Showing posts with label POLITIK DALAM NEGERI. Show all posts
Showing posts with label POLITIK DALAM NEGERI. Show all posts

Saturday, May 9, 2009

Rekap Suara Nasional Kelar, 67 Juta Suara Terbuang Sia-sia

Shohib Masykur - detikPemilu

Jakarta - KPU telah menyelesaikan rekapitulasi perolehan suara nasional Pileg 2009. Dibandingkan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT), jumlah suara sah nasional terpaut sangat jauh.

Dari data final yang disampaikan KPU, Sabtu (9/5/2009) malam jumlah total suara sah nasional mencapai 104.099.785 suara. Sedangkan total pemilih yang terdaftar dalam DPT mencapai 171.265.442.

Selisih antara DPT dengan suara sah nasional mencapai 67.165.657. Angka ini setara dengan 39 persen jumlah daftar pemilih dalam DPT. Angka ini juga setara dengan lebih dari 3 kali lipat perolehan suara Partai Demokrat yang menduduki peringkat pertama.

Namun perlu dicatat, dari 67 juta pemilih itu ada sebagian pemilih yang memang tidak menggunakan suaranya dan ada yang menggunakan namun tidak sah karena persoalan teknis, misalnya salah penandaan. Jumlah pemilih yang suaranya tidak sah mencapai 17.488.581, sedangkan pemilih yang tidak menggunakan suaranya sebanyak 49.677.076.

Juga perlu diingat, menjelang pelaksanaan pemungutan suara 9 April 2009 lalu, KPU menginstruksikan seluruh jajaran di bawahnya agar menyisir pemilih yang tak memiliki hak suara dan pemilih yang ganda. Dan pada saat yang sama KPU tidak mengubah angka resmi DPT. Artinya, dari 67 juta pemilih itu, sangat mungkin ada sebagian yang merupakan pemilih fiktif yang terseleksi berkat adanya penyisiran
DPT.

Sebagai perbandingan, pada Pemilu 2004, dari sekitar 149 juta pemilih yang masuk DPT, lebih dari 124 juta pemilih menggunakan hak suaranya. Angka ini setara dengan 83 persen DPT. Dengan demikian pemilih yang tak menggunakan suara kurang lebih 17 persen dari DPT.

Namun dari angka 124 juta itu, ada sekitar 17.488.581 pemilih yang suaranya tidak sah.

( sho / nwk )

Yudhoyono postpones plan to declare running mate

Yudhoyono postpones plan to declare running mate

The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 05/09/2009 5:34 PM | National
Democratic Party' Associate Chairman Ruhut Sitompul said in Jakarta on Saturday a plan to declare the party's presidential and vice presidential candidates has been postponed from May 11 to May 15.

"The plan for the declaration has been postponed from May 11 to May 15, waiting for SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) to come back from attending the World Ocean Conference (WOC) to be held in Manado. Because as the president, his schedule is very tight. He prioritizes the state's tasks," Ruhut said as quoted by Antara state news agency.

The declaration would be done in Bandung, West Java Province.

"There, we will announce the name of the vice presidential candidate and our coalition. All friendly political parties will be invited," he said.

After the declaration , the Democratic Party will register officially its presidential and vice presidential candidates with the General Elections Commission (KPU) on May 16, or the deadlines of the presidential and vice presidential candidate registration, he said.

"The registration will be conducted after the declaration. So, it would probably be the last one," he said.

Sitompul did not deny when asked whether the postponement was because his party was waiting for a response from the Indonesian Democratic Party-Struggle (PDIP) to a coalition offer.

He said t the Democratic Party had held several meetings with Taufik Kiemas, chairman of the PDIP's advisory board.

"We understand the position of PDIP and Mrs. Megawati. She was a former president, is a stateswoman and the leader of a major political party. Therefore, we understand and will wait. The Democratic Party is patiently waiting for PDIP. We understand each other. As a matter of fact, we want everybody to be happy. We want to have victory without hurting any body," he said.

In the PD's executive board meeting, Ruhut Sitompul also reported that his party would have 147 seats in the new Parliament.
The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 05/09/2009 5:34 PM | National
Democratic Party' Associate Chairman Ruhut Sitompul said in Jakarta on Saturday a plan to declare the party's presidential and vice presidential candidates has been postponed from May 11 to May 15.

"The plan for the declaration has been postponed from May 11 to May 15, waiting for SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) to come back from attending the World Ocean Conference (WOC) to be held in Manado. Because as the president, his schedule is very tight. He prioritizes the state's tasks," Ruhut said as quoted by Antara state news agency.

The declaration would be done in Bandung, West Java Province.

"There, we will announce the name of the vice presidential candidate and our coalition. All friendly political parties will be invited," he said.

After the declaration , the Democratic Party will register officially its presidential and vice presidential candidates with the General Elections Commission (KPU) on May 16, or the deadlines of the presidential and vice presidential candidate registration, he said.

"The registration will be conducted after the declaration. So, it would probably be the last one," he said.

Sitompul did not deny when asked whether the postponement was because his party was waiting for a response from the Indonesian Democratic Party-Struggle (PDIP) to a coalition offer.

He said t the Democratic Party had held several meetings with Taufik Kiemas, chairman of the PDIP's advisory board.

"We understand the position of PDIP and Mrs. Megawati. She was a former president, is a stateswoman and the leader of a major political party. Therefore, we understand and will wait. The Democratic Party is patiently waiting for PDIP. We understand each other. As a matter of fact, we want everybody to be happy. We want to have victory without hurting any body," he said.

In the PD's executive board meeting, Ruhut Sitompul also reported that his party would have 147 seats in the new Parliament.

HASIL PEMILU 44 PARPOL

Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya menetapkan hasil perolehan suara nasional pemilu legislatif 9 April lalu. Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary langsung membacakan perolehan suara nasional 44 partai peserta pemilu, menetapkan dan mengesahkannya.

"Hasil penghitungan suara pemilu DPR yang dilaksanakan sejak 26 April hinggal 9 Mei 2009 ditetapkan dan dinyatakan sah," demikian Hafiz menetapkan hasil pemilu.

Hasil akhir, jumlah suara total 104.099.785 . Berikut adalah hasil keseluruhan perolehan suara 44 partai politik berdasarkan nomor urut, nama partai, perolehan suara dan persentase suara :

1. Partai Hanura 3.922.870 (3,77)

2. PKPB 1.461.182 (1,40)

3. PPPI 745.625 (0,72)

4. PPRN 1.260.794 (1,21)

5. Gerindra 4.646.406 (4,46)

6. Barnas 761.086 (0,73)

7. PKPI 934.892 (0,90)

8. PKS 8.206.955 (7,88)

9. PAN 6.254.580 (6,01)

10. PPIB (0,19)

11. Partai Kedaulatan 437.121 (0,42)

12. PPD 550.581 (0,53)

13. PKB 5.146.122 (4,94)

14. PPI 414.043 (0,40)

15. PNI Marhaenisme 316.752 (0,30)

16. PDP 896.660 (0,86)

17. Pakar Pangan 351.440 (0,34)

18. PMB 414.750 (0,40)

19. PPDI 139.554 (0,13)

20. PDK 669.417 (0,64)

21. Republika-N 630.780 (0,64)

22. Partai Pelopor 341.914 (0,33)

23. Golkar 15.037.757 (14,45)

24. PPP 5.533.214 (5,32)

25. PDS 1.541.592 (1,48)

26: PNBK 468.696 (0,45)

27. PBB 1.864.752 (1,79)

28. PDI-P 14.600.091 (14,03)

29. PBR 1.264.333 (1,21)

30. Partai Patriot 547.351 (0,53)

31. Demokrat 21.703.137 (20,85)

32. PDKI 252.293 (0,31)

33. PIS 320.665 (0,31)

34. PKNU 1.327.593 (1,43)

41. Partai Merdeka 111.623 (0,11)

42. PPNUI 146.779 (0,14)

43. PSI 140.551 (0,14)

44. Partai Buruh 266.203 (0,25)

SEMBILAN PARTAI BESAR

Hanya 9 Partai yang akan mendudukkan wakilnya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2009-2014. Partai Demokrat meraih kursi terbanyak dengan 148 kursi.

Berikut perolehan kursi kesembilan partai tersebut seperti dibacakan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary dalam rapat pleno penetapan suara sah nasional di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat Minggu (10/5/2009), pukul 00.02 WIB.

1. Partai Demokrat 148 kursi
2. Partai Golongan Karya (Golkar) 108 kursi
3. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 93 kursi
4. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 59 kursi
5. Partai Amanat Nasional (PAN) 42 kursi
6. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 39 kursi
7. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 26 kursi
8. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 30 kursi
9. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 15 kursi

Thursday, April 9, 2009

Successful election marks a decade of democracy

Friday, April 10, 2009 2:47 AM

Indonesians flooded polling stations across the sprawling island nation Thursday, capping a decade of democracy in a parliamentary election that boosted the reform-minded president's chances of re-election.

Violence in the easternmost province of Papua, the scene of a decades-long insurgency, marred otherwise peaceful polls with five killed in a string of pre-dawn attacks by suspected rebels, said local police chief Maj. Gen. Bagus Ekodanto.

Millions lined up to cast ballots, choosing between 38 parties vying for seats in the new 560-member legislature.

The vote is being closely watched because it will determine who will qualify to run for president in July. Parties or coalitions that win a fifth of the seats - or 25 percent of the popular vote - can nominate a candidate for that race.

Early results showed President Susilo Bambang Yudhoyono's Democratic Party quickly emerging as the front-runner, tripling its share of the popular vote to 21 percent from just 7 percent in 2004.

But if those tallies hold he will still need to form a coalition - probably again with Vice President Jusuf Kalla's Golkar Party - to govern.

They "have a really great chance to continue their mandate for a second term," said Ichlasul Amal, a political scientist at the University of Gadjah Mada in central Java. "It's a nice and easy choice."

Indonesia, the world's most populous Muslim nation, emerged from 32 years of dictatorship when Gen. Suharto was swept from power in 1998, leading to reforms that freed the media, vastly improved the country's human rights record, and for the first time allowed citizens to vote for president.

Despite some concerns about polling irregularities, religious intolerance and an ongoing ban on left-wing political activities, Indonesia has surprised many by turning into to one of the most stable democracies in the region.

There were 171 million eligible voters, making it the world's third largest electorate behind India and the United States. They flocked to 500,000 polling stations spread out across thousands of islands.

"It's an enormous undertaking," said Paul Rowland of the U.S.-based National Democratic Institute, noting that hundreds of thousands also will be contesting legislative seats at the provincial, municipal and regency level.

"It's the world's largest single-day election this year. We'll see more people voting for more positions than any other country."

Many voters were baffled by the myriad of choices, with hundreds of candidates sometimes listed on a poster-sized ballot.

"It's more complicated than last time," said Rivaldi Aswin, a 25-year-old bank employee who turned out with 300 others at a station west of the capital, Jakarta.

"I barely recognized any of the faces," he said after having his pinky dabbed with purple ink to keep people from repeat voting. "But I'm glad to have this opportunity."

Last time around, Yudhoyono's party won only 7 percent of the popular vote and had to partner up with late dictator Suharto's Golkar party and a handful of Islamic parties that pushed through laws governing everything from the way women dressed to the types of magazines that could be hawked on street corners.

Though many analysts had predicted waning support for religious parties, the early returns indicated the conservative Islamic Prosperous Justice Party, which came from nowhere in 2004 to scoop up 7.3 percent of the popular vote, may have made small gains.

Campaigns across the board were largely personality driven and policies have been broad and ill-defined, focusing on issues like the effect the global slowdown has had on the economy or the need to root out pervasive corruption.

Unlike 2004, security is no longer a big issue, something many credit to Yudhoyono.

Indonesia was last hit by an al-Qaida-linked terrorist attack four years ago and, thanks to a 2005 peace deal, guns have largely fallen silent in formerly war-torn Aceh province, on the country's northwestern tip.

Early quick count results were trickling in Thursday.

With more than 75 percent of the vote counted, the Indonesian Survey Circle had Yudhoyono's Democratic Party in the lead with 20 percent; the Indonesian Democratic Party of Struggle headed by former President Megawati Sukarnoputri, 15 percent; and Suharto's former political machine, Golkar, 15 percent.

The religious-based Islamic Prosperous Justice Party had 8 percent.
Comments (0) | Post comment

Saturday, February 23, 2008

Kasus dugaan korupsi APBD Banyumas

asus dugaan korupsi APBD Banyumas
Sabtu, 23 Februari 2008

PURWOKERTO - Meski menjabat sebagai panitia urusan rumah tangga (PURT), namun hingga kemarin tiga mantan anggota DPRD Banyumas dari unsur TNI/Polri tetap belum diproses, dalam kasus dugaan korupsi APBD 1999-2004.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwokerto, Anshori, Jumat (22/2) mengaku pihaknya tidak mengetahui perihal anggota TNI/Polri yang juga menjadi anggota PURT.

Menurutnya, kejaksaan hanya menindaklanjuti penyidikan yang dilakukan Polres Banyumas. Dan dalam berkas yang dilimpahkan oleh polisi tidak ada nama tiga anggota TNI tersebut.

"Kami hanya menindaklanjuti apa yang telah disidik oleh kepolisian. Tidak diikutsertakanya anggota dari TNI/Polri, kita sama sekali tidak tahu. Kita hanya memproses nama-nama yang tercantum dalam berkas," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, selain 14 mantan anggota DPRD yang sudah menjalani hukuman, serta delapan mantan anggota DPRD yang saat ini tengah ditahan, masih ada enam orang mantan anggota dewan lain yang juga menjadi panitia anggaran (panggar) serta PURT, tiga di antaranya dari unsur TNI/Polri. Keenam mantan anggota DPRD ini terdiri mantan wakil ketua DPRD sekaligus mantan wakil ketua panggar Imam Munhasir, anggota panggar dan PURT Abdul Malik dan Warto, serta dari unsur Polri terdiri Mayor Mas"ud, Sus Mukseno dan Kirlan.

Anshori menegaskan, pihaknya siap menindaklanjuti jika memang ada pelimpahan berkas terkait keterlibatan tiga mantan anggota TNI/Polri tersebut. Kejaksaan juga meminta polisi untuk mengusut semua mantan anggota DPRD yang terlibat dalam kasus dugaan korupsi, tidak hanya yang dari sipil saja.

"Kita akan bertindak adil, siapa yang bersalah harus diperlakukan sama, kita akan tindaklanjuti semuanya termasuk yang dari TNI/Polri", kata Ansori.

Lebih lanjut Anshori mengatakan, sebenarnya kejaksaan bisa mengembangkan sendiri. Namun karena dari awal sudah ditangani polisi, maka kejaksaan hanya menunggu pelimpahan berkas saja.

Masih dikaji
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Banyumas AKP Widada saat dikonfirmasi mengatakan, polisi masih mengkaji kasus tersebut. Soal ada atau tidaknya tersangka baru, termasuk mantan anggota dewan yang dari unsur TNI/Polri, pihaknya belum bisa menentukan.

"Kita akan kaji lagi permasalahnya, jadi belum bisa menentukan apakah ada kasus dugaan korupsi APBD 1999-2004 gelombang ke tiga atau tidak," ungkapnya. hef-Tj

Views: 8

Thursday, February 21, 2008

Dikunjungi, Mantan Anggota DPRD Menangis

22 Februari 2008

BANYUMAS-Kondisi kesehatan delapan orang mantan anggota DPRD Banyumas 1999-2003, yang ditahan di Rutan Banyumas, cukup baik. Namun mata mereka masih tampak sembab karena terus menangis. Wajah tahanan kasus dugaan korupsi itu tampak pucat, itu karena kurang tidur.''Pada ora bisa turu,''kata Daldiri, kemarin.

Sepanjang Kamis kemarin, tahanan itu mendapat kunjungan dari rekan-rekannya mantan anggota Dewan, dan anggota DPRD Banyumas, pengurus partai dan kerabatnya. Calon wakil bupati terpilih Achmad Husien dan istrinya juga menjenguknya.

''Dikunjungi Pak Husien mereka senang sekali dari merasa diperhatikan,''kata Sarjono Harjo Saputro SH Mhum, pengacara tersangka.
Wasitah Yusuf, ketika bertemu dengan Husien menangis tersedu-sedu sambil menjelaskan kondisinya saat ini dalam tahanan. Dia mengaku sangat tidak betah, dan merasa malu sekali dimasukkan ke dalam Rutan. Berulang kali dia minta diupayakan agar bisa ditahan luar.

Dia mengadu kepada Husien bahwa rekannya R Suparto yang terkena stroke kondisinya payah sekali. Dia kini tidak bisa berjalan sendiri, termasuk ketika akan buang air besar, karena itu harus dipapah teman-temannya.''Saat dia mau berak harus dipapah dan didudukkan di kloset karena tidak bisa duduk sendiri,''kata Daldiri.

Kini yang menjadi 'perawat' Suparto adalah rekan-rekannya yang masih sehat yaitu Kisworo, M Bakir, Daldiri, Darsono Rowi dan Anfatoni. Ketika masih di rumah, sebelum ditahan, Suparto selalu dibantu istri dan anaknya. Heri Sarkum hanya bisa diam membisu sambil melamun.

Achmad Husien menjelaskan, dia menjenguk mantan anggota Dewan itu karena ada yang masih famili yaitu Heriyanto Sarkum. Kunjungan itu sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan sebagai famili yang kini kondisinya sudah sangat lemah, dan ekonominya morat-marit.''Pak Heri itu sakitnya parah dan sudah linglung,''ungkapnya.

Bentuk kelinglungan Heri Sarkum, katanya, terlihat sekali saat berkunjung ke rumah Husien sebelum pilbup lalu. Heri diminta untuk menempelkan kertas pengumuman di depan rumah yang telah ditinggalkan Husien, tapi oleh Heri pengumunan itu malah dipasang di rumah baru yang ditempatinya.

Niat Husien menjenguk Heriyanto Sarkum, namun setelah di dalam Rutan dia tidak tega bertemu dengan saudaranya itu.''Saya tidak berani bertemu dengan dia, karena kondisinya sedang sakit, saya takut dia malah tidak kuat,''ujarnya.
Ketua Komisi A Wiyono, yang juga pernah menghuni Rutan Banyumas, karena kasus serupa mengatakan, penahanan ini memang tidak manusiawi. ''Silahkan saja proses hukum jalan terus, tapi kondisi kesehatan mantan anggota Dewan itu harus dipertimbangkan. Saya minta kejaksaan lebih arif dalam melihat kondisi mereka saat ini,''jelasnya. (G22,H47-55)

Mantan anggota DPRD tersangka korupsi (1)

KEHIDUPAN sebagian mantan anggota DPRD Banyumas, khususnya mereka yang kemarin resmi ditahan oleh Kejari karena kasus dugaan korupsi APBD, sangat jauh jika dibayangkan mirip dengan mantan wakil rakyat pada umumnya.

Jika image yang melekat di benak banyak orang, seorang wakil rakyat atau mereka yang pernah duduk di bangku anggota DPRD, tentulah orang berduit, bahkan bergelimang materi, namun tidak demikian halnya dengan kondisi orang-orang yang kini menjadi pesakitan tersebut. Paling tidak, itulah kondisi mereka saat ini, setelah tidak menjadi wakil rakyat Banyumas.

Selama menjabat, gaji yang mereka terima merupakan penghasilan DPRD terendah di Indonesia. Selain itu kondisi kehidupan mereka pasca menjabat di DPRD sangat memprihatinkan. Mereka juga tidak mendapat dana purnabakti seperti anggota dewan di daerah lain.

Darsono Rowi misalnya, ia hanya bekerja sebagai tukang tambal ban. Kemudian M Bahir yang memilih pensiun dini saat hendak mencalonkan diri, sekarang ini hanya menggantungkan hidupnya dari uang pensiun sebesar Rp 350 ribu per bulan. Sementara Suparto baru saja menderita stroke, ketika berjalan pun ia masih harus dibantu oleh istrinya.

Oleh karena itulah, mereka terlihat sangat syok dan terkejut dengan keputusan penahanan dari kejaksaan terhadap mereka, Rabu (20/2) kemarin. Bersambung-Hermiana E Effendy-Tj

Wednesday, February 20, 2008

Politisi selebritis dan budaya massa

ImageKEMENANGAN aktor Rano Karno menjadi wakil bupati berpasangan dengan Ismet Iskandar sebagai bupati dalam Pilkada Kabupaten Tangerang (26/1) memotivasi selebiritis lain ke dunia politik dan bersaing dalam pilkada. Hal itu menguatkan kenyataan bahwa politisi selebritis telah menjadi fenomena. Soalnya, salahkah dengan politisi selebritis? Mengapa mereka begitu mudah memiliki akses berpolitik? Masuknya para selebritis (artis film dan sinetron, penyanyi, model, perancang busana, dsb.) ke dunia politik bukan fenomena unik. Di negara maju, berkembang lain, dan bahkan miskin, banyak selebritis dan pesohor yang merambah dunia politik, seperti Ronald Reagen, Arnold Schwartzennegger, Goerge Weah, dan sebagainya.

Sejak masa Orde Baru, parpol dan politisi sudah membuka ruang bagi para selebritis. Dalam kampanye pemilu, misalnya, artis lokal dan Jakarta ditampilkan, baik pentas musik dangdut maupun seni tradisional. Waktu itu, Golkar begitu dominan memobilisasi selebritis. Pada saat ini, hampir semua parpol berlomba menampilkan dan merekrut para selebritis.

Motif utama para selebriti berpolitik pada nasa Orde Baru untuk mendapatkan ”keamanan”, pekerjaan dan lobbi. Hanya sebagian kecil yang berambisi menjadi politisi selebritis.

Kenyataannya, elit selebritis memperoleh privilise berupa fasilitas dan kedudukan politik sebagai ”hadiah” atau ”kontra prestasi”.

Betul-betul praktik korporatisme. Sekarang ini, para selebritis berpolitik secara terbuka ingin menjadi politisi selebritis. Sedang yang bermotif pekerjaan dan lobbi memiliki komunitas di luar politisi selebritis.

Perlu data tambahan untuk menyebut bahwa fenomena politisi selebritis menunjukkan pendangkalan dunia politik. Tapi sekurangnya mengindikasikan dua hal.

Pertama, kekurangpercayaan diri para politisi dan pengurus parpol dalam menjual program kerja ke masyarakat. Kedua, lemahnya harga tawar ideologi di masyarakat. Mungkin ideologi telah mati. Jadi, politisi selebritis dimaksudkan untuk mendongkrak dukungan.

Publikasi dan budaya
konsumen Tak ada yang keliru dengan fenomena politisi selebritis. Politik adalah dunia ekspektasi dan representasi warga sehingga terbuka bagi partisipasi aktif seluruh elemen. Keterbukaan akses politik bahkan merupakan perwujudan hak pilih universal (universal suffrage). Artinya, jangankan selebritis, penganggur dan penjahat pun boleh berebut di panggung politik.

Namun harus diakui bahwa kapasitas, komitmen dan keberpihakan pada rakyat dari mereka perlu diasah dan ditingkatkan. Hal itu juga persoalan elemen lain di era transisi demokrasi. Di tengah mainstream kepolitikan yang serba terbatas popularitas selebritis menjadi nilai tambah.

Sebelum menjadi politisi, para selebritis hidup di dunia ’impian’ publik. Publikasi media tentang kehidupan pribadi dan profesi membantu mereka mendapatkan popularitas dan citra serba ’baik’ atau ’hebat’.

Tak ada, misalnya, artis yang selalu berperan antagonis dan kontroversial berani menjadi politisi. Sejauh ini pun, baru Rano Karno yang sukses dalam pilkada.

Banyak selebritis lain terpaksa menyimpan impian dan gagal dalam pilkada. Lainnya lagi menjadi anggota legislatif akibat sistem yang tidak selektif.

Salah satu faktor yang membantu Rano adalah citra positif sebagai pribadi realistis, sederhana, pekerja keras dari kaum bawah yang sukses dalam karier dan cinta melalui sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Citra itu tertanam di masyarakat se-antero Indonesia, bukan hanya di komunitas Betawi.

Dalam konteks itu, para selebritis diuntungkan oleh budaya konsumen, di mana kesan memainkan peranan utama. Dalam membangun kesan, tradisi acapkali diaduk-aduk dan dikuras untuk mencari simbol kecantikan, roman, kemewahan, ketekunan, keberhasilan, dan eksotika yang manjur, dan sebagainya.

Kesan budaya konsumen pada dasarnya bersifat modernis, sepanjang mengenai ganti-mengganti tata nilai dan meruntuhkan titik acuan tradisional, dalam usahanya meramu paduan baru yang mampu membangkitkan kembali kenangan dan merangsang keinginan. Di titik itu, publikasi besarbesaran terhadap seorang selebritis membuka akses dan sukses mereka di politik.

Karena publikasi, selebritis menjadi model masyarakat. Di tengah budaya konsumen di mana gaya hidup mendapatkan kedudukan istimewa, persepsi dan kesan masyarakat mempengaruhi pilihan politik.

Sebagian masyarakat memang rasional dan mengagumi kharisma tokoh, namun sebagian terbesar sangat dipengaruhi kesan yang ditampilkan media. Kesan-kesan itulah yang memainkan peranan utama pada perilaku memilih dalam pemilu atau pilkada.

Budaya massa
Pascastrukturalisme secara sangat baik mengupas budaya massa di masyarakat. Dalam perspektif pascastrukturalisme, ciri utama budaya massa adalah bahwa masyarakat menolak gerak atau pemahaman bahwa ada sesuatu yang bersifat menyeluruh, utuh, dan tetap.

Segala sesuatu menjadi dan secara bersamaan membentuk yang lain dalam suatu keseimbangan yang tidak pernah pasti. Human object bukan koheren dan otonom sedang human subject dilihat sebagai ’titik simpul’ dari berbagai kecenderungan kekuasaan yang mengejawantahkan diri di setiap subyek manusia.

Dari sudut itu, hubungan antara warga dan politisi selebritis sesungguhnya ibarat magnit antara human object dan human subject. Para pemilih dalam pemilu dan pilkada (human object) bersifat tidak otonom dan tergantung dari politisi selebritis (human subject) yang dianggap sebagai ’pusat kekuasaan’.

Pendeknya, politisi selebritis yang dalam aksi-aksi panggung dan layarnya berkenan dan membekas di hati rakyat akan menjadi pilihan tak terhindarkan, tak peduli kurang punya kapasitas dan komitmennya.

Pascastrukturalisme juga meyakini bahwa semua hal merupakan ’hasil permainan bersama’ yang selalu berubah, tidak ajeg, tertarik ke sana-ke mari oleh berbagai kekuatan yang sedang bekerja, tidaklah mungkin mencari dan menemukan ’suatu pola dasar’ yang dengannya segala sesuatu ingin dijelaskan. Tidak mungkin menjelaskan segala sesuatu dengan, misalnya, melihat asal-usul sesuatu itu.

Terkait hal itu, pilihan-pilihan politik rakyat, termasuk terhadap politisi selebritis, tidak pernah direnungi atau dihayati. Ini soal selera dan kelebihsukaan pada saat itu. Pilihan mereka bukan nilai yang dianut. Pilihan politik adalah permainan, yang setiap saat bisa dikoreksi dan jika salah tak perlu disesali.

Karenanya, sebenarnya tak adanya pola dasar merupakan latar belakang dari apapun yang ingin dijelaskan, sekaligus berarti ada banyak hal, kasus, peristiwa, human subject yang berbeda satu dengan lainnya.

Dalam arti itu, tidak ada jaminan bahwa seorang politis selebritisi selalu terpilih dalam pilkada atau pemilu. Kegagalan Marissa Haque dalam Pilkada Provinsi Banten, misalnya, tidak dapat dijelaskan dengan faktor dan proses yang terjadi dengan keberhasilan Rano.

Karenanya, jika hendak menjadikan Rano sebagai model, sebaiknya melakukan secara total dalam keseluruhan proses dan jejak, bukan parsial, artifisial, superfisial, dan instan. f

Drs Joko J Prihatmoko MSi
Dosen dan peneliti utama
FISIP Universitas Wahid Hasyim
S

Tuesday, February 19, 2008

Djohar Massa Terbanyak

Selasa, 19 Februari 2008 | 22:11 WIB

NGANJUK, SELASA - Pasangan calon bupati dan wakil bupati Nganjuk nomor urut tiga, Sudjono-Harsono yang identik dengan sebutan Djohar, untuk sementara mencatatkan jumlah massa terbanyak dalam kampanye terbuka yang mereka lakukan. Pada kampanye perdana bagi keduanya, Selasa (19/2), tak kurang dari 1.000 massa menghadiri pidato politik yang diselingi dengan hiburan rakyat berupa nyanyian campursari di Lapangan Desa Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk.

Jumlah ini sementara tercatat paling banyak dibandingkan kampanye dua pasangan calon sebelumnya, yang maksimal hanya dihadiri sekitar 300 orang. Sebagian besar massa yang hadiri itu sendiri berasal dari Perguruan Silat Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT), yang merupakan organisasi dengan Harsono sebagai ketua umumnya.

Ketua Tim Sukses pasangan Djohar, Soetrisno Rahmadi, yang juga mantan Bupati Nganjuk periode 1993-2003 menyebutkan relatif banyaknya jumlah massa yang hadiri disebabkan perasaan sebagai sesama anggota persaudaraan. Di PSHT itu ada ungkapan yang kira-kira memiliki arti agar setiap anggota itu memiliki satu kata, selain juga anjuran untuk saling mengingat sesama saudara (eling sedulur), papar Soetrisno soal ungkapan yang dijadikan jargon pasangan itu dan dicetak pada kaos-kaos hitam yang dibagikan.

Latar belakang Harsono sebagai seorang guru dan Sudjono yang birokrat pemerintahan, menurut Soetrisno akan jadi titik masuk kembalinya Partai Golkar dalam bingkai besar politik yang relatif ditinggalkan selama ini. ¨Ini kan juga bisa (diartikan) agar Korpri kembali ke Golkar,¨ paparnya.

Namun, pasangan yang berangkat dari Partai Golkar ini tidak memanfaatkan tiga lokasi kampanye terbuka yang diizinkan bagi mereka. Tercatat hanya Lapangan Desa Warujayeng di Kecamatan Tanjunganom dan Lapangan Desa Mancon di Kecamatan Wilangan yang mereka manfaatkan.

Sementara rencana menggelar kampanye terbuka di Lapangan Desa Sidorejo di Kecamatan Sawahan dibatalkan. Menurut Soetrisno Rahmadi, yang juga penasehat pasangan calon Djohar pembatalan dilakukan karena akses menuju ke lokasi ketiga dinilai relatif berat.

Sunday, February 3, 2008

Indonesia Galang Dukungan Jadi Ketua Parlemen Sedunia

Jakarta, 2 Pebruari 2008 14:24
Ketua DPR Agung Laksono, saat kunjungan ke Kairo, Mesir, guna menghadiri Konferensi Perhimpunan Parlemen Negara-Negara Anggota Organisasi Konferensi Islam (PUIC) ke-5, menggalang dukungan untuk menjadi ketua Inter-Parlemen Dunia (IPU).

Agung Laksono merupakan salah satu calon ketua IPU yang pemilihannya akan dilangsungkan dalam konferensi IPU di Jenewa pada Oktober depan, kata siaran pers KBRI Kairo, yang diterima ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Dalam kaitan ini, Ketua DPR itu telah melakukan konsultasi dan pertemuan bilateral dengan beberapa ketua delegasi parlemen, antara lain Mesir, Saudi Arabia, dan Iran.

Konferensi PUIK ke-5 di Kairo yang berlangsung selama dua hari, berakhir Kamis (31/1) tersebut membahas masalah konflik di Timur Tengah dan persoalan yang dihadapi dunia internasional lainnya seperti terorisme, Islamfobia.

Mereka membahas pula perlunya dialog antaragama dan kepercayaan, perubahan iklim, dan kerja sama ekonomi antar sesama negara muslim.

Sementara itu dalam pidatonya, Agung Laksono secara khusus mengusulkan tiga rancangan resolusi mengenai isu-isu berikut, yaitu pertama, rekonsiliasi Hamas-Fatah di Palestina.

Kedua, upaya penyelamatan lingkungan hidup terkait dengan perubahan iklim, dan ketiga, pembentukan lembaga moneter antar negara-negara Muslim (Islamic Monetary Fund).

Selain itu, Agung juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada negara-negara anggota OKI yang telah menyampaikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya mantan Presiden Soeharto.

Agung Laksono menyatakan Indonesia memandang penting perlunya persatuan nasional Palestina, dengan jalan rekonsiliasi Hamas dan Fatah.

Alasan Indonesia adalah karena persatuan merupakan modal awal dan utama Palestina dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaannya secara penuh dari pendudukan Israel.

Dalam kaitan dengan isu lingkungan hidup, Indonesia mengajak negara-negara peserta konferensi untuk mendukung implementasi Protokol Kyoto serta Bali Road Map yang dihasilkan pada Konferensi ke-13 PBB (UNFCC) di Bali, 4-13 Desember 2007.

Di sela-sela konferensi, Agung Laksono juga berkesempatan untuk melakukan kunjungan kehormatan kepada Syeikh Agung Al-Azhar (pemegang otoritas keagamaan tertinggi Mesir), Prof Dr Mohamed Sayed Tantawi. [TMA, Ant]

Saturday, November 3, 2007

House out to finish political bills in 33 days

Ridwan Max Sijabat, The Jakarta Post, Jakarta

In preparation for the 2009 elections and to ensure all involved parties are sufficiently readied, the House of Representatives has agreed to fast-track discussions around bills for political parties and general elections.

House speaker Agung Laksono presided over a leadership meeting Thursday discussing efforts to bring both bills to a House plenary session for endorsement by the end of this month -- with a view to passing the bills to law within 33 days.

"All faction chairmen are of the same opinion that the two bills will be deliberated either by the special committees or the working committees," Agung told reporters after the meeting, which was attended by all chairmen of House factions and the special committees tasked to deliberate the two bills.

"All committee members have to discipline themselves.

"This is important not only for the sake of the 2009 elections but also for a better democracy in the country."

Agung said the House would start deliberating the remaining bills on presidential elections and on the structure of the People's Consultative Assembly, House, regional representatives, provincial, and regency legislatures in January.

The newly-inaugurated General Elections Commission (KPU) has also asked the House to speed-up the deliberation of the four bills.

The KPU said it needed a legal basis to make preparations for the 2009 general elections, including the registration of eligible voters and the verification of eligible political parties.

Legislators Ferry Mursyidan Baldan and Ganjar Pranowo, who chair the special committee deliberating bills on general elections and the committee for the bills on political parties respectively said they would ask all factions to focus on the crucial issues.

"Political lobbying has begun, but communications with the civil society and experts will be intensified to encourage the factions to seek compromises on the crucial issues," Ganjar said.

Despite the additional allocation of time for the bills' deliberation, Ferry said it was not necessary for the committees to ask for more funds because the current budget had remaining funds.

Ferry declined to reveal the budget allocated for the deliberation of the two bills.

Both factions within the special committees deliberating the bills and the government were divided over issues on administrative requirements for the establishment of new political parties, party ideology and function, the quota for women in all parties, the dispute settlement mechanism and legal sanctions.

Issues around the bill on general elections included electoral and parliamentary thresholds, mapping of electoral districts, the number of seats in the House and provincial and regental legislatures, and voting rights of servicemen and sanctions in election violations.