Tuesday, September 25, 2007

Koalisi Ampera Munculkan Empat Nama Calon Bupati


Line
Rabu, 26 September 2007 BANYUMAS
Line

PURWOKERTO-(SM)Koalisi Ampera (PAN-PPP) memunculkan empat nama calon bupati. Dari PAN Mardjoko, Aris Wahyudi, dan Singgih Wiranto, sedangkan PPP Bambang Priyono (BP), Aris Wahyudi, dan Singgih Wiranto. Ada dua nama yang sama-sama dicalonkan, yakni Aris Wahyudi dan Singgih.

''Dua tiga hari lagi kami memutuskan satu nama. Kami masih butuh masukan dan rumusan yang jelas, antara lain memenuhi kriteria yang sudah ditentukan,'' kata Prian Restriyanto, Ketua Tim Koalisi Ampera, kemarin.

Ketua Tim Penjaringan PPP Sunarto Arif menambahkan tiga nama yang dimunculkan merupakan hasil maksimal dari proses penjaringan. Ketiganya dinilai memiliki peluang dan kemampuan untuk memimpin Banyumas lima tahun ke depan. ''Namun siapa yang akan diusung bersama PAN, akan ditentukan dalam beberapa hari ini,'' ujarnya.

Kalau Koalisi Ampera mencalonkan sendiri, harus mengusung nama Aris Wahyudi. Tiga nama lainnya, yakni Singgih sudah dicalonkan Partai Golkar, BP kemungkinan besar diusung PDI-P, sedangkan Mardjoko lewat PKB kendati masih menunggu rekomendasi DPP setelah memenangi Musyawarah Kebangkitan. Kalau tidak mengusung calon sendiri, koalisi itu hanya sebagai pendukung. Bisa bergabung dengan Partai Golkar, PDI-P, atau PKB.

''Dalam penjaringan calon bupati dan wakil sejak awal kami menentukan dua sikap, yaitu kalau tidak mengusung sendiri ya bergabung dengan partai lain. Kalau bergabung, diharapkan calon wakil bupati dari kami,'' tutur Prian.

Tawaran calon wakil bupati hanya bisa diusulkan kepada Mardjoko, BP, dan Aris Wahyudi. Singgih sudah tertutup karena Partai Golkar sudah menentukan calon sendiri, yakni Laily Sofiyah Manshur.

Pimpinan Partai

Tim Sembilan Koalisi Poros Rakyat (KPR), gabungan Partai Demokrat, PKS, dan aliansi 12 partai nonparlemen, sudah menyelesaikan penjaringan calon bupati dan wakil bupati. Calon-calon yang mendaftar dan telah menyampaikan visi-misi dan programnya, kemarin diserahkan ke pimpinan partai yang beraliansi.

''Tim sudah menyelesaikan tugas dan melaporkan hasilnya ke pimpinan partai. Keputusan siapa nama calon bupati dan wakil yang akan diusung ada di tangan partai yang berkoalisi,'' kata Ketua Tim Sembilan KPR Agus Wijayanto.

PKS sebelumnya telah menentukan tiga nama, yakni BP, Imam Durori, dan Mardjoko. Partai Demokrat dan aliansi partai nonparlemen belum tegas, namun BP dan Aris Wahyudi santer disebut-sebut.

Dari sepuluh calon bupati yang sudah muncul diprediksi yang tipis peluangnya mendapatkan kendaraan politik adalah Tarsun (Kepala Dinas Pendidikan Brebes), Sudjatmo (Polri), Supriyadi (TNI), Toto Dirgantoro (fungsionaris Partai Golkar dan pengusaha), Jon Prayitno (pengusaha), dan Tjaroko Wibowo (kader PDI-P yang diusung GMPK). (G22,in-27)




Monday, September 24, 2007

Karakteristik Pribadi Mulia



CARI :







Jumat, 14 September 2007

JIKA seluruh manusia di dunia ini memiliki karakter pribadi mulia, dapat dibayangkan betapa indahnya kehidupan ini: tidak ada konflik, permusuhan, kerusuhan, tindak kriminal, dan sebagainya. Sebaliknya, yang ada adalah semangat kerjasama, saling berkasih-sayang, tolong-menolong, dan berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.

Dapatkah kondisi demikian tercipta? Insya Allah, jika dakwah Islamiyah terus-menerus berlangsung dengan para jurudakwah berjiwa mujaddid (pembaharu), muwahid (pemersatu), mujahid (pejuang), muadib (pendidik), dan musadid (pelurus) dengan keimanan dan keikhlasanya. Sasaran utama dakwah adalah perubahan pola pikir dan sikap, sehingga terbentuk manusia-manusia berkepribadian mulia. Itu pula yang menjadi misi Islam sejak kelahirannya, yakni membentuk budi pekerti yang mulia.

Akhlak tempatnya di dalam hati. Ia adalah “sentral komando” perilaku manusia. Akhlak adalah penentu baik-buruk perilaku seseorang. Fondasi akhlak yang membawa kebaikan amal perbuatan adalah dzikrullah, yakni selalu mengingat Allah SWT dalam segala kondisi. Dzikrullah adalah dasar akhlak mulia, bersama sifat pemaaf, suka mengajak kepada kebenaran, berpaling dari orang-orang bodoh, suka berlindung kepada Allah SWT dari godan setan (QS Al A’raf [7]: 199-201).

UPAYA dakwah hendaknya tidak lepas dari upaya pembentukan karakter pribadi mulia dengan fondasi akhlak yang mulia sebagai berikut:

Pertama, berbicara yang baik saja. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berbicara yang baik atau (jika tidak demikian) hendaklah diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Sebuah pembicaraan dikatakan baik apabila isinya bermanfaat, mengandung kebajikan, membuat senang pendengarnya, atau tidak menyakiti hati orang lain. Pembicaraan yang baik juga bercirikan penggunaan kata-kata yang benar atau sesuai kaidah bahasa yang berlaku (qaulan sadida, QS An-Nisaa’ [4]: 9), kata-kata yang tepat sasaran, komunikatif, atau mudah dimengerti (qaulan baligha, QS 4: 63), serta mengunakan kata-kata yang santun, lemah-lembut, atau tidak kasar (qaulan karima, QS Al Isra [17]: 23). Pembicaraan yang baik juga harus penuh kejujuran atau kebenaran (shidqi).

Kedua, malu (haya’). Malu adalah perasaan untuk tidak ingin direndahkan atau dipandang buruk oleh pihak lain. Jadi, malu adalah persoalan harga diri atau gengsi. Malu yang paling utama adalah malu kepada Allah SWT sehingga tidak berbuat sesuatu yang melanggar aturan-Nya. Malu kepada manusia harus dalam konteks malu kepada-Nya. “Sesungguhnya sebagian yang didapatkan manusia dari perkataan nabi-nabi terdahulu ialah ‘Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR Bukhari).

Ketiga, rendah hati (tawadhu’), yaitu perasaan lemah dan kecil di hadapan Allah. Sifat ini akan membuat seseorang tidak berlaku sombong, tidak memandang dirinya mulia apalagi merasa paling benar. Fadhil bin Iyadh mengatakan, tawadhu’ ialah tunduk kepada kebenaran dan mengikutinya, walaupun kebenaran itu datang dari seorang anak kecil.

Keempat, senyum atau bermanis muka. Senyum adalah suatu kebajikan dan sama dengan ibadah sedekah. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya agar murah senyum, atau bermuka manis. Menyenangkannya senyum dapat kita rasakan tatkala melihat keramahan orang lain pada kita. Sebaliknya, sukakah kita melihat orang cemberut dan bermuka masam terhadap kita? Rasulullah bersabda, “Kamu tidak bisa meratai (memberi semua) manusia dengan harta-hartamu, tetapi hendaklah bermanis muka dan perangai yang baik dari kamu meratai mereka” (HR Abu Ya’la).

Kelima, sabar. Bersabar dalam pergaulan adalah sifat mukmin sejati. Dalam bergaul kita menemui banyak orang dengan ragam watak dan perilakunya: ada yang menyenangkan, ada pula yang menyebalkan. Terhadap yang tidak menyenangkan, kita diharuskan bersabar menghadapi sikap mereka. “Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Imam Al-Ghazali mengatakan, “Sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya adalah atas dorongan ajaran agama". Menurut Nabi SAW ada beberapa tingkatan sabar, yaitu (1) sabar dalam menghadapi musibah, (2) sabar dalam mematuhi perintah Allah SWT, dan (3) sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat. Sabar yang pertama merupakan kesabaran terendah, yang kedua merupakan tingkat pertengahan, dan yang ketiga merupakan kesabaran tertinggi (HR Ibnu Abi Ad-Dunia).

Keenam, kuat atau tahan banting. Kuat artinya memiliki ketahanan mental dan fisik yang tinggi. Tidak mudah putus asa, tidak suka mengeluh, dan sehat jasmani-rohani. Kuat juga bisa dimaknai unggul dan berkualitas. Janganlah berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir (QS Yusuf [12]:87).

Ketujuh, pemaaf, tidak pendendam. Memaafkan kesalahan manusia dan menahan amarah adalah ciri orang bertakwa (QS Ali Imran [3]: 134). “Allah tidak akan menambah seseorang yang suka memberi maaf melainkan dengan kemuliaan.” (HR Muslim).

Kedelapan, menahan amarah. Marah dapat membawa malapetaka. Orang sedang marah dikuasai hawa nafsu dan syetan. Pikirannya menjadi tidak jernih, tidak bersih. Akalnya menjadi tidak berfungsi normal. Bukanlah orang yang gagah perkasa namanya ia yang kuat bergulat, tetapi yang disebut gagah perkasa itu ialah orang yang dapat mengendalikan nafsunya (dirinya) ketika sedang marah.” (HR Bukhari Muslim). Kesembilan, zuhud. Ketika seorang sahabat meminta nasihat tentang amal yang disukai Allah dan manusia, Nabi SAW menegaskan, Berzuhudlah dari dunia, niscaya Allah menyukaimu dan zuhudlah dari apa yang di tangan manusia, niscaya manusia menyukaimu. (HR Ibnu Majah). Zuhud adalah sikap tidak terlalu mencintai dunia, bahkan membencinya dalam batas-batas yang wajar. Menurut Rasulullah SAW, “Zuhud di dunia tidak mengharamkan yang halal dan tidak membuang harta...” (HR Tirmidzi).

Kesepuluh, Qonaah, yaitu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Sikap demikian membuatnya tenang dan senantiasa mensyukuri pemberian-Nya, sedikit ataupun banyak. “Bukanlah orang kaya itu yang banyak hartanya, melainkan yang kaya jiwanya (hatinya).” (HR Bukhari dan Muslim). Kesebelas, wara, yakni menjauhi hal syubhat karena takut jatuh kepada keharaman. Syubhat artinya tidak dapat dipastikan halal-haramnya (berada antara halal dan haram). Nabi SAW mengatakan, siapa yang menjauhi syubhat berarti ia membersihkan diri dan agamanya. Siapa yang mendekati syubhat, maka dikhawatirkan termasuk pada hal haram. (HR Muttafaq ‘Alaih).

Keduabelas, suka menolong, yaitu membantu orang yang sedang dalam kesulitan, selama berada pada garis kebaikan dan takwa. Termasuk menolong orang lain adalah menutupi aibnya sehingga tidak membuatnya malu. “Siapa yang menutupi aib orang mukmin, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan tetap menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya.” (HR Muslim). Demikianlah karakteristik pribadi mulia yang harus kita tanamkan dalam diri kita dan didakwahkan kepada orang lain. Semoga Allah memberikan bimbingan dan pertolongan kepada kita dan para mujahid dakwah. Wallahu a’lam.

( )



© 2006 Hak Cipta oleh Republika Online

Sunday, September 23, 2007

Puasa bagi Harmoni Keluarga


Line
Senin, 24 September 2007 NASIONAL
Line


  • Oleh Sri Suhandjati Sukri



MENGINJAK hari keempat puasa, ada seorang ibu memberitahukan melalui telepon bahwa masalah perselisihan dengan suaminya yang pernah dikeluhkan sebulan lalu, sekarang sudah selesai. Bahkan mulai puasa Ramadan ini, kebahagiaan keluarga yang sebelumnya terenggut oleh hadirnya pihak ketiga, sekarang sudah kembali seperti semula.

Kedamaian semakin dirasakan oleh anak-anak, karena ayah dan ibunya selalu bersama mereka saat berbuka puasa. Bahkan ayahnya sekarang banyak membaca buku-buku agama, mau memimpin doa sewaktu akan berbuka.

Kebersamaan di meja makan itu dilanjutkan di musala rumah mereka dengan shalat magrib berjamaah. Dan, ibu itu mengakhiri kisahnya dengan mengatakan, "Semua kekecewaan yang pernah singgah di hati ini karena ulah suami beberapa waktu yang lalu, telah hilang bersama dengan jabat tangan kami setelah selesai shalat. Saya pun tak kuasa menahan air mata, ketika anak-anak mencium tangan kami berdua dan mereka saling bersalaman antara kakak dan adik." Ibu itu mengungkapkannya sambil terisak karena haru dan bahagia.

Perekat Emosional

Ibadah puasa terbukti banyak mengandung perekat emosional, yang mampu mendekatkan hati suami dengan istri, antara orang tua dan anak serta sesama anak. Masalah yang dihadapi masyarakat di era global ini semakin kompleks, dan mempersempit ruang komunikasi dengan keluarganya, setelah bekerja seharian untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Situasi yang menyebabkan terputusnya komunikasi antara suami-istri maupun dengan anak-anak, dapat mengakibatkan masing-masing anggota keluarga pasif dan kurang peduli dengan kesulitan yang dihadapi anggota keluarga lainnya.

Dengan demikian, secara individual akan mencari solusi sendiri-sendiri. Jika solusi yang diperoleh dari teman atau media lain justru menjerumuskan pada kerusakan, maka keluargalah yang akan berantakan.

Karena itu, bulan puasa yang membuka peluang terciptanya komunikasi antaranggota keluarga, perlu digunakan untuk memperkuat ikatan kasih sayang dan kebersamaan menjadi lebih kokoh.

Hal ini sangat penting artinya untuk menjaga keutuhan keluarga, yang setiap saat terancam oleh perpecahan karena berbagai sebab.

Timbulnya kedekatan emosional dengan keluarga saat melaksanakan tarawih, dirasakan pula oleh remaja yang beberapa bulan lalu mengaku kering jiwanya.

Meskipun ia telah melakukan shalat wajib, ia mengaku pada tahun lalu banyak meninggalkan puasa wajib. Karena ia kuliah di kota lain, ayah dan ibunya tidak tahu kalau anaknya sering meninggalkan kewajiban puasa.

Secara kebetulan, bulan Ramadan ini ia tinggal menyelesaikan tugas akhir, sehingga lebih banyak di rumah. Ia mengaku, merasakan nikmatnya berpuasa setelah terbuka hatinya oleh kultum yang disampaikan ayahnya pada shalat tarawih di rumah tentang hikmahnya berpuasa.

Ayahnya mengutip nasihat Lukman Hakim (seorang ahli filsafat yang bijak) kepada putranya: "Wahai anakku, jika perutmu penuh dengan makanan, maka pikiran dan semangatmu akan mati. Seluruh anggota tubuhmu menjadi malas melakukan ibadah kepada Allah, dan hilanglah kebersihan hatimu serta kehalusan perasaanmu. Padahal keduanya itu menyebabkan engkau dapat merasakan nikmatnya bermunajat pada Allah dan mendorongmu untuk selalu ingat dan memuji padaNya."

Apa yang dikutip ayahnya itu ternyata benar. Setelah beberapa hari berpuasa, ia mengaku hatinya menjadi tenang dan pikiran jernih. Kini ia bersama keluarganya sering menggunakan waktu menjelang berbuka puasa untuk membaca buku-buku agama agar pengamalan agamanya semakin bertambah baik dari hari ke hari.

Pendidikan dalam keluarga, pada prinsipnya menjadi dasar bagi pendidikan sesudahnya. Maka keharmonisan dalam keluarga akan berpengaruh pula pada hasil pendidikan lainnya.

Karena pendidikan di lingkungan keluarga saling mendukung dengan pendidikan di sekolah maupun masyarakat.

Sebagian orang tua menganggap bahwa tugas mendidik anak adalah untuk membina kecerdasannya saja. Jika tugas itu sudah dilimpahkan kepada guru di sekolah atau tempat pendidikan lain di masyarakat, mereka merasa telah bebas dari tanggung jawab.

Persepsi tentang pendidikan semacam ini perlu diubah karena pembinaan kecerdasan saja tidak menjamin anak tumbuh menjadi orang yang bermanfaat. Maka paradigma pendidikan dalam keluarga perlu diubah menjadi cerdas, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Tujuannya supaya kecerdasan tidak digunakan untuk tujuan yang merusak, tetapi untuk membangun kesejahteraan masyarakat dan bangsanya.

Dan bulan Ramadan menjadi media latihan pendidikan yang tepat dan utuh, meliputi pengendalian unsur jasmani dan memperteguh rohani, agar terbentuk kepribadian muttakin.(60)

- Prof DR Sri Suhandjati Sukri, dosen IAIN Walisongo