

Uniknya, setelah dihantam hawa dingin yang hampir mencapai titik nol selama Ramadan, kota Moskow kembali menghangat. Sampai dengan sepertiga bulan Oktober lalu temperatur bisa mencapai 20 derajat Celcius. Matahari kembali mencorong dan bersahabat. Mantel dingin sementara ditanggalkan, cukup mengenakan jaket tipis. Bahkan angin dari kutub utara pun seolah berhenti sejenak. Inilah yang sering disebut masyarakat Rusia dengan Babileta, atau menurut orang Amerika Serikat (AS), sebagai Indian Summer.

Tentu saja, semua orang tidak akan menyia-nyiakan suasana hangat sesaat itu. Sebab, dapat dipastikan, begitu Babileta pergi maka dunia akan semakin kelam. Matahari menjadi enggan muncul dan langitpun seolah mendung tanpa henti. Belum lagi hawa dingin dan hujan yang membuat aktivitas semakin sempit. Pada saat demikian, bagi yang berduit tentu lebih suka pergi melancong ke tempat yang panas, sebagaimana layaknya naluri aneka unggas (burung).

Bagi orang Moskow dan pelancong yang kebetulan singgah di kota termahal di dunia itu, Babileta adalah saat yang tepat untuk berkunjung ke Leninsky Gory, sebuah tempat tertinggi di Moskow yang terdiri dari bukit-bukit kecil dan bisa memandang dengan lepas kota yang menjadi modern dalam waktu singkat itu. Keindahan alamnya ditopang oleh kontur tanah yang naik turun dan dipadukan dengan arsitektur maupun pengelolaan taman yang sangat elok. Inilah salah satu surga yang diturunkan Tuhan di tanah komunis.

Untuk mencapai Bukit Lenin dari pusat kota, hanya diperlukan waktu sekitar 20 menit dengan mobil pribadi, atau setengah jam dengan ankutan umum. Dengan jarak 13 km dan transportasi yang saat ini sudah mulai modern, bukit itu sangat mudah dijangkau. Bahkan, kadang terlihat gerombolan anak muda yang dengan sengaja jalan kaki atau bersepeda sambil menikmati suasana alam dan lingkungan yang indah.

Empat kilometer menuju bukit kejayaan komunis itu lingkungan yang diciptakan sudah mulai terasa eloknya. Begitu belok kanan dari patung kosmonot Gagarin, jalan enam jalur dibelah dengan pepohonan yang diatur dengan rapinya. Baik jarak, besar dan rindangnya, direkayasa sedemikian rupa sehingga semuanya menjadi mirip.

Pada musim gugur, daun-daunnya menjadi kuning dan setiap detik ada saja yang berjatuhan. Di tengah-tengah rentetan pepohonan tadi dibuat jogging track yang dilapisi beton. Orang tua maupun anak muda terlihat menikmati suasana area itu, baik dengan bercanda, memotret maupun membaca buku.

Tiba di bagian atas bukit Lenin suasana yang terbangun adalah perpaduan antara man-made dan God-made -- ciptaan manusia dan ciptaan Tuhan. Hanya dua kata yang mampu menggambarkannya: luar biasa. Di sisi kiri terlihat lapangan sangat luas yang di belakangnya berdiri bangunan kampus MGU atau Moskow State University. Universitas paling terkemuka di Moskow ini memiliki arsitektur dan nilai politis yang tinggi.

Vysotki
Bangunan menjulang dengan gayanya yang modern yang dibangun pada tahun 50-an adalah salah satu dari the Seven Sisters atau Vysotki yang sangat terkenal itu. Diresmikan tahun 1953, gedung ini merupakan bangunan tertinggi (240 meter) di Eropa sampai dengan 1990 dan hingga kini masih merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia.

Pembangunannya dilakukan oleh 14.290 pekerja yang utamanya adalah para tawanan perang dan menghabiskan 40 ribu metrik ton baja. Setiap ujungnya yang semakin meruncing mengingatkan kita pada stupa-stupa candi Borobudur.

Bangunan megah berwibawa tersebut sengaja dibuat oleh Lenin dengan para arsitek pilihan saat itu untuk semata-mata menunjukkan bahwa Soviet tidak kalah dengan Amerika Serikat (The Manhattan Municipal Building, 1915) dan Inggris (The Royal Liver Building, 1911). Penempatannya di bukit tertinggi di Moskow tentulah bukan sebuah kebetulan semata, namun merupakan campur tangan orang nomor wahid di Soviet saat itu.

Di bagian kanan jalan yang berdempetan dengan lereng bukit, sengaja dibuat trotoar yang lebarnya 20 meter sepanjang seratusan meter. Di tengah-tengahnya terdapat pedagang kaki lima yang menjajakan aneka souvenir khas Rusia seperti boneka matrioshka, jam kuno zaman komunis, topi bulu hingga gantungan kunci. Semua berjajar rapi dengan lapak yang sama.

Terlihat para pengunjung mengerubungi semua lapak yang ada sambil menawar. Maklum saja harga souvenir di sini setinggi langit, sehingga bagi yang ahli menawar, harga bisa turun dibawah 50 persen. Dari belakang para penjaja itulah para pengunjung biasanya mengambil gambar dan berfotoria dengan latar belakang kota Moskow.


Panorama Kota dan Hutan

Pemandangan yang tercipta oleh alam juga sangat mempesona. Dari Leninsky Gory terlihat hutan Lenin yang cukup luas yang diakhiri dengan aliran Sungai Moskow yang tenang.

Di sebelahnya terlihat stadion sepakbola yang megah dan aneka gedung kota menjulur ke langit. Hebatnya lagi, menghadap ke kota kita akan dapat melihat 'saudara-saudara' MGU Building yang berada persis di belakang kita.

Untuk melengkapi alam rekreasi pada era 50-an, pada lereng bukit dibangun peralatan ski jumping baik untuk musim panas maupun ketika dipenuhi salju. Para atlet yang sudah meluncur turun dapat kembali naik dengan peralatan gondola yang disediakan.

Meluncur dari Bukit Lenin sungguh menakjubkan karena para atlet seolah akan terbang lepas landas dan mendarat di Sungai Moskow atau di tengah-tengah kota.


Danau dan Aneka Warna Bebek

Menuruni Bukit Lenin dengan ketinggian sekitar 250 meter merupakan keasyikan tersendiri. Jalan berkelok dengan tangga yang berjumlah ratusan. Di sisi kanan dan kiri aneka pohon besar berdiri tegak. Angin semilir pada Babileta ini telah menerbangkan ribuan daun kuning pada setiap menitnya.

Kotornya dedaunan di tanah menambah keunikan dari alam nan elok tersebut. Tiba di bagian bawah, para pengunjung disuguhi dengan danau yang masih dihuni oleh aneka bebek warna-warni. Sepanjang jalan setapak beberapa saung dan kursi panjang siap dipakai untuk melepaskan penat.

Terlihat banyak anak muda dan nenek-nenek yang mengumpulkan daun-daun kuning berdimensi lebar. Ada yang sekedar untuk mainan, menancapkan di rambut, berfotoria hingga dibawa pulang. Bagi sebagian orang, daun musim gugur dipercaya dapat memberikan berkah atau setidaknya dipakai alat hiasan di rumah.

Sejumlah pengumuman terpampang dengan perawatan yang baik. Di hutan kecil ini terdapat aneka binatang dan tumbuhan yang dilindungi. Mulai dari burung hingga jamur. Semua hanya boleh dilihat dan difoto, tidak diambil dan dimiliki. Bahkan memberikan makanan kepada hewanpun tidak diperbolehkan.

Dari sisi bawah juga, para pengunjung dapat menikmati pemandangan luncuran ski jumping yang dilakukan di atas sana. Para atlet seolah sedang berlaga dengan para supporter yang berada di bawah. Mereka mengangkat tangan sebelum meluncur dan ketika sampai di bawah mendapatkan hadiah tepukan tangan meriah.

Sejenak, lupakan zaman komunis dengan segala kekakuannya. Lupakan antrian roti yang panjang seperti ular. Lupakan mobil Lada yang tak ber-AC. Bila kantong sudah tebal, sekarang juga Anda bisa mendapatkan semuanya di Moskow dengan mudahnya, seperti layaknya selebriti dunia yang telah jenuh keliling dunia dan ingin mencicipi romantisme Rusia baru. m aji surya
(-)

Pesona Libya

ovember 2008 pukul 10:20:00

"Marhaban". Ucapan selamat datang yang terpampang di Bandara Internasional Tripoli itu menyambut setiap tamu yang singgah di Negeri Sahara, Libya.Bayangan saya tentang Negeri Petro Dolar itu seketika buyar saat pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Tripoli. Ternyata bandara milik negara bernama Great Socialist People's Libyan Arab Jamahiriya itu tak seperti yang saya bayangkan.

Kemegahan bangunannya masih kalah jauh bila dibandingkan Bandara Hasanudin, Makassar, yang baru-baru ini diresmikan."Inilah Libya, negeri ini sedang membangun setelah diembargo selama lebih dari 10 tahun," kata KH Muhyiddin Junaidi, alumni mahasiswa Fakultas Dakwah Islamiyah Libya yang mengundang saya untuk bertandang ke negara itu.

Untuk mencapai negara yang berada di benua Afrika Utara ini, saya harus menempuh perjalanan udara sekitar 13 jam. Sekitar delapan jam dari Jakarta ke bandara Internasional Dubai untuk transit selama tiga jam. Perjalanan dari Dubai ke Tripoli -- ibu kota Libya -- mencapai lima jam. Rasa lelah pun terasa hilang begitu bus yang menjemput saya dan rombongan melaju di jalanan.

Di sepanjang jalan yang saya lalui, pembangunan tampak tengah gencar ddilakukan. Jalanan kota Tripoli tampak lengang. Di sepanjang jalan, hanya poster foto Pemimpin Libya Kolonel Muamar Kaddafi yang terlihat serta gambar-gambar peringatan 39 Tahun Revolusi Al-Fatih. Tanggal 1 September 2008 adalah tahun ke-39 Libya menyatakan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Kendaraan di kota ini didominasi mobil Jepang dan Korea berwarna putih. Berbeda dengan di Indonesia, tak satu pun sepeda motor yang melaju di jalanan yang mulus dan lengang itu. Satu-satunya motor yang saya jumpai adalah sepeda motor besar merek BMW yang digunakan polisi lalu lintas untuk mengawal tamu negara.

Dua peradaban
Libya memang khas dan unik. Negeri ini menghadirkan dua peradaban sekaligus. Nuansa Arab dan Eropa kental mewarnai kota Tripoli, khususnya. Satu lagi yang membuat saya sempat heran, hotel berbintang lima tempat saya menginap di Tripoli namanya Bab Al-Bahar -- terletak di pinggir Laut Mediterania -- ternyata tak jauh beda dengan hotel bintang tiga di Indonesia.

"Dua atau tiga tahun lagi pasti berubah. Sekarang hotel-hotel internasional sedang dibangun di sini," kata Kusworo Nursidik, ketua Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia (KKMI) Libya.Yang membuat saya betah di negeri ini adalah hidangan khas Arab dan Libya yang sangat unik, namun enak. Hidangan daging kambing, ayam dan ikan dari Laut Mediterania terasa nikmat di lidah.

Keliling kota
Ditemani Atriadi Musthafa, mahasiswa Indonesia di Libya saya berkeliling kota Tripoli. Untuk mencapai pusat kota, ada dua pilihan angkutan umum yang bisa dipilih. Ada angkutan kota dan taksi. Angkutan umum di sana disebut ipeko. Bentuknya mirip mikrolet. Untuk mencapai kota ongkosnya hanya seperempat dinar Libya. Satu dinar nilainya mencapai Rp 7.500.

Sedangkan, jika menumpang taksi ongkosnya mencapai dua dinar. "Tergantung pintar-pintar kita menawar, karena di sini tak pake argo," tutur Atriadi.Tujuan pertama saya adalah Jalan Medan Aljazair. Di jalan ini berdiri dengan megah Masjid Gamal Abdul Naser. Dulunya bangunan itu adalah bekas gereja Katedral yang disulap menjadi masjid. "Orang Libya itu begitu mengagumi Gamal Abdul Naser dan Soekarno," kata Atriadi.

Penduduk Tripoli begitu ramah kepada orang Indonesia. "Indonesia and Malaysia good," celetuk dua pemuda saat melihat kami berjalan. Ada dua nama kota di Indonesia yang diabadikan di Tripoli, yakni Jalan Bandung dan Jakarta.

Di sebelah kiri masjid terdapat bangunan megah yang dijadikan tempat santai sembari menyeruput kopi khas Arab. Setelah mencoba mencicipi kopi dan roti yang cukup aneh di lidah, saya sempat mengunjungi taman kota Tripoli. Rumput yang hijau serta pohon kurma yang berbuah lebat menjadi pemandangan yang sangat indah. Seakan-akan, saya tak berada di negeri padang pasir."Jakarta saja, tak punya taman seasri dan sesejuk ini," kata seorang warga Jakarta, Alimin Abdulah, yang juga tengah bertandang ke Tripoli.

Setelah melepas lelah, saya kembali menelusuri jalan-jalan di kota yang dalam bahasa Arab disebut Tarabulus ini. Sepanjang jalan yang saya susuri bangunan pertokoan dan perumahan di pusat kota umumnya bergaya Italia. Maklum saja, negeri ini sempat dijajah Italia pada pertengahan abad ke-20 M.

Tempat bersejarah lainnya yang tak boleh dilewatkan adalah Benteng Peninggalan Turki Usmani. Letaknya di jalan Medan Syuhada. Berwarna cokelat, benteng itu masih tegap berdiri. Di sebelahnya terdapat Pasar Turki yang selalu ramai dikunjungi pembeli. Pasar ini paling ramai dikunjungi pada siang menjelang sore hari.

Satu lagi, bangunan bersejarah yang tak boleh dilewatkan yakni Istana Malik Idris raja Libya yang digulingkan perwira muda tentara pada 1 September 1969. Letaknya di Jalan Dohro. Semua tempat itu bisa dicapai dengan berjalan kaki."Indonesia, apa kabar? Ahmed Soekarno is good. Soeharto no good," sapaan seorang pria Libya itu membuat saya tertawa lepas. heri ruslan



Leptis Magna Keajaiban Dunia di Libya

Tak lengkap rasanya berkunjung ke Libya, jika tak sempat singgah ke Leptis Magna. Inilah saksi sejarah kejayaan Imperium Romawi di permulaan abad masehi. Saya dan rombongan delegasi Konferensi Umum Dakwah Islamiyah ke-8 langsung dibuat takjub ketika pertama kali melihat gerbang Leptis Magna.

"Serasa berada di Yunani," ucap Prof Juhaya S Praja, guru besar UIN Bandung.Ya, nuansa Eropa begitu kental di sini. Gerbang bekas kota peninggalan Romawi itu masih menjulang dengan kokoh. Bekas kota peninggalan Romawi itu berada di sebelah Timur Tripoli menuju ke arah kota Benghazi. Jaraknya mencapai 120 kilometer dan dengan waktu tempuh 1,5 jam.

Untuk bisa sampai di Leptis Magna, Anda bisa menumpang taksi atau menyewa mobil dari Tripoli. "Kalau naik taksi ke sini ongkosnya 30 dinar," kata Kusworo Nursidik.Untuk bisa melihat peninggalan Romawi yang memukau itu setiap orang harus membayar tiket masuk sekitar enam dinar. Kota bekas kejayaan Romawi di Libya itu begitu luas. Letaknya berada di pinggir Laut Mediterania. hri


Gedung Teater Romawi

Yang membuat saya lebih terpukau, ketika berada di dalam bangunan teater yang dibangun pada tahun 1-2 M, di kawasan Leptis Magna. Di temani angin laut Mediterania serta pemandangan yang menakjubkan, berada di gedung teater ini sungguh mengesankan.

Para pengunjung pun mengabadikan setiap sudut tempat di teater ini. Setelah mengunjungi teater, bekas pasar di zaman Romawi yang begitu megah dan unik sungguh sayang untuk dilewatkan.Bangunan lainnya yang tak kalah indahnya adalah bekas istana raja Romawi. Begitu kokoh dan megah. Sayangnya, sudah banyak bagian yang tinggal puing-puing. Di dalam istana raja, terdapat mimbar tempat raja Romawi berpidato.

Di Leptis Magna juga terdapat lapangan olahraga serta bekas kolam pemandian. Bila Anda akan mengunjungi tempat ini sebaiknya memakai topi, maklum suhunya cukup panas.Meski telah puas mengelilingi bekas-bekas kejayaan Romawi di Leptis Magna, namun rasanya sangat berat untuk meninggalkannya. Kekaguman akan Leptis Magna masih terasa hingga kini. hri
(-)