Thursday, February 7, 2008

SUARA MERDEKA

Jumat, 08 Februari 2008 BANYUMAS



PURWOKERTO-Panwas Rabu lalu memanggil Hendra Budiman, ketua harian Singgih-Laily Centre, untuk mengklarifikasi soal bantuan buku ke sekolah-sekolah yang disisipi gambar Singgih Wiranto-Laily Sofiyah.

Panwas akan meneruskan kasus itu ke polisi karena bukti-bukti dinilai telah cukup, tinggal melengkapi dengan beberapa saksi.

FA Agus Wahyudi, anggota Panwas menjelaskan berdasarkan hasil klarifikasi buku tersebut berasal dari sebuah penerbit di Jakarta. Singgih-Laily Centre yang mengajukan bantuan, sedangkan pendistribusiannya oleh relawan.

''Relawan ada yang menyerahkan langsung ke sekolah-sekolah atau lewat guru dan sebagian lagi diserahkan kepada masyarakat atau orang tua murid,'' tuturnya, kemarin.

Mematuhi

Hendra Budiman, ketua harian Singgih-Laily Centre ketika dihubungi mengatakan mematuhi prosedur hukum. Jika Panwas melaporkan ke polisi, pihaknya akan datang jika ada panggilan dari penyidik.

Panwas, tutur dia, meminta bukti-bukti pengiriman buku tetapi tidak diberi. Panwas dinilai sudah melebihi kewenangannya.

''Penyidik yang berhak minta bukti, bukan Panwas. Fungsi Panwas hanya mediasi. Panwas harus tahu tugasnya.'' (G22,in-27)

Gita Gutawa Juara Festival Musik Internasional

SM/dok Gita Gutawa

JAKARTA - Penyanyi remaja Aluna Sagita Gutawa (Gita Gutawa) menjuarai International Nile Children Song Festival (INCSF) ke-6 di Kairo, Mesir, pada 29 Januari - 3 Februari lalu. Penyerahan grand prize dilakukan oleh Ibu Negara Mesir Suzanne Mubarak dalam acara penutupan INCSF pada Minggu (3/2), kata siaran pers KBRI Kairo.

Festival Internasional tersebut merupakan acara tahunan yang diselenggarakan di bawah asuhan Ibu Negara, dan merupakan bagian kegiatan program Kementerian Kebudayaan Mesir.

Menurut keterangan panitia, festival tersebut diikuti oleh sekitar 300 peserta dari 85 negara dalam tiga kategori berdasarkan usia peserta, yaitu penyanyi anak I (5-9 tahun), penyanyi anak II (10-13 tahun), dan penyanyi remaja (14-18 tahun).

Setelah dilakukan seleksi, terpilih 35 penyanyi dari 19 negara untuk tampil dalam festival tersebut. Ke-19 negara itu antara lain Mesir, Kanada, Australia, Portugal, Filipina, China, Polandia, Cile, Indonesia, Belgia, Kazakhstan, dan Rusia.

Sesuai Tema INCSF

Gita termasuk dalam kategori penyanyi remaja 14-19 tahun. Pada penampilan pertama, yang dilakukan hari Jumat (31/1) di Gedung Konferensi Internasional Kairo, Gita menyanyikan lagu ''To Be The One'' ciptaan Budi Bachtiar dan Ria Leimena. Inti lagu itu adalah mendambakan terciptanya perdamaian di seluruh dunia.

Lagu tersebut dinilai sesuai dengan tema INCSF tahun ini, yaitu ''Perdamaian dan Persahabatan bagi Dunia'' (Peace and Friendships for the World).

Pada acara puncak penutupan INCSF, Gita kembali menyanyikan lagu tersebut. Tepuk tangan membahana dari sekitar 1.300 hadirin menyambut penampilan penyanyi remaja itu.

Dubes Indonesia untuk Mesir AM Fachir, yang hadir bersama istri dalam acara penutupan itu, diwawancarai beberapa jaringan TV Mesir. Menurut mereka, keberhasilan Gita ini semakin mengharumkan nama Indonesia di manca negara, khususnya di Mesir.

Dubes Fachir juga mengharapkan keikutserataan Indonesia dalam festival tersebut dapat semakin mempererat hubungan Indonesia-Mesir.

Seniman Indonesia, Criss Patikawa, merupakan salah satu dari 10 anggota dewan juri dari berbagai negara dalam festival tersebut.

Atas prestasi itu, KBRI Kairo menyelenggarakan ''Malam Apresiasi Prestasi Gita Gutawa'' yang diselenggarakan di Wisma Duta KBRI pada Senin (4/2). (ant-26)

Sunday, February 3, 2008

Yuni Shara

d Luhukay)Orang Jawa dan batik memang klop. Itulah salah satu alasan utama Wahyu Setyaning Budi alias Yuni Shara, 35 tahun, memilih bahan batik untuk busana yang dikenakannya di ruang publik. Entah apa yang membuat mbakyu-nya Krisdayanti ini menyukai batik. "Mulai 2007, saya tergila-gila lagi sama batik," ungkap wanita asal Batu, Malang, Jawa Timur ini.

Yuni, yang sudah belajar jahit-menjahit dengan bahan dasar kain batik ini, mengenang pengalamannya saat menunaikan ibadah haji pada Desember 2007. Kombinasi baju atasan batik Yuni dengan renda-renda dipadu kerudung polos, sempat menyita perhatian khalayak, khususnya jamaah haji Indonesia di Mina.

"Mereka tahu betul kalau yang pakai itu orang Indonesia. Sebelum melihat tampangku, kadang dari belakang ada yang negur, `... Mbak`," kenang wanita berkulit bersih dan bertubuh mungil ini, sambil tersenyum.

Nah, kalau ditanya, negara mana yang sebenarnya lebih berhak terhadap kain batik, apakah Indonesia atau Malaysia, Yuni mengaku tidak tahu sama sekali. Tapi menurutnya, bangsa Indonesia sudah dari dulu berbatik ria. "Sekarang kok malah jadi kayak rebutan." Indonesia, menurut Yuni, lengah dengan masalah kepemilikan batik, sehingga tak semestinya ada perdebatan soal paten ini-itu.

Oleh karenanya, lanjut Yuni, anak-anak muda Indonesia seharusnya membuat terobosan, bereksperimen dengan kain batik. Anak-anak band, misalnya, meski cuma syalnya yang batik, atau celana jins lusuh dengan kombinasi batik, menurut Yuni, bakal menjadi pemandangan menarik untuk ditonton. "Batik itu nggak mahal kok!" [EL]