Jakarta, 2 Pebruari 2008 14:24
Ketua DPR Agung Laksono, saat kunjungan ke Kairo, Mesir, guna menghadiri Konferensi Perhimpunan Parlemen Negara-Negara Anggota Organisasi Konferensi Islam (PUIC) ke-5, menggalang dukungan untuk menjadi ketua Inter-Parlemen Dunia (IPU).
Agung Laksono merupakan salah satu calon ketua IPU yang pemilihannya akan dilangsungkan dalam konferensi IPU di Jenewa pada Oktober depan, kata siaran pers KBRI Kairo, yang diterima ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Dalam kaitan ini, Ketua DPR itu telah melakukan konsultasi dan pertemuan bilateral dengan beberapa ketua delegasi parlemen, antara lain Mesir, Saudi Arabia, dan Iran.
Konferensi PUIK ke-5 di Kairo yang berlangsung selama dua hari, berakhir Kamis (31/1) tersebut membahas masalah konflik di Timur Tengah dan persoalan yang dihadapi dunia internasional lainnya seperti terorisme, Islamfobia.
Mereka membahas pula perlunya dialog antaragama dan kepercayaan, perubahan iklim, dan kerja sama ekonomi antar sesama negara muslim.
Sementara itu dalam pidatonya, Agung Laksono secara khusus mengusulkan tiga rancangan resolusi mengenai isu-isu berikut, yaitu pertama, rekonsiliasi Hamas-Fatah di Palestina.
Kedua, upaya penyelamatan lingkungan hidup terkait dengan perubahan iklim, dan ketiga, pembentukan lembaga moneter antar negara-negara Muslim (Islamic Monetary Fund).
Selain itu, Agung juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada negara-negara anggota OKI yang telah menyampaikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya mantan Presiden Soeharto.
Agung Laksono menyatakan Indonesia memandang penting perlunya persatuan nasional Palestina, dengan jalan rekonsiliasi Hamas dan Fatah.
Alasan Indonesia adalah karena persatuan merupakan modal awal dan utama Palestina dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaannya secara penuh dari pendudukan Israel.
Dalam kaitan dengan isu lingkungan hidup, Indonesia mengajak negara-negara peserta konferensi untuk mendukung implementasi Protokol Kyoto serta Bali Road Map yang dihasilkan pada Konferensi ke-13 PBB (UNFCC) di Bali, 4-13 Desember 2007.
Di sela-sela konferensi, Agung Laksono juga berkesempatan untuk melakukan kunjungan kehormatan kepada Syeikh Agung Al-Azhar (pemegang otoritas keagamaan tertinggi Mesir), Prof Dr Mohamed Sayed Tantawi. [TMA, Ant]
Sunday, February 3, 2008
Pertengahan 2008, dirintis Banyumas ’Cyber City’
umat, 01 Februari 2008
PURWOKERTO - Dalam rangka mempersiapkan Kabupaten Banyumas menjadi kota pendidikan, perdagangan, jasa dan pariwisata, selaku tokoh intelektual muda yang kaya gagasan, mantan Sekda Banyumas Singgih Wiranto tengah menyusun program Banyumas Cyber City (BCC). BCC merupakan jaringan yang mengintegrasikan pemerintah kabupaten, kampus, sekolah, rumah sakit, polisi, perhotelan, industri, perbankan, restoran, warnet (warung internet) serta kecamatan dan desadesa se-Kabupaten Banyumas di bidang Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).
Singgih memandang BCC ini sangat diperlukan dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan menuju ke tata pemerintahan yang baik, peningkatan kualitas pendidikan (e-Learning) serta pemasyarakatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi kepada kalangan masyarakat (e-People).
"Sistem pengembangan kabupaten yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (infokom) ini menjamin ketersediaan informasi dan infrastruktur yang terpadu antara Pemerintah Kabupaten dengan komponen bisnis, masyarakat dan potensi daerah yaitu perdagangan, pariwista, pertambangan, perindustrian, dan sebagainya," kata Singgih.
Cukup lama
Sistem ini oleh beberapa kalangan ada yang menyebutnya sebagai cyber station atau techno park (taman teknologi). Negara-negara maju seperti Jerman, Prancis, Kanada, Italia, Inggris, Swedia, Amerika Serikat, Finlandia dan lain-lain sudah cukup lama mengimplementasikan cyber city. Tidak ketinggalan negara-negara Asia semacam Jepang, Korea, China, Taiwan, India dan negara tetangga kita Singapura dan Malaysia telah pula memiliki cyber city.
Tujuannya untuk membuat Information and Communication Technology (ICT) Center sebagai penyedia informasi untuk seluruh lapisan masyarakat Banyumas, bahkan seluruh dunia, yang diharapkan bisa mempercepat peningkatan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Kabupaten Banyumas dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan masyarakatnya.
Dalam dunia pendidikan, konsep semacam one school one lab (setiap sekolah memiliki laboratorium komputer) adalah hal yang cukup strategis sebagai langkah awal membangun cyber city, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi internet goes to school (jaringan internet sekolah), yang pada akhirnya menjadi Jaringan Informasi Sekolah (JIS), di mana database pendidikan telah terintegrasi dengan baik, sehingga memudahkan untuk mengambil kebijakan dan langkah strategis di bidang pendidikan.
Sistem ini akan menjadikan masyarakat Banyumas dalam setiap aktivitasnya tak pernah lepas dari PDA, smartphone, palmtop, laptop, maupun notebook di tempat umum tanpa merasa canggung dan aneh. Resto cepat saji, pasar swalayan, mini market, maupun warnet siap melayani dan memanjakan warga Banyumas selama 24 jam tanpa henti. Kesadaran berbahasa Inggris dan berbahasa Mandarin di kalangan siswa, mahasiswa, pengusaha, pejabat maupun masyarakat tumbuh pesat dan diperkirakan akan melonjakkan angka pengguna internet secara signifikan.
Berjaya
"Suatu saat nanti, apabila semua komponen pendukung kehidupan kabupaten menyatu dan melebur ke dalam Banyumas Internet Exchange (BIX), maka di saat itulah BCC akan berjaya sebagai model e-Learning dan e-Style baru kebanggaan warga Banyumas," jelas Singgih.
Bila tidak ada aral melintang, maka Kabupaten Banyumas di tahun 2020 akan menjadi kota dunia maya (cyber city), karena seluruh wilayahnya terjangkau sinyal internet nirkabel dengan menggunakan teknologi canggih saat ini yang bernama Wi-Max (Worldwide Interope- rability for Microwave Access). Teknologi ini jauh lebih canggih dari Wi-Fi (Wireless Fidelity) yang umumnya digunakan sebagai layanan hot spot di Indonesia.
Teknologi ini bisa mencapai sekitar 75 megabyte per detik, di mana ribuan orang dapat mengakses internet dalam satu waktu sekaligus. Impian tersebut akan diwujudkan secara bertahap hingga pada akhirnya semua pelayanan pemerintah kabupaten akan dilakukan sepenuhnya secara online, seperti yang terlaksana di berbagai negara maju. "Nantinya warga Banyumas untuk membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) cukup mengakses laman (situs internet) Kantor Kependudukan Kabupaten.
Setelah melakukan verifikasi data, kantor kependudukan akan memungut biaya dari rekening pemohon melalui perbankan online, dan KTP langsung jadi. Begitu juga dengan pelayanan perizinan, retribusi, pajak, telepon dan listrik. Warga cukup membayar tagihan-tagihan melalui internet tanpa harus bertatap muka dengan petugas dan antre panjang di loket pembayaran," paparnya. hef-Tj
PURWOKERTO - Dalam rangka mempersiapkan Kabupaten Banyumas menjadi kota pendidikan, perdagangan, jasa dan pariwisata, selaku tokoh intelektual muda yang kaya gagasan, mantan Sekda Banyumas Singgih Wiranto tengah menyusun program Banyumas Cyber City (BCC). BCC merupakan jaringan yang mengintegrasikan pemerintah kabupaten, kampus, sekolah, rumah sakit, polisi, perhotelan, industri, perbankan, restoran, warnet (warung internet) serta kecamatan dan desadesa se-Kabupaten Banyumas di bidang Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).
Singgih memandang BCC ini sangat diperlukan dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan menuju ke tata pemerintahan yang baik, peningkatan kualitas pendidikan (e-Learning) serta pemasyarakatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi kepada kalangan masyarakat (e-People).
"Sistem pengembangan kabupaten yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (infokom) ini menjamin ketersediaan informasi dan infrastruktur yang terpadu antara Pemerintah Kabupaten dengan komponen bisnis, masyarakat dan potensi daerah yaitu perdagangan, pariwista, pertambangan, perindustrian, dan sebagainya," kata Singgih.
Cukup lama
Sistem ini oleh beberapa kalangan ada yang menyebutnya sebagai cyber station atau techno park (taman teknologi). Negara-negara maju seperti Jerman, Prancis, Kanada, Italia, Inggris, Swedia, Amerika Serikat, Finlandia dan lain-lain sudah cukup lama mengimplementasikan cyber city. Tidak ketinggalan negara-negara Asia semacam Jepang, Korea, China, Taiwan, India dan negara tetangga kita Singapura dan Malaysia telah pula memiliki cyber city.
Tujuannya untuk membuat Information and Communication Technology (ICT) Center sebagai penyedia informasi untuk seluruh lapisan masyarakat Banyumas, bahkan seluruh dunia, yang diharapkan bisa mempercepat peningkatan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Kabupaten Banyumas dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan masyarakatnya.
Dalam dunia pendidikan, konsep semacam one school one lab (setiap sekolah memiliki laboratorium komputer) adalah hal yang cukup strategis sebagai langkah awal membangun cyber city, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi internet goes to school (jaringan internet sekolah), yang pada akhirnya menjadi Jaringan Informasi Sekolah (JIS), di mana database pendidikan telah terintegrasi dengan baik, sehingga memudahkan untuk mengambil kebijakan dan langkah strategis di bidang pendidikan.
Sistem ini akan menjadikan masyarakat Banyumas dalam setiap aktivitasnya tak pernah lepas dari PDA, smartphone, palmtop, laptop, maupun notebook di tempat umum tanpa merasa canggung dan aneh. Resto cepat saji, pasar swalayan, mini market, maupun warnet siap melayani dan memanjakan warga Banyumas selama 24 jam tanpa henti. Kesadaran berbahasa Inggris dan berbahasa Mandarin di kalangan siswa, mahasiswa, pengusaha, pejabat maupun masyarakat tumbuh pesat dan diperkirakan akan melonjakkan angka pengguna internet secara signifikan.
Berjaya
"Suatu saat nanti, apabila semua komponen pendukung kehidupan kabupaten menyatu dan melebur ke dalam Banyumas Internet Exchange (BIX), maka di saat itulah BCC akan berjaya sebagai model e-Learning dan e-Style baru kebanggaan warga Banyumas," jelas Singgih.
Bila tidak ada aral melintang, maka Kabupaten Banyumas di tahun 2020 akan menjadi kota dunia maya (cyber city), karena seluruh wilayahnya terjangkau sinyal internet nirkabel dengan menggunakan teknologi canggih saat ini yang bernama Wi-Max (Worldwide Interope- rability for Microwave Access). Teknologi ini jauh lebih canggih dari Wi-Fi (Wireless Fidelity) yang umumnya digunakan sebagai layanan hot spot di Indonesia.
Teknologi ini bisa mencapai sekitar 75 megabyte per detik, di mana ribuan orang dapat mengakses internet dalam satu waktu sekaligus. Impian tersebut akan diwujudkan secara bertahap hingga pada akhirnya semua pelayanan pemerintah kabupaten akan dilakukan sepenuhnya secara online, seperti yang terlaksana di berbagai negara maju. "Nantinya warga Banyumas untuk membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) cukup mengakses laman (situs internet) Kantor Kependudukan Kabupaten.
Setelah melakukan verifikasi data, kantor kependudukan akan memungut biaya dari rekening pemohon melalui perbankan online, dan KTP langsung jadi. Begitu juga dengan pelayanan perizinan, retribusi, pajak, telepon dan listrik. Warga cukup membayar tagihan-tagihan melalui internet tanpa harus bertatap muka dengan petugas dan antre panjang di loket pembayaran," paparnya. hef-Tj
Serba-serbi Kuliah di Singapura (1)
SUARA MERDEKA
Senin, 04 Februari 2008
Mahasiswa Magang Bergaji Rp 6,4 Juta/Bulan
Singapura bukan hanya menjadi daerah tujuan wisata dan bisnis, melainkan jadi pusat pendidikan. Mengapa Negeri Singa itu menjadi tempat studi pilihan? Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Benu Hidayat yang diundang Singapore Tourism Board untuk mengunjungi beberapa kampus di negara tetangga itu pada 28-30 Januari lalu.
SISTEM pendidikan di kampus-kampus Singapura bagaikan paket produk three in one. Beli satu dapat tiga. Selain menyediakan fasilitas yang modern dan staf pengajar bertaraf internasional, negeri tetangga ini juga menawarkan kemudahan untuk menjalin relasi dan jaringan (networking) dengan perusahaan-perusahaan multinasional.
''Ada sekitar 7.000 perusahaan multinasional yang beroperasi di Singapura. Hal ini menciptakan peluang besar bagi para mahasiswa di Singapura untuk membangun networking dengan perusahaan-perusahaan asing,'' ujar Sherina Chan, manajer Divisi Komunikasi Singapore Tourism Board, saat menerima kunjungan rombongan wartawan dari Indonesia.
Peluang membangun jaringan itu dibuka lebar-lebar sejak awal perkuliahan. Caranya, kampus-kampus itu bermitra dengan perusahaan multinasional, sehingga mahasiswa mereka dapat bekerja magang di perusahaan-perusahaan tersebut.
Kurikulum pun dirancang untuk menyiapkan tenaga profesional yang dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja di sana. Biasanya, pola perkuliahannya berbentuk work and study. Misalnya, mereka mengikuti kuliah selama dua hari, kemudian magang selama empat hari dalam sepekan.
Dapat Gaji
Di kampus At-sunrice yang terletak di Fort Canning, mahasiswa diberi kesempatan untuk bekerja magang selama lima bulan di hotel-hotel dan restauran yang menjadi mitra akademi kuliner itu. Mitra-mitra At-sunrice meliputi Grand Hyatt Hotel, Intercontinental, The Ritz-Carlton, Pan Pacific, The Regent, Marriott, Hilton, Swissotel The Stamford, Marina Mandarin, Raffles The Plaza, dan sebagainya.
Syaratnya, mereka telah mengikuti program studi dasar di At-sunrice selama dua pekan. Biaya kuliahnya bervariasi dari 18.000 sampai 39.000 dolar Singapura, bergantung pada masa studinya yang berkisar dari 15 bulan sampai 36 bulan.
Selama magang, mereka mendapat gaji 500 dolar Singapura per bulan. ''Kalau mahasiswa yang berprestasi, misalnya telah menang penghargaan, gaji magang mereka bisa lebih tinggi lagi. Bisa sampai 1.000 dolar Singapura per bulan,'' ,'' kata Mizuho Hara, Faculty Manager di At-sunrice.
Sekadar perbandingan, biaya hidup mahasiswa Indonesia di sana rata-rata 1.000 dolar Singapura. Menurut keterangan Jason Suwastika (23), mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di At-sunrice, lulusan akademi kuliner itu bisa berpenghasilan 1.600 sampai 12.000 dolar Singapura per bulan.
Jadi, jika kurs 1 dolar Singapura sama dengan Rp 6.400, mahasiswa magang At-sunrice bisa mendapat bayaran sekitar Rp 3.200.000 sampai Rp 6.400.000. Dan lulusannya bisa berpenghasilan Rp 76.800.000 sebulan. Wuuih!
Ikut Festival
Raffles Design Institute juga menawarkan program serupa, meskipun bidangnya tak sama. Sekolah desain itu menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan dalam dan luar negeri, dari butik dan hotel sampai rumah sakit. ''Bulan lalu, mahasiswa-mahasiswi kami merancang seragam untuk seluruh staf Rumah Sakit Umum Singapura. Mulai dari suster sampai staf divisi komunikasi mereka,'' kata Iwan Nurcahyadi, konsultan edukasi Raffles Design Institute.
Iwan menjelaskan bahwa mahasiswa sekolah desain itu juga diikutkan ke berbagai kompetisi dan festival desain internasional. Tahun lalu, mahasiswa asal Surabaya Agustinus Leo Saputra meraih penghargaan Capitaland Retail Creme Award, berkat desain loudspeaker (pengeras suara) karyanya. Di institut itu, Leo mengambil kuliah jurusan desain produk. Dia juga bekerja magang sebagai asisten desainer dan produksi di perusahaan Pac Asia Pte Ltd.
Junita (20), remaja Jakarta yang ambil kuliah Hotel Administration di UNLV (University of Nevada Las Vegas) Singapura, juga menekankan pentingnya membangun networking semasa kuliah.
Salah satu syarat kelulusan di UNLV adalah memiliki pengalaman kerja magang atau part-time sekurang-kurangnya selama 1.000 jam. (Benu Hidayat-77)
Senin, 04 Februari 2008
Mahasiswa Magang Bergaji Rp 6,4 Juta/Bulan
Singapura bukan hanya menjadi daerah tujuan wisata dan bisnis, melainkan jadi pusat pendidikan. Mengapa Negeri Singa itu menjadi tempat studi pilihan? Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Benu Hidayat yang diundang Singapore Tourism Board untuk mengunjungi beberapa kampus di negara tetangga itu pada 28-30 Januari lalu.
SISTEM pendidikan di kampus-kampus Singapura bagaikan paket produk three in one. Beli satu dapat tiga. Selain menyediakan fasilitas yang modern dan staf pengajar bertaraf internasional, negeri tetangga ini juga menawarkan kemudahan untuk menjalin relasi dan jaringan (networking) dengan perusahaan-perusahaan multinasional.
''Ada sekitar 7.000 perusahaan multinasional yang beroperasi di Singapura. Hal ini menciptakan peluang besar bagi para mahasiswa di Singapura untuk membangun networking dengan perusahaan-perusahaan asing,'' ujar Sherina Chan, manajer Divisi Komunikasi Singapore Tourism Board, saat menerima kunjungan rombongan wartawan dari Indonesia.
Peluang membangun jaringan itu dibuka lebar-lebar sejak awal perkuliahan. Caranya, kampus-kampus itu bermitra dengan perusahaan multinasional, sehingga mahasiswa mereka dapat bekerja magang di perusahaan-perusahaan tersebut.
Kurikulum pun dirancang untuk menyiapkan tenaga profesional yang dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja di sana. Biasanya, pola perkuliahannya berbentuk work and study. Misalnya, mereka mengikuti kuliah selama dua hari, kemudian magang selama empat hari dalam sepekan.
Dapat Gaji
Di kampus At-sunrice yang terletak di Fort Canning, mahasiswa diberi kesempatan untuk bekerja magang selama lima bulan di hotel-hotel dan restauran yang menjadi mitra akademi kuliner itu. Mitra-mitra At-sunrice meliputi Grand Hyatt Hotel, Intercontinental, The Ritz-Carlton, Pan Pacific, The Regent, Marriott, Hilton, Swissotel The Stamford, Marina Mandarin, Raffles The Plaza, dan sebagainya.
Syaratnya, mereka telah mengikuti program studi dasar di At-sunrice selama dua pekan. Biaya kuliahnya bervariasi dari 18.000 sampai 39.000 dolar Singapura, bergantung pada masa studinya yang berkisar dari 15 bulan sampai 36 bulan.
Selama magang, mereka mendapat gaji 500 dolar Singapura per bulan. ''Kalau mahasiswa yang berprestasi, misalnya telah menang penghargaan, gaji magang mereka bisa lebih tinggi lagi. Bisa sampai 1.000 dolar Singapura per bulan,'' ,'' kata Mizuho Hara, Faculty Manager di At-sunrice.
Sekadar perbandingan, biaya hidup mahasiswa Indonesia di sana rata-rata 1.000 dolar Singapura. Menurut keterangan Jason Suwastika (23), mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di At-sunrice, lulusan akademi kuliner itu bisa berpenghasilan 1.600 sampai 12.000 dolar Singapura per bulan.
Jadi, jika kurs 1 dolar Singapura sama dengan Rp 6.400, mahasiswa magang At-sunrice bisa mendapat bayaran sekitar Rp 3.200.000 sampai Rp 6.400.000. Dan lulusannya bisa berpenghasilan Rp 76.800.000 sebulan. Wuuih!
Ikut Festival
Raffles Design Institute juga menawarkan program serupa, meskipun bidangnya tak sama. Sekolah desain itu menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan dalam dan luar negeri, dari butik dan hotel sampai rumah sakit. ''Bulan lalu, mahasiswa-mahasiswi kami merancang seragam untuk seluruh staf Rumah Sakit Umum Singapura. Mulai dari suster sampai staf divisi komunikasi mereka,'' kata Iwan Nurcahyadi, konsultan edukasi Raffles Design Institute.
Iwan menjelaskan bahwa mahasiswa sekolah desain itu juga diikutkan ke berbagai kompetisi dan festival desain internasional. Tahun lalu, mahasiswa asal Surabaya Agustinus Leo Saputra meraih penghargaan Capitaland Retail Creme Award, berkat desain loudspeaker (pengeras suara) karyanya. Di institut itu, Leo mengambil kuliah jurusan desain produk. Dia juga bekerja magang sebagai asisten desainer dan produksi di perusahaan Pac Asia Pte Ltd.
Junita (20), remaja Jakarta yang ambil kuliah Hotel Administration di UNLV (University of Nevada Las Vegas) Singapura, juga menekankan pentingnya membangun networking semasa kuliah.
Salah satu syarat kelulusan di UNLV adalah memiliki pengalaman kerja magang atau part-time sekurang-kurangnya selama 1.000 jam. (Benu Hidayat-77)
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)