<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568</id><updated>2011-12-22T19:16:00.954-08:00</updated><category term='PLURALISME'/><category term='SIRRAH NABI MUHAMMAD SAW'/><category term='Harta'/><category term='JALAN-JALAN'/><category term='PENDIDIKAN'/><category term='kesehatan'/><category term='SASTRA'/><category term='POLITIK LUAR NEGERI'/><category term='Al-Qur&apos;an'/><category term='PILPRES 2009'/><category term='Hasan Al-Bana'/><category term='ALIRAN SESAT'/><category term='BANYUMAS'/><category term='NUZULUL QUR&apos;AN'/><category term='IBADAH'/><category term='MUHAMMADIYAH'/><category term='WAWASAN KEISLAMAN'/><category term='SEJARAH MESIR'/><category term='MANAJEMEN'/><category term='Kebudayaan'/><category term='MUTIARA RAMADHAN'/><category term='FIGURES'/><category term='UMROH DAN HAJI'/><category term='TIMUR TENGAH'/><category term='ENGLISH'/><category term='PURWOKERTO'/><category term='PUISI'/><category term='MENULIS'/><category term='KISAH ORANG SUKSES'/><category term='KELUARGA'/><category term='DISERTASI'/><category term='&apos;IDUL ADKHA'/><category term='PILBUP BANYUMAS'/><category term='Harta dan Wanita'/><category term='PENGETAHUAN UMUM'/><category term='POLITIK DALAM NEGERI'/><category term='ETOS KERJA'/><category term='GENDER'/><category term='KISAH BIJAK'/><category term='KERUKUNAN'/><category term='kriminalitas'/><category term='AKHLAK'/><category term='KEMISKINAN'/><category term='KEKERASAN'/><title type='text'>edublog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>344</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-5431476698513042200</id><published>2010-06-11T08:30:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T08:31:22.842-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SIRRAH NABI MUHAMMAD SAW'/><title type='text'>Sifat Sholat Nabi</title><content type='html'>Tidak mendahului imam dalam bertakbir&lt;br /&gt;Bila seseorang shalat di belakang imam, janganlah mendahului imam dalam bertakbir karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum mendahului imamnya. Seperti dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ... الحديث&lt;br /&gt;“Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan kalian bertakbir hingga ia bertakbir. Bila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ …” (HR. Abu Dawud no. 603, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat tangan&lt;br /&gt;Mengangkat kedua tangan ketika memulai shalat merupakan perkara yang disyariatkan, bahkan perkara yang disepakati (ijma’). (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296)&lt;br /&gt;Telah dinukilkan pernyataan ijma’ ini oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, dan Ibnus Subki. (Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama’ 2/6, Nailul Authar 2/11)&lt;br /&gt;Akan tetapi, telah dinukilkan dari Al-Imam Malik rahimahullahu riwayat tidak mengangkat tangan sama sekali. Namun demikian, dikatakan oleh Al- Imam Zainuddin Abul Fadhl Al-‘Iraqi dalam Tharhut Tatsrib (2/446) bahwa riwayat ini syadz (ganjil). Demikian pula Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullahu menafikannya dan menyatakan bahwa periwayatan tersebut nampaknya tidak benar dari Malik, karena hadits mengangkat tangan adalah hadits yang disepakati keshahihannya dan tidak didapati celaan seorang pun terhadap perawinya. (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296)&lt;br /&gt;Namun demikian para ulama berselisih, apakah hukumnya wajib atau mustahab. Sebagian besar ahlul ilmi, yakni jumhur dan termasuk dalam hal ini imam yang empat, mengatakan hukumnya sunnah (Subulus Salam 2/169). Dalilnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan perkara tersebut sebagaimana dalam hadits al-musi’i shalatahu di atas. Beliau hanya mengajarkan takbir saja. Seandainya mengangkat tangan itu seperti hukum takbir yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentunya beliau akan mengajarkan pada orang tersebut (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/297). Pendapat inilah yang rajih, wallahu a’lam.&lt;br /&gt;Kata Al-Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu, mengangkat tangan dalam shalat tidaklah wajib. Tidak ada ulama yang berpendapat demikian kecuali Dawud Azh-Zhahiri. Ia mengatakan wajib mengangkat tangan ketika takbiratul ihram. Namun sebagian pengikut madzhab/murid-muridnya menyelisihi pendapatnya ini. Mereka tidak mewajibkannya. (Ikmalul Mu'lim 2/261-262)&lt;br /&gt;Yang berpendapat wajib di antaranya adalah Al-Humaidi, Dawud Azh-Zhahiri, Ahmad bin Yasar, ‘Ali ibnul Madini, Ishaq, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Auza’i. (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296-297, Nailul Authar 2/11)&lt;br /&gt;Ibnu Hazm rahimahullahu mengatakan, “Mengangkat tangan ketika takbiratul ihram pada awal shalat adalah perkara fardhu. Shalat tidak teranggap (sah) tanpa perkara ini.” (Al-Muhalla 2/264)&lt;br /&gt;Dalil mereka di antaranya adalah hadits:&lt;br /&gt;صَلُّوا كَمَا رَأَيتُمُنِي أُصَلِي&lt;br /&gt;“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan tangan ketika bertakbir&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat tangan beliau bersamaan dengan takbir, di waktu lain sebelum takbir dan pernah pula setelah bertakbir. Dalilnya di antaranya hadits-hadits berikut ini:&lt;br /&gt;- Bersamaan dengan takbir&lt;br /&gt;Abdullah ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:&lt;br /&gt;رَأَيتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم افْتَتَحَ التَّكبِيرَ فِي الصَّلاَةِ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيهِ ...&lt;br /&gt;“Aku pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat dengan bertakbir, lalu beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir, hingga beliau menjadikan kedua tangannya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya….” (HR. Al-Bukhari no. 736)&lt;br /&gt;Mengangkat tangan bersamaan dengan bertakbir ini merupakan pendapat dalam madzhab Hanafiyah, juga pendapat Asy-Syafi’i dan pendapat Malikiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sebelum takbir&lt;br /&gt;Ditunjukkan dalam hadits Abdullah ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma juga, ia berkata:&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُوْنَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ...&lt;br /&gt;“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit mengerjakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga keduanya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir….” (HR. Muslim no. 860 dan Al-Bukhari dalam kitabnya Juz Raf’il Yadain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Setelah takbir&lt;br /&gt;Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كاَنَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ...&lt;br /&gt;“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga kedua tangannya sejajar dengan kedua telinga beliau....” (HR. Muslim no. 863 dan Al-Bukhari dalam Juz Raf’il Yadain)&lt;br /&gt;Abu Qilabah mengabarkan:&lt;br /&gt;أَنّهُ رَأَى مَالِكَ ابْنَ الْحُوَيرِثِ إِذَا صَلَّى كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيهِ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَحَدَّثَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَنَعَ هَكَذَا&lt;br /&gt;Ia pernah melihat Malik ibnul Huwairits apabila shalat maka ia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Bila ia ingin ruku’, ia mengangkat kedua tangannya. Demikian pula ketika mengangkat kepalanya dari ruku’, ia mengangkat kedua tangannya dan ia menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut. (HR. Muslim no. 862 dan Al-Bukhari no. 737)&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Albani rahimahullahu menerangkan, “…Masing-masing cara yang telah disebutkan merupakan sunnah yang tsabitah (pasti ketetapannya) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga semestinya seorang muslim mengamalkannya dalam shalatnya. Jangan sampai ia tinggalkan salah satu dari tiga cara ini. Yang sepantasnya, di satu waktu ia melakukan yang ini, di kali lain cara yang itu, dan di waktu selanjutnya ia amalkan cara yang satunya lagi.” (Al-Ashl 1/198-199)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata cara mengangkat tangan&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya, beliau membentangkan/meluruskan jari-jemarinya. Satu jari dengan jari yang lain tidak terlalu direnggangkan, namun tidak pula dirapatkan/digabungkan satu dengan yang lainnya, dan diarahkan ke kiblat (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 3/61). Ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;كاَنَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا&lt;br /&gt;“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila masuk dalam shalatnya (memulai shalatnya dengan takbiratul ihram), beliau mengangkat tangannya dengan membentangkan jari-jarinya.” (HR. Abu Dawud no. 753 dan selainnya, dishahihkan oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih 2/95)&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam mengangkat kedua tangan beliau, sampai-sampai terlihat kedua ketiak beliau. Sebagaimana kata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Seandainya aku berada di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya aku dapat melihat kedua ketiak beliau.” (HR. Abu Dawud no. 746, shahih menurut syarat Muslim, seperti kata guru kami Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih 2/96)&lt;br /&gt;Dalam hadits yang telah dibawakan, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya hingga setentang (sejajar) dengan kedua pundak beliau, dan di waktu lain beliau mengangkat keduanya hingga sejajar dengan kedua telinga beliau. Karena dua tata cara ini ada dalilnya, maka keduanya merupakan sunnah dan dua-duanya bisa diamalkan. Al-Imam Abul Hasan As-Sindi rahimahullahu berkata, “Tidaklah saling bertentangan di antara amalan-amalan/tata cara yang berbeda-beda. Karena boleh jadi semua tata cara tersebut terjadi di waktu-waktu yang berbeda. Sehingga, semuanya merupakan sunnah, terkecuali ada dalil yang menunjukkan mansukh (terhapus)nya sebagian tata cara tersebut…” (Hasyiyah Sunan An-Nasa’i lis Sindi 2/122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah&lt;br /&gt;Fadhilatusy Syaikh Al-Imam Al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan, “Ulama –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati mereka– berbeda pendapat tentang sejumlah ibadah yang disebutkan dengan cara yang beragam. Apakah yang afdhal mencukupkan satu cara saja, ataukah yang afdhal melakukan semuanya pada waktu-waktu yang berbeda, ataukah yang afdhal menjamak (mengumpulkan) apa yang mungkin dijamak?&lt;br /&gt;Yang benar dalam hal ini adalah pendapat kedua yang pertengahan, yaitu ibadah yang datang dengan cara yang beragam sekali waktu diamalkan satu cara dan di kali lain dilakukan cara yang satunya lagi.”&lt;br /&gt;Beliau melanjutkan, “Kalau engkau hanya mengamalkan satu cara dan meninggalkan cara lain, niscaya akan mati cara yang lain. Karena suatu sunnah tidak mungkin tetap hidup terkecuali bila kita sekali waktu mengamalkannya, di kali lain mengamalkan yang lain lagi. Alasan lain, bila seseorang di satu waktu mengamalkan satu cara, di kali lain ia melakukan cara yang lain lagi, niscaya hatinya akan hadir ketika menunaikan amalan yang diajarkan oleh As-Sunnah1. Perkara ini nyata, dapat disaksikan. Karena itulah orang yang setiap kali istiftah mengucapkan: “Subhanaka allahumma wa bihamdika.... “, engkau dapati dirinya dari awal ia bertakbir langsung lanjut dengan “Subhanaka allahumma wa bihamdika...” tanpa ia sadari. Karena ia sudah terbiasa dengan bacaan tersebut. Akan tetapi bila suatu waktu ia mengucapkan bacaan ini dan di kali lain ia mengucapkan doa yang lain, niscaya ia akan (lebih) perhatian.&lt;br /&gt;Ada beberapa faedah mengamalkan ibadah yang memiliki tata cara beragam:&lt;br /&gt;1. Mengikuti sunnah&lt;br /&gt;2. Menghidupkan sunnah&lt;br /&gt;3. Menghadirkan hati (dalam melakukan ibadah)&lt;br /&gt;Bisa juga kita dapati faedah yang keempat: Bila salah satu cara dari beberapa cara itu ada yang lebih pendek/ringkas dari yang lain, seperti zikir setelah shalat, maka seseorang terkadang ingin mempercepat selesai dari zikir tersebut, sehingga ia mencukupkan dengan mengucapkan Subhanallah 10 kali, Alhamdulillah 10 kali, dan Allahu akbar 10 kali. Maka orang ini melakukan amalan yang menepati As-Sunnah dengan waktu yang lebih singkat, karena ingin menunaikan hajatnya. Dan tidak ada keberatan/dosa bagi seseorang melakukan hal itu, apatah lagi bila ada hajatnya yang ingin ditunaikan....” (Asy-Syarhul Mumti’ 3/19-20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian&lt;br /&gt;Sebagian orang mengangkat kedua tangannya tanpa melewati dadanya, seakan-akan ia memberi isyarat dengan kedua tangannya. Yang seperti ini lebih mirip dengan perbuatan sia-sia/bermain-main dalam shalat. Ini sama sekali bukan termasuk dari ajaran As-Sunnah. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 3/61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah&lt;br /&gt;Al-Hafizh rahimahullahu mengatakan, “Tidak ada dalil yang menunjukkan perbedaan lelaki dan perempuan dalam hal mengangkat tangan.” (Fathul Bari 2/287)&lt;br /&gt;Adapun Hanafiyah berpandangan, lelaki mengangkat tangannya sampai kedua telinganya sedangkan perempuan sampai dua pundaknya, karena ini lebih menutup (cukup) baginya. Dan dinukilkan dari Ummud Darda’ radhiyallahu ‘anha bahwa beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dua bahunya. Demikian pula pendapat Az-Zuhri. Sementara ‘Atha’ bin Abi Rabah dan Hammad bin Abi Sulaiman berpendapat wanita mengangkat kedua tangannya sejajar payudaranya, dan ini yang diamalkan Hafshah bintu Sirin rahimahallah. ‘Atha’ bin Abi Rabah rahimahullahu mengatakan bahwa wanita memiliki keadaan yang berbeda dengan laki-laki. Kalaupun dia tidak melakukan yang demikian, maka tidak mengapa. (Tharhut Tatsrib 2/450)&lt;br /&gt;Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullahu berkata, “Yang benar, tidak ada perbedaan antara shalat laki-laki dan shalat perempuan. Perbedaan yang disebutkan oleh sebagian fuqaha tersebut tidak ada dalilnya. Sementara ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي&lt;br /&gt;“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”&lt;br /&gt;merupakan pokok yang mencakup keseluruhan shalat. Juga, pensyariatan agama ini mencakup laki-laki maupun perempuan, kecuali bila ada dalil yang memang mengkhususkannya.&lt;br /&gt;Karena itu, sunnah bagi wanita untuk shalat sebagaimana laki-laki shalat, baik dalam ruku’, sujud, bacaan, meletakkan kedua tangan di atas dada, ataupun yang lainnya. Ini lebih utama. Demikian pula dalam hal meletakkan tangan di atas lutut ketika ruku’, meletakkan tangan di atas tanah ketika sujud sejajar pundak atau sejajar telinga, meluruskan punggung ketika ruku’, apa yang dibaca ketika ruku’, sujud, setelah bangkit dari ruku’, setelah bangkit dari sujud, ataupun di antara dua sujud. Semuanya sama dengan laki-laki, sebagai pengamalan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي&lt;br /&gt;“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”&lt;br /&gt;yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya. (Majmu’ Fatawa 11/80)&lt;br /&gt;(Insya Allah bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Ia akan perhatian dengan amalan/gerakan yang sedang dilakukannya. Beda halnya bila ia terbiasa terus-menerus hanya melakukan satu cara, niscaya gerakannya ibarat gerakan yang spontan, tanpa harus dipikir terlebih dahulu. Karena sudah terbiasa dilakukan, sehingga hatinya tidak ia hadirkan. Shalatnya bergulir begitu saja tanpa ia pikirkan apa saja yang telah dilakukan dan diucapkannya dalam shalat tersebut. Wallahu a’lam. -pen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-5431476698513042200?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/5431476698513042200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=5431476698513042200' title='28 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5431476698513042200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5431476698513042200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/06/sifat-sholat-nabi.html' title='Sifat Sholat Nabi'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>28</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-7918658779973114860</id><published>2010-06-11T08:27:00.001-07:00</published><updated>2010-06-11T08:29:07.240-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harta dan Wanita'/><title type='text'>Harta dan wanita</title><content type='html'>Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian dan cobaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-’Ankabut: 1-2)&lt;br /&gt;Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmah-Nya memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya hikmah dihadapkannya mereka kepada berbagai ujian dan cobaan itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 3)&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hikmah-Nya yang sempurna. Di mana sifat hikmah-Nya mengharuskan setiap orang yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja dengan pengakuannya. Pasti dia akan dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan. Bila tidak demikian, niscaya tidak bisa terbedakan antara orang yang benar dan jujur dengan orang yang dusta. Tidak bisa terbedakan pula antara orang yang berbuat kebenaran dengan orang yang berbuat kebatilan. Sudah merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia menguji (manusia) dengan kelapangan dan kesempitan, kemudahan dan kesulitan, kesenangan dan kesedihan, serta kekayaan dan kemiskinan.”&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya: “(Agar terbedakan) orang-orang yang benar dalam pengakuannya dari orang-orang yang dusta dalam ucapan dan pengakuannya. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengetahui cara terjadinya sesuatu bila hal itu terjadi. Hal ini adalah prinsip yang telah disepakati (ijma’) oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.”&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan telah mengabarkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha melihat.” (Al-Furqan: 20)&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan maksud ayat di atas dalam tafsirnya: “Seorang rasul adalah ujian bagi umatnya, yang akan memisahkan orang-orang yang taat dengan orang-orang yang durhaka terhadap rasul tersebut. Maka Kami jadikan para rasul sebagai ujian dan cobaan untuk mendakwahi kaum mereka. Seorang yang kaya adalah ujian bagi yang miskin. Demikian pula sebaliknya. Orang miskin adalah ujian bagi orang kaya. Semua jenis tingkatan makhluk (merupakan ujian dan cobaan bagi yang sebaliknya) di dunia ini. Dunia yang fana ini adalah medan yang penuh ujian dan cobaan.”&lt;br /&gt;Dari penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu di atas, kita dapatkan faedah bahwa: seorang istri adalah ujian bagi suaminya, anak adalah ujian bagi kedua orangtuanya, pembantu adalah ujian bagi tuannya, tetangga adalah ujian bagi tetangga yang lainnya, rakyat adalah ujian bagi pemerintahnya, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;Selanjutnya, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan: “Tujuannya adalah apakah kalian mau bersabar, kemudian menegakkan berbagai perkara yang diwajibkan atas kalian, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas amalan kebaikan kalian. Ataukah kalian tidak mau bersabar yang dengan sebab itu kalian berhak mendapatkan kemurkaan (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan siksaan?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali ‘Imran: 14)&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa kecintaan terhadap kenikmatan dan kesenangan dunia akan ditampakkan indah dan menarik di mata manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan hal-hal ini secara khusus karena hal-hal tersebut adalah ujian yang paling dahsyat, sedangkan hal-hal lain hanyalah mengikuti. Maka, tatkala hal-hal ini ditampakkan indah dan menarik kepada mereka, disertai faktor-faktor yang menguatkannya, maka jiwa-jiwa mereka akan bergantung dengannya. Hati-hati mereka akan cenderung kepadanya.” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitnah (godaan) wanita&lt;br /&gt;Betapa banyak lelaki yang menyimpang dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena godaan wanita. Betapa banyak pula seorang suami terjatuh dalam berbagai kezaliman dan kemaksiatan disebabkan istrinya. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)&lt;br /&gt;Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata: “Yakni akan menyeret orangtua atau suaminya untuk memutuskan tali silaturahim atau berbuat maksiat kepada Rabbnya, maka karena kecintaan kepadanya, suami atau orangtuanya tidak bisa kecuali menaatinya (anak atau istri tersebut).”&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ&lt;br /&gt;“Berniat dan berbuat baiklah kalian kepada para wanita. Karena seorang wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka apabila kamu berusaha dengan keras meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya. Sedangkan bila kamu membiarkannya niscaya akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kalian kepada para istri (dengan wasiat yang baik).” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:&lt;br /&gt;مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنََ النِّسَاءِ&lt;br /&gt;“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian/godaan) yang lebih dahsyat bagi para lelaki selain fitnah wanita.” (Muttafaqun ‘alaih dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)&lt;br /&gt;Al-Mubarakfuri rahimahullahu berkata: “(Sisi berbahayanya fitnah wanita bagi lelaki) adalah karena keumuman tabiat seorang lelaki adalah sangat mencintai wanita. Bahkan banyak terjadi perkara yang haram (zina, perselingkuhan, pacaran, dan pemerkosaan, yang dipicu [daya tarik] wanita). Bahkan banyak pula terjadi permusuhan dan peperangan disebabkan wanita. Minimalnya, wanita atau istri bisa menyebabkan seorang suami atau seorang lelaki ambisius terhadap dunia. Maka ujian apalagi yang lebih dahsyat darinya?&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan godaan wanita itu seperti setan, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang wanita. Kemudian beliau mendatangi Zainab istrinya, yang waktu itu sedang menyamak kulit hewan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menunaikan hajatnya (menggaulinya dalam rangka menyalurkan syahwatnya karena melihat wanita itu). Setelah itu, beliau keluar menuju para sahabat dan bersabda:&lt;br /&gt;إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan berlalu dalam bentuk setan pula. Apabila salah seorang kalian melihat seorang wanita (dan bangkit syahwatnya) maka hendaknya dia mendatangi istrinya (menggaulinya), karena hal itu akan mengembalikan apa yang ada pada dirinya (meredakan syahwatnya).” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam Syarah Shahih Muslim (8/187): “Para ulama mengatakan, makna hadits itu adalah bahwa penampilan wanita membangkitkan syahwat dan mengajak kepada fitnah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan adanya kecenderungan atau kecintaan kepada wanita dalam hati para lelaki, merasa nikmat melihat kecantikannya berikut segala sesuatu yang terkait dengannya. Sehingga seorang wanita ada sisi keserupaan dengan setan dalam hal mengajak kepada kejelekan atau kemaksiatan melalui was-was serta ditampakkan bagus dan indahnya kemaksiatan itu kepadanya.&lt;br /&gt;Dapat diambil pula faedah hukum dari hadits ini bahwa sepantasnya seorang wanita tidak keluar dari rumahnya, (berada) di antara lelaki, kecuali karena sebuah keperluan (darurat) yang mengharuskan dia keluar.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang segala sesuatu yang akan menyebabkan hamba-hamba-Nya terfitnah dengan wanita, seperti memandang, berkhalwat (berduaan dengan wanita yang bukan mahram), ikhtilath (campur-baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram). Bahkan mendengarkan suara wanita yang bisa membangkitkan syahwat pun dilarang.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. (An-Nur: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;لَا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ&lt;br /&gt;“Janganlah salah seorang kalian berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ&lt;br /&gt;“Jauhi oleh kalian masuk kepada para wanita.” Seorang lelaki Anshar bertanya: “Bagaimana pendapat anda tentang ipar?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ipar itu berarti kebinasaan (banyak terjadi zina antara seorang lelaki dengan iparnya).” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;Agar hamba-hamba-Nya selamat dari godaan wanita, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dengan wanita shalihah, yang akan saling membantu dengan dirinya untuk menyempurnakan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” (Al-Baqarah: 221)&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ&lt;br /&gt;“Seorang wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kebaikan nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang bagus agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godaan dunia dan harta&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهُ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dunia itu manis (rasanya) dan hijau (menyenangkan dilihat). Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan sebagian kalian dengan sebagian yang lain di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian beramal dengan dunia tersebut. Oleh karena itu, takutlah kalian terhadap godaan dunia (yang menggelincirkan kalian dari jalan-Nya) dan takutlah kalian dari godaan wanita, karena ujian yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah godaan wanita.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Harta dan dunia bukanlah tolok ukur seseorang itu dimuliakan atau dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku telah memuliakanku.” Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.” (Al-Fajr: 15-16)&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Maksud ayat-ayat tersebut adalah tidak setiap orang yang Aku (Allah Subhanahu wa Ta’ala) beri kedudukan dan limpahan nikmat di dunia berarti Aku limpahkan keridhaan-Ku kepadanya. Hal itu hanyalah sebuah ujian dan cobaan dari-Ku untuknya. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, Aku beri sekadar kebutuhan hidupnya tanpa ada kelebihan, berarti Aku menghinakannya. Namun Aku menguji hamba-Ku dengan kenikmatan-kenikmatan sebagaimana Aku mengujinya dengan berbagai musibah.” (Ijtima’ul Juyusy, hal. 9)&lt;br /&gt;Sehingga, dunia dan harta bisa menyebabkan pemiliknya selamat serta mulia di dunia dan akhirat, apabila dia mendapatkannya dengan cara yang diperbolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga mensyukurinya serta menunaikan hak-haknya sehingga tidak diperbudak oleh dunia dan harta tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا&lt;br /&gt;“Tidak boleh iri kecuali kepada dua golongan: Orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan harta kepadanya lalu dia infakkan di jalan yang benar, serta orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan ilmu kepadanya lalu dia menunaikan konsekuensinya (mengamalkannya) dan mengajarkannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Dan demikianlah keadaan para sahabat dahulu. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendahului kami untuk mendapatkan pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang yang tertipu dengan harta dan dunia sehingga dia diperbudak olehnya, dia akan celaka dan binasa di dunia maupun akhirat. Na’udzu billah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hal tersebut). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan tentang hakikat harta dan dunia itu dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ&lt;br /&gt;“Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Namun aku khawatir akan dibentangkan dunia kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian, maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang yang sebelum kalian.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Amr bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِي وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ&lt;br /&gt;“Celaka hamba dinar, dirham, qathifah, dan khamishah (keduanya adalah jenis pakaian). Bila dia diberi maka dia ridha. Namun bila tidak diberi dia tidak ridha.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kejahatan orang yang berilmu dan ahli ibadah dari kalangan ahli kitab yang telah diperbudak oleh harta dan dunia dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya: “Yang dimaksud ayat tersebut adalah peringatan dari para ulama su’ (orang yang berilmu tapi jahat) dan ahli ibadah yang sesat. Sebagaimana ucapan Suyfan ibnu Uyainah rahimahullahu: ‘Barangsiapa yang jahat dari kalangan orang yang berilmu di antara kita, berarti ada keserupaan dengan para pemuka Yahudi. Sedangkan barangsiapa yang sesat dari kalangan ahli ibadah kita, berarti ada keserupaan dengan para pendeta Nasrani. Di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahih: ‘Sungguh-sungguh ada di antara kalian perbuatan-perbuatan generasi sebelum kalian. Seperti bulu anak panah menyerupai bulu anak panah lainnya.’ Para sahabat g bertanya: ‘Apakah mereka orang Yahudi dan Nasrani?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi?’&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain mereka bertanya: ‘Apakah mereka Persia dan Romawi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi kalau bukan mereka?’&lt;br /&gt;Intinya adalah peringatan dari tasyabbuh (menyerupai) ucapan maupun perbuatan mereka. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Mereka) benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)&lt;br /&gt;Hal itu karena mereka memakan harta orang lain dengan kedok agama. Mereka mendapat keuntungan dan kedudukan di sisi umat, sebagaimana para pendeta Yahudi dan Nasrani mendapatkan hal-hal tersebut dari umatnya di masa jahiliah. Hingga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun tetap berkeras di atas kejahatan, kesesatan, kekafiran, dan permusuhannya, disebabkan ambisi mereka terhadap kedudukan tersebut. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memadamkan kesesatan itu dengan cahaya kenabian sekaligus menggantikan kedudukan mereka degan kehinaan serta kerendahan. Dan mereka akan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa kemurkaan-Nya.”&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Sungguh, ambisi terhadap dunia termasuk sebab yang menimbulkan berbagai macam fitnah pada generasi pertama. Telah terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dalam Masa’il Al-Imam Ahmad (2/171), bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang dari Anshar datang kepadaku pada masa khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Dia berbicara denganku. Tiba-tiba dia menyuruhku untuk mencela Utsman radhiyallahu ‘anhu. Maka aku katakan: ‘Sungguh, demi Allah, kita tidak mengetahui bahwa Utsman membunuh suatu jiwa tanpa alasan yang benar. Dia juga tidak pernah melakukan dosa besar (zina) sedikitpun. Namun inti masalahnya adalah harta. Apabila dia memberikan harta tersebut kepadamu, niscaya engkau akan ridha. Sedangkan bila dia memberikan harta kepada saudara/kerabatnya, maka kalian marah.”&lt;br /&gt;Selanjutnya, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Bila kalian arahkan pandangan ke tengah-tengah kaum muslimin, baik di zaman yang telah lalu maupun sekarang, niscaya engkau akan saksikan kebanyakan orang yang tergelincir dari jalan ini (al-haq) adalah karena tamak terhadap dunia dan kedudukan. Maka barangsiapa yang membuka pintu ini untuk dirinya niscaya dia akan berbolak-balik. Berubah-ubah prinsip agamanya dan akan menganggap remeh/ringan urusan agamanya. (Bidayatul Inhiraf, hal. 141)&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Setiap orang dari kalangan orang yang berilmu yang lebih memilih dunia dan berambisi untuk mendapatkannya, pasti dia akan berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam fatwanya, dalam hukum yang dia tetapkan, berita-berita yang dia sebarkan, serta konsekuensi-konsekuensi yang dia nyatakan. Karena hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala mayoritasnya menyelisihi ambisi manusia. Lebih-lebih ambisi orang yang tamak terhadap kedudukan dan orang yang diperbudak hawa nafsunya. Ambisi mereka tidak akan bisa mereka dapatkan dengan sempurna kecuali dengan menyelisihi kebenaran dan sering menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim berambisi terhadap jabatan dan mempertuhankan hawa nafsunya, maka ambisi tersebut tidak akan didapatkan dengan sempurna kecuali dengan menolak kebenaran…&lt;br /&gt;Mereka pasti akan membuat-buat perkara yang baru dalam agama, disertai kejahatan-kejahatan dalam bermuamalah. Maka terkumpullah pada diri mereka dua perkara tersebut (kedustaan dan kejahatan).&lt;br /&gt;Sungguh, mengikuti hawa nafsu itu akan membutakan hati, sehingga tidak lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Bahkan bisa terbalik, dia lihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah. Inilah penyakit para ulama bila mereka lebih memilih dunia dan diperbudak oleh hawa nafsunya.” (Al-Fawaid, hal 243-244)&lt;br /&gt;اللَهُّمَ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ&lt;br /&gt;“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniakanlah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kebatilan itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya.” Wallahu ‘alam bish-shawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-7918658779973114860?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/7918658779973114860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=7918658779973114860' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7918658779973114860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7918658779973114860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/06/harta-dan-wanita_11.html' title='Harta dan wanita'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-9105075007891897664</id><published>2010-06-11T08:27:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T08:29:01.627-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harta dan Wanita'/><title type='text'>Harta dan wanita</title><content type='html'>Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian dan cobaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-’Ankabut: 1-2)&lt;br /&gt;Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmah-Nya memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya hikmah dihadapkannya mereka kepada berbagai ujian dan cobaan itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 3)&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hikmah-Nya yang sempurna. Di mana sifat hikmah-Nya mengharuskan setiap orang yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja dengan pengakuannya. Pasti dia akan dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan. Bila tidak demikian, niscaya tidak bisa terbedakan antara orang yang benar dan jujur dengan orang yang dusta. Tidak bisa terbedakan pula antara orang yang berbuat kebenaran dengan orang yang berbuat kebatilan. Sudah merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia menguji (manusia) dengan kelapangan dan kesempitan, kemudahan dan kesulitan, kesenangan dan kesedihan, serta kekayaan dan kemiskinan.”&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya: “(Agar terbedakan) orang-orang yang benar dalam pengakuannya dari orang-orang yang dusta dalam ucapan dan pengakuannya. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengetahui cara terjadinya sesuatu bila hal itu terjadi. Hal ini adalah prinsip yang telah disepakati (ijma’) oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.”&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan telah mengabarkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha melihat.” (Al-Furqan: 20)&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan maksud ayat di atas dalam tafsirnya: “Seorang rasul adalah ujian bagi umatnya, yang akan memisahkan orang-orang yang taat dengan orang-orang yang durhaka terhadap rasul tersebut. Maka Kami jadikan para rasul sebagai ujian dan cobaan untuk mendakwahi kaum mereka. Seorang yang kaya adalah ujian bagi yang miskin. Demikian pula sebaliknya. Orang miskin adalah ujian bagi orang kaya. Semua jenis tingkatan makhluk (merupakan ujian dan cobaan bagi yang sebaliknya) di dunia ini. Dunia yang fana ini adalah medan yang penuh ujian dan cobaan.”&lt;br /&gt;Dari penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu di atas, kita dapatkan faedah bahwa: seorang istri adalah ujian bagi suaminya, anak adalah ujian bagi kedua orangtuanya, pembantu adalah ujian bagi tuannya, tetangga adalah ujian bagi tetangga yang lainnya, rakyat adalah ujian bagi pemerintahnya, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;Selanjutnya, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan: “Tujuannya adalah apakah kalian mau bersabar, kemudian menegakkan berbagai perkara yang diwajibkan atas kalian, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas amalan kebaikan kalian. Ataukah kalian tidak mau bersabar yang dengan sebab itu kalian berhak mendapatkan kemurkaan (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan siksaan?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali ‘Imran: 14)&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa kecintaan terhadap kenikmatan dan kesenangan dunia akan ditampakkan indah dan menarik di mata manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan hal-hal ini secara khusus karena hal-hal tersebut adalah ujian yang paling dahsyat, sedangkan hal-hal lain hanyalah mengikuti. Maka, tatkala hal-hal ini ditampakkan indah dan menarik kepada mereka, disertai faktor-faktor yang menguatkannya, maka jiwa-jiwa mereka akan bergantung dengannya. Hati-hati mereka akan cenderung kepadanya.” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitnah (godaan) wanita&lt;br /&gt;Betapa banyak lelaki yang menyimpang dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena godaan wanita. Betapa banyak pula seorang suami terjatuh dalam berbagai kezaliman dan kemaksiatan disebabkan istrinya. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)&lt;br /&gt;Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata: “Yakni akan menyeret orangtua atau suaminya untuk memutuskan tali silaturahim atau berbuat maksiat kepada Rabbnya, maka karena kecintaan kepadanya, suami atau orangtuanya tidak bisa kecuali menaatinya (anak atau istri tersebut).”&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ&lt;br /&gt;“Berniat dan berbuat baiklah kalian kepada para wanita. Karena seorang wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka apabila kamu berusaha dengan keras meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya. Sedangkan bila kamu membiarkannya niscaya akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kalian kepada para istri (dengan wasiat yang baik).” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:&lt;br /&gt;مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنََ النِّسَاءِ&lt;br /&gt;“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian/godaan) yang lebih dahsyat bagi para lelaki selain fitnah wanita.” (Muttafaqun ‘alaih dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)&lt;br /&gt;Al-Mubarakfuri rahimahullahu berkata: “(Sisi berbahayanya fitnah wanita bagi lelaki) adalah karena keumuman tabiat seorang lelaki adalah sangat mencintai wanita. Bahkan banyak terjadi perkara yang haram (zina, perselingkuhan, pacaran, dan pemerkosaan, yang dipicu [daya tarik] wanita). Bahkan banyak pula terjadi permusuhan dan peperangan disebabkan wanita. Minimalnya, wanita atau istri bisa menyebabkan seorang suami atau seorang lelaki ambisius terhadap dunia. Maka ujian apalagi yang lebih dahsyat darinya?&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan godaan wanita itu seperti setan, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang wanita. Kemudian beliau mendatangi Zainab istrinya, yang waktu itu sedang menyamak kulit hewan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menunaikan hajatnya (menggaulinya dalam rangka menyalurkan syahwatnya karena melihat wanita itu). Setelah itu, beliau keluar menuju para sahabat dan bersabda:&lt;br /&gt;إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan berlalu dalam bentuk setan pula. Apabila salah seorang kalian melihat seorang wanita (dan bangkit syahwatnya) maka hendaknya dia mendatangi istrinya (menggaulinya), karena hal itu akan mengembalikan apa yang ada pada dirinya (meredakan syahwatnya).” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam Syarah Shahih Muslim (8/187): “Para ulama mengatakan, makna hadits itu adalah bahwa penampilan wanita membangkitkan syahwat dan mengajak kepada fitnah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan adanya kecenderungan atau kecintaan kepada wanita dalam hati para lelaki, merasa nikmat melihat kecantikannya berikut segala sesuatu yang terkait dengannya. Sehingga seorang wanita ada sisi keserupaan dengan setan dalam hal mengajak kepada kejelekan atau kemaksiatan melalui was-was serta ditampakkan bagus dan indahnya kemaksiatan itu kepadanya.&lt;br /&gt;Dapat diambil pula faedah hukum dari hadits ini bahwa sepantasnya seorang wanita tidak keluar dari rumahnya, (berada) di antara lelaki, kecuali karena sebuah keperluan (darurat) yang mengharuskan dia keluar.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang segala sesuatu yang akan menyebabkan hamba-hamba-Nya terfitnah dengan wanita, seperti memandang, berkhalwat (berduaan dengan wanita yang bukan mahram), ikhtilath (campur-baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram). Bahkan mendengarkan suara wanita yang bisa membangkitkan syahwat pun dilarang.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. (An-Nur: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;لَا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ&lt;br /&gt;“Janganlah salah seorang kalian berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ&lt;br /&gt;“Jauhi oleh kalian masuk kepada para wanita.” Seorang lelaki Anshar bertanya: “Bagaimana pendapat anda tentang ipar?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ipar itu berarti kebinasaan (banyak terjadi zina antara seorang lelaki dengan iparnya).” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;Agar hamba-hamba-Nya selamat dari godaan wanita, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dengan wanita shalihah, yang akan saling membantu dengan dirinya untuk menyempurnakan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” (Al-Baqarah: 221)&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ&lt;br /&gt;“Seorang wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kebaikan nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang bagus agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godaan dunia dan harta&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهُ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dunia itu manis (rasanya) dan hijau (menyenangkan dilihat). Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan sebagian kalian dengan sebagian yang lain di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian beramal dengan dunia tersebut. Oleh karena itu, takutlah kalian terhadap godaan dunia (yang menggelincirkan kalian dari jalan-Nya) dan takutlah kalian dari godaan wanita, karena ujian yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah godaan wanita.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Harta dan dunia bukanlah tolok ukur seseorang itu dimuliakan atau dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku telah memuliakanku.” Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.” (Al-Fajr: 15-16)&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Maksud ayat-ayat tersebut adalah tidak setiap orang yang Aku (Allah Subhanahu wa Ta’ala) beri kedudukan dan limpahan nikmat di dunia berarti Aku limpahkan keridhaan-Ku kepadanya. Hal itu hanyalah sebuah ujian dan cobaan dari-Ku untuknya. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, Aku beri sekadar kebutuhan hidupnya tanpa ada kelebihan, berarti Aku menghinakannya. Namun Aku menguji hamba-Ku dengan kenikmatan-kenikmatan sebagaimana Aku mengujinya dengan berbagai musibah.” (Ijtima’ul Juyusy, hal. 9)&lt;br /&gt;Sehingga, dunia dan harta bisa menyebabkan pemiliknya selamat serta mulia di dunia dan akhirat, apabila dia mendapatkannya dengan cara yang diperbolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga mensyukurinya serta menunaikan hak-haknya sehingga tidak diperbudak oleh dunia dan harta tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا&lt;br /&gt;“Tidak boleh iri kecuali kepada dua golongan: Orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan harta kepadanya lalu dia infakkan di jalan yang benar, serta orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan ilmu kepadanya lalu dia menunaikan konsekuensinya (mengamalkannya) dan mengajarkannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Dan demikianlah keadaan para sahabat dahulu. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendahului kami untuk mendapatkan pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang yang tertipu dengan harta dan dunia sehingga dia diperbudak olehnya, dia akan celaka dan binasa di dunia maupun akhirat. Na’udzu billah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hal tersebut). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan tentang hakikat harta dan dunia itu dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ&lt;br /&gt;“Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Namun aku khawatir akan dibentangkan dunia kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian, maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang yang sebelum kalian.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Amr bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِي وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ&lt;br /&gt;“Celaka hamba dinar, dirham, qathifah, dan khamishah (keduanya adalah jenis pakaian). Bila dia diberi maka dia ridha. Namun bila tidak diberi dia tidak ridha.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kejahatan orang yang berilmu dan ahli ibadah dari kalangan ahli kitab yang telah diperbudak oleh harta dan dunia dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya: “Yang dimaksud ayat tersebut adalah peringatan dari para ulama su’ (orang yang berilmu tapi jahat) dan ahli ibadah yang sesat. Sebagaimana ucapan Suyfan ibnu Uyainah rahimahullahu: ‘Barangsiapa yang jahat dari kalangan orang yang berilmu di antara kita, berarti ada keserupaan dengan para pemuka Yahudi. Sedangkan barangsiapa yang sesat dari kalangan ahli ibadah kita, berarti ada keserupaan dengan para pendeta Nasrani. Di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahih: ‘Sungguh-sungguh ada di antara kalian perbuatan-perbuatan generasi sebelum kalian. Seperti bulu anak panah menyerupai bulu anak panah lainnya.’ Para sahabat g bertanya: ‘Apakah mereka orang Yahudi dan Nasrani?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi?’&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain mereka bertanya: ‘Apakah mereka Persia dan Romawi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi kalau bukan mereka?’&lt;br /&gt;Intinya adalah peringatan dari tasyabbuh (menyerupai) ucapan maupun perbuatan mereka. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Mereka) benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)&lt;br /&gt;Hal itu karena mereka memakan harta orang lain dengan kedok agama. Mereka mendapat keuntungan dan kedudukan di sisi umat, sebagaimana para pendeta Yahudi dan Nasrani mendapatkan hal-hal tersebut dari umatnya di masa jahiliah. Hingga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun tetap berkeras di atas kejahatan, kesesatan, kekafiran, dan permusuhannya, disebabkan ambisi mereka terhadap kedudukan tersebut. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memadamkan kesesatan itu dengan cahaya kenabian sekaligus menggantikan kedudukan mereka degan kehinaan serta kerendahan. Dan mereka akan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa kemurkaan-Nya.”&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Sungguh, ambisi terhadap dunia termasuk sebab yang menimbulkan berbagai macam fitnah pada generasi pertama. Telah terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dalam Masa’il Al-Imam Ahmad (2/171), bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang dari Anshar datang kepadaku pada masa khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Dia berbicara denganku. Tiba-tiba dia menyuruhku untuk mencela Utsman radhiyallahu ‘anhu. Maka aku katakan: ‘Sungguh, demi Allah, kita tidak mengetahui bahwa Utsman membunuh suatu jiwa tanpa alasan yang benar. Dia juga tidak pernah melakukan dosa besar (zina) sedikitpun. Namun inti masalahnya adalah harta. Apabila dia memberikan harta tersebut kepadamu, niscaya engkau akan ridha. Sedangkan bila dia memberikan harta kepada saudara/kerabatnya, maka kalian marah.”&lt;br /&gt;Selanjutnya, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Bila kalian arahkan pandangan ke tengah-tengah kaum muslimin, baik di zaman yang telah lalu maupun sekarang, niscaya engkau akan saksikan kebanyakan orang yang tergelincir dari jalan ini (al-haq) adalah karena tamak terhadap dunia dan kedudukan. Maka barangsiapa yang membuka pintu ini untuk dirinya niscaya dia akan berbolak-balik. Berubah-ubah prinsip agamanya dan akan menganggap remeh/ringan urusan agamanya. (Bidayatul Inhiraf, hal. 141)&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Setiap orang dari kalangan orang yang berilmu yang lebih memilih dunia dan berambisi untuk mendapatkannya, pasti dia akan berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam fatwanya, dalam hukum yang dia tetapkan, berita-berita yang dia sebarkan, serta konsekuensi-konsekuensi yang dia nyatakan. Karena hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala mayoritasnya menyelisihi ambisi manusia. Lebih-lebih ambisi orang yang tamak terhadap kedudukan dan orang yang diperbudak hawa nafsunya. Ambisi mereka tidak akan bisa mereka dapatkan dengan sempurna kecuali dengan menyelisihi kebenaran dan sering menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim berambisi terhadap jabatan dan mempertuhankan hawa nafsunya, maka ambisi tersebut tidak akan didapatkan dengan sempurna kecuali dengan menolak kebenaran…&lt;br /&gt;Mereka pasti akan membuat-buat perkara yang baru dalam agama, disertai kejahatan-kejahatan dalam bermuamalah. Maka terkumpullah pada diri mereka dua perkara tersebut (kedustaan dan kejahatan).&lt;br /&gt;Sungguh, mengikuti hawa nafsu itu akan membutakan hati, sehingga tidak lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Bahkan bisa terbalik, dia lihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah. Inilah penyakit para ulama bila mereka lebih memilih dunia dan diperbudak oleh hawa nafsunya.” (Al-Fawaid, hal 243-244)&lt;br /&gt;اللَهُّمَ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ&lt;br /&gt;“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniakanlah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kebatilan itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya.” Wallahu ‘alam bish-shawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-9105075007891897664?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/9105075007891897664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=9105075007891897664' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/9105075007891897664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/9105075007891897664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/06/harta-dan-wanita.html' title='Harta dan wanita'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-1868371032947588611</id><published>2010-06-11T08:09:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T08:10:33.044-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harta'/><title type='text'>Godaan Harta</title><content type='html'>Kategori : Khutbah&lt;br /&gt;Peringatan dari Bahaya Godaan Harta&lt;br /&gt;[Print View] [kirim ke Teman]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khutbah pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِالْأَمْوَالِ، وَأَبَاحَ لَنَا التَّكَسُّبَ بِهَا عَنْ طَرِيْقِ حَلاَلٍ، وَشَرَعَ لَنَا تَصْرِيْفَهَا فِيْمَا يُرْضِيْ الْكَبِيْرَ الْمُتَعَالَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ذُو الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَكْرَمُ النَّاسِ فِيْ بَذْلِ الدُّنْيَا عَلَى الْإِسْلاَمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا، أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَأَدُّوْا مَا أَوْجَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ فِيْ أَمْوَلِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas berbagai limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satu-Nya yang memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan saya bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada beliau, keluarga, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin rahimakumullah,&lt;br /&gt;Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa memohon rahmat serta pertolongan-Nya. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, manusia tentu tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena manusia pada asalnya adalah makhluk yang lemah. Saat dilahirkan, dia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa serta tidak bisa memberikan manfaat bagi dirinya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya berbagai kenikmatan dan kemudahan untuk mendapatkan rezeki yang banyak dan beraneka ragam. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah mensyukuri pemberian-pemberian tersebut dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jama’ah jum’ah rahimakumullah,&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa pemberian-pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berupa makanan, harta benda, anak, dan semisalnya merupakan ujian bagi manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu tidak lain hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)&lt;br /&gt;Disamping itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ وَفِتْنَةُ أُمَّتِيْ الْمَالُ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah dan fitnah umat-Ku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin rahimakumullah,&lt;br /&gt;Godaan harta ini akan datang dari berbagai sisi. Di antaranya adalah dari cara mencarinya. Dari sisi ini, sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan berbagai cara dalam mendapatkan harta, yang semuanya dibangun di atas keadilan dan jauh dari perbuatan zalim, jahat, atau menyakiti orang lain. Maka orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu akan senantiasa memerhatikan batasan-batasan syariat dalam mendapatkannya. Jauh dari unsur riba, judi, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya, yang semuanya termasuk dalam bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Mereka mengetahui bahwa hal ini dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kalian.” (An-Nisa’: 29)&lt;br /&gt;Dengan sebab perhatian terhadap batas dan aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencarinya, maka harta yang diperoleh pun menjadi barakah. Harta yang diperolehnya akan menjadi sebab kebaikan bagi yang memilikinya, baik saat diinfakkan, disedekahkan maupun di saat hartanya nanti menjadi warisan bagi ahli warisnya. Sehingga hartanya menjadi kebaikan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Sedangkan orang-orang yang tidak bertakwa, mereka tidaklah memedulikan halal atau tidaknya mata pencaharian mereka. Yang halal bagi mereka adalah segala cara yang bisa mereka lakukan, meskipun di dalamnya ada unsur penipuan, riba, judi maupun menzalimi orang lain. Sehingga hartanya pun tidak barakah dan tidak ada manfaatnya. Apabila dimakan atau diinfakkan maka dia telah memakan atau menafkahi dengan harta yang haram. Apabila disedekahkan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila meninggal dunia, maka hartanya akan menjadi sebab masuknya dia ke dalam neraka. Nas’alullaha as-salamah (Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari siksa neraka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin rahimakumullah,&lt;br /&gt;Godaan karena harta ini juga bisa datang dari sisi perhatian dan keinginan seseorang terhadapnya. Sehingga sebagian orang ada yang keinginannya terhadap harta membuat dirinya berambisi terhadapnya. Hal ini membuat kesibukannya hanyalah untuk mencari dunia. Dari saat memulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai dia kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah dunia. Di saat duduk, berdiri, maupun berjalan, yang di hatinya hanyalah mencari dunia. Bahkan saat tidurnya pun yang diimpikan adalah mencari dunia. Lebih dari itu, saat shalat pun pikirannya dipenuhi dengan dunia. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekadar mencari dunia. Padahal dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk dirinya. Maka orang yang demikian keadaannya, tentunya adalah orang yang tertipu serta terjatuh pada godaan dunia. Sehingga dia memusatkan seluruh pikiran dan kesibukannya untuk dunia. Dia menjadikan dunia bersemayam di hatinya sehingga melalaikan dia dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;Godaan harta juga akan muncul dari sisi penggunaannya. Dari sisi ini, kita dapatkan sebagian orang yang berharta memiliki sifat pelit sehingga tidak mau mengeluarkan zakatnya, tidak mau menjalankan kewajiban berinfak kepada kerabatnya yang wajib untuk dibantu, dan yang semisalnya. Sedangkan sebagian yang lainnya atau pada sisi lainnya, justru mengeluarkan hartanya tanpa ada perhitungan serta dihambur-hamburkan sia-sia. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya (mereka), (begitu pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) sia-sia. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya sia-sia adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (Al-Isra’: 26-27)&lt;br /&gt;Berkaitan dengan ayat ini, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu dalam tafsirnya, sahabat Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:&lt;br /&gt;التَّبْذِيْرُ: الْإِنْفَاقُ فِيْ غَيْرِ حَقٍّ&lt;br /&gt;“Menghambur-hamburkan harta adalah mengeluarkannya tidak pada tempatnya.”&lt;br /&gt;Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata:&lt;br /&gt;لَوْ أَنْفَقَ إِنْسَانٌ مَالَهُ كُلَّهُ فِي الْحَقِّ لَمْ يَكُنْ مُبَذِّرًا وَلَوْ أَنْفَقَ مُدًّا فِيْ غَيْرِ حَقِّهِ كَانَ تَبْذِيْرًا&lt;br /&gt;“Seandainya seseorang mengeluarkan seluruh hartanya pada tempat yang benar, maka dia bukanlah seorang yang menghambur-hamburkan harta. Namun seandainya seseorang mengeluarkan satu mud/cakupan tangan (dari hartanya) untuk sesuatu yang tidak pada tempatnya, maka dia telah menghambur-hamburkan hartanya dengan sia-sia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;Oleh karena itu, siapa pun di antara kita harus hati-hati dan senantiasa takut terkena godaan harta ini. Betapa banyak orang yang lebih berilmu dari kita telah terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan karena godaan ini. Bahkan ada pula orang yang dahulunya istiqamah membela As-Sunnah dan melawan kebatilan serta bid’ah, namun kala tergoda dengan harta, kemudian terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan. Hal itu di antaranya disebabkan oleh ketidakhati-hatian serta perasaan aman dari bahaya godaan harta. Padahal harta secara umum akan menarik pemiliknya untuk memenuhi keinginan-keinginan syahwatnya. Maka akibat adanya kemampuan untuk memenuhi keinginannya, seseorang akan terseret untuk hidup bermewah-mewah yang kemudian membuat dirinya sombong dan angkuh, serta akhirnya membuat dirinya tidak peduli dengan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berupaya untuk senantiasa takut dari bahaya fitnah yang ada di hadapan kita. Sikap hati-hati dan rasa takut ini, insya Allah akan menjadi sebab yang mendorong seseorang untuk berusaha mencari jalan keluar dari fitnah yang ada di hadapannya. Dengan sebab itu, dia pun akan senantiasa mengharapkan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta merasa aman dari ancaman dan bahaya godaan, sangat besar kemungkinannya untuk terjatuh dan terbawa oleh godaan sehingga semakin jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ، وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ يَتُبْ عَلَيْكُمْ؛ إِنَّهُ كَانَ تَوّاَباً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khutbah kedua:&lt;br /&gt;الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَذَّرَنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَالْعَلَنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَرَ عِنْدَ ظُهُوْرِ الْفِتَنِ بِالْاِعْتِصَامِ بِالكِتَابِ وَالسُّنَنِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:&lt;br /&gt;Hadirin rahimakumullah,&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya jalan keluar dari berbagai fitnah atau ujian. Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa mengingat bahwa dunia yang kita sekarang berada di dalamnya adalah tempat ujian. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai kebaikan dan juga kejelekan, sehingga menjadi nampak serta terbedakanlah antara yang beriman dengan yang tidak beriman. Maka akan terus ada di muka bumi ini pertentangan dan perseteruan antara yang haq dengan yang batil, sejak diturunkan Nabi Adam ‘alaihissalam ke bumi, hingga waktu yang telah ditetapkan dan dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kebatilan akan terus dibawa oleh setan dan bala tentaranya baik dari kalangan jin maupun manusia, serta terus akan ditawarkan dengan berbagai cara dan upaya. Kebatilan akan ditampilkan oleh mereka seakan-akan sebagai sesuatu yang indah. Sedangkan kebenaran akan ditampilkan seakan-akan sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Maka akan tertipulah orang-orang tidak mau mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lalai akan kehidupan yang selamanya di akhirat kelak. Adapun kebenaran, yaitu petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah diturunkan melalui Rasul-Nya, maka akan terus dibawa oleh para ulama. Sehingga akan selamatlah orang-orang yang mendapat hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala karena mengikuti jejak para ulama dalam menempuh kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin rahimakumullah,&lt;br /&gt;Setiap orang yang mengetahui dirinya dalam bahaya tentunya akan berusaha mencari jalan keluar dari bahaya tersebut. Maka ketahuilah, wahai kaum muslimin, yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa kita semuanya sedang dalam bahaya yang luar biasa besar dan sangat banyak ragamnya. Tidak ada yang bisa selamat kecuali yang mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah berupaya untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Upaya itu tidak lain adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah diturunkan melalui Rasul-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ؛ كِتَابُ اللهِ&lt;br /&gt;“Dan sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat setelahnya apabila kalian berpegang teguh dengannya, yaitu kitab Allah.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Di dalam hadits tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa berpegang teguh dengan Al-Qur’an adalah jalan keselamatan. Kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur’an berarti pula kewajiban berpegang teguh dengan Al-Hadits, karena di dalam Al-Qur’an juga ada kewajiban untuk menjalankan hadits. Dan sebaliknya, dengan berpaling dari keduanya maka seseorang akan tersesat dan tidak akan selamat dari berbagai fitnah yang akan dihadapinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى. وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا. قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ ءَايَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman (kepada Adam dan Hawa): “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Sehingga jika datang kepadamu petunjuk-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, namun kamu melupakannya, maka begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 123-126)&lt;br /&gt;Maka seseorang yang ingin selamat dari godaan, dia harus berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Yaitu hendaknya dia senantiasa bersemangat dalam membaca dan mempelajarinya serta mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Dengan kembali dan berpegang teguh kepada keduanya, seseorang akan mengetahui bagaimana dia harus mencari harta dan bagaimana pula dia cara menginfakkannya. Dengan kembali kepada keduanya, seseorang akan tahu apa akibat dari pelanggaran terhadap batas-batas syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa keutamaan orang yang senantiasa memerhatikan syariat dalam mendapatkan maupun menginfakkan hartanya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya dan memudahkan kita untuk senantiasa berada di atas syariat-Nya.&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-1868371032947588611?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/1868371032947588611/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=1868371032947588611' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/1868371032947588611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/1868371032947588611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/06/godaan-harta.html' title='Godaan Harta'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-2994050845384987103</id><published>2010-06-09T07:33:00.000-07:00</published><updated>2010-06-09T07:34:05.000-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UMROH DAN HAJI'/><title type='text'>Haji Salim Munajat n Djohar</title><content type='html'>Akhirnya tercapai juga cita-cita saya, berangkat Haji di usia dibawah 40. Karena tepat ditahun 2007, waktu berangkat Haji ini, usia saya 36 tahun. Bagi saya hal ini suatu anugerah yang luuuuaaar biasa, yang tidak dibayangkan sebelumnya. Sebagai seorang PNS biasa, yang tidak ada penghasilan sampingan, hanya mengandalkan gaji toh, tapi karena taqdir Allah akhirnya saya dapat mengunjungi Rumah Suci, Ka'bah. dalam usia yang muda. Padahal banyak kawan sejawat, bahkan sudah menjabat Kepala Sekolah atau malah ada yang menjabat Kepala dinas sampai sekarang belum berangkat Haji, padahal mereka hampir pensiun, tapi belum juga bisa berangkat Haji. Mungkin inilah panggilan. Dan saya sangat bersyukur.&lt;br /&gt;Saya berangkat Haji bareng dengan istri(Mulyati). Dan Kebetulan kita rombongan bareng dengan keluarga Pak Djohar (Kepala Sekolah SIC) dan keluarga Pak Sugiat (Staff KBRI Cairo). Kita berangkat dari Cairo-Mesir,hari Kamis tanggal 13 Desember 2007 dengan menggunakan pesawat Saudi Arabia Airlanes, dan pemandu kita Bu Marhamah Rasyidi.&lt;br /&gt;Kami rombongan berangkat satu pesawat dengan orang Mesir, kita memakai Ihram di Bandara, berangkat dari Mesir jam 2 siang. Perjalanan dari Mesir ke Jeddah dengan pesawat ditempuh dalam waktu 2 jam-an.Alhamdulillah kita nyampe di Jeddah maghrib. Jeddah sangat penuh dengan jemaah Haji yang baru datang dari berbagai pelosok dunia,kita ngantri, dan di Jeddah ini sangat ketat, karena kita belum bayar uang rosum, akhirnya kita bayar di Jeddah besarnya $274, kalau bayar di Mesir $ 300. Tetapi di sana tidak mau bayar pake uang dolar harus menggunakan uang Real, terpaksa kita nukar uang dulu.&lt;br /&gt;Sesampai di Jeddah kita dijemput oleh Pak Sanusi, kemudian kita digabungkan dengan rombongan ONH plus (kelompok Al Ihsan-Jakarta), tempat kita di Mekah di Perbatasan Sissa dan Aziziah, Jalan Bin Daood, dekat dengan kantor polisi. alhamdulillah fasilitas di hotel cukup lengkap, satu keluarga satu kamar dengan fasilitas TV, Kulkas, Kamar Mandi, AC,Dapur. lengkap. Lumayanlah dbandingkan dengan rombongan dari Haji biasa Indonesia, bahkan dibandingkan dengan rombongan Haji dari KBRIpun, kita masih lebih enak. Saya tinggal di lantai 10 kamar no 114.&lt;br /&gt;Tempat tinggal Kami memang dari Mesjidil Haram lumayan agak jauh, harus pake kendaraan umum, kalau pake mobil ke Mesjidil Haram bayar antara 3 sampai dengan 5 Real, Tapi kalau mendekati Haji sekitar 10 real, kalau berangkatnya masih banyak mobil, tapi kalau pulangnya susah banget dapatkan mobil, sering kita pulangnya jalan Kaki, lewat terowongan Aziziah.Lumayanlah olahraga.&lt;br /&gt;Tetapi pada saat Jumroh, tempat tinggal kita sangat strategis, karena dekat dengan tempat Jumroh, tinggal jalan kaki.Dan kebetulan karena saya masih muda kalau jalan nggak jadi masalah, malah senang bisa jalan-jalan di kota Mekkah. Beruntung saya bisa berangkat Haji dalam usia muda, banyak jemaah Haji yang berangkat dalam usia tua, akibatnya banyak yang tidak kuat. apalagi dalam hajian umat muslim seantero dunia berkumpul semuanya di satu tempat dalam waktu yang sama. sehingga bisa dibayangkan betapa padatnya manusia di Mekah, pada waktu Hajian.&lt;br /&gt;Alhamdulillah saya bisa melaksanakan rangkaian Haji dengan lancar dan berjalan sesuai dengan tuntunan. Pada waktu wukuf di Arofah kita tinggal di Tenda yang full AC, dan makanan pun terjamin. Ternyata kita bareng dengan rombongan artis, misalnya dengan Yuni Shara(penyanyi), Komar(pelawak), KH Zainuddin MZ(da'i kondang) pada waktu mabit di Mudzdalifah,berjalan lancar, tapi ada kejadian yang sering terjadi, Pak Rashidi sebagai pemandu kita, memandu kita malah kesasar, sehingga pisah dengan rombongan utama, maklum saking padatnya orang di Mudzdalifah, dan kebetulan rombongan dari Cairo semuanya, sehingga rombongan kita dikenal.Pada saat melempar jumroh, kita mengambil Nafar Awal dan tidak mengalami kesulitan yang berarti.&lt;br /&gt;Akhirnya rangkaian Haji sudah dilaksanakan dengan sempurna.&lt;br /&gt;Selanjutnya kita pun sering ke Mesjidil Haram, kemudian pulangnya main ke Misfallah nengok Mertua dan kakak ipar (Kak Jum), yang kebetulan bareng tahun ini berangkat Hajinya, berangkat melalui Haji Pemerintah, embarkasi Palembang(Sumsel).&lt;br /&gt;Untuk mengisi waktu selama di Mekkah kita ngikuti rombongan KBIH Palembang bareng dengan mertua, ngambil umroh sunah dari Jaronah, lumayan sambil jalan-jalan.&lt;br /&gt;Tanggal 27 Desember 2007, kita berangkat ke Medinah, dengan mobil KBRI yang difasilitasi oleh Pak Nursamad Kamba (Atase Haji Jedah). Kita berkunjung ke mesjid-mesjid di Medinah, mulai dari bukit Uhud, mesjid kiblataen, mesjid tujuh, kemudian ke Mesjid Nabawi, sekaligus ziarah ke makam Rasulullah. Selama di Medianah kita tinggall di Wisma haji. Malam harinya kita langsung berangkat ke Jeddah. Di Jeddah kita tinggal di hotel Hiton, lantai 5, kamar515. fasilitasnya masih bagus waktu di Mekah. Kita di jedah sempat jalan-jalan sekitar kota Jedah, misalnya ke Laut Merah, mesjid terapung, dan mesjid King Fahd.&lt;br /&gt;Tanggal 29 Desember kita pulang ke Cairo, dengan pesawat yang lebih kecil dibanding pesawat waktu berangkat. Dan Alhamdulillah uang rusum kembali sebesar 225 Real, diambil di Bandara Jeddah.&lt;br /&gt;Alhamdulillah akhirnya kita kembali di Cairo, pada malam Minggu jam 2 pagi. dijemput dengan mobil KBRI.&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-2994050845384987103?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/2994050845384987103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=2994050845384987103' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/2994050845384987103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/2994050845384987103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/06/haji-salim-munajat-n-djohar.html' title='Haji Salim Munajat n Djohar'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-1698919294332467648</id><published>2010-03-06T07:53:00.000-08:00</published><updated>2010-03-06T07:57:51.885-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ALIRAN SESAT'/><title type='text'>MEMBONGKARPENYIMPANGAN ANAND KRISHNA</title><content type='html'>Mereka-reka Inti Agama dan Keagamaan (AJARAN ANAND KRISHNA CS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted on Februari 19, 2010. Filed under: SINKRETISME AGAMA AJARAN SESAT, Uncategorized | Tags: anand krishna, MELECEHKAN, Pluralis, PLURALISME, SINKRETISME |&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anand Krishna di harian Republika, 3 Agustus 2000  membuat artikel yang berjudul “Inti Agama dan Keagamaan” juga berujung pada satu kesimpulan, yaitu semua agama adalah sama, dan intisarinya adalah “kedamaian.” Melihat tulisannya di Republika itu, Anand bisa dikatakan sebagai penganut “semua agama” yang dia katakan “intinya sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Tafsiral-Azhar (Juz VI, him. 323), Hamka menyebut orang semacam ini termasuk kelompok shabi’in, seperti disebutkan dalam AI-Qur’an surah Al-Maa’idah: 69, yang juga dikutip Anand dalam tulisannya. Pandangan Anand dalam soal agama sama dengan pandangan kelompok Teosofi yang dikembangkan Annie Besant dan Madame Balavatsky di India pada awal abad ke-20. Teosofi adalah gerakan yang hendak mempersatukan atau mencari titik temu segala agama yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsirnya itu, Hamka mencatat, “Mulanya, kelompok ini tidak bermaksud hendak membuat agama baru, melainkan hendak mempertemukan intisari segala agama, memperdalam rasa kerohanian, tetapi akhirnya mereka tinggalkanlah segala agama yang pernah mereka peluk dan tekun dalam Teosofi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya mempertemukan intisari segala agama itu pernah juga dilakukan oleh Sultan Mongol Jalaluddin Muhammad Akbar dengan membangun agama baru benama Din Ilahi ‘Agama Tuhan’. Sultan memerintahkan menyalin Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Persia. Istananya di Agra dipasangi “Api Suci Iran.” la pun memerintahkan menghormati sapi dan melarang memakan dagingnya, seperti laiknya ajaran Hindu. Akan tetapi, Sultan juga tekun di dalam ibadahnya di bulan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisannya di majalah Panji Islam (April-Juni 1940) yang berjudul “Dokter Agama”, Mohammad Natsir membuat perumpamaan, “resep” yang diberikan oleh kaum Teosofi itu sebagai “obat sintese”, yakni obat campur aduk yang berpendapat bahwa semua agama adalah sama-sama baik. Obat ini antara lain dianjurkan oleh Inayat Khan Cs. “Akhir kesudahannya menghasilkan satu agama gado-gado, Budha tanggung, Islam tidak, Kristen tak tentu. Walaupun bagaimana, hasil dari perawatan dokter yang macam ini bukanlah agama Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW,”tulis Natsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir Ngawur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sejak dulu, paham keagamaan seperti yang disebarkan oleh Anand Krishna itu sudah menjadi persoalan di tubuh kaum muslim. Akan tetapi, pendapat Anand Krishna ini lebih tinggi tingkat “kengawurannya” karena ia menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menjustifikasi pendapatnya. Misalnya, “tafsir” Anand terhadap surah Al-Maa’idah: 69, “Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Shabi-in, dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat itu dijadikan landasan oleh Anand untuk menyatakan bahwa Tuhan orang Kristen, orang Hindu, orang Yahudi, orang Budha, orang Shabi-in adalah sama. Kata Anand, “Orang yang masih menganggap Tuhan orang Kristen beda dengan orang lslam – Tuhan orang Hindu beda dari Tuhan orang Budhis, Tuhan Shabi’in beda dari Tuhan Yahudi – harus membaca ulang AI-Qur’an. Jika masih melihat perbedaan semacam itu, kita belum ‘khatam’ AI-Qur’an. Belum, pelajaran kita belum selesai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa dan berani kesimpulan Anand ini. Entah sudah berapa kali ia khatam AI-Qur’an dan entah sudah berapa tafsir yang yang ia tekuni. Faktanya, para mufassir terkenal jauh bertolak belakang pemahamannya dengan Anand. AI-Qur’an surah Al-Maa’idah: 69 bukanlah ayat untuk menjustifikasi “kebenaran” semua agama. Mengutip pendapat para mufassir ternama, Hamka menyimpulkan bahwa surah Al-Maa’idah: 69 itu bermakna bahwa dan kelompok agama mana pun, jika mereka benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kiamat dan mengerjakan amal saleh, mereka akan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah Al-Maa’idah: 69 itu hampir sama bunyinya dengan surah Al-Baqarah: 62, “Sesungguhnya, orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang shabi-in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (jilid I, hlm. 148) menyebutkan bahwa turunnya surah Al-Baqarah: 62 itu berkenaan dengan dialog antara Salman Al-Farisi dan Nabi Muhammad SAW. Salman bertanya kepada Nabi tentang nasib orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tetap berpegang teguh kepada Injil dan Taurat sebelum diubah dan mereka juga beriman terhadap kedatangan seorang nabi di akhir zaman (Muhammad), narnun sudah meninggal sebelum datangnya Muhammad SAW. Menurut lbnu Abbas, setelah turunnya ayat tersebut, Allah segera menurunkan ayat 85 dari surah Ali lmran, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat nanti termasuk orang-orangyang merugi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, surah Al-Maa’idah: 69 itu sama sekali tidak berhubungan dengan justifikasi kebenaran semua agama. “Kengawuran” Anand Krishna lebih terlihat lagi dari caranya mempreteli ayat-ayat Al-Qur’an dan menafsirkan Islam seenaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, arti “iman kepada Allah” tidaklah dapat dilepaskan dari “iman kepada Rasul-Nya (Muhamamad SAW).” Karena itulah, syahadat Islam adalah Laa ilaaha illa Allah, Muhammadur rasulullah. Syahadat Islam bukan hanya laa ilaaha illa Allah seperti berulang-ulang dikutip Anand. Bahkan, seorang baru dikatakan beriman jika ia telah menjadikan bukum-hukum Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW sebagai solusi konflik bagi urusan mereka (surah An-Nisaa’: 65). Kenabian Muhammad inilah yang ditolak keras oleh kelompok Yahudi dan Nasrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, inti sari iman bukanlah seperti yang disebutkan oleh Anand, yakni cukup beriman kepada adanya “Tuhan.” Jika beriman kepada adanya Tuhan, tidak perlu Muhammad diutus kepada umat manusia sebab kaum Jahiliah waktu itu pun sudah mengakui adanyaTuhan. Iblis pun mengakui adanya Tuhan (surah Al-’Ankabuut: 61,63, Luqman: 25, az-Zurnai” 38, az-Zukhruf: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi yang dibawa oleh para nabi adalah misi tauhid (An-Nahl: 36). Sebagai nabi terakhir, misi Muhammad SAW begitu jelas, yaitu menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (An-Anbiyaa’: 107). Meskipun salah satu arti kata Islam adalah damai, tetapi Muhammad SAW bukan hanya mengajarkan meditasi. Muhammad SAW juga tidak membiarkan umat manusia untuk memeluk agama apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suratnya kepada Heraklius, seorang raja pemeluk Nasrani, Nabi SAW menegaskan, “Dengan ini, saya mengajak Tuan untuk menuruti ajaran Islam. Terimalah ajaran Islam, Tuan akan selamat.” Dalam teks aslinya, surat Nabi itu dengan redaksi, “Aslim, taslam ‘Masuk Islamlah maka Anda akan selamat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad SAW memang pernah berdiri saat jenazah seorang Yahudi lewat di hadapannya. Jika menyembelih domba, beliau pun selalu memprioritaskan kepada tetangganya yang seorang Yahudi. Beliau sangat hormat kepada kaum Yahudi dan kaum yang beragama lain, seperti tercermin dalam Piagam Madinah. Akan tetapi, saat kaum Yahudi berkhianat, Muhammad SAW bertindak tegas. Yahudi Bani Nadzir dan Bani Qainuqa, termasuk wanita dan anak-anak, diusir dari Madinah, sedangkan Yahudi Bani Quraidzah dihukum lebih keras, seluruh laki-laki dewasa kelompok Yahudi ini dijatuhi humuman mati. Nabi SAW juga melarang mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani. Dan semua itu, jelas bahwa antara Islam, Yahudi, dan Nasrani memang berbeda. Tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian, tetapi Islam lebih menjunjung tinggi kebenaran. Islam sangat menghargai pluralitas dan perbedaan, tetapi Islam sadar benar bahwa banyak musuh perdamaian yang terus berkeliaran. Karena itulah, Nabi SAW membentuk tentara yang kuat dan mengajarkan bahwa jika kaum muslim diprovokasi, diserang, apalagi dibunuhi, diizinkan bagi mereka untuk memberikan perlawanan (Al-Baqarah: 190-191). AI-Qur’an juga mengajarkan bahwa di samping harus dapat bersikap lembut, kaum muslim juga harus dapat bersikap tegas/keras terhadap kekufuran (Al-Fat-h: 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Tuhannya orang-orang Yahudi, Nasrani, Islam, Budha, Hindu, Gatholoco, Darmogandul, Baha’i, Konghuchu, dan sebagainya itu sama? Secara sekilas, dapat diketahui bahwa masing-masing agama memiliki konsep ketuhanan yang sangat berbeda. Orang Kristen mengenal konsep Trinitas. Tuhannya orang Kristen mempunyai anak. Dalam Matius 3:17 disebutkan, “Maka, suatu suara dari langit mengatakan, “Inilah anakku yang kukasihi. Kepadanya Aku berkenan.” Dalam Kongres di Nicaea tahun 325 muncul dua aliran: (1) aliran Anus, yang mengatakan bahwa Tuhan Anak (Tuhan Yesus) diciptakan oleh Tuhan Bapak, dan (2) aliran Athanasius, yang menyatakan bahwa Tuhan Bapak dan Tuhan Anak adalah zat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang Islam meyakini Isa a.s. adalah seorang rasul, bukan Tuhan. Bahkan, AI-Qur’an mengecam keras keyakinan kaum Kristen itu, “Sesungguhnya, telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya, Allah ialah Almasih putra Maryam.’…. Sesungguhnya, kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah adalah salah satu dari yang tiga,’….” (Al-Maa’idah: 72-73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi perbedaan konsepsi teologis antara agama samawi dan agama non samawi, seperti agama Hindu. Semenjak abad ke-3 SM sampai sekarang, orang Hindu percaya kepada tiga dewa (Brahma, Wisnu, Siwa). Brahma yang mencipta alam ini, Wisnu yang memelihara, dan Siwa yang merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah terjadi pemusyrikan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itulah, Muhammad diutus sebagai nabi akhir zaman untuk seluruh manusia dengan membawa konsep tauhid. Orang yang mengikuti Muhammad akan selamat. Jadi, yang selamat bukan yang mengikuti agama Anand Krishna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heboh Buku Anand Krishna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan September 2000 hingga sekarang 2010, media massa di Indonesia banyak mengungkap masalah Anand Krishna. Mulanya adalah laporan utama sejumlah media Islam-seperti Media Dakwah yang mengangkat buku-buku Anand Krishna sebagai laporan utamanya. Pada bulan itu juga, PT Gramedia Pustaka Utama (GPU) menyatakan menarik buku-buku Anand Krishna dari peredaran. Tindakan GPU ini kemudian memancing berbagai reaksi keras dari berbagai kalangan. Jadilah soal buku Anand Krishna sebagai isu-isu utama di sejumlah media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, buku-buku Anand Krishna pada kenyataannya kurang bermutu, banyak hujatan, dan berupa khayalan, tetapi buku-buku itu sempat menjadi isu besar di Indonesia karena dipromosikan besar-besaran oleh PT Gramedia Pustaka Utama (GPU). Karena berasumsi (berkhayal) bahwa semua agama itu sama, Anand pun menutup mata untuk melihat perbedaan di antara kitab-kitab suci agama-agama. Menurut dia, “wahyu” adalah getaran-getaran Ilahi. Jika ditangkap oleh Nabi Muhammad yang berbahasa Arab, lahirlah AI-Qur’an dalam bahasa Arab. Jika yang menangkap adalah Lao Tze, lahirlah Tao The Ching dalam bahasa Cina karena penangkapnya berbahasa Cina. Jika ditangkap oleh para resi di tepi sungai Sindhu, lahirlah Veda dalam bahasa Sanskerta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Anand tentang “wahyu” itu juga lebih merupakan “khayalan” daripada pendapat ilmiah. Wahyu yang diterima oleh Muhammad SAW sering kali dibacakan oleh Jibril dan Muhammad mendengarnya lalu memerintahkan pencatatannya. Di samping itu, saat turunnya surat pertama, Al-’Alaq, Jibril meminta Muhammad menirukan ucapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita khayalan setidaknya dikutip tanpa sumber referensi yang jelas-begitu banyak bertebaran dalam buku-buku Anand Krishna. Entah mengapa, sebagai penerbit terkernuka, PT GPU dengan beraninya menyebut buku-buku Anand sebagai buku-buku bermutu dan memasang promosi besar-besaran. Pada sampul bagian belakang buku Surah Al-Fatihah bagi Orang Modern tercantum promosi GPU, “Jadikan karya Anand Krishna sebagai teman hidup Anda.” Buku Renungan Harian Penunjang Meditasi dilengkapi dengan promosi, “Lengkapi Koleksi Anda dengan Buku Bermutu Buah Karya Anand Krishna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejumlah bukunya yang lain, GPU tidak hanya mempromosikan buku-buku (pemikiran Anand), tetapi sudah memuja Anand Krishna bagai seorang “Juru Selamat.” Mungkin, Yesus saja tidak dipuji setinggi itu oleh GPU. Simaklah pujian GPU berikut ini. “Bertemu muka dengannya, Anda beruntung. Kalaupun tidak, karya-karyanya akan menjadi teman hidup Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku Anand Krishna terbitan GPU itu memang lebih merupakan buku propaganda ketimbang mengembangkan wacana yang sehat. Lagi pula, di akhir sejumlah buku, dimuat juga pengumuman kegiatan Anand Ashram lengkap dengan nama jalan dan nomornya, nomor telepon/fax, HP, e-mail, serta homepage. Pemujaan GPU terhadap Anand Krishna juga terlihat pada daftar buku terbitan Gramedia yang direkomendasikan oleh Anand Krishna, seperti sejumlah karya Krishnamurti, Anthony de Mello, Deepak Chopra, James Redfield, Pearl S. Buck, Denys Lombard, Pandir Kelana, dan Lobsang Rampa. Jadi, selain penulis, Anand Krishna juga penjamin buku-buku bermutu, padahal banyak bukunya sendiri yang tidak bermutu dan sulit dipertanggungjawabkan validitas keilmiahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah telaah dengan saksama, dengan pikiran yang jernih, dan hati yang lapang, berbagai cerita khayal yang diungkap oleh Anand Krishna dalam berbagai bukunya. Celakanya, cerita-cerita itu sering ia ungkapkan dengan nada sinis untuk menghina Islam dan umatnya. Simaklah cerita tentang seorang pemeluk agama fanatik yang membakar Perpustakaan Agung di Mesir sebagaimana dia ungkap dalam buku Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan-Apresiasi Spiritual terhadap Taurat, lnjil dan AI-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang fanafik semoga Tuhan memaafkan Dia-memegang “Kitab Suci” di satu tangan dan pedang di tangannya yang lain. Ia menanyakan kepada pengurus perpustakaan itu, ‘Katakan, pengetahuan yang ada dalam buku-buku itu, apakah tidak ada dalam Kitab Suci ini?’ Sang pengurus perpustakaan tidak memiliki pilihan. Apabila ia mengatakan tidak ada, jelas ia akan dianggap ‘murtad dan dibunuh. la harus mengatakan, Tuan benar, pengetahuan yang ada dalam buku-buku di sini terdapat juga dalam kitab suci.’ la lolos dari pembunuhan, ia tidak jadi dibunuh. Tetapi, Perpustakaan Agung dibakar. Logika si fanatik itu sederhana sekali, ‘Apabila semuanya ada dalam satu kitab suci ini, apa gunanya perpustakaan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum muslim, “pembakaran sebuah perpustakaan” adalah peristiwa luar biasa. Sejarah kebudayaan Islam dikenal sangat menghargai tingginya ilmu pengetahuan. Di mana Islam berpijak, di situ tradisi keilmuan berkembang pesat. Akan tetapi, Anand Krishna sama sekali tidak menyebut sumber cerita penting tersebut. Kapan dan siapa yang melakukan pembakaran perpustakaan tersebut sehingga tidak jelas apakah cerita itu benar-benar ada atau cerita khayalan, seperti yang sering ditampilkan oleh Raja Sinetron Raam Punjabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memberikan tafsir bagi surat Al-Fatihah-dengan kedok “apresiasi spiritual’-Anand Krishna juga dengan seenaknya sendiri membuat cerita khayal. Berikut ini penggalan cerita khayal tentang guru agama yang masuk neraka dan pelacur yang masuk sorga seperti dimuat dalam buku Surah Al-Fatihah bagi Orang Modern.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, sang guru yang memang sudah tua itu meninggal dunia. la didatangi oleh Malaikat Neraka berseragam hitam. Roh sang guru berang, ‘Eh Kalian salah. Yang menjemput saya seharusnya Malaikat Sorga. Mereka berseragam putih. Demikianlah yang saya baca dalam buku-buku suci selama ini….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat Neraka melihat ke bawah-benar juga, memang jasad sang guru dihormati. la pun berpikir kembali, mungkin dia salah, mungkin terjadi kesalahan teknis. Sambil mengeluarkan telepon genggamnya, Malaikat Neraka memohon kesabaran kliennya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak salah, ‘Memang kau harus ke neraka.’ Setelah berbicara dengan Manajer Perusahaan Tak Terbatas yang memberikan tugas itu kepadanya, Malaikat Neraka menjelaskan kepada roh sang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah ini kolusi, korupsi, di neraka dan sorga pun rupanya ada sistem nepotisme, harus ada reformasi. Tunggu dulu, kalau saya ke sana-saya akan lakukan reformasi besar-besaran. Dan kau, Malaikat Neraka, kau sudah bisa menghitung hari-harimu. Sebentar lagi akan dipecat. Saya akan melaporkan kesalahanmu ini kepada Tuhan roh sang guru sudah tidak dapat menahan diri lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Malaikat Neraka pun sudah bingung. Di mana letak kesalahannya? Sementara roh sang guru masih mencaci maki dia, tiba-tiba, ‘Eh itu apa lagi lihat di sana itu ada Malaikat Sorga yang berseragam putih. Sedang kemana dia?’ roh sang guru melihat Malaikat Sorga dan kejauhan. ‘Panggil dia-dia pasti sedang menjemput saya. Coba lihat surat perintahnya.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat Neraka menggunakan telepon genggamnya untuk menghubungi Malaikat Sorga, ‘Kawan, kau mau ke mana?’ ‘Ah, kawan, aku sedang menjemput seorang wanita, nih.’ Wanita yang mana?’&lt;br /&gt;Wanita tuna susila.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salahkah kau, sahabatku? Rupanya surat perintah kita tertukar. Saya justru disuruh menjemput seorang guru agama. Dia lagi marah-marah. Tinggalnya di mana wanita itu.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah harus dicek lagi, nih, rupanya salah. Wanita itu tinggal persis di depan rumah guru agama, yang rohnya kau jemput itu.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Kalau begitu, ya, kau jemput saja wanita itu dan kita bertemu di Lobby Wisma Sorga-Neraka. Saya juga ke sana dengan roh guru yang saya jemput. Nanti, kita cek di komputer.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Lihat itu, betul kan, kalian sudah tidak becus mengurus semuanya ini. Sudah terlalu lama menjadi malaikat tidak terjadi pembaruan. Harus dilakukan reformasi. Tunggu saja kalian, nanti kalau murid-murid saya mati-saya akan ajak roh-roh mereka berdemonstrasi. Kalian harus mengundurkan diri, lengser keprabon. Salah melulu-salah melulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, itulah cara Anand Krishna meledek guru agama (kiai), malaikat, sorga, dan neraka. Malaikat, sorga, dan neraka begitu sakral dan menempati posisi pokok dalam rukun iman bagi kaum muslim. Begitu beraninya Anand Krishna mempermainkan keimanan kaum muslim. Cerita itu jelas khayalan dan merupakan pelecehan terhadap Islam. Gaya Anand Krishna seperti ini memang mirip dengan gaya Salman Rushdi (melalui novelnya The Satanic Verses) yang telah memancing reaksi keras kaum muslim internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Anand, Darmogandul, Gatholoco, dan Rushdie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel The Sataniv Verses ‘Ayat-Ayat Setan’ diterbitkan pada 26 November 1988 di Inggris oleh Viking Penguin. Sejak terbitnya, novel yang dirancang sebagai penghujatan terhadap Islam itu telah memicu protes luas kaum muslim. Lima orang meninggal di Pakistan dan satu orang di Kashmir pada Februari 1989. Bulan berikutnya, pemimpin masyarakat Islam Belgia dan asistennya ditembak mati. Selanjutnya, pada Juni 1991, penerjemah bahasa Jepang dari novel tersebut dibunuh di Tokyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Hasyim Kamali dalam bukunya, Freedom of Expression in Islam (1994)-diindonesiakan oleh Eva Y. Nukman dan Fathiyah Basri dengan judul Kebebasan Berpendapat dalam Islam (1996) menyebutkan bahwa The Satanic Verses memang mencemooh dan menfitnah Rasulullah, istri-istri Nabi, dan para sahabat terkemuka. Buku tersebut juga memuat pernyataan yang “melecehkan Kitab Suci AI-Qur’an dan beberapa nilai pokok serta prinsip-prinsip keimanan dalam Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rushdie, misalnya, menggambarkan AI-Qur’an sebagai “kumpulan peraturan sepele tentang segala hal yang tak berguna” (hlm. 363). Nabi lbrahim disebutnya sebagai “bajingan” dan Nabi Muhammad disebutnya sebagai “Mahound.” Para sahabat, seperti Bilal, Khalid bin Walid, dan Salman Al-Farisi disebutnya sebagai “trio-sampah” dan “kumpulan orang jembel.” Rushdie berdalih bahwa novelnya itu hanya cerita fiksi. Karenanya, tidak perlu dipersoalkan kebenaran dan kepalsuannya. la mendasarkan cerita- nya pada mimpi-mimpi, meskipun pada Januari 1989, Rushdie sudah menyatakan bahwa hampir semua bagian dan novel itu berangkat dari landasan historis atau quasi-historis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 14 Februari 1989, Ayatullah Khomeini mengeluarkan fatwa yang menyatakan, “Pengarang buku The Satanic Verses yang melecehkan Islam, Rasulullah, dan AI-Qur’an, semua pihak yang terlibat dalam publikasinya yang sadar akan isi buku tersebut, harus dihukum mati.” Untuk ini, Khomeini menambahkan, “Saya meminta kaum muslim di seluruh dunia untuk segera mengeksekusi penulis tersebut dan penerbitnya, di mana pun mereka menemukannya, sehingga tak seorang pun di masa yang akan datang akan berani melecehkan Islam lagi. Barang siapa yang terbunuh dalam jalan ini akan dianggap sebagai syahid, dengan izin Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 19 Februari 1989, Khomeini mengeluarkan pernyataan lain, “Walaupun Salman Rushdie bertobat dan menjadi orang yang saleh, wajib bagi tiap muslim untuk menggunakan segala yang dimilikinya, nyawa dan hartanya, untuk mengirimnya ke neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu pertemuan yang diadakan di Mekah pada 10-26 Februari 1989, Akademi Hukum Islam Al Rabithah Alam Islami mengeluarkan pernyataan tentang Salman Rushdie, yang antara lain menyatakan: (1) Salman Rushdie dinyatakan sebagai orang murtad, (2) dan agar Rushdie diadili secara in-absentia di negara Islam di bawah aturan syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Salman Rushdie. Lain lagi dengan Darmogandul. Kitab Darmogandul juga memuat sejumlah “tafsir” tentang AI-Qur’an dengan seenaknya sendiri. Zalikal diartikan sebagai “jika tidur, kemaluan bangkit. Kitabu la diartikan sebagai kemaluan laki-laki masuk dengan tergesa-gesa ke dalam kemaluan perempuan’. Raiba fiihi hudan diartikan dengan ‘perempuan telanjang. Selanjutnya, penulis Darmogandul berkata, “Itu adalah bahasa Arab yang sampai ke tanah Jawa. Aku tafsirkan menurut interpretasi Jawa agar artinya dapat dipahami. Arti bahasa Arab tersebut di Pulau Jawa, aku kiaskan dengan mata kebatinan sehingga jadi seperti yang tersebut di atas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Gatholoco juga disebutkan, “Pedoman hidupku adalah bahrul-kolbi, yakni lautan hati, yang luas lagi dalam.” Dua kalimah syahadat. Asyhadu anlaa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah diartikan oleh Gatholoco sebagai, “Aku menyaksikan bahwa hidupku dan cahaya Tuhan dan serta rasa Nabi adalah karena persetubuhan bapak dan ibu. Karena itu, saya juga ingin melakukan (bersetubuh) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, belajar dari ketiga pendahulunya tersebut, Anand Krishna “bermain” lebih halus. Cara Anand Krishna dalam melecehkan AI-Qur’an, Nabi Muhammad SAW, syariat Islam, malaikat, dan pokok-pokok ajaran Islam jauh lebih canggih. Yang dia ungkapkan secara terbuka adalah kebenciannya terhadap syariat Islam, simbol-simbol Islam, dan pelecehannya terhadap malaikat serta kaum muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, pada dasarnya, tidak ada perbedaan yang mendasar antara Salman Rushdie, penulis kitab Darmogandul dan Gatholoco, dan Anand Krishna. Tujuan mereka sama, merusak dan menghancurkan Islam. Justru, pada sisi lain, gaya Anand yang manipulatif-berkedok gerakan sufi, meditasi, dan pengobatan-jauh lebih berbahaya sebab banyak yang tertipu dan terkibuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penyesatan Opini, Adian Husaini, M.A.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-1698919294332467648?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/1698919294332467648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=1698919294332467648' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/1698919294332467648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/1698919294332467648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/03/membongkarpenyimpangan-anand-krishna.html' title='MEMBONGKARPENYIMPANGAN ANAND KRISHNA'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-8860225974020103752</id><published>2010-02-09T07:50:00.000-08:00</published><updated>2010-02-09T07:51:08.355-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'></title><content type='html'>Ujian Nasional Pasca-Keputusan MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friday, 4 December 2009 (03:07) | 989 pembaca | 141 komentar | Print this Article&lt;br /&gt;Bagikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teka-teki jadi atau tidaknya Ujian Nasional (UN) 2010 digelar terjawab sudah setelah Depdiknas, melalui Sekjen Dody Nandika, menyatakan bahwa UN tahun 2010 akan tetap berlangsung, sebab hingga kini Depdiknas belum menerima salinan putusan Mahkamah Agung (MA) terkait kasasi tentang UN (Kompas, 3 Desember 2009). Menurutnya, jika dicermati, ada tiga poin dari putusan MA dan tidak ada satu pun yang melarang UN. Poin pertama adalah tergugat diperintahkan untuk memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan serta guru sebelum menjalankan proses pendidikan. Itu sudah dilakukan Depdiknas dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Poin kedua, tergugat diperintahkan juga oleh MA untuk membuat satu skema respon terhadap siswa yang gagal UN atau siswa yang menjadi korban UN, sehingga tidak mengalami stres yang berat. Hal itu, menurut Dodi, sudah dijawab dengan akan diselenggarakannya ujian ulangan yang merupakan skema baru pada tahun ini, karena tahun sebelumnya tidak ada. Dengan adanya ujian ulangan, masih ada kesempatan bagi siswa jika gagal atau tidak lulus pada ujian tahap pertama, tegasnya. Poin ketiga, pihaknya juga diperintahkan MA untuk meninjau kembali dan memperbaiki sistem pendidikan dasar secara umum dan itu sudah dilakukan dengan dikeluarkan undang-undang guru dan dosen, undang-udang BHP, juga undang-undang perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai kontroversi yang selama ini mencuat ke permukaan, UN perlu dikembalikan ke “khittah”-nya sebagai alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional. Artinya, UN jangan dijadikan sebagai penentu kelulusan, tetapi sebagai alat untuk memotret dan memetakan mutu pendidikan secara nasional, sehingga bisa diketahui sekolah mana yang sudah memenuhi standar mutu dan yang belum. Sekolah yang belum memenuhi standar mutu pendidikan perlu terus dikawal, dilengkapi sarana, prasarana, dan fasilitasnya, serta ditingkatkan mutu gurunya, sehingga bisa terus berkembang secara dinamis dan siap bersaing dengan sekolah-sekolah lain yang jauh lebih maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kenyataan menunjukkan, dijadikannya UN sebagai penentu kelulusan telah mengakibatkan merebaknya budaya kecurangan massal dan tak pernah tuntas tertangani. Yang lebih ironis, UN bukan lagi sebagai alat untuk mengukur dan menguji kompetensi peserta didik, melainkan telah jauh menyimpang sebagai alat pencitraan pejabat publik di daerah. Tidak sedikit pejabat daerah yang menjadikan keberhasilan UN sebagai upaya untuk meningkatkan posisi tawar, sehingga mereka berupaya dengan berbagai macam cara agar tingkat kelulusan UN di wilayahnya bisa mencapai target yang diinginkan. Untuk mencapai target kelulusan, dibentuklah Tim Sukses UN untuk mengawal pelaksanaan dan hasil UN. Akibatnya bisa ditebak, UN bukan lagi sebagai alat untuk meningkatkan mutu pendidikan, melainkan sebagai tujuan untuk meningkatkan citra dan marwah daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNKalau mau jujur, UN selama ini justru telah mereduksi makna pendidikan hakiki. Yang berupaya serius agar bisa lulus bukan peserta didik, melainkan para pemangku kepentingan pendidikan untuk mencapai target-target tertentu. Tak heran apabila UN hanya menjadi rutinitas tahunan yang telah kehilangan aura dan wibawa. Tak ada energi positif yang terpancar dari balik pelaksanaan UN selama ini. Menjelang UN bukannya siswa yang repot, melainkan para pejabat dan birokrat pendidikan mulai lapis atas hingga lini bawah. Guru pun kalang kabut, bahkan mengidap stress tahunan akibat mendapatkan tekanan bertubi-tubi dari berbagai sisi. Menjelang UN, seorang guru mesti berangkat pagi-pulang sore untuk melakukan adegan-adegan akrobatik di kelas guna men-drill siswanya dengan berbagai trik dan kiat demi memenuhi ambisi dan gengsi atasannya. Mereka pun tak jarang mesti mengorbankan kepentingan suami dan anak-anak di rumah. Sebuah pemandangan yang biasa apabila keluarga guru kehilangan sebagian kebahagiaan menjelang UN. Suami uring-uringan, anak-anak pun merasa kurang mendapatkan sentuhan perhatian dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menyedihkan, siswa justru kehilangan greget untuk belajar keras karena telah terperangkap dalam kubangan budaya instan. UN bukan lagi sebagai sesuatu yang “sakral”, melainkan hanya dianggap sebuah adegan drama yang sarat dengan kepura-puraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang UN hendak didesain sebagai “starting point” peningkatan mutu pendidikan, harus ada perubahan mendasar tentang sistem dan mekanismenya. Pertama, serahkan sepenuhnya penentuan kelulusan kepada sekolah dengan menggunakan rambu-rambu dan standar kelulusan secara nasional. Harus ada pemantauan sistemik terhadap proses penilaian kompetensi siswa secara jujur, fair, dan objektif, sehingga tak memungkinkan sekolah untuk melakukan manipulasi penilaian. Kedua, kualitas soal UN harus benar-benar valid sehingga mampu membedakan siswa yang berotak cemerlang dan siswa yang berotak pas-pasan. Jangan sampai anak-anak cerdas justru terbonsai dan harus jadi tumbal pendidikan akibat soal UN yang diragukan mutunya. Sebaliknya, siswa yang kehilangan etos belajar dan bermental pemalas justru termanjakan dengan mendapatkan hasil UN yang bagus dan memuaskan. Ketiga, harus ada sinkronisasi antara kurikulum yang teraplikasikan dalam kegiatan pembelajaran dan sistem UN yang dilaksanakan. Selama ini, UN terkesan menjadi sebuah entitas yang terlepas dari kurikulum. Menjelang UN, siswa tak pernah mendapatkan layanan pendidikan yang inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, lantaran mereka hanya dilatih untuk menjadi penghafal kelas wahid, tak ubahnya seperti simpanse dalam permainan sirkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga “teguran” MA benar-benar menjadi “warning” buat Depdiknas dalam menggelar UN yang lebih mencerdaskan dan mencerahkan, sehingga UN bisa menjadi alat yang sahih untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebuah tantangan yang tidak mudah bagi Pak Muhammad Nuh sebagai Mendiknas di awal pengabdiannya. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-8860225974020103752?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/8860225974020103752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=8860225974020103752' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/8860225974020103752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/8860225974020103752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/02/ujian-nasional-pasca-keputusan-ma.html' title=''/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-7443864446986505661</id><published>2010-01-06T09:32:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T09:33:38.237-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KELUARGA'/><title type='text'>JANJI ALLAH BAGI YANG AKAN NIKAH</title><content type='html'>Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup. Semoga bermanfaat buat saya pribadi dan kaum muslimin semuanya. Saya memohon kepada Allah semoga usaha saya ini mendatangkan pahala yang tiada putus bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah wahai saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula),dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbangjuga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, “apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiahyang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah - dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya - maka Allahakan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya“. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya padayang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. “Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ “. (Al Mu’min : 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia, pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang adajuga yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam”. (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu.” (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. “Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat“. (Al Baqarah : 153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid’ah-bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 - 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiriyang menegaskan dua kali dalam Surat Alam Nasyrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia&lt;br /&gt;akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwahIslam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj : 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah : 214)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kenapa ragu dengan janji Allah?&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-7443864446986505661?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/7443864446986505661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=7443864446986505661' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7443864446986505661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7443864446986505661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/janji-allah-bagi-yang-akan-nikah.html' title='JANJI ALLAH BAGI YANG AKAN NIKAH'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-7346008182490110485</id><published>2010-01-06T09:30:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T09:31:35.558-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KELUARGA'/><title type='text'>Renungan Pernikahan</title><content type='html'>Tidak ada yang salah manakala seorang muslimah merindukan cinta dan kasih sayang dari seseorang yang diharapkan akan menjadi pendamping hidupnya. Setiap insan termasuk seorang muslimah pun berhak dan lumrah untuk merasakan kerinduan semacam itu. Meskipun tak terungkap secara lisan, penantian dan impian untuk menggapai sebuah mahligai pernikahan adalah puncak gelisah dan kerinduan yang merupakan salah satu bentuk ujian seorang gadis muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat sekuntum bunga yang sedang mekar atau bahkan telah mekar dan matang dalam waktu yang sudah cukup lama, adanya kecenderungan untuk disentuh oleh si kumbang jantan yang menawan dan memberikan sari madunya adalah adalah salahsatu fitrah yang lumrah dirasakan oleh dirasakan oleh seorang gadis. Sayangnya, saat ini banyak sekali dan semakin banyak kumbang-kumbang jantan yang hanya mengobral rayuan gombal, kata-kata picisan, hanya menggoda, bahkan hanya ingin menghisap sari madu dari sang gadis saja, setelah dapat ia terbang dan menghilang entah kemana. Sedikit sekali kumbang-kumbang jantan yang bersedia berjuang untuk membawa sang gadis dengan jalan yang diridhoi oleh Allah swt, yaitu sebuah jalan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan merupakan sebuah ikatan suci, maka sudah sepatutnyalah setiap langkah untuk mencapainya pun harus dilakukan dengan cara yang suci. Manakala seorang gadis telah merasakan kerinduanakan seorang pendamping hidup, artinya secara sadar maupun tidak ia telah melangkahkan kakinya pada salah satu jalan yang akan menghantarkan pikiran dan hatinya pada sebuah mahligai pernikahan. Untuk itu, hendaknya ia senantiasa berjaga dengan kuat dan berhati-hati dalam setiap langkah. Jangan sampai ada noda yang tercecer dan mengotorijalan yang suci ini hingga tiba saat yang dinanti-nanti, yaitu ketika Allah meridhoi dan mewujudkan sebuah pernikahan indah dan suci yang selama ini didambakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, penantian tidaklah membutuhkan tenaga yang ekstra besar. Namun, sebagian besar manusia pun mengakui bahwa penantian adalah  salahsatu pekerjaan yang sangat melelahkan. Terlebih lagi penantian untuk sebuah pernikahan, ini merupakan sebuah penantian besar yang sangat melelahkan. Karena, dalam penantian inilah syaithon-syaithon dalam bentuk nafsu dan syahwat senantiasa menghampiri. Manakala seorang gadis tengah berada dalam lelahnya sebuah penantian, maka pada saat itulah syaithon-syaithon sedang menatapnya sebagai sebuah sarapan pagi yang lezat dan siap untuk disantap. Oleh karena itu, seorang muslimah hendaknya benar-benar mengerti hal-hal yang sebaiknya ia lakukan dalam masa penantiannya. Dengan demikian, penantiannya untuk sebuah pernikahan yang indah dan suci tidakakan sia-sia, dan Allah akan memberikannya seorang pendamping Robbani dalam pernikahan yang telah menjadi impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan adalah awal dari sebuah kehidupan dan perjalanan hidup yang baru. Idealnya, perjalanan panjang hendaknya disertai dengan bekal yang benar dan cukup. Demikian pula dengan pernikahan, membutuhkan bekal yang tidak sedikit dan sembarangan. Berikut ini adalah langkah-langkah yang sepatutnya dilakukan dan diistiqomahkan oleh seorang muslimah dalam penantiannya untuk menuju sebuah pernikahan yang diridhoi oleh Allah swt. Langkah-langkah inilah yang insya Allahakan menjadi bekal untuk berlayar di atas lautan dan gelombang kehidupan dengan ombak dan badai yang selalu mengintai. Langkah-langkah inilah yangakan menjadi kompas dan bahan bakar untuk perahu pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menantikan seorang lelaki sholih yang akan meminang dan menyandingnya dalam sakralnya pernikahan memang akan memancing datangnya berbagai bentuk godaan. Untuk itulah, seorang muslimah hendaknya terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya (baik ibadah fardhu maupun sunnah) untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Insya Allah, dengan peningkatan ibadah ini Allahakan memberikan kekuatan dan pertolongannya untuk menghadapi godaan-godaan yang mencoba untuk menggoyahkan dan memikatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Istiqomah dalam doa dan tawakal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, segala sesuatu yang terjadi maupun yang tidak terjadi adalah hanya atas kehendak Allah swt semata. Rizki, maut, dan juga jodoh, itu semua berada dalam genggaman Allah swt, tidakakan ada yang mampu merubahnya kecuali Dia. Dan sebagai manusia, yang diwajibkan hanyalah berusaha dan berdoa dengan sebaik-baiknya. Kemudian bertakwakallah kepada-Nya, serahkan dan percayakan segala keputusan final hanya kepada-Nya. Janganlah pesimis dan berburuk sangka kepada Allah, karena Allahakan mengikuti persangkaan hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqoroh: 153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istiqomahlah dalam berdoa agar diberikan pendamping hidup yang sholeh, dan dikaruniakan sebuah pernikahan yang barokah sehingga membawa kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Yakinlah bahwa Allah lebih mengerti apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan yakinlah, bahwa Allah hanyaakan memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Mempersiapkan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dinanti-nanti, namun pernikahan bukanlah hal sepele yang dapat dicapai dan dijalani dengan sembarangan atau asal mau saja. Ketika seorang wanita telah memasuki pintu pernikahan, maka secara otomatis kewajibannya pun telah bertambah (demikian pula halnya dengan laki-laki). Maka dari itu, hendaknya seorang muslimah senantiasa mempersiapkan dirinya sebelum seorang pangerang yang diutus oleh Allah swt datang untuk menjemput dan membawanya menuju istana pernikahan yang sakral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah membekali diri dengan ilmu, khususnya ilmu agama, dan terutama ilmu agama yang berkaitan dengan masalah kerumah tanggaan. Selain itu, seorang muslimah juga harus membekali dirinya dengan keterampilan berumah tangga. Dan bekal yang terakhir adalah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang isteri sholihah yang taat dan senantiasa menyenangkan hati suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, pernikahan adalah dambaan bagi setiap insan, tidak terkecuali seorang muslimah. Dan menunggu pangeran sholih yang akan menjemputnya menuju mahligai pernikahan yang sakral, bukanlah perjuangan yang ringan. Gelisah, gundah, tanda tanya, harap, cemas, semua membaur menjadisatu . Namun, sekali lagi pernikahan bukanlah ikatan yang dapat dijalin dengan “mau” saja. Untuk menuju pernikahan yang barokah, dibutuhkan bekal-bekal yang benar dan cukup. Jangan sampai kita kehabisan bahan bakar ataupun perbekalan ketikan sedang menyelami lautan pernikahan. Terlebih lagi menyelami lautan pernikahan tanpa membawa bekal, andaakan kelaparan dan kehausan. Jangan sampai anda melupakan peta dan kompas manakala hendak menjelajahi belantara pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, rindukanlah sebuah pernikahan sakinah, mawaddah, warrohmah. Rindukanlah seorang pendamping hidup yang akan membawa ikatan pernikahan mulia di dunia dan akhirat. Dan tidaklah sebuah pernikahan akan sakinah, mawaddah, warrohmah, melainkan dengan kita memperjuangkannya di jalan yang diridhoi oleh Allah, melainkan kita masuki pintu pernikahan tersebut dengan menyebut asma Allah. Dan tidaklah senuah pernikahan akan sakinah, mawaddah, warrohmah, kecuali kita menjalankannya dengan bekal yang cukup, dengan bekal yang benar. Allah, adalah pangkal tolak dan arah melangkah kita dalam menanti dan mengemudikan sebuah pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan yang barokah adalah pernikahan yang dilandasi dengan nilai-nilai iman dan takwa. Hanya pernikahan yang barokahlah yangakan memberikan kebagiaan dunia dan akhirat. Pernikahan dibawah naungan islam, pernikahan dibawah naungan Allah adalah pernikahan yang menjadi dambaan orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Tiga langkah di atas merupakan secuil ikhtiar yang jika direalisasikan dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan keistiqomahan, insya Allahakan menjaga diri kita dari godaan-godaan yang menerpa manakala berada disebuah jalan menuju pernikahan. Dan insya Allah akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat dalam mengaruhi bahtera pernikahan kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.syahadat.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-7346008182490110485?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/7346008182490110485/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=7346008182490110485' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7346008182490110485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7346008182490110485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/renungan-pernikahan.html' title='Renungan Pernikahan'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-4015955901048175447</id><published>2010-01-06T09:28:00.001-08:00</published><updated>2010-01-06T09:28:53.278-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KELUARGA'/><title type='text'>MENGUJI CINTA DAN KEIKHLASAN</title><content type='html'>Tulisan ini ditulis oleh : Yeni Suryasusanti, dan diambil dari situs eramuslim.com. Tulisan ini dapat menjadi suatu pelajaran, renungan bagi kita semua…semoga kita dapat mengambil hikmah positif dari tulisan ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini  sebelas tahun yang lalu, saya sedang menjalani perawatan pengantin di Puri Ayu Graha Indorama Kuningan, sebagai persiapan pesta pernikahan kami yang akan berlangsung tanggal 11 Oktober 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu usia saya belum genap 24 th, dan seperti umumnya wanita muda, rasanya persiapan “fisik” terasa lebih penting bagi saya, dari pada pembekalan “mental” yang diberikan oleh Ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah… betapa naifnya saya saat itu, menganggap bahwa saya sudah kenal betul karakter calon suami saya hanya karena kami sudah berteman lama sebelum memutuskan untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak satu  tahun sebelum menikah, setelah diadakannya pertemuan antar dua keluarga inti kami, setiap saya hendak melangkahkan kaki keluar rumah, Ibu selalu bertanya, “Yeni, sudah kasih tau Fahly kalau mau pergi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saat  pertanyaan itu selalu membuat saya sebal. “Kenapa sih, Bu? Jadi suami aja belum… kok ribet banget sih…” protes saya gusar. “Karena semua pembelajaran perlu proses. Haram langkah seorang istri keluar rumah tanpa izin suami. Yeni akan kaget nanti, dan pasti akan sering lupa meminta izin, kalau baru menerapkannya setelah menikah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat percakapan yang terjadi berulang kali dan sepanjang tahun itu, sungguh saya sangat bersyukur memiliki seorang Ibu yang tidak pernah putus asa mendidik putri bungsunya yang keras kepala ini, yang saat itu sangat percaya bahwa pernikahan yang baik adalah pernikahan modern yang menjunjung kesetaraan kedudukan antara suami dan istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, “Suami ideal” bagi saya adalah suami yang bisa berkomunikasi dengan baik, tegas, bisa menghargai saya, mencintai orang tua dan keluarga saya, mau bekerja sama dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak, bla bla bla… segala hal positif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah, saya menemukan kenyataan bahwa pernikahan ternyata tidak sesederhana anggapan saya sebelumnya, dan suami yang telah lama saya kenal sebagai teman, ternyata tidak semudah itu dimengerti karakternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami saya yang dulu sangat saya kagumi kemampuan berkomunikasinya saat kami masih bersama-sama berkecimpung di organinasi kami masing-masing di kampus, yang piawai dalam argumentasi dan mampu menengahi banyak masalah pelik di organisasi kepemudaan, ternyata diam seribu bahasa pada suatu saat, ketikasaya membantahnya dengan mengajukan argumentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal saya berharap kami akan berdiskusi untuk mencari jalan tengah dari permasalahan kami.&lt;br /&gt;Hari demi hari berlalu, satu demi satu, kekurangan suami muncul di depan mata saya. Saat itu, saya pun menjadi bingung… dan kecewa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun-tahun awal pernikahan kami, kata adil dalam kamus saya adalah satu-satu, aksi-reaksi, jika saya bisa maka kamu juga seharusnya bisa, jika kamu tidak suka maka demikian juga saya… Dan pertanyaaan yang sering muncul di kepala saya adalah : “Mengapa seorang suami boleh pergi begitu saja, sedangkan istri haram langkahnya tanpa izin suami?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa seorang suami pulang kerja bisa dengan leluasa pergi hang out dulu, sedangkan istri harus buru-buru pulang untuk mengurus anak dan rumah? Dan berbagai kata “Mengapa” bermunculan saat saya mempelajari dengan setengah hati bagaimana menjadi istri shalihah, sehingga yang saat itu muncul dalam pikiran saya adalah “betapa tidak adilnya Islam pada wanita”… Astaghfirullah… Semoga Allah mengampunkan prasangka buruk saya dulu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeni, jangan kamu lihat kekurangan suamimu… lihat kelebihannya saja…” nasehat Ibu kepada saya.&lt;br /&gt;“Yeni, belajarlah untuk ikhlas. Ikhlas berarti kamu bisa menerima semua kekurangan suami tanpa ada kata, ‘”tapi”. Jadikan pernikahan kamu sebagai ibadah…” ucapan seorang sahabat wanitayang sudah saya anggap kakak, mencoba mengetuk hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun kami lalui… Saya pun membuktikan bahwa berada di lingkungan yang positif mempengaruhi kita untuk berpikiran positif juga. Berada di lingkungan kerja dan lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi mahligai pernikahan membuat saya tidak gampang menyerah saat menemukan perbedaan prinsip dalam beberapa aspek kehidupan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wejangan tak putus dari Ibu saya, yang selalu meminta saya mengoreksi diri sendiri sebelum menyalahkan suami, membuat mata saya mulai terbuka, betapa saya pun tidak sempurna sebagai seorang pribadi, istri dan ibu. Jadi pantaskah jika saya menuntut suami saya berakhlak seperti Rasulullah jika saya sendiri tidak berakhlak seperti Ibu Khadijah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pribadi, saya terkadang dominan, karena terbiasa pendapat saya didengar dan dipertimbangkankan. Sebagai istri, saya masih kurang mengabdi (jauh sekali jika dibandingkan dengan pengabdian Ibu saya kepada Papa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ibu, di saat lelah saya terkadang menjadi kurang sabar. Masih banyak lagi kekurangan dan kesalahan yang pernah saya perbuat, yang mungkin jika saya tulis satu per satu akan membuat penuh lembaran buku dosa saya. Namun suami saya menerima hal itu, dan tidak melemparkan kritik sama sekali kecuali saya sudah keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mulai belajar menjadi “paranormal” - istilah saya untuk orang yang tau sesuatu tanpa diberitahu secara lisan dengan mulai mempelajari reaksi suami saya - expresi wajah, sorot mata, garis mulut, bahasa tubuhnya -dari berbagai kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mulai memahami, barulah saya menyadari, bahwa suami saya tidak mau mendebat saya dalam diskusi justru karena cinta, karena dia tidak ingin menyakiti hati saya dengan kata-kata… Tidak adanya kritikan dan protes kerasyang dia sampaikan atas sifat-sifat saya yang mungkin tidak berkenan di hatinya belum tentu karena dia tidak apa-apa, melainkan karena dia ingin saya berubah atas kesadaran saya sendiri, bukan karena terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya mengerti, bahwa dengan diamnya, suami saya menunjukkan toleransinya, dan dengan maaf yang dia berikan atas kesalahan-kesalahan yang saya perbuat, suami saya menunjukkan cintanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman pria di sekeliling saya dan teman-teman wanita disekeliling suami saya pun menjadi penguji kekuatan cinta kami… membuktikan bahwa cinta memang harus terus dipelihara, dipupuk dan diperjuangkan. Berpulangnya putri tercinta kami ke rahmatullah pun menjadi penguat cinta kami, sekaligus membuktikan bahwa kami memang benar-benar saling membutuhkan, kami butuh saling menguatkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai belajar untuk selalu memperbaiki diri, meskipun perlahan dan rasanya tidak akan pernah sepenuhnya berhasil jika mengingat tidak ada manusia yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But at least, saya terus berusaha, meski tidak mudah, dan dengan diiringi doa, tanpa meributkan siapa yang salah, mulai dari diri saya sendiri, dan tanpa menunggu apalagi meminta suami saya melakukan perubahan terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya Allah maha membolak-balikkan hati. Insya Allah, suami saya akan tergerak hatinya jika melihat saya sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri, dan bukan mustahil dia akan melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mulai belajar melihat kelebihan suami saya, mengingat semua hal yang dulu membuat saya jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kegigihannya mendapatkan cinta saya, meskipun dia tidak piawai menyatakannya dengan kata-kata pada usahanya memperjuangkan hubungan cintakami agar direstui kedua keluarga, pada rasa sayang dia kepada orang tua dan keluarga saya, pada waktu yang selalu dia luangkan untuk ikut kumpul bersama arisan keluarga saya, pada kemampuannya menjadi teman dan sahabat bagi saya dan bagi setiap anggota keluarga besar saya… pada usahanyayang tak kenal putus untuk membahagiakan saya meskipun dengan caranya sendiri.  Dan… masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah… ternyata sungguh banyak kelebihan suami saya jika saya berniat menggalinya, sehingga kekurangannya tidak lagi terasa berarti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga  tahun terakhir ini, saya mulai belajar melihat pernikahan saya sebagai ibadah. Bagaimana memahami dan mengurus suami serta mendidik anak merupakan ladang amalyang luas bagi seorang istri dan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat perjalanan yang cukup panjang, meskipun bukan mendapatkan pencerahan dari pengajian dan hanya merupakan visi saya, pribadi saya mulai memahami arti Allah menciptakan manusia berpasangan. Bukan hanya jenis kelamin, tapi juga sisi kelebihan dan kekurangannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dalam pernikahan kami, semua kekurangan suami saya lengkapi dengan kelebihan saya, sebagaimana dia melengkapi banyak kekurangan saya dengan kelebihannya. Terbayang oleh saya, jika suami saya mampu mengerjakan semuanya sendiri, untuk apa lagi ada saya? Pasti akan sangat menyedihkan menjadi orang yang tidak dibutuhkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat introspeksi diri yang panjang pula - karena saya hanya diberitahu tentang hadist mengenai haramnya langkah seorang istri tanpa izin suami tanpa penjelasan mengapa hal tersebut diharamkan dan riwayat diangkatnya ke surga seorang ibu yang memiliki putri yang tidak datang saat beliau meninggal karena belum mendapat izin dari suami yang sedang pergi keluar rumah - saya akhirnya mengambil hikmah pribadi betapa Rasulullah menganggap pentingnya komunikasi antar suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jika komunikasi suami dan istri sangat baik, suami istri saling memahami dan terbiasa berkompromi, rasanya tidak akan mungkin suami tidak memberikan izin langkah seorang istri selama disampaikan secara santun, untuk tujuan yang baik dan tidak mengabaikan tugas istri yang lebih utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun jadi berpikir, jika pergi keluar rumah tanpa izin suami tidak diharamkan, akankah saya berusaha mati-matian untuk mengenal, memahami dan berkomunikasi efektif dengan suami saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak, karena toh tidak berdosa saya jika saya pergi tanpa izinnya. Namun, karena hal tersebut diharamkan, yang berarti saya berdosa jika pergi keluar rumah tanpa izin, pastinya saya akan berusaha mencari jalan bagaimana agar halal langkah saya, agar tidak bertambah buku dosa saya. Akibat usaha tersebut, suami saya pun benar-benar menjadi belahan jiwa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya pun harus mengakui betapa adilnya Islam terhadap wanita… Karena meskipun terasa berat tugas dan tanggung jawab seorang istri di dunia dalam pandangan masyarakat kita, namun di akhirat nanti dia hanya menanggung dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan meskipun terlihat enak menjadi suami di dunia dalam pandangan masyarakat kita, namun di akhirat justru paling berat tanggung jawabnya karena suami berkewajiban membimbing anggota keluarganya - istri dan anak-anaknya - sehingga baik buruknya akhlak istri dan anak-anak tidak lepas dari tanggung jawab suami pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun begitu banyaknya ladang amal bagi seorang wanita. Melahirkan sebagai jihad, mengurus suami dan anak sebagai jihad… sedangkan laki-laki harus pergi keluar untuk membela agama dulu baru terhitung jihad …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya hidup di dunia hanya sementara kan? Jadi, mengapa seolah hidup hanya mempermasalahkan beban berat seorang istri di dunia sedangkan di depan mata terhampar ladang amal yang luas untuk bekal hidup di akhirat kelak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebenarnya perjuangan saya akan lebih sederhana jika saya datang kepada ahli agama. Karena semua aturan dan bagaimana hubungan yang baik dalam rumah tangga, sudah di riwayatkan melalui contoh-contoh dalam hadist Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena segala keterbatasan diri saya, saya harus menempuh jalan yang panjang, dengan jatuh bangun pula… Bagaimanapun sulitnya, alhamdulillah, semua itu saya anggap sebagai sarana pendewasaan diri saya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tiga tahun yang lalu, Alhamdulillah, saya telah belajar untuk ikhlas… Mengurus rumah tangga dan mendidik anak pun sudah menjadi suatu kenikmatan bagi saya, semula hanya karena mengingat nilai ibadahnya, dan akhirnya juga karena bahagia mengerjakan prosesnya dan melihat hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, jika ada tugas rumah tangga yang saya kerjakan yang seharusnya merupakan porsi tugas suami, saya terkadang berkata, “Saya ikhlas kog mengerjakannya, tapi kan seharusnya suami saya bisa mengerjakan itu…” (yang benar kata sahabat wanita saya bahwa adanya kata Tapi itu pertanda jauh di dalam lubuk hati saya belum ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Alhamdulillah, jika ada yang bertanya, saya sudah bisa hanya berkata, “Ya, saya ikhlas mengerjakannya.”, sambil tersenyum pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini saya persembahkan untukmu, Ahmad Fahly Riza, suami tercinta, yang saya berikan lebih awal dengan niat sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita yang ke 11 di tanggal 11 Oktober 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tulis ini sebagai perwujudan cinta dan rasa syukur saya karena memiliki suami yang pemaaf dan penuh cinta… suami yang karena karakternya membuat saya belajar banyak untuk dunia dan akhirat saya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun mungkin kelak masih akan ada ujian dari Allah bagi cinta kita - semoga Allah selalu menyelamatkan bahtera rumah tangga kita - saat ini izinkan saya nyatakan pada dunia bahwa saya mencintaimu seutuhnya, karena Allah semata…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan ini bisa menjadi manfaat bagi semua yang membaca, terutama bagi yang akan menikah, bahwa memasuki ambang pernikahan bukan dengan niat utama untuk ibadah akan menghasilkan banyak kekecewaan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun, bagi yang sudah dan masih menikah, tidak ada kata terlambat untuk mulai menjadikan pernikahan sebagai sarana menuju surga disamping sebagai surga dunia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 8 Oktober 2009&lt;br /&gt;Yeni Suryasusanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.eramuslim.com/oase-iman/pernikahan-saya-sebuah-media-untuk-mengasah-kemampuan-berkomunikasi-dan-kompromi-menguji-cinta-dan-keikhlasan-serta-sarana-perbaikan-diri-dan-ibadah.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-4015955901048175447?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/4015955901048175447/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=4015955901048175447' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/4015955901048175447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/4015955901048175447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/menguji-cinta-dan-keikhlasan.html' title='MENGUJI CINTA DAN KEIKHLASAN'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-6382047083430456369</id><published>2010-01-06T09:15:00.001-08:00</published><updated>2010-01-06T09:15:41.014-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ETOS KERJA'/><title type='text'>Bagaimana Cara Mempengaruhi</title><content type='html'>Persuasi adalah cara untuk menanamkan pemikiran dan kesan kepada seseorang dengan maksud menimbulkan reaksi yang diharapkan. Definisi lain menyebutkan cara berkomunikasi untuk menanamkan kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persuasi atau mempengaruhi orang lain sekarang banyak dipelajari karena makin berkembangnya metode pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert B. Cialdini, dalam bukunya yang terkenal di dunia marketing Influence : The Psychology of Persuasion menyebutkan ada 6 senjata pengaruh yang bisa digunakan untuk menimbulkan pengaruh terhadap seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Reciprocation. Balas jasa, atau dalam terminologi negatifnya bisa balas dendam. Orang cenderung terdorong untuk membalas pemberian seseorang. Hal ini berlaku juga dengan konotasi negatif, orang cenderung akan membalas perbuatan jahat di masa lampau. Konsep ini sangat terkenal di dunia marketing, contoh nyatanya adalah pembagian free sample, kegiatan amal dll.&lt;br /&gt;2. Commitment and consistency. Jika orang melakukan komitmen baik lisan maupun dalam tulisan, mereka cenderung ingin memenuhinya. Selanjutnya, orang akan cenderung tetap konsisten dengan perilaku ini. Terkadang pada saat motivasi mereka untuk komitmen ini sudah tidak ada.&lt;br /&gt;3. Social Proof. Orang akan melakukan apa yang dilakukan orang lain. Semacam trend. Kita cenderung untuk ikut.&lt;br /&gt;4. Authority. Kekuasaan, tentu saja ini punya pengaruh tertentu. Biasanya figur yang berkuasa, akan mudah mempunyai pengaruh untuk ditaati.&lt;br /&gt;5. Liking. Rasa suka, orang yang kita sukai akan lebih mudah kita ikuti. Akan lebih mudah mempengaruhi perilaku kita.&lt;br /&gt;6. Scarcity. Langka, jarang terjadi, biasanya mempengaruhi kita mendesak untuk melakukan sesuatu. Misalnya tawaran discount dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah dengan 6 senjata ini, dan tidak harus semuanya tentu saja, kita bisa memberikan pengaruh tertentu pada seseorang. Tentu saja pengaruh tidak berjalan linier sebagaimana yang diharapkan. Kita mungkin bisa melihat perilaku kelompok yang cenderung sama tapi pengaruh terhadap masing-masing pribadi sangat berlainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor internal orang yang menangkap pengaruh juga akan menjadikan langkah seseorang dalam menyikapi pengaruh tadi tidak sama. Ary Ginanjar Agustian – pengarang buku ESQ – membuat daftar yang bagus tentang faktor-faktor internal yang bisa mempengaruhi bagaimana seseorang melihat kondisi dan menyikapi hal tertentu. Hal-hal tersebut antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Prasangka. Baik dan buruk suatu prasangka akan mempengaruhi pola pikir, sikap dan akhrnya perilaku atau tindakan yang kita ambil.&lt;br /&gt;2. Prinsip-prinsip hidup. Apakah itu merupakan pencerahan sendiri ataupun merupakan replikasi dari contoh-contoh tertentu, biasanya akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana seorang&lt;br /&gt;3. Pengalaman. Orang-orangtua di organisasi biasanya lebih sering berkata “dulu kita akan begini” atau “yang lalu biasanya begini” pada saat ada perubahan.&lt;br /&gt;4. Kepentingan dan Prioritas. Kebutuhan seseorang akan sesuatu, terutama yang mendesak untuk didapatkannya akan sangat mempengaruhi bagaimana dia bertindak.&lt;br /&gt;5. Sudut Pandang. Kadang-kadang satu hal bisa tidak sama dilihat dari berbagai sudut pandang. Tergantung bagaimana, dimana, kondisi tertentu kita melihat suatu perilaku akan mempengaruhi bagaimana suatu kejadian kita interpretasikan.&lt;br /&gt;6. Pembanding. Seorang dengan tinggi badan 165cm bisa disebut pendek bila berada di sebelah orang yang tingginya 185. Tapi di sebelah orang-orang yang tingginya 135 dia akan terlihat jangkung. :-)&lt;br /&gt;7. Literatur. Pengetahuan dan bahan bacaan sangat mempengaruhi bagaimana kita bisa terekspos oleh hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bagaimana kita bisa menerapkan senjata-senjata dan melihat faktor-faktor yang mungkin dianut atau dimiliki oleh seseorang, sekelompok atau dalam suatu organisasi akan sangat menentukan bagaimana kita bisa memberikan pengaruh dan membuat orang lain bertindak lebih sesuai dengan yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ambil dari  : http://draguscn.wordpress.com/2009/03/23/bagaimana-cara-mempengaruhi/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-6382047083430456369?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/6382047083430456369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=6382047083430456369' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/6382047083430456369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/6382047083430456369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/bagaimana-cara-mempengaruhi.html' title='Bagaimana Cara Mempengaruhi'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-7450312945070306497</id><published>2010-01-06T09:09:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T09:10:19.713-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAK'/><title type='text'>OBAT TERSINGGUNG DAN SAKIT HATI</title><content type='html'>Salah satu penyebab kita bertengkar dan saling hentam- menghentam kerana kita tidak tahan terhadap perilaku orang kepada kita, yang akhirnya menyebabkan tersinggung dan bila sudah tersinggung biasanya sibuk bela diri , lalu tingkatan selanjutnya memikirkan kejelekan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus latihan tidak mudah tersinggung, kerana tidak jarang kita bisa berbicara tapi ketika tersinggung tabungan amal kita habis kerana marah , sekali marah mata terbelalak…..kata-kata seperti pisau mengiris, kadang seperti palu menghentam belum lagi tanganbisa bermain, kaki bisa memaki, banyak pahala yang kita kumpulkan hilang gara-gara kita tidak tahan menghadapi singgungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa orang tersinggung? Orang tersinggung kerana menilai dirinya lebih dari kenyataan , merasa pintar, merasa berjasa, merasa soleh, merasa tampan, merasa sukses, setiap kalikita terus menilai diri kita lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kurang sedikit saja ,……..langsung akan tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi memang ada sesuatu yang harus kita perbaiki iaitu kemahiran menilai diri , kita biasanya membuka peluang tersinggung kerana kita salah dalam menilai diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah jangan menilai lebih kepada diri kita ; jangan banyak mengingat-ingat bahawa saya telah berjasa,saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat ,kerana makin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita itulah yang membuat kita makin tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus dalam hal ini dalam kaitan supaya tidak mudah tersinggung, misalkan kalau kita sarjana lupakan kesarjanaan kita, atau kita seorang pengarah lupakan jabatan kita, kalau kita ustaz lupakan ustaz kita,kalau kita seorang pimpinan lupakan , kalau kita seorang terkenal lupakan, kalau kita seorang kaya lupakan ,anggap semuanya ini amanah, dalam kaitan agar kita tidak tamak kepada penghargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sudah tidak tamak itu akan lebih ringan, kita harus melatih diri kita untuk hanya merasa sekadar hamba ALLAH yang tidak memiliki apa-apa kecuali ilmu yang dipercikan oleh ALLAH sedikit, lebih banyak tidak tahu,kita tidak punya harta sedikitpun kecuali sepercik titipan ALLAH ,kita tidak punya jabatan ataupun kedudukan sedikitpun kecuali sepercik yang ALLAH amanahkan.Dengan merasa hanya sekadar hamba ALLAH maka akan ringan hidup kita ini, kerana makin ingin dihargai, makin ingin dipuji, makin ingin dihormati, akan makin sering sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik yang kedua adalah kita harus melihat bahawa apapun yang dilakukan orang kepada kita itu bermanfaat kalau kita dapat menyikapi dengan sikap yang tepat. Seperti teori lempar kucing ,katanya kalau kucing dilempar batu, maka kucing itu lebih sibuk orang yang melempar daripada melihat batunya. Kita ini tidak akan rugi dengan perilaku orang kepada kita kalau kita menyikapinya dengan sikap yang tepat , yang rugi itu adalah ketika kita salah menyikapi kejadian, dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mampu kita lakukan adalah memaksa diri kita menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita.Orang berkata apapun kepada kita itu terjadi dengan izin ALLAH , anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepadaorang-orang yang sabar (QS : 2 ; 155)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “(Iaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah , mereka mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (QS : 2 ; 156)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS : 2 ; 157)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik yang ketiga adalah kita harus mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita, kalau tidak ingin mudah tersinggung caranya cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Maksudnya adalah supaya kita tidak mudah menyebabkan emosi dan tersinggung. Harus diingat seribu satu alasan yang kita buat dilakukan untuk memaklumi bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik yang keempat adalah jadikan ladang peningkatan kualiti diri , jadi ketika menghadapi penghinaan itu sebuah kesempatan, pokoknya penghinaan, perilaku buruk orang kepada kita menjadi ladang bagi kita untuk mengamalkan sifat mulia iaitu memaafkan orang yang menyakiti , membalas keburukan dengan kebaikan. Episode disakiti adalah episode peningkatan maqam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :http://silakanterpesona.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-7450312945070306497?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/7450312945070306497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=7450312945070306497' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7450312945070306497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7450312945070306497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/obat-tersinggung-dan-sakit-hati.html' title='OBAT TERSINGGUNG DAN SAKIT HATI'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-1514049887487768717</id><published>2010-01-06T09:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T09:08:04.042-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAK'/><title type='text'>CARA TIDUR SEORANG MUSLIM</title><content type='html'>Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (QS. Ar Rum : 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat” (QS. An Nabaa’ : 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yaitu termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya, Allah menjadikan sifat tidur bagi kalian di waktu malam dan siang. Dengan tidur, ketenangan dan rasa lapang dapat tercapai rasa lelah dan kepenatan dapat hilang” (Tafsir Ibnu Katsir III/402)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa adab tidur seorang muslim yang dikerjakan oleh Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, berwudhu sebelum tidur. Dari Bara’ bin ‘Azib radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idzaa atayta madhja’aka fatawadhdha’ wudhuunaka lish-shalaaH” yang artinya “Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk shalat” (HR. al Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam an Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini berisi anjuran untuk berwudhu ketika hendak tidur. Apabila seseorang telah mempunyai wudhu, maka hal itu telah mencukupinya, karena maksud dari itu semua adalah tidur dalam keadaan suci khawatir maut menjemputnya seketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud yang lainnya, dengan berwudhu dapat menjauhkan diri dari gangguan setan dan perasaan takut ketika tidur” (Syarah Shahiih Muslim XVII/197)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, membersihkan (mengebuti) tempat tidur. Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang diantara kalian hendak tidur maka kebutilah tempat tidurnya dengan ujung sarungnya, karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang akan menimpanya” (HR. al Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, membaca surat al Ikhlas, al Falaq dan an Naas. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallaHu ‘anHa, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adalah Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam apabila hendak tidur beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya seraya membaca surat al Ikhlas, al Falaq dan an Naas. Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya ke bagian tubuhyang bisa diusap. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian tubuh lainnya sebanyak tiga kali” (HR. al Bukhari no. 5017, Abu Dawud no. 5056 dan at Tirmidzi no. 3406)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, tidur dengan berbaring ke sisi kanan. Dari Bara’ bin ‘Azib radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idzaa atayta madhja’aka fatawadhdha’ wudhuunaka lish-shalaaH, tsummadh thaji’ ‘alaa syiq-qikal ayman” yang artinya “Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk shalat, kemudian berbaringlah ke sebelah kanan” (HR. al Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah rahimahullaH berkata, “Adalah Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam tidur dengan berbaring ke kanan dan beliau meletakkan tangannyayang kanan di bawah pipinya yang kanan” (Zaadul Ma’aad I/150)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Jauzi rahimahullaH berkata, “Keadaan tidur seperti ini sebagaimana ditegaskan oleh pakar pengobatan, adalah keadaan (posisi)yang paling baik bagi tubuh” (Fathul Baari XI/132)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, membaca doa sebelum tidur. Dari Hudzaifah radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam hendak menuju pembaringannya untuk tidur, beliau berdoa, ‘AllaHumma bismika amuutu wa ahyaa (Yaa Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup kembali)’. Ketika bangun tidur, beliau berdoa, ‘AlhamdulillaHil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayHin nusyuur (Segala puji bagi Allahyang telah menghidupkan kami kembali setelah sebelumnya mematikan kami, dan hanya kepada-Nyalah kami akan kembali)’” (HR. al Bukhari, Abu Dawud, at Tirmidzi no. 3413 dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, tidak tidur setelah Shubuh. Suatu ketika ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaHu ‘anHu melihat anaknya sedang tidur di waktu Shubuh, kemudian beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangunlah !, Apakah engkau hendak tidur disaat rizki itu sedang dibagikan?” (Zaadul Ma’ad IV/221)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Tidur di waktu shubuh dapat mencegah rizki, karena pada waktu itu adalah waktu manusia mencari rizkinya. Waktu shubuh adalah waktu pembagian rizki. Maka, tidur pada waktu ini adalah dilarang kecuali apabila hal itu sangat dibutuhkan sekali. Tidur di waktu Shubuh membahayakan sekali bagi badan, dapat menyebabkan kemalasan dan lemah” (Zaadul Ma’ad IV/222)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, dibencinya tidur sebelum ‘Isya dan bercakap-cakap setelahnya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Barzah radhiyallaHu ‘anHu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahwasannya Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam membenci tidur sebelum ‘Isya’ dan bercakap-cakap setelahnya” (HR. al Bukhari no. 568 dan Muslim no. 647)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaH berkata, “Dibencinya tidur sebelum ‘Isya’ karena dapat melalaikan pelakunya dari shalat ‘Isya’ hingga keluar waktunya, adapun bercakap-cakap setelahnyayang tidak ada manfaatnya, dapat menyebabkan tidur hingga shalat Shubuh dan luput dari shalat malam” (Fathul Baarii I/278)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, dibencinya tidur dengan telungkup (tengkurap). Tikhfah al Ghifari radhiyallaHu ‘anHu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu ketika tatkala aku tidur di dalam mesjid, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku, sedangkan aku dalam keadaan tidur telungkup, lalu dia membangunkanku … seraya berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Qum, HadziHi dhaj’atun yubghidhallaH (Bangunlah ! Ini adalah bentuk tidur yang dibenci Allah)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku mengangkat kepalaku, ternyata beliau adalah Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam” (HR. at Tirmidzi no. 2768, Ibnu Majah no. 3723 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih Adabul Mufrad no. 905)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaraful Haqq al ‘Azhim Abadi berkata, “Berdasarkan hadits ini, bahwa tidur telungkup di atas perut adalah terlarang, dan itu adalah bentuk tidurnya setan” (‘Aunul Ma’buud XIII/261)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan, dilarang meletakkan sebelah kaki di atas sebelah kaki lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika salah seorang diantara kalian terlentang di atas punggungnya (tidur), maka janganlah menaruh salah satu kakinya di atas kaki yang lain” (HR. at Tirimdzi no. 2766, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah no. 1255)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Bacaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter dan Kepribadian Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, Imam at Tirmidzi, ditahqiq oleh Syaikh al Albani, Pustaka at Tibyan, Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat Tidur Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, Abu ‘Abdillah bin Luqman al Atsari, Media Tarbiyah, Bogor, Cetakan Pertama, Rabi’ul Awwal 1428 H/April 2007 M.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-1514049887487768717?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/1514049887487768717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=1514049887487768717' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/1514049887487768717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/1514049887487768717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/cara-tidur-seorang-muslim.html' title='CARA TIDUR SEORANG MUSLIM'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-7234968454156043667</id><published>2010-01-06T08:54:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T08:55:25.921-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ETOS KERJA'/><title type='text'>ETOS KERJA ORANG JEPANG</title><content type='html'>Bangsa Jepang merupakan bangsa yang kuat dan memiliki harga diri yang tinggi. Berikut ini rahasia dibalik Etos Kerja dan Budaya Kerja Bangsa Jepang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Jepang: masyarakat yang tidak peduli pada agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan ciri-ciri khusus masyarakat Jepang dibandingkan dengan masyarakat Indonesia. Perbedaan yang paling besar antara masyarakat Jepang dengan Indonesia adalah masyarakat Jepang tidak peduli pada agama.&lt;br /&gt;Dalam undang-undang dasar Jepang, pemerintah tidak boleh ikut campur dalam urusan agama. Dilarang keras memakai anggaran negara untuk hal-hal agama.&lt;br /&gt;Dalam pasal 20 tertulis bahwa semua lembaga agama tidak boleh diberi hak istimewa dari negara dan tidak boleh melaksanakan kekuatan politik, negara dan instansinya tidak boleh melakukan kegiatan agama dan pendidikan agama tertentu. Dan dalam pasal 89 tertulis bahwa uang negara tidak boleh dipakai untuk lembaga agama. ?&lt;br /&gt;Maka di Jepang tidak ada ruangan untuk sembahyang seperti mushala di instansi negara (termasuk sekolah), tidak ada Departmen Agama, tidak ada sekolah agama negara (seperti IAIN di Indonesia).&lt;br /&gt;Menurut beberapa penelitian, sekitar 70% orang Jepang menjawab tidak memeluk agama. Terutama, pemuda Jepang sangat tidak peduli agama. (Pada tahun 1996, mahasiswa yang mempercayai agama tertentu hanya 7.6%).&lt;br /&gt;Orang Jepang tidak peduli orang lain agamanya apa, dan kalau dia mempercayai agama tertentu, biasanya dia tidak suka memamerkan agamanya sendiri. Orang Jepang tidak ikut campur urusan pribadi orang lain, dan masalah agama dianggap sebagai urusan pribadi.&lt;br /&gt;Di Jepang pernah orang Kristen menjadi Perdana Menteri, namanya OHIRA Masayoshi, Masa jabatannya dari tahun 1978 sampai 1980. Memang jumlah orang Kristen cuma 1% dari penduduk Jepang, tapi sama sekali tidak menjadi masalah dan sama sekali tidak mempengaruhi kebijakannya. Hal itu tidak dikatakan karena toleransi padaagama, lebih tepat disebut karena ketidakpedulian orang Jepang pada agama. (Tetapi beberapa sekte tidak disukai banyak orang.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika orang Jepang tidak berdasar atas agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert N Bellah, menerbitkan buku berjudul Tokugawa Religion: The Cultural Roots of Modern Japan (1957) menganalisis kemajuan Jepang berdasar teori Max Weber yaitu Die Protestantische Ethik und der “Geist” des Kapitalismus (1905), menjelaskan peranan nilai agama pramodern itu dalam proses modernisasi. Tetapi menurut saya teori Bellah ini sangat diragukan. Bellah mengatakan ajaran “Sekimon shingaku” (Ilmu moral oleh ISHIDA Baigan) itu memerankan sebagai etos untuk modernisasi ekonomi. Selain itu, adayang menilai ajaran salah satu sekte Buddha Jepang Jodo Shinshu sebagai etos seperti Protestan. Tentu saja ajaran-ajaran itu mementingkan kerja keras, mirip dengan ajaran Puritanisme (memang Islam juga). Di Jepang modernisasi di dalam bidang ekonomi dilakukan oleh pemerintah Meiji. Ideologi pemerintah Jepang adalah Shinto versi negara. Jadi, teori Max Weber tidak bisa diterapkan kepada Jepang. Di Jepang tidak adaagama yang mendorong proses kapitalisme.&lt;br /&gt;Jepang dipenuhi dengan porno, dilimpah dengan tempat judi, orang Jepang suka sekali minum minuman keras. Tetapi pada umumnya orang Jepang masih berdisiplin, bekerja keras, masyarakat Jepang sedikit korupsi, lebih makmur, tertib, efisien, bersih dan aman (setidak-tidaknya tidak terjadi konflik antaragama) daripada Indonesia. Bagi orang Jepang, porno, judi, minuman keras, semua hanya sarana hiburan saja untuk menghilangkan stres. Kebanyakan orang Jepang tidak sampai adiksi/kecanduan.&lt;br /&gt;Kalau begitu, etika orang Jepang berdasar atas apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika orang Jepang: etika demi komunitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika orang Jepang itu, tujuan utamanya membentuk hubungan baik di dalam komunitas. Kebesaran komunitas bergantung pada situasi dan zaman. Negara, desa, keluarga, perusahaan, pabrik, kantor, sekolah, partai, kelompokagama, tim sepak bola dll, bentuknya apapun, orang Jepang mementingkan komunitas termasuk diri sendiri. Sesudah Restorasi Meiji, pemerintah Meiji sangat menekankan kesetiaan pada negara. Sesudah perang dunia kedua, objek kesetiaanorang Jepang beralih pada perusahaan.&lt;br /&gt;Tindakan pribadi dinilai oleh mendorong atau merusak rukun komunitas. Maka misalnya minum minuman keras juga tidak dimasalahkan, bahkan minum bersama diwajibkan untuk mendorong rukun komunitas.&lt;br /&gt;Ajaran agama juga digunakan untuk memperkuat etika komunitas ini. Sedangkan Semitic monoteisme (agama Yahudi, Kristen dan Islam) mengutamakan Allah daripada komunitas, dan memisahkan seorang sebagai diri sendiri dari komunitas. Jadi Pemerintahan Tokugawa melarang Kristen. Tentu saja agama Buddha juga mengutamakan Kebenaran Darma daripada komunitas, tetapi ajaran sisi seperti itu ditindas. Sementara Konfusianisme sengat cocok dengan etika demi komunitas ini.&lt;br /&gt;Tetapi, orang Jepang tidak mengorbankan sendiri tanpa syarat demi komunitas. Hal ini jelas terutama di dalam etos kerja orang Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;? Etos kerja dan budaya kerja orang Jepang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah perang dunia kedua, perusahaan Jepang yang besar membentuk 3 sistem.&lt;br /&gt;yaitu, (1). Sistem ketenagakerjaan sepanjang hidup, yakni perusahaan biasanya tidak putus hubungan kerja. (2). Sistem kenaikan gaji sejajar umur, yakni perusahaan menaikan gaji pekerjanya tergantung umur mereka. (3). Serikat pekerjayang diorganisasi menurut perusahaan, yakni, berbeda dengan pekerja yang diorganisasi menurut jenis kerja, semua pekerja sebuah perusahaan, jenis kerja apapun, diorganisasi satu serikat pekerja. Oleh ketiga sistem ini, pekerja menganggap kuatdiri sendiri anggota perusahaannya dan merasa kesetiaan kepada perusahaannya. Di atas ketiga sistem ini, etos kerja dan budaya kerjaorang Jepang berkembang. Kenyataannya, ketiga sistem ini dibentuk hanya di perusahaan besar, tidak ada di perusahaan kecil. Tetapi ketiga sistem ini menjadi teladan bagi perusahaan kecil juga.&lt;br /&gt;Ciri-ciri etos kerja dan budaya kerja orang Jepang adalah,&lt;br /&gt;1. Bekerja untuk kesenangan, bukan untuk gaji saja.&lt;br /&gt;Tentu saja orang Jepang juga tidak bekerja tanpa gaji atau dengan gaji yang rendah. Tetapi kalau gajinya lumayan, orang Jepang bekerja untuk kesenangan. Jika ditanya “Seandainya anda menjadi milyuner dan tidak usah bekerja, anda berhenti bekerja ?”, kebanyakanorang Jepang menjawab, “Saya tidak berhenti, terus bekerja.” Bagi orang Jepang kerja itu seperti permainan yang bermain bersama dengan kawan yang akrab. Biasanya di Jepang kerja dilakukan oleh satu tim. Dia ingin berhasil dalam permainan ini, dan ingin menaikkan kemampuan diri sendiri. Dan bagi dia kawan-kawan yang saling mempercayai sangat penting. Karena permainan terlalu menarik, dia kadang-kadang lupa pulang ke rumah. Fenomena ini disebut “work holic” olehorang asing. 2. mendewakan langganan&lt;br /&gt;Memang melanggar ajaran Islam, etos kerja orang Jepang mendewakan client/langganan sebagai Tuhan. “Okyaku sama ha kamisama desu.” (Langganan adalah Tuhan.) Kata itu dikenal semuaorang Jepang. Kata ini sudah motto bisinis Jepang. Perusahaan Jepang berusaha mewujudkan permintaan dari langganan sedapat mungkin, dan berusaha berkembangkan hubungan erat dan panjang dengan langganan.&lt;br /&gt;3. bisnis adalah perang&lt;br /&gt;Orang Jepang yang di dunia bisnis menganggap bisnis sebagai perang yang melawan dengan perusahaan lain. Orang Jepang suka membaca buku ajaran Sun Tzu (??) untuk belajar strategis bisnis. Sun Tzu adalah sebuah buku ilmu militer Tiongkok kuno, pada abad 4 sebelum masehi. Sun Tzu itu suka dibaca oleh baik samurai dulu maupun orang bisinis sekarang. Untuk menang perang, perlu strategis dan pandangan jangka panjang. Budaya bisinis Jepang lebih mementingkan keuntungan jangka panjang. Supaya menang perang seharusnya diadakan persiapan lengkap untuk bertempur setenaga kuat. Semuaorang Jepang tahu pribahasa “Hara ga hette ha ikusa ha dekinu.” (Kalau lapar tidak bisa bertempur.) Oleh karena itu orang Jepang tidak akan pernah menerima kebiasaan puasa. Bagi orang Jepang, untuk bekerja harus makan dan mempersiapkan kondisi lengkap. Tentu saja di medang perang,&lt;br /&gt;kedisiplinan paling penting. Dalam buku Sun Tzu untuk mengajar kedisiplinan dilakukan cara yang sangat kejam. Tetapi sekarang disiplin diajarkan di sekolah dasar. Pendidikan di sekolah sangat penting. Masuk sekolah setiap hari tidak terlambat, ikut pelajaran secara rajin, hal-hal itu dasar disiplin untuk kerja di dunia bisinis. Pada setelah Restorasi Meiji, pendidikan disiplin di sekolah dasar lebih berguna untuk berkembang kapitalisme daripada ajaranagama apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Introduksi “performance-paid system” dan gagalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak runtuhnya ekonomi Jepang pada awal 1990-an, banyak perusahaan Jepang memPHK secara massal.&lt;br /&gt;Mereka mengintroduksi sistem gaya Amerika, yakni performance-paid system pada tahun 1990-an untuk mengirit biaya tenaga kerja. Sistem ini gajinya dibayar menurut hasil kerjanya. Tetapi sistem ini merusakkan team work di dalam perusahaan dan menghilangkan kesetiaan pekerja pada perusahaannya. Rupanya bagi orang Jepang, gajinya tidak menjadi motivasi kuat. Mungkin performance-paid system dicabut lagi dan direkonstruksi sistem yang tradisional. Etos kerja dan budaya kerja Jepang mungkin tidak begitu berubah.&lt;br /&gt;Tetapi perusahaan Jepang memilih menjadi lebih langsing dan ringan. Pekerja tetap menjadi terbatas, kebanyakan pekerja adalah yang non tetap. Etos kerja pekerja non tetap ada kemungkinan berubah drastis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-7234968454156043667?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/7234968454156043667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=7234968454156043667' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7234968454156043667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7234968454156043667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/etos-kerja-orang-jepang.html' title='ETOS KERJA ORANG JEPANG'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-4059346717756988624</id><published>2010-01-06T08:51:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T08:52:00.223-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ETOS KERJA'/><title type='text'></title><content type='html'>Etos kerja dalam Islam&lt;br /&gt;Monday, 07 December 2009 00:03 Cliping&lt;br /&gt;PDF&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Qur’an menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah, dan menempuh jalan menuju ridha-Nya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain. Dengan tertanamnya kesadaran ini, seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. Semboyangnya adalah “tiada waktu tanpa kerja, tiada waktu tanpa amal.’  Adapun agar nilai ibadahnya tidak luntur, maka perangkat kualitas etik kerja yang Islami harus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Ash-Shalah (Baik dan Bermanfaat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pesan iman yang membawa manusia kepada orientasi nilai dan kualitas. Al Qur’an menggandengkan iman dengan amal soleh sebanyak 77 kali. Pekerjaan yang standar adalah pekerjaan yang bermanfaat bagi individu dan masyarakat, secara material dan moral-spiritual. Tolok ukurnya adalah pesan syariah yang semata-mata merupakan rahmat bagi manusia. Jika tidak diketahui adanya pesan khusus dari agama, maka seseorang harus memperhatikan pengakuan umum bahwa sesuatu itu bermanfaat, dan berkonsultasi kepada orang yang lebih tahu. Jika hal ini pun tidak dilakukan, minimal kembali kepada pertimbangan akal sehat yang didukung secara nurani yang sejuk, lebih-lebih jika dilakukan melalui media shalat meminta petunjuk (istikharah). Dengan prosedur ini, seorang muslim tidak perlu bingung atau ragu dalam memilih suatu pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Al-Itqan (Kemantapan atau perfectness)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88). Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan, yakni mencapai standar ideal secara teknis. Untuk itu, diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. Dalam konteks ini, Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Suatu keterampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang, akibat meninggalkan latihan, padahal manfaatnya besar untuk masyarakat. Karena itu, melepas atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa. Konsep itqan memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas, tetapi berkualitas, daripada output yang banyak, tetapi kurang bermutu (al-Baqarah: 263).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al-Ihsan (Melakukan yang Terbaik atau Lebih Baik Lagi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan. Dengan makna pertama ini, maka pengertian ihsan sama dengan ‘itqan’. Pesan yang dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ihsan mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terus-menerus, seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan sumber daya  lainnya. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini menurun dari hari kemarin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi saw. Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain. Bahkan, idealnya ia tetap berbuat yang lebih baik, hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat :34, dan an Naml: 125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat kerja yang ihsan ini akan dimiliki manakala seseorang bekerja dengan semangat ibadah, dan dengan kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Al-Mujahadah (Kerja Keras dan Optimal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an meletakkan kulaitas mujahadah dalam bekerja pada konteks manfaatnya, yaitu untuk kebaikan manusia sendiri, dan agar   nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. (Ali Imran: 142, al-Maidah: 35, al-Hajj: 77, al-Furqan: 25,  dan al-Ankabut: 69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh ma fil wus’i”, yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum ‘taskhir’, yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33). Tinggal peran manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendaya gunakannya secara optimal, dalam rangka melaksanakan apa yang Allah ridhai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermujahadah atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159, Hud: 133).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5. Tanafus dan Ta’awun (Berkompetisi dan Tolong-menolong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar” atau perintah. Ada perintah “fastabiqul khairat” (maka, berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108). Begitu pula perintah “wasari’u ilaa magfirain min Rabbikum wajannah” `bersegeralah lamu sekalian menuju ampunan Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan infaq, pengendalian emosi, pemberian maaf, berbuat kebajikan, dan bersegera bertaubat kepada Allah (Ali Imran 133-135). Kita dapati pula dalam ungkapan “tanafus” untuk menjadi hamba yang gemar berbuat kebajikan, sehingga berhak mendapatkan surga, tempat segala kenikmatan (al-Muthaffifin: 22-26). Dinyatakan pula dalam konteks persaingan dan ketaqwaan, sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang paling taqwa (al Hujurat: 13). Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan dalam kualitas kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena dasar semangat dalam kompetisi islami adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah serta amal shalih, maka wajah persaingan itu tidaklah seram; saling mengalahkan atau mengorbankan. Akan tetapi, untuk saling membantu (ta’awun). Dengan demikian, obyek kompetisi dan kooperasi tidak berbeda, yaitu kebaikan dalam garis horizontal dan ketaqwaan dalam garis vertikal (al-Maidah: 3), sehingga orang yang lebih banyak membantu dimungkinkan amalnya lebih banyak serta lebih baik, dan karenanya, ia mengungguli score kebajikan yang diraih saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mencermati Nilai Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan atau pun kerugian manusia banyak ditentukan oleh sikapnya terhadap waktu. Sikap imani adalah sikap yang menghargai waktu sebagai karunia Ilahi yang wajib disyukuri. Hal ini dilakukan dengan cara mengisinya dengan amal solih, sekaligus waktu itu pun merupakan amanat yang tidak boleh disia-siakan. Sebaliknya, sikap ingkar adalah cenderung mengutuk waktu dan menyia-nyiakannya. Waktu adalah sumpah Allah dalam beberapa ayat kitab suci-Nya yang mengaitkannya dengan nasib baik atau buruk yang akan menimpa manusia, akibat tingkah lakunya sendiri. Semua macam pekerjaan ubudiyah (ibadah vertikal) telah ditentukan waktunya dan disesuaikan dengan kesibukan dalam hidup ini. Kemudian, terpulang kepada manusia itu sendiri: apakah mau melaksanakannya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip al-Qardhawi dalam bukunya “Qimatul waqti fil Islam”: waktu adalah hidup itu sendiri, maka jangan sekali-kali engkau sia-siakan, sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak berfaidah. Setiap orang akan mempertanggung jawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian, seperti gemar menangguhkan atau mengukur waktu, yang berarti menghilangkan kesempatan. Namun, kemudian ia mengkambing hitamkan waktu saat ia merugi, sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja, maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa al-Asy’ari ra, sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid, ”Amma ba’du. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh karena itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai.” (Kitab al-Amwal, 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari beranda.blogsome.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-4059346717756988624?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/4059346717756988624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=4059346717756988624' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/4059346717756988624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/4059346717756988624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/etos-kerja-dalam-islam-monday-07.html' title=''/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-1139632778562444443</id><published>2010-01-06T08:48:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T08:49:07.386-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ETOS KERJA'/><title type='text'>Etos kerja dalam Islam</title><content type='html'>I. Mukaddimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Qur’an, dan Dia tidak membuat sesuatu yang tidak lurus di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan (manusia) akan siksa yang pedih dari Allah dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman, yang mengerjakan  amal soleh, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik. Mereka (akan menikmati kehidupan sorga)  kekal di dalamnya untuk selamanya”(al-Kahfi:1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an adalah pedoman begi manusia yang ingin memilih jalan kebenaran daripada jalan kesesatan (al-Baqarah :185), pembimbing (guidance) untuk membina ketakwaan (al-Baqarah: 2). Namun, hidup yang taqwa bukan semata harapan atau angan-angan untuk meraih kebahagiaan, tetapi merupakan medan dan cara kerja yang sebaik-baiknya untuk merealisasikan kehidupan yang berjaya di dunia dan memperoleh balasan yang lebih baik lagi di akhirat (an-Nahl: 97).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja adalah kodrat hidup, baik kehidupan spiritual, intelektual, fisik biologis, maupun kehidupan individual dan sosial dalam berbagai bidang (al-Mulk: 2). Seseorang layak untuk mendapatkan predikat yang terpuji seperti potensial, aktif, dinamis, produktif atau profesional, semata-mata karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar “hidup”, dalam kehidupan ini ia memerlukan ruh (spirit). Untuk ini, Al Qur’an diturunkan sebagai “ruhan min amrina”, yakni spirit hidup ciptaan Allah, sekaligus sebagai “nur” (cahaya) yang tak kunjung padam, agar aktivitas hidup manusia tidak tersesat (asy-Syura: 52).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Pembahasan&lt;br /&gt;A. Posisi Kerja dalam Kitabullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an menyebut kerja dengan berbagai terminologi. Al-Qur’an menyebutnya sebagai “amalun”, terdapat tidak kurang dari 260 musytaqqat (derivatnya), mencakup pekerjaan lahiriah dan batiniah. Disebut “fi’lun” dalam sekitar 99 derivatnya, dengan konotasi pada pekerjaan lahiriah. Disebut dengan kata “shun’un”, tidak kurang dari 17 derivat, dengan penekanan makna pada pekerjaan yang menghasilkan keluaran (output) yang bersifat fisik. Disebut juga dengan kata “taqdimun”, dalam 16 derivatnya, yang mempunyai penekanan makna pada investasi untuk kebahagiaan hari esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan yang dicintai Allah SWT adalah yang berkualitas. Untuk menjelaskannya, Al Qur’an mempergunakan empat istilah: “Amal Shalih”, tak kurang dari 77 kali; ‘amal yang “Ihsan”, lebih dari 20 kali; ‘amal yang “Itqan”, disebut 1 kali; dan ”al-Birr”, disebut 6 kali. Pengungkapannya kadang dengan bahasa perintah, kadang dengan bahasa anjuran. Pada sisi lain, dijelaskan juga pekerjaan yang buruk dengan akibatnya yang buruk pula dalam beberapa istilah yang bervariasi. Sebagai contoh, disebutnya sebagai perbuatan syaitan (al-Maidah: 90, al-Qashash:15), perbuatan yang sia-sia (Ali Imran: 22, al-Furqaan: 23), pekerjaan yang bercampur dengan keburukan (at-Taubah:102), pekerjaan kamuflase yang nampak baik, tetapi isinya buruk (an-Naml:4, Fusshilat: 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an sebagai pedoman kerja kebaikan, kerja ibadah, kerja taqwa atau amal shalih, memandang kerja sebagai kodrat hidup. Al-Qur’an menegaskan bahwa hidup ini untuk ibadah (adz-Dzariat: 56). Maka, kerja dengan sendirinya adalah ibadah, dan ibadah hanya dapat direalisasikan dengan kerja dalam segala manifestasinya (al-Hajj: 77-78, al-Baqarah:177).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kerja adalah ibadah dan status hukum ibadah pada dasarnya adalah wajib, maka status hukum bekerja pada dasarnya juga wajib. Kewajiban ini pada dasarnya bersifat individual, atau fardhu ‘ain, yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Hal ini berhubungan langsung dengan pertanggung jawaban amal yang juga bersifat individual, dimana individulah yang kelak akan mempertanggung jawabkan amal masing-masing. Untuk pekerjaan yang langsung memasuki wilayah kepentingan umum, kewajiban menunaikannya bersifat kolektif atau sosial, yang disebut dengan fardhu kifayah, sehingga lebih menjamin terealisasikannya kepentingan umum tersebut. Namun, posisi individu dalam konteks kewajiban sosial ini tetap sentral. Setiap orang wajib memberikan kontribusi dan partisipasinya sesuai kapasitas masing-masing, dan tidak ada toleransi hingga tercapai tingkat kecukupan (kifayah) dalam ukuran kepentingan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat pokok agar setiap aktivitas  kita bernilai ibadah ada dua, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Ikhlas, yakni mempunyai motivasi yang benar, yaitu untuk berbuat hal yang baik yang berguna bagi kehidupan dan dibenarkan oleh agama. Dengan proyeksi atau tujuan akhir meraih mardhatillah (al-Baqarah:207 dan 265).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, shawab (benar), yaitu sepenuhnya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh agama melalui Rasulullah saw untuk pekerjaan ubudiyah (ibadah khusus), dan tidak bertentangan dengan suatu ketentuan agama dalam hal muamalat (ibadah umum). Ketentuan ini sesuai dengan pesan Al-Qur’an (Ali Imran: 31, al-Hasyr:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita memilih pekerjaan, maka haruslah didasarkan pada pertimbangan moral, apakah pekerjaan itu baik (amal shalih) atau tidak. Islam memuliakan setiap pekerjaan yang baik, tanpa mendiskriminasikannya, apakah itu pekerjaan otak atau otot, pekerjaan halus atau kasar, yang penting dapat dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah. Pekerjaan itu haruslah tidak bertentangan dengan agama, berguna secara fitrah kemanusiaan untuk dirinya, dan memberi dampak positif secara sosial dan kultural bagi masyarakatnya. Karena itu, tangga seleksi dan skala prioritas dimulai dengan pekerjaan yang manfaatnya bersifat primer, kemudian yang mempunyai manfaat pendukung, dan terakhir yang bernilai guna sebagai pelengkap.&lt;br /&gt;B.     Kualitas Etik Kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah, dan menempuh jalan menuju ridha-Nya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain. Dengan tertanamnya kesadaran ini, seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. Semboyangnya adalah “tiada waktu tanpa kerja, tiada waktu tanpa amal.’ Adapun agar nilai ibadahnya tidak luntur, maka perangkat kualitas etik kerja yang Islami harus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ash-Shalah (Baik dan Bermanfaat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pesan iman yang membawa manusia kepada orientasi nilai dan kualitas. Al Qur’an menggandengkan iman dengan amal soleh sebanyak 77 kali. Pekerjaan yang standar adalah pekerjaan yang bermanfaat bagi individu dan masyarakat, secara material dan moral-spiritual. Tolok ukurnya adalah pesan syariah yang semata-mata merupakan rahmat bagi manusia. Jika tidak diketahui adanya pesan khusus dari agama, maka seseorang harus memperhatikan pengakuan umum bahwa sesuatu itu bermanfaat, dan berkonsultasi kepada orang yang lebih tahu. Jika hal ini pun tidak dilakukan, minimal kembali kepada pertimbangan akal sehat yang didukung secara nurani yang sejuk, lebih-lebih jika dilakukan melalui media shalat meminta petunjuk (istikharah). Dengan prosedur ini, seorang muslim tidak perlu bingung atau ragu dalam memilih suatu pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Al-Itqan (Kemantapan atau perfectness)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88). Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan, yakni mencapai standar ideal secara teknis. Untuk itu, diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. Dalam konteks ini, Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Suatu keterampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang, akibat meninggalkan latihan, padahal manfaatnya besar untuk masyarakat. Karena itu, melepas atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa. Konsep itqan memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas, tetapi berkualitas, daripada output yang banyak, tetapi kurang bermutu (al-Baqarah: 263).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al-Ihsan (Melakukan yang Terbaik atau Lebih Baik Lagi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan makna pertama ini, maka pengertian ihsan sama dengan ‘itqan’. Pesan yang dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua ihsan mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terus-menerus, seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan sumber daya  lainnya. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini menurun dari hari kemarin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi saw. Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain. Bahkan, idealnya ia tetap berbuat yang lebih baik, hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat :34, dan an Naml: 125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat kerja yang ihsan ini akan dimiliki manakala seseorang bekerja dengan semangat ibadah, dan dengan kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Al-Mujahadah (Kerja Keras dan Optimal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an meletakkan kulaitas mujahadah dalam bekerja pada konteks manfaatnya, yaitu untuk kebaikan manusia sendiri, dan agar   nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. (Ali Imran: 142, al-Maidah: 35,              al-Hajj: 77, al-Furqan: 25,  dan al-Ankabut: 69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh ma fil wus’i”, yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum ‘taskhir’, yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33). Tinggal peran manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendaya gunakannya secara optimal, dalam rangka melaksanakan apa yang Allah ridhai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermujahadah atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159, Hud: 133).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tanafus dan Ta’awun (Berkompetisi dan Tolong-menolong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar” atau perintah. Ada perintah “fastabiqul khairat” (maka, berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108). Begitu pula perintah “wasari’u ilaa magfirain min Rabbikum wajannah” `bersegeralah lamu sekalian menuju ampunan Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan infaq, pengendalian emosi, pemberian maaf, berbuat kebajikan, dan bersegera bertaubat kepada Allah (Ali Imran 133-135). Kita dapati pula dalam ungkapan “tanafus” untuk menjadi hamba yang gemar berbuat kebajikan, sehingga berhak mendapatkan surga, tempat segala kenikmatan (al-Muthaffifin: 22-26). Dinyatakan pula dalam konteks persaingan dan ketaqwaan, sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang paling taqwa (al Hujurat: 13). Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan dalam kualitas kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena dasar semangat dalam kompetisi islami adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah serta amal shalih, maka wajah persaingan itu tidaklah seram; saling mengalahkan atau mengorbankan. Akan tetapi, untuk saling membantu (ta’awun). Dengan demikian, obyek kompetisi dan kooperasi tidak berbeda, yaitu kebaikan dalam garis horizontal dan ketaqwaan dalam garis vertikal (al-Maidah: 3), sehingga orang yang lebih banyak membantu dimungkinkan amalnya lebih banyak serta lebih baik, dan karenanya, ia mengungguli score kebajikan yang diraih saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mencermati Nilai Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan atau pun kerugian manusia banyak ditentukan oleh sikapnya terhadap waktu. Sikap imani adalah sikap yang menghargai waktu sebagai karunia Ilahi yang wajib disyukuri. Hal ini dilakukan dengan cara mengisinya dengan amal solih, sekaligus waktu itu pun merupakan amanat yang tidak boleh disia-siakan. Sebaliknya, sikap ingkar adalah cenderung mengutuk waktu dan menyia-nyiakannya. Waktu adalah sumpah Allah dalam beberapa ayat kitab suci-Nya yang mengaitkannya dengan nasib baik atau buruk yang akan menimpa manusia, akibat tingkah lakunya sendiri. Semua macam pekerjaan ubudiyah (ibadah vertikal) telah ditentukan waktunya dan disesuaikan dengan kesibukan dalam hidup ini. Kemudian, terpulang kepada manusia itu sendiri: apakah mau melaksanakannya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip al-Qardhawi dalam bukunya “Qimatul waqti fil Islam”: waktu adalah hidup itu sendiri, maka jangan sekali-kali engkau sia-siakan, sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak berfaidah. Setiap orang akan mempertanggung jawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian, seperti gemar menangguhkan atau mengukur waktu, yang berarti menghilangkan kesempatan. Namun, kemudian ia mengkambing hitamkan waktu saat ia merugi, sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja, maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa           al-Asy’ari ra, sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid, ”Amma ba’du. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh karena itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai.” (Kitab al-Amwal, 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Penutup&lt;br /&gt;Jihad Sebagai Etos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruhul jihad dalam bekerja mempersyaratkan mobilisasi dan optimalisasi pemberdayaan segenap potensi di jalan Allah untuk kebaikan setiap orang. Ruhul mujahadah menuntut kesabaran dan kontinyuitas kerja, bahkan menuntut tingkat kesabaran ekstra yang mampu mengungguli kesabaran para pesaing. Semua itu  didukung dengan ketekunan untuk murabathah, yakni pantang meninggalkan pekerjaan sebelum selesai (Ali Imran: 200). Ruhul jihad menolak setiap bentuk ketidakcermatan dalam memanajemen waktu yang begitu berharga; ketidak rofesionalan dalam mengelola sumber daya yang demikian mahal. Dengan tegas pula, ia menolak setiap perasaan dan sikap lemah, malas dan kurang serius, mengandalkan pada kemampuan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan, lebih-lebih mencatut prestasi orang lain sebagai hasil karyanya. Sebab, cara ini analog dengan memakan harta orang lain secara batil (al Baqarah: 188 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis, Kaum Muslimin mempunyai etos kerja yang demikian kuat dan mendasar, karena ia bermuara pada iman, berhubungan langsung dengan kekuatan Allah, dan merupakan persoalanm hidup dan mati. Akan tetapi, tidak diingkari kalau kenyataannya masih ‘jauh panggang dari pada api’. Sebaliknya, Kaum Muslimin belum tahu kalau mereka itu mempunyai kekuatan etos kerja yang sangat dahsyat, dan ketika mereka melihat prestasi suatu bangsa atau umat lain, sebagian orang Islam salut dan terpana dengan etos kerja mereka, dan kadang sambil bertanya dengan agak sinis: Adakah etos kerja dalam Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, di sinilah Kaum Muslimin harus kembali kepada Islam secara benar dan mengambil semangat atau ‘apinya’. Karena, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Islam adalah pangkal segala urusan hidup, tiang pancangnya shalat, dan ujung tombaknya adalah jihad.” (H.R.Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ruhul jihad, setiap muslim akan mampu mengukir prestasi dengan penuh kegairahan, kemudian secara pasti akan mengembalikan ‘izzah atau harga dirinya, sehingga disegani oleh umat lain. Sebab, kemuliaan dan gensi itu adalah milik Allah, rasul-Nya, serta orang-orang beriman (al-Munafiqun: 8 ). Tanpa semangat jihad, mereka takkan lebih dari sekedar umat ritual yang nampak soleh, tetapi tanpa gengsi, bahkan boleh jadi inferior terhadap umat atau bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat inilah yang hendak dirusak dan dilumpuhkan oleh pemikiran dan budaya asing, demi lestarinya pengaruh mereka terhadap negeri-negeri muslim. Kaum Muslimin dijadikan target invasi pemikiran dan budaya (al-gazwul fikri). Mereka dicuri waktunya dengan berbagai sarana dan acara hiburan yang menyuguhkan budaya santai, lembek, dan pornografis. Maka, bersemailah di bumi Kaum Muslimin hiburan-hiburan yang berselera rendah, sikap basa-basi, asal bapak senang (ABS) serta budaya minta petunjuk, memudarnya kejantanan kaum pria yang bergaya wanita, dan akhirnya membentuk sikap al wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil seorang muslim adalah insan yang ramah, tetapi bukan lemah; serius, tetapi familiar dan tidak kaku; perhitungan, tetapi bukan pelit; penyantun, tetapi mengajak bertanggung jawab; disipilin, tetapi pengertian, mendidik, dan mengayomi; kreatif dan enerjik, tetapi hanya untuk kebaikan; selalu memikirkan prestasi, tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Kesenangannya adalah meminta maaf dan memberi bantuan dan kepandaiannya adalah dalam rangka mengakui karunia Allah dan menghargai jasa  atau prestasi orang lain.&lt;br /&gt;Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan alam, Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, serta para mujahidin di segala bidang sepanjang zaman. Berkat prestasi kerja mereka itulah, peta kejayaan ummat dapat diukurkan. Semoga kita mampu bergabung dalam barisan mereka. Aamin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-1139632778562444443?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/1139632778562444443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=1139632778562444443' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/1139632778562444443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/1139632778562444443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/etos-kerja-dalam-islam_4576.html' title='Etos kerja dalam Islam'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-7454399983038194438</id><published>2010-01-06T08:43:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T08:44:28.981-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ETOS KERJA'/><title type='text'>ISLAM DAN ETOS KERJA</title><content type='html'>Tidak sempurna memahami atau salah memahami ajaran justru akan membuat penganut ajaran tersebut terperangkap dalam pandangan dan praktek di luar ajaran. Memahami Islam hanya sebatas ritual â€˜ubudiyyah atau upacara peribadatan yang sempit ternyata mengakibatkan tidak sedikit muslim mengabaikan banyak tuntunan yang disampaikan Islam lewat dua sumber utamanya, yaitu: Al-Qurâ€™an dan Sunnah Rasulullah saw..&lt;br /&gt;Allah Taâ€™ala berfirman: â€œDan kami turunkan Kitab (Al-Qurâ€™an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).â€ (An-Nahl : 89).&lt;br /&gt;Rasulullah saw. tidak membiarkan suatu perkara pun yang mendekatkan diri kita kepada Allah melainkan beliau menyuruh kita untuk melakukannya; dan tidak membiarkan suatu perkara pun yang menjauhkan diri kita dari Allah melainkan beliau melarang kita untuk melakukannya. Sehingga, beliau meninggalkan kita di atas mahajjah (jalan lurus; petunjuk) yang terang, malamnya sama seperti siangnya, tidak ada seorang pun yang sesat dari petunjuk itu melainkan ia seorang yang binasaâ€”hadits riwayat Ahmad dan Ibn Majah.&lt;br /&gt;Dari itu maka seluruh sisi yang dipesankan Islam kepada pemeluknya, berada pada satu rotasi, yaitu â€˜ubudiyyah dan penghambaan yang total kepada Allah Taâ€™ala. Islam sendiri menolak pemecahan pesan-pesannya. Al-Qurâ€™an mengecam keras sikap Bani Israâ€™il yang tidak beriman dengan seluruh pesan-pesan syariat mereka: â€œApakah kamu beriman kepada sebagian kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan yang pantas bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.â€ (Al-Baqarah : 86). Untuk itu Allah berfirman: â€œWahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu.â€œ (Al-Baqarah : 208).&lt;br /&gt;Ada lima pilar Islam yang dikenal dengan rukun Islam. Semangat lima pilar ini mengalir deras dalam berbagai kewajiban dan larangan yang telah ditetapkan oleh Islam secara tegas, dan dalam berbagai perbuatan yang ditujukan untuk mengharap ridha Allah Taâ€™ala. Semangat lima pilar ini adalah penyerahan diri serta tunduk patuh secara total kepada Allah Taâ€™ala semata (islamul wajhi lillah). Dari itu orang yang tidak melaksanakan shalat dengan orang yang berdusta, dalam Islam, adalah pada posisi yang sama, yaitu pelaku maksiat. Orang yang mengingkari kewajiban shalat dan kewajiban berkata jujur dalam Islam dihukum sebagai seorang yang telah mengingkari perkara-perkara yang diketahui secara pasti bagian dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban Bekerja Dalam Islam&lt;br /&gt;Salah satu bagian dari syariâ€™at Islam adalah kewajiban bekerja, dan keharaman berpangku tangan serta bermalas-malasan bagi orang yang berkemampuan untuk bekerja.&lt;br /&gt;Allah Taâ€™ala berfirman: â€œDan katakanlah, â€œBekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang yang muâ€™min, dan kamu akan dikembalikan kepada [Allah] Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.â€ (At-Taubah : 105).&lt;br /&gt;Allah juga berfirman: â€œApabila shalat telah dilaksanakan, makabertebanlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.â€ (Al-Jumuâ€™ah:10)&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, â€œSeseorang mengambil tali-talinya lalu pergi ke bukit dan memikul setumpuk kayu di atas punggungnya lantas menjualnya sehingga dengan demikian Allah mencukupkan baginya [rezeki] yang dibutuhkan (untuk hidupnya) itu adalah lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang-orang lain baik mereka memberikan maupun tidak.â€ (Hadits riwayat Al-Bukhari)&lt;br /&gt;Bahkan Allah Taâ€™ala telah memerintahkan para nabi-Nya untuk berusaha mencari rezeki. Firman Allah kepada Nabi Muhammad saw.: â€œMaka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.â€ (Asy-syarh : 7-8).&lt;br /&gt;Allah juga berfirman: â€œSesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan â€“ urusan yang panjang.â€ (Al-Muzammil : 7).&lt;br /&gt;Dan firman Allah Taâ€™ala kepada keluarga Dawud: â€œBekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba â€“ hamba-Ku yang bersyukur.â€ (Sabaâ€™ : 13).&lt;br /&gt;Para nabi merupakan contoh nyata dari sikap menghargai nilai bekerja bagaimanapun kecil pekerjaan itu. Nabi Nuh a.s. adalah seorang pemahat. Ia memahat sendiri kapalnya. Nabi Dawud adalah seorang pandai besi. Ia membuat perisai dengan tangannya dan Allah Taâ€™ala telah melunakkan besi untuknya. Nabi Musa a.s. sepuluh tahun mengembala kambing milik Nabi Syuâ€™aib a.s. sebagai mahar nikah salah seorang putrinya. Nabi Muhammad saw. mengembala kambing, memperdagangkan harta Sayyidah Khadijah r.a. dan lainnya.&lt;br /&gt;Rasulullah saw. pernah bersabda, â€œSeseorang tidak akan dapat memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabiyullah Dawud makan dari [hasil] kerja tangannya.â€ (Hadits riwayat Al-Bukhari).&lt;br /&gt;Allah Taâ€™ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berusaha di muka bumi ini agar dapat memperoleh rezeki yang telah ditentukan untuk mereka. Ini dikarenakan Allah telah mengatur sebab seseorang memperoleh rezeki adalah lewat ia berusaha dan bekerja keras. Di samping itu, kerja juga merupakan pokok utama untuk membangun agama dan dunia sekaligus, dan merupakan wahana vital untuk melaksanakan berbagai amal ibadah lainnya. Pahala dan kedudukan seorang hamba di sisi Allah Taâ€™ala akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia berusaha dan bagaimana keikhlasannya dalam berusaha.&lt;br /&gt;Allah Taâ€™ala berfirman: â€œDialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.â€ (Al-Mulk : 15).&lt;br /&gt;Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Ia telah mempersiapkan bumi dan menyediakannya agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat manusia bergerak dan berusaha. Bumi telah ditundukkan untuk dapat merespon aktivitas manusia sehingga ia dapat mengeluarkan rezeki bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;Allah telah memuliakan manusia, menganugerahkan kepadanya berbagai nikmat sehingga ia lebih tinggi dari seluruh makhluk-Nya yang lain. Allah menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Kepadanya dipikulkan beban untuk memakmurkan bumi, untuk menciptakan kedamaian dan ketentraman, bukan untuk merusak dan menumpahkan darah. Beban besar ini tidak akan terlaksana apabila manusia berdiam diri, bermalas-malasan. Beban ini pun bukan diarahkan untuk sebagian manusia, tidak sebagian yang lain. Di setiap pundak manusia terpikul beban ini. Dan karena itu setiap manusia yang memiliki tenaga dan kemampuan untuk bekerja, tapi ia memilih untuk tidak bekerja, maka ia telah menyalahi amanat yang telah dibebankan oleh Pencipta dan Pemberi berbagai anugerah kepadanya.&lt;br /&gt;Allah Taâ€™ala berfirman: â€œDia telah menjadikan kamu dari tanah dan menjadikanmu pemakmurnya.â€ (Hud:61)&lt;br /&gt;Maknanya: Allah menuntut manusia untuk membangun dan menghidupkan seluruh manifestasi peradaban dalam berbagai sektor kehidupan. Setiap muâ€™min yang melaksanakan tuntutan tersebut, maka ia telah melaksanakan suatu â€˜ubudiyah kepada Allah Taâ€™ala sekalipun ia seorang yang sehari-harinya bekerja sebagai kuli bangunan atau pesuruh di sebuah perkantoran.&lt;br /&gt;Rasulullah saw. yang merupakan teladan umat manusia di berbagai sisi hidup beliau juga telah menunjukkan berbagai teladan yang amat luhur dalam hal pemanfaatan waktu, perencanaan, ketekunan dan ketelitian dalam berbuat, serta pembagian tugas yang tepat dan sesuai keahlian masing-masing para sahabat. Karena itu semua maka Nabi saw. dalam waktu yang relatif singkat dapat mewujudkan berbagai kerja nyata yang belum tentu dapat diwujudkan oleh suatu balatentara yang memiliki fisik tangguh, kecerdasan serta keahlian.&lt;br /&gt;Nilai suatu kerja juga demikian tinggi dalam pandangan para sahabat Rasulullah saw.. Abu Bakr r.a. adalah seorang pedagang kain dan pakaian. Pada hari ia dibaiâ€™at sebagai khalifah, ia pergi ke pasar untuk mencari sesuatu yang bisa dikerjakan di pasar sekalipun ia seorang hartawan pada masa sebelum Islam, tapi pada masa Islam, harta kekayaannya telah diinfakkan di jalan menegakkan Islam. Melihat hal itu para sahabat lain melarang Abu Bakr untuk berdagang lantaran kuatir akan mengganggu kerja berat yang sedang pikulnya. Lalu dibiayai secukup keperluan pokok hidupnya dari Baitul Mal. Dan sebelum meninggal Abu Bakr berpesan untuk mencabut dan mengembalikan jatah biaya hidup tersebut ke Baitul Mal. Demikian pula para sahabat-sahabat yang lain; â€˜Umar adalah seorang agen/perwakilan; â€˜Utsman dan â€˜Ali kedua-duanya pedagang; â€˜Amru bin Al-â€˜Ash tukang potong daging.&lt;br /&gt;â€˜Umar bin Al-Khaththab r.a. pernah mengatakan, â€œ[Kuharap] jangan ada di antara kalian orang yang berpangku tangan lalu berdoaâ€™: Ya Allah berikanlan kepada rezeki. Sebab kalian tahu bahwa langit tidak menurunkan emas dan perak.â€&lt;br /&gt;Langit menurunkan hujan. Bumi berinteraksi dengan tetesan hujan yang jatuh di atasnya. Tanpa usaha dan olahan tangan manusia, maka tidak akan ada hasil, takkan ada panen, takkan ada bekal, takkan berlangsung kehidupan, takkan ada gerak di muka bumi. Andaikata pun langit menurunkan emas dan perak, tapi jika tanpa ada tangan-tangan yang bekerja, sungguh manusia pun akan kelaparan, telanjang, tak bertempat tinggal, tak bisa menyembuhkan dirinya dari penyakit dan sebagainya. Oleh karena itulah Islam menekankan kerja produktif dan melarang penggunaan harta kekayaan pada hal-hal yang tidak bermanfaat, untuk menutup keperluan dan kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;Suatu kali â€˜Umar r.a. melihat Zaid bin Maslamah sedang menanam tanaman di tanahnya, maka â€˜Umar mengatakan kepadanya, â€œBenar sekali perbuatanmu itu! Engkau tidak menggantungkan hidupmu kepada orang lain adalah cara terbaik untuk memelihara agamamu, dan termulia untuk menjaga martabat dirimu.â€&lt;br /&gt;â€˜Umar r.a. juga pernah mengatakan, â€œSesungguhnya aku memandang seorang pemuda, maka aku kagum kepadanya. Lantas aku menanyakan kepadanya apakah dia punya suatu pekerjaan. Lalu dijawab tidak, maka jatuh nilai pemuda itu dalam pandanganku.â€&lt;br /&gt;Islam tidak hanya bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang ahli ibadat dan berperilaku zuhud semata tapi Islam juga hendak mewujudkan masyarakat yang bekerja dan penuh dinamika. Masyarakat yang kuat agama dan dunianya. Masyarakat yang mampu menghidupi dirinya sendiri lewat tangan-tangan anggotanya yang tekun, otak-otak yang kreatif dan tenaga-tenaga yang berpengalaman. Masyarakat konsumtif yang melulu menggantungkan hidupnya pada produk masyarakat lain adalah masyarakat yang tidak bertahan lama, lemah, cenderung tergoda dengan angan-angan palsu hingga akhirnya tersungkur dalam kemunduran serta pada gilirannya akan terpola sebagai masyarakat pengekor bagi masyarakat yang dinamis, maju, kaya, dan cerdas.&lt;br /&gt;Suatu kali ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal bersifat waraâ€™ dan zuhud, â€œBagaimana pendapat Anda mengenai seseorang yang duduk-duduk saja di rumah atau mesjidnya sambil berkata, â€˜Aku tidak mau mengerjakan suatu pekerjaan pun sampai rezeki datang sendiri kepadaku.â€™?â€ Imam Ahmad serta merta menjawab, â€œItu orang yang tidak berpengetahuan. Tidakkah ia tahu bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, â€˜Sesungguhnya Allah telah menjadikan rezekiku di bawah bayang tombakku.â€&lt;br /&gt;Rasulullah saw. sendiri bekerja mencari rezeki. Tombak adalah alat untuk bekerja; menyemai, berburu dan lainnya. Bayang tombak akan ada saat dipergunakan untuk bekerja di siang hari. Suatu ungkapan yang sarat makna, penuh nuansa dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal shalih&lt;br /&gt;Kerja atau perbuatan yang diperintahkan oleh Allah Taâ€™ala adalah perbuatan yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat sekaligus (amal shalih). Allah berfirman: â€œDan orang â€“ orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, pasti akan Kami hapus kesalahan â€“ kesalahannya dan mereka pasti akan Kami beri balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.â€œ (Al-â€™Ankabut : 7).&lt;br /&gt;â€œDan orang â€“ orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka pasti akan Kami masukkan ke dalam (golongan) orang yang saleh.â€œ (Al-â€™Ankabut : 9).&lt;br /&gt;â€œMaka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), â€˜Sesungguhnya Aku tidak menyia â€“ nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki â€“ laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lainâ€¦â€ (Al â€™Imran : 195).&lt;br /&gt;â€œSesungguhnya orang â€“ orang yang beriman, orang â€“ orang Yahudi, Sabi-in dan orang â€“ orang Nasrani, barangsiapa beriman kepada Allah, kepada Hari Kemudian dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati.â€ (Al-Maâ€™idah : 69).&lt;br /&gt;Sementara perbuatan mengganggu, merugikan dan menekan orang lain, apalagi menguasai hidup orang lain serta mengeksploitasi tenaganya secara semena-mena untuk keuntungan pribadi adalah amal fasid (buruk). Bahkan seluruh perbuatan yang tidak bermanfaat adalah amal fasidâ€”sekalipun tidak merugikan atau membahayakan orang lain secara langsungâ€”oleh karena tenaga dan waktu yang terbuang percuma pada sesuatu yang tidak bermanfaat padahal waktu dan tenaga adalah modal utama untuk mencari sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Firman Allah Taâ€™ala: â€œDan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.â€ (Al-Furqan : 23).&lt;br /&gt;â€œTidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) â€™Ad? (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum â€™Ad) yang mempunyai bangunan â€“ bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri â€“ negeri lain, dan (terhadap) kaum Samud yang memotong batu â€“ batu besar di lembah, dan (terhadap) Firâ€™aun yang mempunyai pasak â€“ pasak (bangunan yang besar), yang berbuat sewenang â€“ wenang dalam negeri, lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka, sungguh, Tuhanmu benar â€“benar mengawasi.â€œ (Al-Fajr : 6 â€“ 14).&lt;br /&gt;â€œTetapi ketika Allah menyelamatkan mereka, malah mereka berbuat kezaliman di bumi tanpa (alasan) yang benar. Wahai manusia! Sesungguhnya kezalimanmu bahayanya akan menimpa dirimu sendiri ; itu hanya kenikmatan hidup duniawi, selanjutnya kepada Kamilah kembalimu, kelak akan Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.â€œ (Yunus : 23).&lt;br /&gt;â€œDan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda â€“ tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya, dan mereka memahat rumah â€“ rumah dari gunung batu, (yang didiami) dengan rasa aman. Kemudian mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur pada pagi hari, sehingga tidak berguna bagi mereka, apa yang telah mereka usahakan.â€œ (Al-Hijr : 81 â€“ 84).&lt;br /&gt;Allah telah memerintahkan setiap individu dan masyarakat untuk menyucikan diri sekaligus meningkatkan taraf hidup mereka dengan amal shalih dan bermanfaat, dan melarang segala praktek usaha dan pemanfaatan harta pada jalan-jalan yang dilarang oleh syariâ€™at serta bertentangan dengan moral seperti berusaha lewat profesi-profesi yang tidak diperbolehkan oleh syariâ€™at atau dengan memperdagangkan benda-benda yang diharamkan. Sebab hal ini akan mengakibatkan berbagai ketimpangan dalam kehidupan masyarakat, di samping pintu akan terbuka lebar bagi berbagai penyakit sosial yang sukar untuk dipulihkan sehingga tidak jarang terlihat berbagai praktek usaha yang terlarang dalam hukum Islam justru melahirkan kemiskinan dan kemunduran di berbagai lapisan masyarakat serta menumbuhkan berbagai penyakit sosial seperti pengrusakan alam, budaya sogok menyogok, penipuan, kedengkian, egoisme, pembunuhan dan berbagai tindak kriminal.&lt;br /&gt;Allah Taâ€™ala berfirman: â€œMaka adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka mudah â€“ mudahan dia termasuk orang yang beruntung.â€ (Al-Qashash : 67).&lt;br /&gt;â€œTetapi orang â€“ orang yang dianugerahi ilmu berkata, â€˜Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang â€“ orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang â€“ orang yang sabar.â€ (Al-Qashash : 80).&lt;br /&gt;â€œBarangsiapa kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa mengerjakan kebajikan maka mereka menyiapkan untuk diri mereka sendiri (tempat yang menyenangkan), agar Allah memberi balasan (pahala) kepada orang â€“ orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dari karunia-Nya. Sungguh Dia tidak menyukai orang â€“ orang yang ingkar (kafir).â€ (Ar-Rum : 44, 45).&lt;br /&gt;â€œDan bukanlah harta atau anak â€“ anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan orang â€“ orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat â€“ tempat yang tinggi (dalam surga).â€ (Sabaâ€™ : 37).&lt;br /&gt;Dari itu masyarakat muslim dituntut untuk berpegang kuat pada nilai-nilai keadilan yang luhur, dan atas dasar nilai-nilai ini ia bekerja dan berusaha dengan segenap tenaga sehingga â€˜ubudiyyahnya kepada Allah Taâ€™ala adalah lewat berusaha memapankan kehidupan dunianya bukan dengan meninggalkan dunia. Sebab, masyarakat yang isi perutnya bergantung pada orang lain adalah masyarakat yang tidak memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri, bahkan dalam kondisi tertentu sampai tidak memiliki kebebasan untuk menjalankan kewajiban agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas Kerja&lt;br /&gt;Kualitas dan mutu suatu kerja amat dipentingkan dalam Islam. Allah Taâ€™ala telah menyuruh setiap muslim untuk memperhatikan keindahan dan kesempurnaan ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;Firman Allah Taâ€™ala: â€œDan engkau akan melihat gunung â€“ gunung, yang engkau kira tetap ditempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sesungguhnya Ia Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.â€ (An-Naml : 88).&lt;br /&gt;â€œSibghah (celupan) Allah, siapa yang lebih baik sibghahnya dari pada Allah? Dan kepada-Nya kami menyembah.â€œ (Al-Baqarah : 138).&lt;br /&gt;â€œSungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik â€“ baiknya.â€œ (At-Tin : 4).&lt;br /&gt;â€œKemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.â€œ (Al-Muâ€™minun : 14).&lt;br /&gt;â€œYang menciptakan tujuh langit berlapis â€“ lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?â€œ (Al-Mulk : 3).&lt;br /&gt;â€œDan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya (ke tempat pengembalaan). Dan ia mengangkut beban â€“ bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.â€œ(An-Nahl: 6-8)&lt;br /&gt;â€œMaka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak terdapat retak-retak sedikitpun?â€œ (Qaf:6)&lt;br /&gt;â€œDan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan tidak serup. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang beriman.â€œ (Al-Anâ€™am:99)&lt;br /&gt;Hal ini ditujukan agar muslim dapat memetik pelajaran bahwa setiap perbuatan dan pekerjaan yang dilakukan hendaknya selalu memenuhi nilai-nilai standart kualitas tinggi.&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, â€œSesungguhnya Allah menyukai dari kamu orang yang apabila ia mengerjakan suatu pekerjaan, ia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh (sempurna).â€&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan kesempurnaan dalam suatu pekerjaan, seorang muslim dituntut untuk mendalami seluk beluk bidang yang ditekuninya, berpola pikir kreatif serta gigih sehingga mampu berkarya dan produktif. Allah Taâ€™ala telah meletakkan hukum-hukum dan aturan-aturan bagi alam ini, yang merupakan pedukung utama kesuksesan dan kemajuan orang-orang yang kreatif dan gigih. Allah Taâ€™ala telah berfirman: â€œDan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah tertulis di dalam Az-Zikr (lauf mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.â€ (Al-Anbiyaâ€™:105).&lt;br /&gt;Orang-orang shalih yang dimaksud adalah para pekerja produktif yang dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam berbagai pekerjaan, penelitian, karya cipta dan kemajuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikhlasan dalam Bekerja.&lt;br /&gt;Islam menuntut keikhlasan dalam bekerja sebab ia merupakan bagian dari â€™ubudiyyah kepada Allah Taâ€™ala. Bukan banyak atau sedikit hasil yang diperoleh dari suatu kerja yang menjadi ukuran nilai di sisi Allah Taâ€™ala, tapi justru kerja keras dan keikhlasan itu sendiri yang akan diganjar oleh Allah Taâ€™ala dengan pahala. Dari itu Rasulullah saw. pernah bersabda, â€œApabila datang hari kiamat, dan [kebetulan] di tanganmu ada tunas kurma [yang hendak kau tanam], maka jangan sampai kagalauan hari kiamat menghentikanmu untuk menanamkan kurma tersebut.â€&lt;br /&gt;Demikian penting kerja sehingga dalam kondisi di mana kepanikan lumrah terjadi, keputusasaan wajar timbul dalam benak manusia, namun Rasulullah saw. melarang muslim untuk berhenti bekerja. Tidak ada alasan dengan demikian untuk menghentikan kerja. Terkadang berbagai pintu usaha terlihat seperti tertutup. Allah Taâ€™ala telah memberikan kepada manusia akal untuk berpikir serta berbagai karunia lainnya agar manusia dapat membenah jalan hidupnya. Perasaan diri lemah dan putus asa justru menjerumuskan manusia kepada kecurigaan bahwa Allah tidak menyayangi dirinya. Dan ini adalah suatu hal yang dilarang dalam Islam. Hasil suatu kerja, Allah yang menentukan, tapi manusia diwajibkan untuk berikhtiar dengan segenap kemampuannya sebagai suatu wujud â€˜ubudiyyah kepadanya. Bahkan â€˜ubudiyyah yang sederajat dengan berjihad di jalan Allah.&lt;br /&gt;Pernah suatu kali Rasulullah saw. sedang duduk bersama para sahabat beliau. Lalu, lewat seorang pemuda di depan mereka. Seorang pemuda yang gagah dan penuh energik. Pagi sekali ia pergi untuk bekerja mencari rezeki. Para sahabat saling komentar,â€œSayang sekali pemuda itu! Andaikan tenaga muda dan kegagahannya itu dipergunakan fi sabilillah (bejihad di jalan Allah)!! Namun Rasulullah saw. ketika itu menegur mereka,â€œJangan kalian berkata demikian! Sesungguhnya apabila ia berusaha mencari rezeki untuk dirinya agar dia tidak perlu meminta-minta dan menggantungkan hidupnya kepada orang lain, maka dia itu sedang fi sabilillah. Dan apabila ia berusaha mencari rezeki untuk menafkahkan kedua orang tuanya atau anak-anaknya yang lemah (karena masih kecil atau sebab lainnya) supaya mereka dapat hidup berkecukupan dan tidak perlu bergantung pada orang lain, maka dia sedang fi sabilillah. [Tapi] apabila pergi berusaha karena untuk berbangga-bangga dan bermegah-megahan, maka ia sedang di jalan syaitan.â€œ (Hadits riwayat At-Thabrani).&lt;br /&gt;Nabi saw. menyetarakan perbuatan orang yang berusaha untuk menghidupi diri dan keluarganya dengan jihad fi sabilillah yang merupakan salah satu â€™ubudiyyah tertinggi di dalam Islam. Apabila berusaha merupakan salah satu praktek â€™ubudiyyah, maka keikhlasan niat untuk mencapai ridha Allah Taâ€™ala adalah sesuatu yang paling pokok atau rukun agar â€™ubudiyyah tersebut diterima oleh Allah.&lt;br /&gt;Dengan keikhlasan niat yang demikian, seorang muslim akan terus menjaga gerak geriknya dalam berusaha agar ia tidak sampai melakukan sesuatu di luar garis batas syariâ€™at Allah. Rasulullah saw. telah bersabda,â€œTidak ada sesuatu perbuatan yang aku ketahui akan mendekatkan diri kalian kepada syurga serta menjauhkan kalian dari neraka melainkan aku telah menyuruh kalian untuk mengerjakannya. Dan tidak ada sesuatu perbuatan yang aku ketahui akan menjauhkan diri kalian dari syurga dan mendekatkan kalian kepada neraka melainkan aku telah melarang kalian mengerjakannya. Sesungguhnya Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa seseorang tidak akan mati sampai dengan ia memperoleh rezekinya sekalipun tidak langsung datang. Maka bertaqwalah kepada Allah dan baguskan diri kalian pada saat berusaha mencari rezeki! (Hadits riwayat Ahmad)&lt;br /&gt;Membaguskan diri ketika mencari rezeki, yang dimaksud oleh Nabi saw. dalam hadits ini adalah dengan tetap memiliki harga diri, tidak bersikap munafik dan menjilat; dengan penuh ketenangan batin dalam iman kepada Allah Taâ€™ala; serta melalui jalan-jalan yang dianjurkan oleh syariâ€™at sehingga terwujud sikap membaguskan diri dengan perilaku-perilaku yang mulia.&lt;br /&gt;Abu Hurairah r.a. meriwayatkan satu sabda Rasulullah saw.,â€Makanan yang paling halal dimakan oleh seorang hamba adalah hasil jerih payah tangannya apabila dia ikhlas.â€ (Hadits riwayat Ahmad). Yakni ikhlas dalam pekerjaan, profesi dan pelaksanaan tugasnya, serta dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan selalu memantau keridhaan Allah Taâ€™ala dalam dia berusaha baik itu menyangkut produk yang dipersembahkan bagi konsumen, pelayanan yang disuguhkan maupun lainnya.&lt;br /&gt;Pekerjaan atau perbuatan bermanfaat (amal shalih) yang dilakukan atas dasar iman kepada Allah Taâ€™ala dan dengan hati ikhlas mengharap keridhaan-Nya akan menjamin taraf kehidupan yang baik di dunia serta pahala di sisi Allah Taâ€™ala. Allah berfirman: â€œAdapun orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka ia mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah.â€ (Al-Kahf:88)&lt;br /&gt;â€œBarangsiapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriaman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.â€ (An-Nahl: 97)&lt;br /&gt;Al-Qurâ€™an menceritakan tentang pembangunan tembok penghalang yang dilakukan oleh Dzul Qarnain untuk keamanan orang-orang yang lemah dari sekelompok orang yang suka memamerkan kekuatan di depan korban-korban mereka. Suatu pembangunan yang dilakukan bukan demi tujuan-tujuan materialistis, politis, atau duniawi lainnya, tapi hanya demi kepentingan rakyat kecil dan lemah. Ketika rakyat lemah ini menawarkan upah kepadanya, Dzul Qarnain menjawab: â€œApa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuat dinding penghalang antara kamu dan mereka.â€ (Al-Kahf:95). Dengan kata lain: Tidak penting bagiku upah dari kalian. Allah telah menganugerahkan kepadaku kekuatan memimpin yang wajib aku syukuri dan kumanfaatkan untuk meraih ridha-Nya. Yang aku harap dari kalian hanya kerja sama dengan mengerahkan segenap tenaga agar apa yang kita inginkan tercapai. Kualitas kerja tim Dzul Qarnain tergambar dari sifat tembok yang dibangun mereka: â€œMaka (Yaâ€™juj dan Maâ€™juj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.â€ (Al-Kahf:97). Sesudah Dzul Qarnain merampungkan tugas tersebut, ia sadar bahwa segenap tenaga dan kekuataan dalam kerja tersebut adalah berasal dari Allah Taâ€™ala, dan ia menyampaikan kepada kaum tesebut bahwa tembok ini adalah rahmat dari-Nya dan tidak akan bertahan untuk selamanya; Dzul Qarnain seperti ingin mengatakan bahwa sekalipun tembok ini demikian kokoh, tapi ia tidak akan dapat menghentikan kekuasaan Allah Taâ€™ala. â€œDia (Dzul Qarnain) berkata, â€œ(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya; dan janji Tuhanku itu benar.â€ (Al-Kahf:98).&lt;br /&gt;Ucapan Ibrahim bin Adham, seorang tokoh sufi besar, mengenai keutamaan bekerja dan berusaha, patut untuk direnungi. Ketika orang-orang menganggap rendah Ibrahim bin Adham gara-gara ia bekerja sebagai pengumpul kayu bakar untuk menghidupi dirinya, Ibrahim bin Adham mengatakan, â€œSesungguhnya telah sampai kepadaku suatu riwayat hadits bahwa barangsiapa yang bersedia berada pada status rendah demi mencari rezeki yang halal, maka wajib baginya syurga.â€&lt;br /&gt;Abu Sulaiman Ad-Darani yang juga tokoh sufi besar, â€œIbadah menuruh hemat kami bukan dengan engkau merapatkan kaki di dalam barisan shalat sedangkan orang lain mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan kamu. Mulai dengan dua potong rotimu, cari keduanya, kemudian baru engkau beribadat!â€&lt;br /&gt;Apabila kaum muslimin tidak mau merendahkan diri mereka dengan kemuliaan bekerja dan berusaha; dengan peras keringat serta banting tulang; dan dengan mengurus urusan kebutuhan pokoknya lebih dahulu, maka mereka tidak berharga sekalipun surban dan jubah yang dipakainya. Karena bagaimana pantas seorang yang mampu bekerja memperoleh kehormatan jika selalu menengadahkan tangan dan menjadi beban orang lain. Islam tidak menyuruh berpangku tangan dan bermalasan-malasan, dan karena itu Islam tidak memuliakan orang yang berperilaku demikian.&lt;br /&gt;Dari itu patut bagi setiap muslim di samping memakmurkan mesjid, ia juga memakmurkan berbagai lapangan kerja. Jika kondisi muslimin lemah di bagian dunia, maka tentu musibah dan berbagai petaka pun akan melanda mereka di bagian agama dan akhirat. Perkembangan yang disaksikan selama ini dalam wujud rongrongan budaya yang masuk deras ke daerah-daerah kaum muslimin yang papa bersama bantuan-bantuan materil yang dibawa oleh pihak-pihak yang tidak terikat tali persaudaraan aqidah dengan kaum muslimin, hendaknya menjadi dentuman keras yang menjagakan insan muslim sedaerah untuk cepat bangkit berusaha dan bekerja dengan giat di berbagai lapangan sesuai keahlian masing-masing bagaimanapun rendah dan kecilnya kerja tersebut. Satu hal barangkali ada baiknya diingat sebelum akhir bahwa hari ini bukan hari raya bagi orang yang dititipkan harta berlimpah oleh Allah Taâ€™ala, dan bukan hari duka bagi mereka yang papa, tapi adalah hari kerja. Hartawan dengan kekayaan dan dermanya berusaha menciptakan lapangan kerja; kaum fakir dengan tenaga dan segenap kemampuannya bekerja keras. Wallahul Mustaâ€™an.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-7454399983038194438?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/7454399983038194438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=7454399983038194438' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7454399983038194438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7454399983038194438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/islam-dan-etos-kerja.html' title='ISLAM DAN ETOS KERJA'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-2039352156144011519</id><published>2010-01-06T08:40:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T08:41:37.201-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ETOS KERJA'/><title type='text'>ETOS KERJA DALAM ISLAM</title><content type='html'>11 September 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted by admin under: Materi Tausi'ah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. At-Taubah:105).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (diantara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang yang dzalim itu akan mendapat keberuntungan”. (QS. Al-An’am:135).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Kerja Dalam Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemuliaan seorang manusia itu bergantung kepada apa yang dilakukannya. Dengan itu, semua amalan atau pekerjaan yan gmendekatkan seseorang kepada Allah adalah sangat penting serta patut untuk diberi perhatian. Amalan atau pekerjaan yang demikian selain memperoleh keberkahan serta kesenangan dunia, juga ada yang lebih penting yaitu merupakan jalan atau tiket dalam menentukan tahap kehidupan seseorang di akhirat kelak; apakah masuk golongan ahli syurga atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ”kerja” dalam Islam bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang ataupun malam, dari pagi hingga sore, terus-menerus tak kenal lelah, tetapi kerja mencangkup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga, dan masyarakat sekelilingnya serta negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, orang yang bekerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara tanpa menyusahkan orang lain. Oleh karena itu, kategori ahli syurga seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an bukanlah orang yang mempunyai pekerjaan/jabatan yana tinggi dalam suatu perusahaan/instansi sebagai manager, direktur, teknisi dalam suatu bengkel dan sebagainya. Tetapi sebaliknya Al-Qur’an menggariskan golongan yang baik lagi beruntung (Al-Falah) itu adalah orang yang banyak takwa kepada Allah, khusyu shalatnya, baik tutur katanya, memelihara pandangan dan kemaluannya serta menunaikan tanggung jawab sosialnya seperti mengeluarkan zakat dan lainnya (QS. Al-Mu’minun:1-11).&lt;br /&gt;Golongan ini mungkin terdiri dari pegawai, supir, tukang sapu ataupun seseorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Sifat-sifat diataslah sebenarnya yang menjamin kebaikan dan kedudukan seseorang didunia dan diakhirat kelak. Jika membaca hadist-hadist Rasulullah SAW. tentang ciri-ciri manusia yang baik disisi Allah, maka tidak heran bahwa diantara mereka itu ada golongan yang memberi minum anjing kelaparan, mereka yang memelihara mata, telinga dan lidah dari perkara yang tidak berguna, tanpa melakukan amalan sunnah yang banyak dan seumpamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu hadist yang diriwayatkan oleh Umar r.a berbunyi: ”Bahwa setiap amal itu bergantung pada niat, dan setiap individu itu dihitung berdasarkan apa yang diniatkan…” Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW. bersabda: ”Binasalah orang-orang Islam kecuali mereka yang berilmu”. Maka binasalah golongan berilmu, kecuali mereka yang beramal dengan ilmu mereka. Dan binasalah golongan yang beramal dengan ilmu mereka kecuali mereka yang ikhlas. Sesungguhnya golongan yang ikhlas ini juga masih dalam keadaan bahaya yang amat besar…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua hadist diatas sudah cukup menjelaskan betapa niat yang disertai dengan keikhlasan itulah inti sebenarnya dalam kehidupan dan pekerjaan manusia. Alangkah baiknya kalau umat Islam hari ini, dapat bergerak dan bekerja dengan tekun dan mempunyai tujuan yang satu, yaitu ”mardatillah” (keridhoan Allah) itulah yang dicari dalam semua urusan. Dari situlah akan lahir nilai keberkahan yang sebenarnya dalam kehidupan yang penuh dengan curahan rahmat dan nikmat yang banyak dari Allah. Inilah golongan yang diistilahkan sebagai golongan yang tenang dalam ibadah, ridha dengan kehidupan yang ditempuh, serta optims dengan janji-janji Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneladani Etos Kerja Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW. menjadikan kerja sebagai aktualisasi dan ketakwaan. Rasul bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan duniawi. Beliau bekerja untuk meraih keridhaan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Rasulullah SAW. berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. ”Kenapa tanganmu?” tanya Rasul kepada Sa’ad. ”Wahai Rasullullah,” jawab Sa’ad, ”Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu beliau mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, ”Inilah tangan yang yang tidak akan pernah tersentuh api neraka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah lain disebutkan bahwa ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasullullah SAW. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya: ”Wahai Rasullullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabillillah, maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab: ”Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabillillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabillillah.” (HR. Ath-Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja adalah menginfestasikan amal shaleh. Bila kerja itu saleh, maka kerja adalah ibadah. Dan bila kerja itu ibadah, maka kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari kerja. Bukankah Allah SWT. menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlebihan bila keberadaan seorang manusia ditentukan oleh aktivitas kerjanya. Allah SWT. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib manusia sebelum mereka mengubah apa yang ada pada dirinya. (QS. Ar-Ra’d:11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. Al-Najm:39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah diawal menggambarkan betapa besarnya penghargaan Rasullullah SAW. terhadap kerja. Kerja apapun itu selama tidak menyimpang dari aturan yang ditetapkan agama. Demikian besarnya penghargaan beliau, sampai-sampai dalam kisah pertama, manusia teragung ini ”rela” mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari yang melepuh lagi gosong. Rasullullah SAW.,dalam dua kisah tersebut, memberikan motivasi pada umatnya bahwa bekerja adalah perbuatan mulia dan termasuk bagian dari jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasullullah SAW. adalah sosok yang selalu berbuat sebelum beliau memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Hal ini sesuai dengan tugas beliau sebagai ushwatun hasanah; teladan yang baik bagi seluruh manusia. Maka saat kita berbicara tentang etos kerja islami, maka beliaulah orang yang paling pantas menjadi rujukan. Dan berbicara tentang etos kerja Rasullullah SAW. sama artinya dengan berbicara bagaimana beliau menjalankan peran-peran dalam hidupnya. Ada lima peran penting yang diemban Rasullullah SAW. yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Sebagai rasul.&lt;br /&gt;Peran ini beliau jalani selama 23 tahun. Dalam kurun waktu tersebut beliau harus berdakwah menyebarkan Islam; menerima, menghapal, menyampaikan, dan menjelaskan tak kurang dari 6666 ayat Al-Qur’an; menjadi guru (pembimbing) bagi para sahabatnya; dan menjadi hakim yang memutuskan berbagai pelik permasalahan umat dari mulai pembunuhan sampai perceraian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Sebagai kepala Negara dan Pemimpin sebuah masyarakat heterogen. Tatkala memegang posisi ini Rasullullah SAW. harus menerima kunjungan diplomatik ”negara-negara sahabat”. Rasul pun harus menata dan menciptakan sistem hukum yang mampu menyatukan kaum Muslimin, Nasrani, dan Yahudi, mengatur perekonomian, dan setumpuk masalah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Sebagai panglima perang.&lt;br /&gt;Selama hidup tak kurang dari 28 kali Rasul memimpin pertempuran melawan kafir Quraisy. Sebagai panglima perang, beliau harus mengorganisasi dari 53 pasukan kaveleri bersenjata. Harus memikirkan strategi perang, persediaan logistik, keamanan, transportasi, kesehatan, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Sebagai kepala rumah tangga.&lt;br /&gt;Dalam posisi ini Rasul harus mendidik, membahagiakan, dan memenuhi tanggung jawab lahir batin terhadap para istri beliau, tujuh anak, dan beberapa orang cucu. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat perhatian terhadap keluarganya. Ditengah kesibukannya Rasul pun masih sempat bercanda dan menjahit sendiri bajunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Sebagai seorang pebisnis.&lt;br /&gt;Sejak usia 12 tahun pamannya Abu thalib sudah mengajaknya melakukan perjalanan bisnis ke Syam, negeri yang saat ini meliputi Syiria, Jordan, Lebanon. Dari usia 17 hingga sekitar 20 tahun adalah masa tersulit dalam perjalanan bisnis Rasul karena beliau harus mandiri dan bersaing dengan pemain-pemain senior dalam perdagangan regional. Usia 20 hingga 25 tahun merupakan titik keemasan entrepreneurship Rasullullah SAW. terbukti dengan ”terpikatnya” konglomerat Mekkah, Khadizah binti Khuwailid, yang kemudian melamarnya menjadi suami. Afzalurrahmah dalam bukunya, Muhammad Sebagai Seorang Pedagang (2000:5-12), mencatat bahwa Rasul pun sering terlibat dalam perjalanan bisnis ke berbagai negeri Yaman, Oman, dan Bahrain. Dan beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kenyataan bila Rasullullah SAW. mampu menjalankan kelima perannya tersebut dengan sempurna, bahkan menjadi yang terbaik. Tak heran bila para ilmuan, baik itu yang muslim maupun non-muslim, menempatkan beliau sebagai orang yang paling berpengaruh, paling pemberani, paling bijaksana, paling bermoral, dan sejumlah paling lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa rahasia kesuksesan karier dan pekerjaan Rasullullah SAW.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Rasul selalu bekerja dengan cara yang terbaik, professional, dan tak asal-asala. Beliau bersabda: ”Sesungguhnya Allah menginginkan jika salah seorang darimu bekerja, maka hendaklah meningkatkan kualitasnya”.&lt;br /&gt;2.    Dalam bekerja Rasullullah SAW. melakukannya dengan menejemen yang baik, perencanaan yang jelas, pentahapan aksi, dan adanya penetapan skala prioritas.&lt;br /&gt;3.    Rasul tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan sekecil apapun. ”Barang siapa yang dibukakan pintu kebaikan, hendaknya dia mampu memanfaatkannya, karena ia tahu kapan ditutupkan kepadanya,” demikian sabda beliau.&lt;br /&gt;4.    Dalam bekerja, Rasul selalu memperhitungkan masa depan. Beliau adalah sosok yang visioner, sehingga segala aktivitasnya benar-benar terarah dan terfokus.&lt;br /&gt;5.    Rasul tidak pernah menangguhkan pekerjaan. Beliau bekerja secara tuntas dan berkualitas.&lt;br /&gt;6.    Rasul bekerja secara berjamaah dengan mempersiapkan (membentuk) tim yang solid yang percaya pada cita-cita bersama.&lt;br /&gt;7.    Rasul adalah pribadi yang sangat menghargai waktu. Tidak berlalu sedikitpun waktu, kecuali menjadi nilai tambah bagi diri dan umtnya. Dan yang terakhir, Rasullullah SAW. menjadika kerja sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan. Rasul bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan duniawi. Beliau bekerja untuk meraih keridhoan Allah SWT. Inilah kunci terpenting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT. memberikan kemampuan kepada kita untuk meneladani etos kerja Rasullullah SAW.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-2039352156144011519?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/2039352156144011519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=2039352156144011519' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/2039352156144011519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/2039352156144011519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/etos-kerja-dalam-islam_06.html' title='ETOS KERJA DALAM ISLAM'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-5668644993487138386</id><published>2010-01-06T08:07:00.001-08:00</published><updated>2010-01-06T08:07:46.102-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ETOS KERJA'/><title type='text'>Etos Kerja</title><content type='html'>Arif Mulyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan katakanlah : "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS At-Taubah, 9 : 105)&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Seburuk-buruk tempat adalah pasar, sebaik-baik tempat adalah masjid (Nabi Muhammad Saww.)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secara sekilas membaca hadis tersebut, kita seolah-olah masuk pada suatu dikotomi atau pertentangan yang ekstrem antara kedua tempat tersebut yakni pasar versus masjid. Namun tulisan ini tidak berupaya untuk menajamkan perbedaan pada kedua kutub tersebut Alih-alih untuk memisahkan keduanya, penulis mencoba memadukannya dengan meminjam pandangan dunia Muslim tradisional, sebuah tawaran pandangan yang acapkali digagas oleh Seyyed Hossein Nasr dalam karya-karyanya..&lt;br /&gt;Mengomentari hadis tersebut, Kuntowijoyo, dalam karyanya Dinamika Perjuangan Umat Islam Indonesia, menyebutkan bahwa kedua tempat itu sebetulnya merupakan suatu simbol aktivitas dalam dunia kehidupan Muslim. "Penafsiran" Kunto yang didasarkan pada pendekatan sosiologis memaknai "pasar" sebagai simbol aktivitas kerja secara khusus, sedangkan "masjid" dimaknai sebagai wilayah beribadah atau belajar (ta'lim) secara khusus pula.&lt;br /&gt;Memang, bila "kerja" dibatasi maknanya pada matra ekonomi dan sosial belaka, seakan-akan mengesankan adanya dikotomi antara yang profan-duniawi (pasar, kerja) dengan yang sakral-ukhrawi (masjid, belajar). Celakanya, kesan seperti itu tampak begitu kuat di kalangan Muslim sendiri.&lt;br /&gt;Dalam realitanya, cakrawala pandang kaum Muslim modern atas dunia kehidupannya terbagi pada dua kelompok yakni, pertama, kelompok yang lebih terfokus pada urusan "pekerjaan". Mereka sudah mencoba menampilkan kinerja yang profesional, tapi motivasi bekerjanya sangat rapuh, yakni sekadar mencari uang semata. Akibatnya, dari motivasi yang kurang lurus tersebut, keinginannya untuk berderma di jalan Allah amat minim. Ia merasa tidak pantas untuk mengeluarkan sedekah, infak, zakat ataupun khumus karena toh yang bekerja adalah dirinya sendiri. Bukan orang lain. Ia merasa bahwa kekayaan yang ia raih bukanlah anugrah dari Allah, namun dari jerih payahnya sendiri. Jadi, dalam mencari nafkah, mereka begitu punya semangat yang tinggi dan etos yang kuat. Akan tetapi, untuk urusan ilmu atau belajar mereka mencukupkan diri dengan pengetahuan yang sudah terakumulasi sebelumnya.&lt;br /&gt;Kelompok kedua adalah mereka yang memfokuskan diri pada urusan keilmuan/"ibadah". Kelompok ini amat gandrung pada urusan yang sifatnya "intelektual-ritual", namun kurang bisa menampilkan sikap yang profesional dalam bekerja. Artinya, pekerjaan yang mereka tunaikan kualitasnya amat rendah, tidak tepat waktu, dan kurang cita rasa seni. Yang penting, selesai bung ! adalah motto mereka. Dalam mengejar ilmu atau melakukan ibadah ritual, mereka memang "jago"-nya. Namun dalam urusan pekerjaan, mereka tidak punya sikap yang sama. Itu kan duniawi, kilah mereka.&lt;br /&gt;Tafsir sosiologis dari Kunto tentang "pasar" dan "masjid" tampaknya mendekati kenyataan yang menimpa pada kaum Muslimin sendiri. Ideologi "kaum pasar" semakin diperkuat dengan serbuan pandangan materialisme Barat yang sangat memuja benda atau materi. Materilah yang menjadi standar apakah orang ini pantas atau tidak untuk dihormati, dihargai, atau diakrabi. Bahkan dikawini. Andil budaya massa seperti televisi, majalah, koran, ataupun radio semakin memperteguh lagi akan pandangan dunia yang sebetulnya asing, dan tidak berakar pada nadi kehidupan kaum Muslim.&lt;br /&gt;Sedangkan "kaum masjid" seolah-olah muncul di atas ketidakberdayaan dalam menghadapi arus zaman. "Sufisme" menjadi suatu lahan eskapis bagi mereka untuk menghindari kenyataan. Dan, mereka berlindung di bawah istilah-istilah "sabar", "zuhud", "doa", "ziarah", dan sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Etos Kerja dalam Islam&lt;br /&gt;Sesungguhnya dikotomi antara "kerja" dengan "belajar" tidak perlu terjadi. Karena, apabila kita menghayati ikrar kita secara mendalam pada proposisi "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" dalam surat Al-Fatihah, maka dunia kehidupan kaum Muslimin bernuansa ibadah yang sangat kental. Dalam firman-Nya yang lain, Allah mengatakan, "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah," (QS Adz-Dzariyat, 51 : 56). Sehingga, jelas-jelas tidak ada pemisahan antara yang sakral dengan yang profan, yang duniawi dengan yang ukhrawi.&lt;br /&gt;Ketika mengomentari ayat, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad (perjanjian) itu" (QS Al-Ma'idah, 5 :1), Raghib Isfahani, sebagaimana dikutip Seyyed Hossein Nasr (1994) mengatakan bahwa perjanjian-perjanjian itu meliputi perjanjian-perjanjian antara Tuhan dan manusia, yakni kewajiban-kewajiban manusia kepada Tuhan; [perjanjian antara manusia dan dirinya sendiri; dan [perjanjian] antara individu dan sesamanya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, perjanjian (uqud) yang dirujuk pada ayat tersebut berkisar antara pelaksanaan shalat sehari-hari sampai menjual barang dagangan di bazaar, dari sembah sujud hingga kerja mencari penghidupan.&lt;br /&gt;Berangkat dari pandangan dunia tradisional tersebut yang tidak mendikotomikan antara yang sakral dan yang profan, maka etos kerja kaum Muslim selayaknya memperhatikan kualitas pekerjaannya. Ini artinya, dalam bekerja karakteristik spiritual tetap terjaga dan terpelihara yakni pekerjaan itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.&lt;br /&gt;Tanggung jawab terhadap kerja berarti kesiapan untuk bertanggung jawab di hadapan Yang Mutlak karena kerja adalah saksi bagi semua tindakan manusia. Dalam ushuluddin disebut-sebut perihal konsep ma'ad atau qiyamah yang bila diterjemahkan dalam keseharian akan sangat mendukung sekali terhadap profesionalisme dalam bekerja. Di sini konsep ma'ad atau qiyamah bukanlah suatu konsep di langit-langit Platonik melainkan sesuatu yang hidup, membumi.&lt;br /&gt;Penghayatan yang mendalam terhadap prinsip ma'ad akan berimplikasi positif dan konstruktif terhadap perkembangan kepribadian kaum Muslim. Setidaknya dengan menghayati prinsip tersebut, pemuda Muslim tidak mengenal istilah pengangguran.&lt;br /&gt;Konon, praktik shalat wajib di kalangan Syi'ah yang mencakup shalat fajr, shalat siang hari (Zhuhur dan 'Ashar), dan shalat malam hari (Maghrib dan 'Isya), merupakan refleksi etos kerja mereka yang begitu tinggi dan manifestasi produktivitas dalam berkarya. Artinya, bila kaum Syi'ah selesai melaksanakan shalat siang hari, maka setelah selesai shalat dan zikir, mereka akan kembali bekerja dengan semangat yang tetap terjaga. Bukan meneruskannya dengan aktivitas yang kurang produktif dan tidak bermanfaat.&lt;br /&gt;"Kerja berkaitan erat dengan doa dan hidayah bagi semua masyarakat tradisional dan kaitan ini dirasakan dan diaksentuasikan dalam Islam," tulis Nasr (1994). Dengan mengamati lafaz adzan Syi'ah, dengan formulasi hayya 'ala al-shalah, hayya 'ala al-falah, dan hayya 'ala khair al-'amal, Nasr menyimpulkan bahwa shalat dan kerja memiliki keterkaitan yang prinsipal. "Di sana hubungan antara shalat, kerja, dan amal saleh selalu ditekankan," lanjutnya.&lt;br /&gt;Perspektif Islam yang padu, menolak membedakan antara yang sakral dan yang profan, yang ukhrawi dan yang duniawi, yang religius dan yang sekular atau, secara lebih spesifik, antara shalat dan kerja. Implikasi praktisnya adalah bahwa sebagaimana kita mencoba khusyu dalam shalat, maka begitu pula dalam bekerja kita mencoba untuk meng-khusyu'-kan diri. Dalam bahasa bisnisnya, berusaha bersikap lebih profesional.&lt;br /&gt;Lebih jauh, sebagaimana ketakutan pada Tuhan dan tanggung jawab kepada-Nya dalam ekspresi shalat kita, maka demikian pula kita dalam pekerjaan kita. Karena, "Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu." [ ]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-5668644993487138386?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/5668644993487138386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=5668644993487138386' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5668644993487138386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5668644993487138386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/etos-kerja.html' title='Etos Kerja'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-7044707253037703356</id><published>2010-01-06T08:05:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T08:06:23.580-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ETOS KERJA'/><title type='text'>Etos kerja dalam Islam</title><content type='html'>I.                   Mukaddimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Qur’an, dan Dia tidak membuat sesuatu yang tidak lurus di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan (manusia) akan siksa yang pedih dari Allah dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman, yang mengerjakan  amal soleh, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik. Mereka (akan menikmati kehidupan sorga)  kekal di dalamnya untuk selamanya”(al-Kahfi:1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Al-Qur’an adalah pedoman begi manusia yang ingin memilih jalan kebenaran daripada jalan kesesatan (al-Baqarah :185), pembimbing (guidance) untuk membina ketakwaan (al-Baqarah: 2). Namun, hidup yang taqwa bukan semata harapan atau angan-angan untuk meraih kebahagiaan, tetapi merupakan medan dan cara kerja yang sebaik-baiknya untuk merealisasikan kehidupan yang berjaya di dunia dan memperoleh balasan yang lebih baik lagi di akhirat (an-Nahl: 97).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bekerja adalah kodrat hidup, baik kehidupan spiritual, intelektual, fisik biologis, maupun kehidupan individual dan sosial dalam berbagai bidang (al-Mulk: 2). Seseorang layak untuk mendapatkan predikat yang terpuji seperti potensial, aktif, dinamis, produktif atau profesional, semata-mata karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar “hidup”, dalam kehidupan ini ia memerlukan ruh (spirit). Untuk ini, Al Qur’an diturunkan sebagai “ruhan min amrina”,  yakni spirit hidup ciptaan Allah, sekaligus sebagai “nur” (cahaya) yang tak kunjung padam, agar aktivitas hidup manusia tidak tersesat (asy-Syura: 52).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.                Pembahasan&lt;br /&gt;A.    Posisi Kerja dalam Kitabullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Al-Qur’an menyebut kerja dengan berbagai terminologi. Al-Qur’an menyebutnya sebagai “amalun”, terdapat tidak kurang dari 260 musytaqqat (derivatnya), mencakup pekerjaan lahiriah dan batiniah. Disebut “fi’lun” dalam sekitar 99 derivatnya, dengan konotasi pada pekerjaan lahiriah. Disebut dengan kata “shun’un”, tidak kurang dari 17 derivat, dengan penekanan makna pada pekerjaan yang menghasilkan keluaran (output) yang bersifat fisik. Disebut juga dengan kata “taqdimun”,  dalam 16 derivatnya, yang mempunyai penekanan makna pada investasi untuk kebahagiaan hari esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pekerjaan yang dicintai Allah SWT adalah yang berkualitas. Untuk menjelaskannya, Al Qur’an mempergunakan empat istilah: “Amal Shalih”, tak kurang dari 77 kali; ‘amal yang “Ihsan”, lebih dari 20 kali; ‘amal yang “Itqan”, disebut 1 kali; dan ”al-Birr”, disebut 6 kali. Pengungkapannya kadang dengan bahasa perintah, kadang dengan bahasa anjuran. Pada sisi lain, dijelaskan juga pekerjaan yang buruk dengan akibatnya yang buruk pula dalam beberapa istilah yang bervariasi. Sebagai contoh, disebutnya sebagai perbuatan syaitan (al-Maidah: 90, al-Qashash:15), perbuatan yang sia-sia (Ali Imran: 22, al-Furqaan: 23), pekerjaan yang bercampur dengan keburukan (at-Taubah:102), pekerjaan kamuflase yang nampak baik, tetapi isinya buruk (an-Naml:4, Fusshilat: 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an sebagai pedoman kerja kebaikan, kerja ibadah, kerja taqwa atau amal shalih, memandang kerja sebagai kodrat hidup. Al-Qur’an menegaskan bahwa hidup ini untuk ibadah (adz-Dzariat: 56). Maka, kerja dengan sendirinya adalah ibadah, dan ibadah hanya dapat direalisasikan dengan kerja dalam segala manifestasinya (al-Hajj: 77-78, al-Baqarah:177).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kerja adalah ibadah dan status hukum ibadah pada dasarnya adalah wajib, maka status hukum bekerja pada dasarnya juga wajib. Kewajiban ini pada dasarnya bersifat individual, atau fardhu ‘ain, yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Hal ini berhubungan langsung dengan pertanggung jawaban amal yang juga bersifat individual, dimana individulah yang kelak akan mempertanggung jawabkan amal masing-masing. Untuk pekerjaan yang langsung memasuki wilayah kepentingan umum, kewajiban menunaikannya bersifat kolektif atau sosial, yang disebut dengan fardhu kifayah, sehingga lebih menjamin terealisasikannya kepentingan umum tersebut. Namun, posisi individu dalam konteks kewajiban sosial ini tetap sentral. Setiap orang wajib memberikan kontribusi dan partisipasinya sesuai kapasitas masing-masing, dan tidak ada toleransi hingga tercapai tingkat kecukupan (kifayah) dalam ukuran kepentingan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat pokok agar setiap aktivitas  kita bernilai ibadah ada dua, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Ikhlas, yakni mempunyai motivasi yang benar, yaitu untuk berbuat hal yang baik yang berguna bagi kehidupan dan dibenarkan oleh agama. Dengan proyeksi atau tujuan akhir meraih mardhatillah (al-Baqarah:207 dan 265).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, shawab (benar), yaitu sepenuhnya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh agama melalui Rasulullah saw untuk pekerjaan ubudiyah (ibadah khusus), dan tidak bertentangan dengan suatu ketentuan agama dalam hal muamalat (ibadah umum). Ketentuan ini sesuai dengan pesan Al-Qur’an (Ali Imran: 31, al-Hasyr:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ketika kita memilih pekerjaan, maka haruslah didasarkan pada pertimbangan moral, apakah pekerjaan itu baik (amal shalih) atau tidak. Islam memuliakan setiap pekerjaan yang baik, tanpa mendiskriminasikannya, apakah itu pekerjaan otak atau otot, pekerjaan halus atau kasar, yang penting dapat dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah. Pekerjaan itu haruslah tidak bertentangan dengan agama, berguna secara fitrah kemanusiaan untuk dirinya, dan memberi dampak positif secara sosial dan kultural bagi masyarakatnya. Karena itu, tangga seleksi dan skala prioritas dimulai dengan pekerjaan yang manfaatnya bersifat primer, kemudian yang mempunyai manfaat pendukung, dan terakhir yang bernilai guna sebagai pelengkap.&lt;br /&gt;B.     Kualitas Etik Kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Al-Qur’an menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah, dan menempuh jalan menuju ridha-Nya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain. Dengan tertanamnya kesadaran ini, seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. Semboyangnya adalah “tiada waktu tanpa kerja, tiada waktu tanpa amal.’  Adapun agar nilai ibadahnya tidak luntur, maka perangkat kualitas etik kerja yang Islami harus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1.         Ash-Shalah (Baik dan Bermanfaat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pesan iman yang membawa manusia kepada orientasi nilai dan kualitas. Al Qur’an menggandengkan iman dengan amal soleh sebanyak 77 kali. Pekerjaan yang standar adalah pekerjaan yang bermanfaat bagi individu dan masyarakat, secara material dan moral-spiritual. Tolok ukurnya adalah pesan syariah yang semata-mata merupakan rahmat bagi manusia. Jika tidak diketahui adanya pesan khusus dari agama, maka seseorang harus memperhatikan pengakuan umum bahwa sesuatu itu bermanfaat, dan berkonsultasi kepada orang yang lebih tahu. Jika hal ini pun tidak dilakukan, minimal kembali kepada pertimbangan akal sehat yang didukung secara nurani yang sejuk, lebih-lebih jika dilakukan melalui media shalat meminta petunjuk (istikharah). Dengan prosedur ini, seorang muslim tidak perlu bingung atau ragu dalam memilih suatu pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2.         Al-Itqan (Kemantapan atau perfectness)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88). Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan, yakni mencapai standar ideal secara teknis. Untuk itu, diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. Dalam konteks ini, Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Suatu keterampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang, akibat meninggalkan latihan, padahal manfaatnya besar untuk masyarakat. Karena itu, melepas atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa. Konsep itqan memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas, tetapi berkualitas, daripada output yang banyak, tetapi kurang bermutu (al-Baqarah: 263).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       3.         Al-Ihsan (Melakukan yang Terbaik atau Lebih Baik Lagi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan makna pertama ini, maka pengertian ihsan sama dengan ‘itqan’. Pesan yang dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua ihsan mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terus-menerus, seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan sumber daya  lainnya. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini menurun dari hari kemarin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi saw. Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain. Bahkan, idealnya ia tetap berbuat yang lebih baik, hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat :34, dan an Naml: 125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat kerja yang ihsan ini akan dimiliki manakala seseorang bekerja dengan semangat ibadah, dan dengan kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       4.         Al-Mujahadah (Kerja Keras dan Optimal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an meletakkan kulaitas mujahadah dalam bekerja pada konteks manfaatnya, yaitu untuk kebaikan manusia sendiri, dan agar   nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. (Ali Imran: 142, al-Maidah: 35,              al-Hajj: 77, al-Furqan: 25,  dan al-Ankabut: 69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh ma fil wus’i”, yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum ‘taskhir’, yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33). Tinggal peran manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendaya gunakannya secara optimal, dalam rangka melaksanakan apa yang Allah ridhai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermujahadah atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159, Hud: 133).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       5.         Tanafus dan Ta’awun (Berkompetisi dan Tolong-menolong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar” atau perintah. Ada perintah “fastabiqul khairat” (maka, berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108). Begitu pula perintah “wasari’u ilaa magfirain min Rabbikum wajannah” `bersegeralah lamu sekalian menuju ampunan Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan infaq, pengendalian emosi, pemberian maaf, berbuat kebajikan, dan bersegera bertaubat kepada Allah (Ali Imran 133-135). Kita dapati pula dalam ungkapan “tanafus” untuk menjadi hamba yang gemar berbuat kebajikan, sehingga berhak mendapatkan surga, tempat segala kenikmatan (al-Muthaffifin: 22-26). Dinyatakan pula dalam konteks persaingan dan ketaqwaan, sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang paling taqwa (al Hujurat: 13). Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan dalam kualitas kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena dasar semangat dalam kompetisi islami adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah serta amal shalih, maka wajah persaingan itu tidaklah seram; saling mengalahkan atau mengorbankan. Akan tetapi, untuk saling membantu (ta’awun). Dengan demikian, obyek kompetisi dan kooperasi tidak berbeda, yaitu kebaikan dalam garis horizontal dan ketaqwaan dalam garis vertikal (al-Maidah: 3), sehingga orang yang lebih banyak membantu dimungkinkan amalnya lebih banyak serta lebih baik, dan karenanya, ia mengungguli score kebajikan yang diraih saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       6.         Mencermati Nilai Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan atau pun kerugian manusia banyak ditentukan oleh sikapnya terhadap waktu. Sikap imani adalah sikap yang menghargai waktu sebagai karunia Ilahi yang wajib disyukuri. Hal ini dilakukan dengan cara mengisinya dengan amal solih, sekaligus waktu itu pun merupakan amanat yang tidak boleh disia-siakan. Sebaliknya, sikap ingkar adalah cenderung mengutuk waktu dan menyia-nyiakannya. Waktu adalah sumpah Allah dalam beberapa ayat kitab suci-Nya yang mengaitkannya dengan nasib baik atau buruk yang akan menimpa manusia, akibat tingkah lakunya sendiri. Semua macam pekerjaan ubudiyah (ibadah vertikal) telah ditentukan waktunya dan disesuaikan dengan kesibukan dalam hidup ini. Kemudian, terpulang kepada manusia itu sendiri: apakah mau melaksanakannya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip al-Qardhawi dalam bukunya “Qimatul waqti fil Islam”: waktu adalah hidup itu sendiri, maka jangan sekali-kali engkau sia-siakan, sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak berfaidah. Setiap orang akan mempertanggung jawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian, seperti gemar menangguhkan atau mengukur waktu, yang berarti menghilangkan kesempatan. Namun, kemudian ia mengkambing hitamkan waktu saat ia merugi, sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja, maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa           al-Asy’ari ra, sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid, ”Amma ba’du. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh karena itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai.” (Kitab al-Amwal, 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.             Penutup&lt;br /&gt;Jihad Sebagai Etos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruhul jihad dalam bekerja mempersyaratkan mobilisasi dan optimalisasi pemberdayaan segenap potensi di jalan Allah untuk kebaikan setiap orang. Ruhul mujahadah menuntut kesabaran dan kontinyuitas kerja, bahkan menuntut tingkat kesabaran ekstra yang mampu mengungguli kesabaran para pesaing. Semua itu  didukung dengan ketekunan untuk murabathah, yakni pantang meninggalkan pekerjaan sebelum selesai (Ali Imran: 200). Ruhul jihad menolak setiap bentuk ketidakcermatan dalam memanajemen waktu yang begitu berharga; ketidak rofesionalan dalam mengelola sumber daya yang demikian mahal. Dengan tegas pula, ia menolak setiap perasaan dan sikap lemah, malas dan kurang serius, mengandalkan pada kemampuan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan, lebih-lebih mencatut prestasi orang lain sebagai hasil karyanya. Sebab, cara ini analog dengan memakan harta orang lain secara batil (al Baqarah: 188 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis, Kaum Muslimin mempunyai etos kerja yang demikian kuat dan mendasar, karena ia bermuara pada iman, berhubungan langsung dengan kekuatan Allah, dan merupakan persoalanm hidup dan mati. Akan tetapi, tidak diingkari kalau kenyataannya masih ‘jauh panggang dari pada api’. Sebaliknya, Kaum Muslimin belum tahu kalau mereka itu mempunyai kekuatan etos kerja yang sangat dahsyat, dan ketika mereka melihat prestasi suatu bangsa atau umat lain, sebagian orang Islam salut dan terpana dengan etos kerja mereka, dan kadang sambil bertanya dengan agak sinis: Adakah etos kerja dalam Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, di sinilah Kaum Muslimin harus kembali kepada Islam secara benar dan mengambil semangat atau ‘apinya’. Karena, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Islam adalah pangkal segala urusan hidup, tiang pancangnya shalat, dan ujung tombaknya adalah jihad.” (H.R.Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ruhul jihad, setiap muslim akan mampu mengukir prestasi dengan penuh kegairahan, kemudian secara pasti akan mengembalikan ‘izzah atau harga dirinya, sehingga disegani oleh umat lain. Sebab, kemuliaan dan gensi itu adalah milik Allah, rasul-Nya, serta orang-orang beriman (al-Munafiqun: 8 ). Tanpa semangat jihad, mereka takkan lebih dari sekedar umat ritual yang nampak soleh, tetapi tanpa gengsi, bahkan boleh jadi inferior terhadap umat atau bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat inilah yang hendak dirusak dan dilumpuhkan oleh pemikiran dan budaya asing, demi lestarinya pengaruh mereka terhadap negeri-negeri muslim. Kaum Muslimin dijadikan target invasi pemikiran dan budaya (al-gazwul fikri). Mereka dicuri waktunya dengan berbagai sarana dan acara hiburan yang menyuguhkan budaya santai, lembek, dan pornografis. Maka, bersemailah di bumi Kaum Muslimin hiburan-hiburan yang berselera rendah, sikap basa-basi, asal bapak senang (ABS) serta budaya minta petunjuk, memudarnya kejantanan kaum pria yang bergaya wanita, dan akhirnya membentuk sikap al wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil seorang muslim adalah insan yang ramah, tetapi bukan lemah; serius, tetapi familiar dan tidak kaku; perhitungan, tetapi bukan pelit; penyantun, tetapi mengajak bertanggung jawab; disipilin, tetapi pengertian, mendidik, dan mengayomi; kreatif dan enerjik, tetapi hanya untuk kebaikan; selalu memikirkan prestasi, tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Kesenangannya adalah meminta maaf dan memberi bantuan dan kepandaiannya adalah dalam rangka mengakui karunia Allah dan menghargai jasa  atau prestasi orang lain.&lt;br /&gt;Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan alam, Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, serta para mujahidin di segala bidang sepanjang zaman. Berkat prestasi kerja mereka itulah, peta kejayaan ummat dapat diukurkan. Semoga kita mampu bergabung dalam barisan mereka. Aamin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-7044707253037703356?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/7044707253037703356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=7044707253037703356' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7044707253037703356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/7044707253037703356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/etos-kerja-dalam-islam.html' title='Etos kerja dalam Islam'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-8086650110131173226</id><published>2010-01-06T08:03:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T08:04:06.280-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ETOS KERJA'/><title type='text'>Etos Kerja Dalam Pandangan Islam</title><content type='html'>Januari 6, 2007 oleh Editor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Asep Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan akhlak dalam pekerjaan. Untuk bisa menimbang bagaimana akhlak seseorang dalam bekerja sangat tergantung dari cara melihat arti kerja dalam kehidupan, cara bekerja dan hakikat bekerja. Dalam Islam, iman banyak dikaitkan dengan amal. Dengan kata lain, kerja yang merupakan bagian dari amal tak lepas dari kaitan iman seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, semakin tinggi iman itu maka semangat kerjanya juga tidak rendah. Ungkapan iman sendiri berkaitan tidak hanya dengan hal-hal spiritual tetapi juga program aksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini sendiri akan melihat pertama, kerja sebagai manifestasi program mewujudkan tujuan hidup di muka bumi yakni mencari Ridha Allah dengan mewujudkan diri sebagai khalifah di muka bumi. Kedua, karakteristik pekerjaan di masa datang yang diperlukan umat Islam.&lt;br /&gt;II. Manifestasi Mencari Ridha Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya umat Islam termasuk beruntung karena semua pedoman dan panduan sudah terkodifikasi. Kini tinggal bagaiman menterjemahkan dan mengapresiasikannya dalam kegiatan harian, mingguan dan bulanan. Jika kita pandang dari sudut bahwa tujuan hidup itu mencari Ridha Allah SWT maka apapun yang dikerjakannya, apakah di rumah, di kantor, di ruang kelas, di perpustakaan, di ruang penelitian ataupun dalam kegiatan kemasyarakatan, takkan lepas dari kerangka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, setiap pekerjaan yang kita lakukan, dilaksanakan dengan sadar dalam kerangka pencapaian Ridha Allah. Cara melihat seperti ini akan memberi dampak, misalnya, dalam kesungguhan menghadapi pekerjaan. Jika seseorang sudah meyakini bahwa Allah SWT sebagai tujuan akhir hidupnya maka apa yang dilakukannya di dunia tak dijalankan dengan sembarangan. Ia akan mencari kesempurnaan dalam mendekati kepada Al Haq. Ia akan mengoptimalkan seluruh kapasitas dan kemampuan inderawi yang berada pada dirinya dalam rangka mengaktualisasikan tujuan kehidupannya. Ini bisa berarti bahwa dalam bekerja ia akan sungguh-sungguh karena bagi dirinya bekerja tak lain adalah ibadah, pengabdian kepada Yang Maha Suci. Lebih seksama lagi, ia akan bekerja – dalam bahasa populernya – secara profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya profesional itu ? Dalam khasanah Islam mungkin bisa dikaitkan dengan padanan kata ihsan. Setiap manusia, seperti diungkapkan Al Qur’an, diperintahkan untuk berbuat ihsan agar dicintai Allah. Kata Ihsan sendiri merupakan salah satu pilar disamping kata Iman dan Islam. Dalam pengertian yang sederhana, ihsan berarti kita beribadah kepada Allah seolah-olah Ia melihat kita. Jikalau kita memang tidak bisa melihat-Nya, tetapi pada kenyataannya Allah menyaksikan setiap perbuatan dan desir kalbu kita. Ihsan adalah perbuatan baik dalam pengertian sebaik mungkin atau secara optimal. Hal itu tercermin dalam Hadis Riwayat Muslim yang menuturkan sabda Rasulullah SAW : Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu. Karena itu jika kamu membunuh, maka berihsanlah dalam membunuh itu dan jika kamu menyembelih, maka berihsanlan dalam menyembelih itu dan hendaknya seseorang menajamkan pisaunya dan menenangkan binatang sembelihannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nurcholis Madjid, dari konteks hadis itu dapat disimpulkan bahwa ihsan berarti optimalisasi hasil kerja dengan jalan melakukan pekerjaan itu sebaik mungkin, bahkan sesempurna mungkin. “Penajaman pisau untuk menyembelih” itu merupakan isyarat efisiensi dan daya guna yang setinggi-tingginya. Allah sendiri mewajibkan ihsan atas segala sesuatu seperti tercermin dalam Al Qur’an. Yang membuat baik, sebaik-baiknya segala sesuatu yang diciptakan-Nya. (32:7). Selanjutnya Allah juga menyatakan telah melakukan ihsan kepada manusia, kemudian agar manusia pun melakukan ihsan. Dan carilah apa yang dianugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dunia, dan berbuat ihsanlah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepadamu , dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (28:77).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan hadis dan uraian Al Qur’an jelaslah bahwa setiap Muslim harus menjadi seorang pekerja yang profesional. Dengan demikian ia melaksanakan salah satu perintah Allah untuk berbuat ihsan dan juga mensyukuri karunia Allah berupa kekuatan akal dan fisiknya yang diberikan sebagai bekal dalam bekerja. Mengabaikan potensi akal dan fisik ini atau tidak “menajamkannya” bisa bermakna tidak mensyukuri nikmat dan karunia Ilahi Rabbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Karakteristik pekerjaan mendatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai trend telah memperlihatkan bahwa bentuk pekerjaan mendatang tak hanya mengandalkan fisik tetapi juga otak. Al Qur’an dalam berbagai ayat sudah mengajak manusia untuk berpikir, membandingkan dan menggunakan akal dalam menghayati kehidupan dan mengarungi samudera kehidupan. Peter Drucker, salah seorang pakar manajemen, tahun 1960-an sudah memperingatkan akan datangnya “Knowledge Society”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat jenis ini banyak bentuk kegiatan ekonomi dan pekerjaan dilakukan berdasarkan kepadatan pengetahuan. Ia memberi contoh mengetik. Dulua dengan memencet tuts orang bisa membuat kalimat, tetapi sekarang dengan adanya komputer sebelum memencet tuts harus dimiliki serangkaian pengetahuan cara bekerja perangkat lunaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar manajemen lainnya seperti Charles Handy, Michael Hammer atau Gary Hamel ataupun futurolog seperti John Naisbit dan Alvin Tovler sudah meramalkan jauh-jauh hari akan datangnya jenis pekerjaan otak ini. Dalam ungkapan Handy, aset sebuah organisasi tidak lagi terletak pada properti atau benda-benda fisik lainnya tetapi pada sumber daya manusia. Dan inti dari sumber daya manusia itupun adalah otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kalau kita cermat, Al Quran sudah mengisyaratkan akan lahirnya masyarakat pengetahuan itu dengan ungkapan di ayat pertama, Iqra. Hanya tinggal manifestasi saja bagaimana Iqra itu menjadi jalan kehidupan umat Islam, bukan sebagai jargon yang yang dilafalkan.Membumikan istilah Iqra itulah merupakan tantangan umat Islam sehingga tidak ketinggalan dalam budaya masyarakat pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip istilah Deputi PM Anwar Ibrahim, umat Islam itu harus mampu menyumbangkan bagi peradaban yang hidup di dunia, sejajar dengan peradaban lainnya. Dengan demikian etos kerja harus merupakan bagian dari tradisi umat Islam, bukan tradisi masyarakat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan akan etos kerja dalam Islam sebenarnya sudah banyak diungkapkan brebagai ayat Al Quran atau diuraikan hadis. Kini saatnya menyadari makna al ihsan itu sehingga dari kesadaran yang berdasarkan pengetahuan itu akan lahir sebuah budaya yang melihat pekerjaan sebagai manifestasi pengabdian kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Quran dan Terjemahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gibson, Rowan, Rethinking the Future. London, Nicholas Brealy Publishing, 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim, Anwar, The Asian Renaissance.Singapore, Times BookInternational, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iqbal, Sheikh Mohd, Misi Islam.Jakarta, Penerbit Gunung Jati, 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madjid, Nurcholis, Islam: Doktrin dan Peradaban.Jakarta, YayasanWakaf Paramadina, 1999&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-8086650110131173226?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/8086650110131173226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=8086650110131173226' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/8086650110131173226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/8086650110131173226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2010/01/etos-kerja-dalam-pandangan-islam.html' title='Etos Kerja Dalam Pandangan Islam'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-5592355273076364472</id><published>2009-12-30T12:25:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T12:26:31.802-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>Pendidikan.Network</title><content type='html'>Pendidikan.Network ini dimaksudkan untuk merangkum informasi yang berhubungan dengan perkembangan pendidikan yang terjadi dan untuk menyajikan sumber umum serta jaringan komunikasi forum bagi administrator sekolah, para pendidik dan para peminat lainnya. [Informasi Langganan Baru]&lt;br /&gt;"18.000 Sekolah Telah Tersambung Jardiknas"&lt;br /&gt;(Sekretaris Jenderal Depdiknas Doddy Nandika)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dodi menambahkan, di daerah-daerah terpencil infrastruktur-infrastruktur dasar tersebut masih banyak yang belum tersedia. Padahal, total sekolah yang ada di Indonesia mencapai sekitar 300.000 unit dari jenjang dasar sampai atas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 3 tahun baru 18.000 dari 300.000 sekolah sambung ke Jardiknas. Muapun target utama "daerah-daerah terpencil...masih banyak yang belum tersedia". Tahun berapa Jardiknas akan siap menjadi salah satu strategi pendidikan nasional? Biayanya sampai sekarang berapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hasil penelitian yang membuktikan bahwa Jardiknas dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah di mana? Mutu dan Jumlah bahannya bagaimana?&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dari 18.000 sekolah itu, berapa sekolah mempunyai rasio lebih dari 1 komputer untuk 20 siswa? Soalnya rasio 1:20 (sekarang 1:2000) adalah target Depdiknas untuk tahun 2015 dan ini hanya cukup untuk mengajar Mata Pelajaran TIK (paling 2 sampai 4 jam seminggu, kan?). Berarti sekolah-sekolah akan perlu jauh lebih banyak komputer dari 1:20 kalau ingin menggunakan komputer untuk mata pelajaran yang lain, kan?&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Siapa yang bertangungjawab untuk pemiliharaan komputer-komputer sebanyak ini, Depdiknas? Banyak sekolah di "daerah-daerah terpencil" sedang kurang anggaran untuk memperbaiki papan tulis atau dindingnya, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Rencana Jardiknas Masuk Akal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Puluhan ribu sekolah dalam keadaan rusak atau ambruk termasuk 70% sekolah di DKI Jakarta - Di Jakarta Saja, 179 Sekolah Tidak Layak Pakai! - Hampir 80% Gedung Sekolah di Pesawaran Rusak, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jumlah ruang kelas (SD dan SMP) rusak berat juga meningkat, dari 640,660 ruang kelas (2000-2004 meningkat 15,5 persen menjadi 739,741 (2004-2008)." (ICW) - Kelihatannya makin lama makin banyak yang rusak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan kita akan menghadapi isu-isu yang terbukti meningkatkan mutu pendidikan? Pendidikan Yang Terbaik Masih Adalah: Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM (Pembelajaran Kontekstual). ("Mampu" termasuk Kreatif)&lt;br /&gt;"Ujian Nasional Tetap akan Diberlakukan"&lt;br /&gt;(Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia juga mengatakan bahwa program 100 hari dirinya sebagai Mendiknas akan lebih fokus pada perampungan program sambungan internet untuk 17.500 sekolah di Indonesia. Program itu akan menjangkau semua tingkatan sekolah mulai sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana buktinya bahwa Internet akan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah?&lt;br /&gt;Sebetulnya ada banyak isu dengan anak sekolah mengakses Internet, kan?&lt;br /&gt;Prioritas siapa ini? Paling menguntungkan siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal.... Puluhan ribu sekolah dalam keadaan rusak atau ambruk termasuk 70% sekolah di DKI Jakarta - Di Jakarta Saja, 179 Sekolah Tidak Layak Pakai! - Hampir 80% Gedung Sekolah di Pesawaran Rusak, dll, dan Korupsi Terjadi di Semua Level Penyelenggara Pendidikan, dan UN Tidak Ciptakan Proses Belajar Kreatif, dan kita perlu Setop Kurikulum Merugikan Siswa, juga 70% Lulusan SMA Tanpa Keterampilan Cari Kerja, dan Kemampuan Guru Harus Ditingkatkan (Secara Efektif), dan Ribuan Anak Cacat Usia Sekolah Belum Terlayani, dan Pendidikan Berkualitas Hanya untuk Orang Berduit, dan .........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASTI KORUPSI DI BIDANG PENDIDIKAN HARUS MENJADI PRIORITAS UTAMA KAN? "Dinas pendidikan telah menjadi institusi paling korup dan menjadi isntitusi penyumbang koruptor pendidikan terbesar dibanding dengan institusi lainnya. ICW: Analisis 5 Tahun Pemberantasan Korupsi Pendidikan (2004-2009)&lt;br /&gt;Bagaimana program meningkatkan mutu pendidikan yang mana saja dapat berhasil selama korupsi di bidang pendidikan tetap begini?&lt;br /&gt;"DBE3 Telah Memenuhi Permintaan Presiden!"&lt;br /&gt;(Inovasi Pendidikan DBE/USAID)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada saat membuka Temu Nasional 2009 di Jakarta, 29 Oktober 2009, menyatakan, “Saya minta Menteri Pendidikan Nasional untuk mengubah metodologi belajar-mengajar yang ada selama ini. Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah jangan hanya gurunya yang aktif , tetapi harus mampu membuat siswanya juga aktif.” (Kompas, 30 Oktober 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2005 hingga sekarang, DBE3 menyelenggarakan pelatihan bagi guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas SMP/MTs di enam provinsi yang berfokus pada pengembangan pembelajaran yang menuntut siswa lebih aktif dalam proses belajar. Apa yang dilakukan oleh DBE3 sejalan dengan pernyataan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lengkap....&lt;br /&gt;Dengan Program DBE3 Bersama Teknologi Tepat Guna (Appropriate Technology)&lt;br /&gt;Kita Dapat Membuat Pendidikan Standar Dunia&lt;br /&gt;(Phillip Rekdale - Pendidikan Network)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"KPAI: Pemerintah Harus Patuhi Putusan MA"&lt;br /&gt;(Juru bicara Mahkamah Agung, Hatta Ali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan itu, MA menguatkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada 6 Desember 2007, yang menyatakan bahwa pemerintah telah lalai memberikan pemenuhan hak asasi manusia, khususnya hak pendidikan dan hak anak yang menjadi korban UN. Pemerintah juga dinilai lalai meningkatkan kualitas guru, sarana dan prasarana, sekaligus akses informasi yang lengkap di daerah sebelum pelaksanaan UN."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Komisi Perlindungan Anak Indonesia, melalui siaran pers yang ditandatangani Ketua Hadi Supeno, Jumat, meminta pemerintah mematuhi putusan MA dengan tak lagi menyelenggarakan UN tahun ajaran 2010 dan tahun-tahun berikutnya sampai pemerintah bisa memenuhi kewajibannya menyediakan standar pendidikan lain secara memadai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, kami di Pendidikan Network sangat setuju bahwa "pemerintah juga dinilai lalai" kalau melihat dari isu-isu seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      "Jumlah ruang kelas (SD dan SMP) rusak berat juga meningkat, dari 640,660 ruang kelas (2000-2004 meningkat 15,5 persen menjadi 739,741 (2004-2008)." (ICW) - Kelihatannya makin lama makin banyak yang rusak!&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      "JAKARTA - Indonesia Corrup­tion Watch (ICW) menilai, program sertifikasi guru tidak dapat meningkatkan profesionalisme guru. Alasannya, program itu amat ber­kaitan dengan pemberian tunjangan profesi. Bukan dengan peningkat­an kompetensi mengajar mereka".&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Maupun memalukan: "Dinas pendidikan telah menjadi institusi paling korup dan menjadi isntitusi penyumbang koruptor pendidikan terbesar dibanding dengan institusi lainnya. Hal ini dapat dipahami mengingat adanya desentralisasi pendidikan yang disertai rendahnya kontrol atas dinas pendidikan dan jajarannya." ICW: Analisis 5 Tahun Pemberantasan Korupsi Pendidikan (2004-2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Isu-Isu Pendidikan Yang Lebih Lengkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Depdiknas sibuk dengan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), padahal kebanyakan sekolah belum Sekolah Bertaraf Nasional (SBN) saja? Bagaimana kita dapat menilaikan hasilnya siswa-siswi secara nasional oleh sekolah-sekolah yang belum SBN, apa lagi puluhan ribu sekolah adalah rusak atau ambruk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi, Depdiknas kelihatannya masih ingin membagi uang untuk teknologi seperti e-Learning dan Internet yang tidak begitu bermanfaat di tingkat sekolah di negara maju yang mempunyai infrastruktur apa lagi di Indonesia di mana ada "Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa dan dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet". Kebanyakan sekolah belum mempunyai cukup komputer untuk mengajar Mata Pelajaran TIK (yang penting untuk semua anak), apa lagi menggunakan komputer untuk pembelajaran, kan?&lt;br /&gt;Meratakan Mutu Pendidikan dan Kesempatan Untuk Semua Anak Dulu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah adil kalau kita menilaikan siswa-siswi secara Ujian Nasional sebelum semua sekolah sudah aman, nyaman, kondusif maupun Bertaraf Nasional untuk semua pelajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hampir 80% Gedung Sekolah di Pesawaran Rusak"&lt;br /&gt;(Dinas Pendidikan Kabupaten Pesawaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friday, November 13, 2009 10:05:00 -- PESAWARAN--MI: Sekitar 80% gedung sekolah di kabupaten Pesawaran, Lampung itu rusak. Berdasarkan pendataan yang dilakukan Dinas Pendidikan Kabupaten Pesawaran, ditemukan hampir 80% gedung sekolah yang tersebar di wilayah Pesawaran rusak dan perlu perbaikan, kata dia Pesawaran, Jumat (13/11).&lt;br /&gt;"Gedung Sekolah Rusak" - Ahhhh... Biasa, Kan?&lt;br /&gt;Pasti Sekolah Rusak &amp; Korupsi Adalah Prioritas Utama Depdiknas Kan?&lt;br /&gt;"Menurut Febri, selama kurun waktu 2004-2009&lt;br /&gt;Kerugian negara mencapai Rp 243,3 miliar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Arah Kebijakan Pendidikan Nasional Belum Jelas"&lt;br /&gt;(Anggota Komisi X DPR Dedi S Gumelar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sisi lain, kata Heri, penyediaan internet secara massal di sekolah juga masih menyisakan masalah. Mendiknas sebelumnya, kata Heri, ternyata masih menunggak utang internet miliaran rupiah. Karena itu kami meminta agar Mendiknas dapat menuntaskannya penyelesaian utang tersebut terlebih dahulu, ujar Heri."&lt;br /&gt;Mengapa Internet Masuk Sekolah DiDukung Oleh Banyak Bisnis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Teknologi Adalah Solusi Untuk Pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Peningkatan Kualitas Guru Jadi Target Program 100 Hari Depdiknas"&lt;br /&gt;(Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-5592355273076364472?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/5592355273076364472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=5592355273076364472' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5592355273076364472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5592355273076364472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/12/pendidikannetwork.html' title='Pendidikan.Network'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-5899360865151240358</id><published>2009-12-30T12:11:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T12:12:21.417-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>Pendidikan Indonesia Terbaik di Dunia?</title><content type='html'>May 23rd, 2007 | Education&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan terbaik di dunia? Bukan Harvard, bukan Amerika, juga bukan Inggris, apalagi Indonesia — melainkan Finlandia, negeri yang paling tidak korup di muka bumi ini. Hebatnya, Finlandia tak cuma jagoan mendidik anak-anak “normal,” tapi juga unggul dalam pendidikan bagi anak-anak yang lemah mental. Pendek kata, Finlandia berhasil membuat seluruh anak didiknya cerdas — tak peduli yang normal atau yang lemah mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finlandia mengalahkan 40 negara lain di dunia berdasar survei PISA yang dilakukan oleh OECD tahun 2003. Tes komprehensif dilakukan melalui pengukuran kemampuan mathematics, reading, science, dan problem solving yang nantinya ditujukan untuk peningkatan kualitas sistem pendidikan. Tes ini dilakukan per tiga tahun — tes terakhir dilakukan pada tahun 2006 dan hasilnya baru akan keluar akhir 2007. Mau tahu di mana posisi Indonesia?&lt;br /&gt;Perolehan Skor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mathematics (rata-rata 484,84)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Hong Kong-China (550,38)&lt;br /&gt;    * Finlandia (544,29)&lt;br /&gt;    * Korea Selatan (542,23)&lt;br /&gt;    * Belanda (537,82)&lt;br /&gt;    * Liechenstein (535,80)&lt;br /&gt;    * …..&lt;br /&gt;    * …..&lt;br /&gt;    * Brazil (356,02)&lt;br /&gt;    * Tunisia (358,73)&lt;br /&gt;    * Indonesia (360,16)&lt;br /&gt;    * Mexico (385,22)&lt;br /&gt;    * Thailand (416,98)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reading (rata-rata 480,22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Finlandia (543,46)&lt;br /&gt;    * Korea Selatan (534,09)&lt;br /&gt;    * Kanada (527,91)&lt;br /&gt;    * Australia (525,43)&lt;br /&gt;    * Liechtenstein (525,08)&lt;br /&gt;    * …..&lt;br /&gt;    * …..&lt;br /&gt;    * Tunisia (374,62)&lt;br /&gt;    * Indonesia (381,59)&lt;br /&gt;    * Mexico (399,72)&lt;br /&gt;    * Brazil (402,80)&lt;br /&gt;    * Serbia (411,74)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Science (rata-rata 487,77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Finlandia (548,23)&lt;br /&gt;    * Jepang (547,64)&lt;br /&gt;    * Hong Kong-China (539,50)&lt;br /&gt;    * Korea Selatan (538,43)&lt;br /&gt;    * Liechtenstein (525,18)&lt;br /&gt;    * …..&lt;br /&gt;    * …..&lt;br /&gt;    * Tunisia (384,68)&lt;br /&gt;    * Brazil (389,62)&lt;br /&gt;    * Indonesia (395,04)&lt;br /&gt;    * Mexico (404,90)&lt;br /&gt;    * Thailand (429,06)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem Solving (rata-rata 485,20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Korea Selatan (550,43)&lt;br /&gt;    * Hong Kong-China (547,89)&lt;br /&gt;    * Finlandia (547,61)&lt;br /&gt;    * Jepang (547,28)&lt;br /&gt;    * Selandia Baru (532,79)&lt;br /&gt;    * …..&lt;br /&gt;    * …..&lt;br /&gt;    * Tunisia (344,74)&lt;br /&gt;    * Indonesia (361,42)&lt;br /&gt;    * Brazil (370,93)&lt;br /&gt;    * Meksiko (384,39)&lt;br /&gt;    * Turki (407,53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skor Total (rata-rata 484,51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Finlandia (545,90)&lt;br /&gt;    * Korea Selatan (541,29)&lt;br /&gt;    * Hong Kong-China (536,83)&lt;br /&gt;    * Jepang (531,79)&lt;br /&gt;    * Liechtenstein (528,87)&lt;br /&gt;    * …..&lt;br /&gt;    * …..&lt;br /&gt;    * Tunisia (365,69)&lt;br /&gt;    * Indonesia (374,55)&lt;br /&gt;    * Brazil (379,84)&lt;br /&gt;    * Meksiko (393,56)&lt;br /&gt;    * Thailand (422,73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep Sukses Finlandia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi anggaran, Finlandia agak sedikit lebih tinggi dari negara lain — walau bukan yang tertinggi. Kegiatan sekolah juga hanya 30 jam per minggu. Tapi guru-guru di Finlandia adalah pilihan dengan kualitas terbaik. Untuk menjadi guru jauh lebih ketat persaingannya ketimbang melamar Fakultas Hukum atau Kedokteran. Guru juga diberi kebebasan dalam kurikulum, text-book, hingga metode pengajaran dan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan Finlandia memang unik. Remedial tidak dianggap sebagai kegagalan tapi untuk perbaikan. Orientasi dibuat untuk tujuan-tujuan yang harus dicapai. Penekanan ada di proses, bukan hasil. PR dan ujian tak musti dikerjakan dengan sempurna — yang penting murid menunjukkan adanya usaha. Ujian justru dipandang sebagai penghancur mental siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, murid diajari bertanggung jawab mengevaluasi dirinya sendiri. Mereka didorong untuk bekerja secara independen. Guru tidak mesti selalu mengontrol mereka. Proses pembelajaran berjalan dua arah. Suasana sekolah boleh dibilang jadi lebih cair, fleksibel, dan menyenangkan. Namun efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru juga tak pernah mengkritik murid yang justru dinilai membuat murid malu dan menghambat proses pembelajaran itu sendiri. Murid “boleh” berbuat kesalahan, namun guru akan memintanya untuk membandingkan dengan hasil sebelumnya. Memang tak ada sistem ranking di sini sehingga siswa merasa confident dan nyaman terhadap dirinya. Ranking dipandang hanya membuat guru berfokus pada murid-murid terbaik saja, bukan ke seluruh murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finlandia sukses menggabungkan kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Di Finlandia, perbedaan antara murid berprestasi baik dan murid yang kurang sangatlah kecil. Kata seorang guru di Finlandia, “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang murid, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di Indonesia malah ada sejumlah guru dan kepala sekolah yang dengan bangga tidak menaikkelaskan anak didiknya. Gagal mendidik kok bangga.&lt;br /&gt;Pendidikan di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati pendidikan belasan tahun di Indonesia membuat saya miris. Penilaian berorientasi hasil, bukan proses. Pembinaan mengabaikan EQ dan SQ. Isinya hafalan, cara cepat membabat soal, dan “ilmu” yang ketika diingat malah makin membuat lupa — tanpa penekanan soal pemikiran kritis dan pembentukan sikap mental positif. Trilogi dasar aspek pendidikan kognitif-psikomotor-afektif (sengaja?) diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kualitas guru di Indonesia juga masih (maaf) memprihatinkan. Lulusan sekolah menengah yang jempolan biasanya lari ke tempat yang mentereng: Ilmu Kedokteran, Teknik, Ekonomi, dan sebagainya. Praktis, mereka yang masuk Ilmu Pendidikan adalah “sisa” yang gagal bersaing masuk ke jurusan elit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain adalah UAN yang baru saja lewat beberapa waktu lalu. Sesuai PP 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan. Namun banyak yang menilai UAN tak bermanfaat karena hanya mengkondisikan penyelewengan — demi anak didik dan sekolah terangkat citranya. Guru, kepala sekolah, dan bahkan pejabat daerah terlibat jadi tim sukses. Passing grade ditetapkan, tapi sarana, prasarana, dan sumberdaya belum terkondisikan. Begitu hasil jeblok, segala cara agar murid lulus, bukan dengan introspeksi. We want to look good, but didn’t want to be really good.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian menyayangkan jerih payah tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas diterima SPMB Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, tapi gagal dalam UAN. Murid cerdas justru terbebani mentalnya. Apalagi, andaikata tak lulus, mereka musti mengulang Paket C yang prestisenya kalah jauh. Dorongan belajar pada akhirnya justru sulit dibangkitkan dan hasil maksimal mustahil diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, kualitas pendidikan memang sedemikian rendahnya. Dengan passing grade yang cukup rendah dibanding negara tetangga, masih banyak juga yang tidak lulus. Ketika ada wacana untuk menaikkan standar, protes di sana-sini. Solusinya? Mungkin kembalikan saja ke sistem Ebtanas lama yang dirasa lebih “fair” dan tidak mengundang banyak masalah — sembari menunggu format UAN yang benar-benar pas buat negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, sebelum UAN, misalnya sekolah mengadakan seleksi intern sehingga hanya benar-benar murid yang siap yang bisa mengikuti UAN. Atau, UAN dilakukan dengan beberapa passing grade: yang nilainya sekian bisa mendaftar S1, yang sekian hanya bisa mendaftar diploma, yang kurang bisa mengulang tahun depan. Di Singapura, hanya murid tertentu yang qualified yang bisa lanjut S1, sementara sisanya masuk ke program diploma/poltek (atau TAFE kalau di Australia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, mencontek di negara maju, murid yang lulus UAN mendapat ijasah UAN, sementara yang tidak hanya memperoleh ijasah sekolah atau tanda tamat belajar. Di Inggris misalnya, setelah pendidikan wajib 16 tahun, murid bisa langsung kerja atau ambil A-Level selama dua tahun untuk persiapan kuliah. Di akhir program ada tes nasional dimana murid yang mendapat nilai A pada mata pelajaran utama bisa langsung masuk universitas favorit seperti Oxford, Cambridge, Imperial College, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, jika KBK/KTSP diterapkan, kita semua musti konsisten. Evaluasi harus berdasarkan proses. UAN tak perlu dipaksakan sebagai penentu kelulusan. Tapi sejauh mana kesiapan kita (terutama di daerah) untuk menerapkannya? Itu PR kita bersama.&lt;br /&gt;Conclusion&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsikan 1 persen dari jumlah warga negara adalah jenius, maka “seharusnya” ada 2,2 juta orang berbakat di Indonesia. Masalahnya, bagaimana menemukan mereka, mengasah mereka, memberi mereka kesempatan, supaya mereka bisa mengembangkan potensinya. Indonesia bagus di fisika dan matematika. Indonesia juga jagoan badminton. Ada juga Crhisjon yang jago tinju. Ada juga anak pedagang rokok yang meraih juara dunia catur. Ada juga yang bisa menemukan ion motion control di elektrolit. Patut disayangkan mengapa pemerintah masih cuek dan belum piawai dalam mengasah intan mutu manikam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis sementara saya, pendidikan informal (dalam hal ini keluarga) masih jadi unsur terpenting untuk membentuk pribadi yang unggulan selama pemerintah belum mampu membangun sistem pendidikan yang benar-benar mumpuni. Keluarga jugalah yang jadi benteng melawan budaya instan dan pengaruh negatif lingkungan. Dan hipotesis alternatif saya, murid-murid SMP-SMA tak seburuk yang ditulis di media. Pengaruh 18.00-21.00 yang jauh lebih kuat daripada masa studi 7.00-13.00 juga jadi salah satu faktor yang mendistorsi kualitas mereka sebenarnya. Wajar kalau di Finlandia, sewaktu istirahat para guru dan muridnya bermain LEGO robotic. Sementara di Indonesia, murid-murid lebih suka ngerokok, pacaran, atau tawuran sewaktu istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, sekadar cerita di sebuah rumah sakit umum di Los Angeles, ada dua kamar bersalin yang saling bersebelahan. Yang satu adalah kamar VIP sementara kamar di sebelahnya kelas ekonomi dimana pasiennya negro. Hebatnya, semua diperlakukan dengan standar yang sama. Dokter dan suster melayani dengan tulus, menyambut kelahiran dengan bahagia, dan langsung menguruskan dokumen kelahirannya. Pemerintah federal juga memberikan susu dan makanan bayi selama 3 tahun. Kata mereka, “orang tuanya sih boleh miskin dan uneducated, tapi si jabang bayi ini nggak boleh miskin dan nggak boleh uneducated.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, kembang di kebun tetangga memang lebih pink. Dan bini tetangga juga lebih sip. Loh :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-5899360865151240358?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/5899360865151240358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=5899360865151240358' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5899360865151240358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5899360865151240358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/12/pendidikan-indonesia-terbaik-di-dunia.html' title='Pendidikan Indonesia Terbaik di Dunia?'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-6563987278208782393</id><published>2009-12-14T22:18:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T22:19:09.148-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>Cara Mudah Deteksi Kanker Payudara</title><content type='html'>Oleh : Dede Farhan Aulawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semester ini saya cukup banyak menerima pertanyaan maupun permintaan&lt;br /&gt;pengobatan Kanker Payudara. Penderita tidak lagi mengenal batas usia,&lt;br /&gt;karena wanita muda pun saat ini sudah mulai banyak yang menderita penyakit&lt;br /&gt;kewanitaan yang cukup mengerikan, kedua setelah kanker mulut rahim&lt;br /&gt;(serviks). Tidak hanya persoalan keindahan, tetapi bisa mengancam nyawa&lt;br /&gt;jika tidak ditangani dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan dan keindahan payudara banyak menjadi dambaan wanita.&lt;br /&gt;Persoalannya banyak orang yang tidak peduli dengan kesehatan ini, atau&lt;br /&gt;minimal tidak mengetahuinya. Istilah dalam sufi banyak menyebut payudara&lt;br /&gt;sebagai "sumber air kehidupan" dimana anak manusia tumbuh dan berkembang&lt;br /&gt;dengan air susu ibu-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak wanita yang malas memeriksakan kesehatan payudaranya dengan&lt;br /&gt;menggunakan Mammography ataupun MRI ( Magnetic Resonance Imaging ) dengan&lt;br /&gt;alasan mahal. Ini bisa dipahami karena mayoritas rakyat kita ini masih&lt;br /&gt;kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi&lt;br /&gt;Kanker Payudara adalah suatu penyakit neoplasma yang sifatnya ganas, dan&lt;br /&gt;berawal dari berubahnya sel normal menjadi abnormal. Hal ini disebabkan&lt;br /&gt;pertumbuhan yang tidak terkendali dari sel-sel kelenjar susu yang terdiri&lt;br /&gt;dari saluran kelenjar susu dan tempat produksi air susu. Penyebabnya,&lt;br /&gt;perubahan struktur genetik dari sel tersebut, faktor lingkungan, prilaku,&lt;br /&gt;konsumsi makanan, konsumsi obat-obatan, virus, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Tahap Pertumbuhan&lt;br /&gt;1.Inisiasi : perubahan di dalam sel itu sendiri. Dalam tahap ini,terkadang&lt;br /&gt;sel bisa kembali menjadi normal.&lt;br /&gt;2. Promosi : sel yang tidak kembali normal pada tahap inisiasi.&lt;br /&gt;Faktor-faktor pencetusnya, misalnya lemak, sinar matahari, faktor&lt;br /&gt;lingkungan dan sebagainya.&lt;br /&gt;3. Proliferasi : Proses di tahap promosi hingga menjadi sel kanker yang&lt;br /&gt;memakan waktu yang cukup lama. Sel kanker akan tumbuh terus dan melakukan&lt;br /&gt;penyebaran ke kelenjar getah bening regional (ketiak), lalu menuju&lt;br /&gt;pembuluh darah. Dengan bantuan pembuluh darah, sel berhenti dan menyebar&lt;br /&gt;di salah satu organ tubuh. Misalnya paru-paru, otak, tulang, lever atau&lt;br /&gt;hati. Akibatnya, jika fungsi organ tubuh tadi berubah, dapat menimbulkan&lt;br /&gt;kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stadium Kanker Payudara, diklasifikasikan dengan parameter TNM atau Tumor,&lt;br /&gt;Nodus (kelenjar getah bening), dan Metastasis (penyebaran jauh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri mudah melihat ada atau tidaknya indikasi kanker payudara :&lt;br /&gt;- adanya benjolan ( meski tidak otomatis masuk kategori kanker )&lt;br /&gt;- adanya cairan di puting&lt;br /&gt;- ada luka yang tak sembuh - sembuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mudah yang dapat kita lakukan : Coba berdiri di depan cermin&lt;br /&gt;( Sebaiknya dilakukan seminggu setelah haid / menstruasi )&lt;br /&gt;- Amati bentuk dan warna payudara, baik dari sisi depan atau samping&lt;br /&gt;- periksa adanya benjolan atau tidak&lt;br /&gt;- perubahan warna kulit yang kemerahan&lt;br /&gt;- adanya tekstur kulit yang berkerut seperti kulit jeruk&lt;br /&gt;- puting bersisik atau mengeluarkan cairan&lt;br /&gt;- perhatikan letak dan bentuk puting, apakah bergeser atau tertarik ke dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun posisi pengamatan adalah :&lt;br /&gt;1. posisi berdiri, tangan lurus disamping tubuh dan ke atas&lt;br /&gt;2. Meraba dengan jari, geser secara perlahan baik dengan gerakan memutar&lt;br /&gt;atau lurus, ke kiri kana, dan ke atas bawah&lt;br /&gt;3. posisi tidur, bantal di bawah punggung, tangan di belakang kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor risiko tinggi kanker payudara adalah masalah makanan tinggi&lt;br /&gt;lemak, masalah hormonal orang yang tidak menyusui, serta orang yang tidak&lt;br /&gt;punya anak. Selain itu ada faktor keturunan (Herediter). Pada stadium&lt;br /&gt;dini, sebenarnya Kanker Payudara dapat disembuhkan dengan waktu relatif&lt;br /&gt;cepat. Tapi kebanyakan orang datang dengan kondisi yang sudah cukup parah&lt;br /&gt;sehingga pengobatannya relatif butuh waktu agak lama dan harus telaten.&lt;br /&gt;Hal lain yang harus dihindari adalah kebiasaan yang suka men-cat rambut,&lt;br /&gt;karena hal ini bisa mengganggu pembentukan sel darah seperti multiple&lt;br /&gt;mycloma, leukimia, dan non Hodgkin lymphoma. Memang cat rambut ini dinilai&lt;br /&gt;aman karena kandungan produk pewarna ini dianggap aman pada uji coba pada&lt;br /&gt;tikus. INGATLAH : Kita bukan tikus.&lt;br /&gt;Juga hindari meminum obat vitamin E yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaipun Kanker Payudara sudah menyerang, berbagai pengobatan dapat&lt;br /&gt;ditempuh. Yaitu operasi, radiasi (emisi gelombang elektromagnetik, seperti&lt;br /&gt;gelombang alfa, beta, gama) dan kemoterapi (mengobati penyakit dengan&lt;br /&gt;zat-zat kimia). Cara lain secara tradisional adalah Totok Payudara oleh&lt;br /&gt;tenaga ahli wanita yang terlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 tahapan totok payudara adalah :&lt;br /&gt;1. Totok Isolasi, pada tahap ini totokan ditujukan untuk memblokir dan&lt;br /&gt;menutup ruang gerak kemungkinan penyebaran sel - sel kanker.&lt;br /&gt;2. Totok Sortir bertujuan untuk memisahkan lokalisir sel kanker dari&lt;br /&gt;jaringan tubuh yang masih sehat&lt;br /&gt;3. Totok Sentuh bertujuan menghancurkan dan mematikan sel kanker dalam&lt;br /&gt;tahapan mengecilkan, menghancurkan, dan mengeluarkan&lt;br /&gt;4. Totok Protektif bertujuan untuk mencegah timbulnya kembali sel - sel&lt;br /&gt;kanker yang sudah mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasakan SADARI : perikSA payuDAra sendiRI&lt;br /&gt;Sebenarnya pria juga bisa terkena kanker payudara, hanya saja karena&lt;br /&gt;prosentasenya lebih sedikit dan dianggap gak substansial, maka pria&lt;br /&gt;biasanya lebih cuek.&lt;br /&gt;Semoga bisa bermanfaat buat kesehatan kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-6563987278208782393?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/6563987278208782393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=6563987278208782393' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/6563987278208782393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/6563987278208782393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/12/cara-mudah-deteksi-kanker-payudara.html' title='Cara Mudah Deteksi Kanker Payudara'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-2198442155535821332</id><published>2009-12-08T04:07:00.000-08:00</published><updated>2009-12-08T04:09:02.327-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWASAN KEISLAMAN'/><title type='text'>Multi Level Marketing, HALAL ATAU HARAM ?</title><content type='html'>Pengantar dari Khairan&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini kita menyaksikan sebuah fenomena maraknya para aktivis dakwah terlibat dalam upaya mengembangkan bisnis secara mandiri sebagai lahan penghidupan mereka, termasuk bisnis MLM (Multi Level Marketing). Tentu saja ini adalah sebuah fenomena yang sangat menarik dan patut kita syukuri, apalagi hal tersebut dikembangkan di tengah-tengah kondisi masyarakat yang tengah terpuruk di segala bidang kehidupan, termasuk ekonomi. Berikut ini saya sampaikan beberapa pendapat tentang bisnis MLM itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbisnis merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri pun telah menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui pintu berdagang (al-hadits). Artinya, melalui jalan perdagangan inilah, pintu-pintu rezeki akan dapat dibuka sehingga karunia Allah terpancar daripadanya. Jual beli merupakan sesuatu yang diperbolehkan, sesuai firman Allah, “…Allah telah menghalalkan jual beli…” (QS 2 : 275), dengan catatan selama dilakukan dengan benar sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multi Level Marketing sendiri merupakan salah satu terobosan dalam dunia pemasaran dengan membentuk jaringan pemasaran guna meningkatkan penjualan disertai dengan berbagai imbalan menarik bagi mereka yang sanggup membangun jaringan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkatan paling dasar, cara mudah menolak sistem ini adalah karena adanya unsur menzholimi, yaitu si pemilik jaringan mendapatkan bonus dari hasil kerja downline mereka, atau bonus mereka didapatkan dari perhitungan bonus group (hasil kerja downline) mereka. Seakan mereka merasa berhak mendapatkan kontribusi atau apapun namanya dari hasil kerja downline mereka, inilah yang dinamakan zhalim dan bathil. Sedangkan dalam Al Qur’an sudah jelas dikatakan, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil…” [QS Al Baqarah 188]. Dan firmanNya, “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan” [QS Asy Syu'araa' 183].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian para perusahaan ataupun pengusaha MLM sangat pandai mengelak dengan mengatakan bahwa MLM tidaklah menzholimi. Keuntungan yang dipeoleh sipemilik jartingan semata-mata merupakan hasil kerja profesional mereka dalam membentuk jaringan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, bahkan saat ini para pengusaha atau perusahaan MLM memanfaatkan isu syariah. meniadakan beberapa elemen dalam sistem MLM konvensional (seperti Poin, tutup buku, dsbnya), dean menggantikannya dengan elemen yang seolah-olah islami. Celakanya mereka juga sudah mulai mengembangkan konsep MLM syariah yang hasil kerjanya atau imbalan yang akan diperoleh sipemilik jaringan disamakan dengan gambaran Shodaqoh yang dikeluarkan di jalan Allah SWT yaitu :“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa de-ngan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2:261)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu mereka juga menjual konsep MLM syariah dengan terobosan mendompleng hadis Rosulullah SAW; ”terputuslah amalan seorang anak adam ketika wafat kecuali 3 perkara: Amal jariayahnya, Ilmunya dan anaknya yang sholeh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadis tersebut, mereka melakukan terobosan pensiun seumur hidup bagi si pemilik jaringan. Artinya, bila di MLM konvensional, sipemilik jaringan meningal dunia, maka segala keuntungan yang biasa diterimanya akan terputus atau terhenti secara otomatis. Namun di MLM Syariah, bila si pemilik jaringan meninggal dunia, maka istri atau anak cucunya akan terus menikmati hasil kerja jaringan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu indahnya para penguasaha dan perusahaan MLM mengemas sistemnya, sehingga banyak dari para muslim dan khususnya aktivis dakwah terbuah oleh sistem yang sangat mengelabui dan menyesatkan dari Syariah Islam yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Begitu banyak dari sistem MLM ini yang bertentangan dengan syariah Islam, namun kali kita akan tinjau dari sudut akad-nya. dan untuk itu kami berikan dua tulisan, masing-masing pendapat dari Irfan Syauqi Beik, Msc di http://www.jacksite .wordpress. com dan Hafidz Abdurrahman di media Kosultasi Islam mengatasi malah dengan syariah dalam http://www.konsulta si.wordpress. com. Dimana Judul dari kedua tulisan tersebut telah dirubah guna menyesuaikan dengan temanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUA SISTEM DI DALAM MLM YANG BERTENTANGAN&lt;br /&gt;DENGAN AJARAN ISLAM&lt;br /&gt;Oleh: Hafidz Abdurrahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multilevel marketing secara harfiah adalah pemasaran yang dilakukan melalui banyak level atau tingkatan, yang biasanya dikenal dengan istilah up line (tingkat atas) dan down line (tingkat bawah). Up line dan down line umumnya mencerminkan hubungan pada dua level yang berbeda atas dan bawah, maka seseorang disebut up line jika mempunyai down line, baik satu maupun lebih. Bisnis yang menggunakan multilevel marketing ini memang digerakkan dengan jaringan, yang terdiri dari up line dan down line. Meski masing-masing perusahaan dan pebisnisnya menyebut dengan istilah yang berbeda-beda. Demikian juga dengan bentuk jaringannya, antara satu perusahaan dengan yang lain, mempunyai aturan dan mekanisme yang berbeda; ada yang vertikal, dan horisontal. Misalnya, Gold Quest dari satu orang disebut TCO (tracking centre owner), untuk mendapatkan bonus dari perusahaan, dia harus mempunyai jaringan; 5 orang di sebelah kanan, dan 5 orang di sebelah kiri, sehingga baru disebut satu level. Kemudian disambung dengan level-level berikutnya hingga sampai pada titik level tertentu ke bawah yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Masing-masing level tersebut kemudian mendapatkan bonus (komisi) sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh perusahaan yang bersangkutan. Meski perusahaan ini tidak menyebut dengan istilah multilevel marketing, namun diakui atau tidak, sejatinya praktek yang digunakan adalah praktek multilevel marketing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan praktek pebisnis yang lainnya dengan aturan dan mekanisme yang berbeda. Misalnya, dari atas ke bawah, tanpa ditentukan struktur horizontalnya, tetapi langsung dari atas ke bawah. Setelah itu, masing-masing level tadi mendapatkan bonus dari perusahaan yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan yang dipatok oleh masing-masing perusahaan yang diikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masuk dalam jaringan bisnis pemasaran seperti ini, biasanya setiap orang harus menjadi member (anggota jaringan) —ada juga yang diistilahkan dengan sebutan distributor— kadangkala membership tersebut dilakukan dengan mengisi formulir membership dengan membayar sejumlah uang pendaftaran, disertai dengan pembelian produk tertentu agar member tersebut mempunyai point, dan kadang tanpa pembelian produk. Dalam hal ini, perolehan point menjadi sangat penting, karena kadangkala suatu perusahaan multilevel marketing menjadi point sebagai ukuran besar kecilnya bonus yang diperoleh. Point tersebut bisa dihitung berdasarkan pembelian langsung, atau tidak langsung. Pembelian langsung biasanya dilakukan oleh masing-masing member, sedangkan pembelian tidak langsung biasanya dilakukan oleh jaringan member tersebut. Dari sini, kemudian ada istilah bonus jaringan. Karena dua kelebihan inilah, biasanya bisnis multilevel marketing ini diminati banyak kalangan. Ditambah dengan potongan harga yang tidak diberikan kepada orang yang tidak menjadi member.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada juga point yang menentukan bonus member ditentukan bukan oleh pembelian baik langsung maupun tidak, melainkan oleh referee (pemakelaran) —sebagaimana istilah mereka— yang dilakukan terhadap orang lain, agar orang tersebut menjadi member dan include di dalamnya pembelian produk. Dalan hal ini, satu member Gold Quest harus membangun formasi 5-5 untuk satu levelnya, dan cukup sekali pendaftaran diri menjadi membership, maka member tersebut tetap berhak mendapatkan bonus. Tanpa dihitung lagi, berapa pembelian langsung maupun tak langsungnya. Pada prinsipnya tidak berbeda dengan perusahaan lain. Seorang member/distributor harus menseponsori orang lain agar menjadi member/distributor dan orang ini menjadi down line dari orang yang menseponsorinya (up line-nya). Begitu seterusnya up line “harus” membimbing down line-nya untuk mensponsori orang lain lagi dan membentuk jaringan. Sehingga orang yang menjadi up line akan mendapat bonus jaringan atau komisi kepemimpinan. Sekalipun tidak ditentukan formasi jaringan horizontal maupun vertikalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta Umum Multilevel Marketing&lt;br /&gt;Dari paparan di atas, jelas menunjukkan bahwa multilevel marketing —sebagai bisnis pemasaran— tersebut adalah bisnis yang dibangun berdasarkan formasi jaringan tertentu; bisa top-down (atas-bawah) atau left-right (kiri-kanan) , dengan kata lain, vertikal atau horizontal; atau perpaduan antara keduanya. Namun formasi seperti ini tidak akan hidup dan berjalan, jika tidak ada benefit (keuntungan) , yang berupa bonus. Bentuknya, bisa berupa (1) potongan harga, (2) bonus pembelian langsung, (3) bonus jaringan –istilah lainnya komisi kepemimpinan. Dari ketiga jenis bonus tersebut, jenis bonus ketigalah yang diterapkan di hampir semua bisnis multilevel marketing, baik yang secara langsung menamakan dirinya bisnis MLM ataupun tidak, seperti Gold Quest. Sementara bonus jaringan adalah bonus yang diberikan karena faktor jasa masing-masing member dalam membanguan formasi jaringannya. Dengan kata lain, bonus ini diberikan kepada member yang bersangkutan, karena telah berjasa menjualkan produk perusahaan secara tidak langsung. Meski, perusahaan tersebut tidak menyebutkan secara langsung dengan istilah referee (pemakelaran) seperti kasus Gold Quest, —istilah lainnya sponsor, promotor— namun pada dasarnya bonus jaringan seperti ini juga merupakan referee (pemakelaran) .&lt;br /&gt;Karena itu, posisi member dalam jaringan MLM ini, tidak lepas dari dua posisi: (1) pembeli langsung, (2) makelar. Disebut pembeli langsung manakala sebagai member, dia melakukan transaksi pembelian secara langsung, baik kepada perusahaan maupun melalui distributor atau pusat stock. Disebut makelar, karena dia telah menjadi perantara —melalui perekrutan yang telah dia lakukan— bagi orang lain untuk menjadi member dan membeli produk perusahaan tersebut. Inilah praktek yang terjadi dalam bisnis MLM yang menamakan multilevel marketing, maupun refereal business.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, kasus tersebut bisa dikaji berdasarkan dua fakta di atas, yaitu fakta pembelian langsung dan fakta makelar. Dalam prakteknya, pembelian langsung yang dilakukan, disamping mendapatkan bonus langsung, berupa potongan, juga point yang secara akumulatif akan dinominalkan dengan sejumlah uang tertentu. Pada saat yang sama, melalui formasi jaringan yang dibentuknya, orang tersebut bisa mendapatkan bonus tidak langsung. Padahal, bonus yang kedua merupakan bonus yang dihasilkan melalui proses pemakelaran, seperti yang telah dikemukakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Syara’ Seputar Dua Akad dan Makelar&lt;br /&gt;Dari fakta-fakta umum yang telah dikemukakan di atas, bisa disimpulkan bahwa praktek multilevel marketing tersebut tidak bisa dilepaskan dari dua hukum, bisa salah satunya, atau kedua-duanya sekaligus:&lt;br /&gt;1. Hukum dua akad dalam satu transaksi, atau yang dikenal dengan istilah shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah. Akad pertama adalah akad jual-beli (bay’), sedangkan akad kedua akad samsarah (pemakelaran) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hukum pemakelaran atas pemakelaran, atau samsarah ‘ala samsarah. Up line atau TCO atau apalah namanya, adalah simsar (makelar), baik bagi pemilik (malik) langsung, atau tidak, yang kemudian memakelari down line di bawahnya, dan selanjutnya down line di bawahnya menjadi makelar bagi down line di bawahnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kasus shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, telah banyak dinyatakan dalam hadits Nabis Saw, antara lain, sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah ra. Yang menyatakan:&lt;br /&gt;“Nabi Saw, telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian.”*1)&lt;br /&gt;Dalam hal ini, asy-Syafi’i memberikan keterangan (syarh) terhadap maksud bay’atayn fi bay’ah (dua pembelian dalam satu pembelian), dengan menyatakan:&lt;br /&gt;Jika seseorang mengatakan: “Saya jual budak ini kepada anda dengan harga 1000, dengan catatan anda menjual rumah anda kepada saya dengan harga segini. Artinya, jika anda menetapkan milik anda menjadi milik saya, sayapun menetapkan milik saya menjadi milik anda.”*2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, maksud dari bay’atayn fi bay’ah adalah melakukan dua akad dalam satu transaksi, akad yang pertama adalah akad jual beli budak, sedangkan yang kedua adalah akad jual-beli rumah. Namun, masing-masing dinyatakan sebagai ketentuan yang mengikat satu sama lain, sehingga terjadilah dua transaksi tersebut include dalam satu aqad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hadits dari al-Bazzar dan Ahmad, dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan:&lt;br /&gt;“Rasululllah Saw telah melarang dua kesepakatan (aqad) dalam satu kesepakatan (aqad).”*3)&lt;br /&gt;Hadits yang senada dikemukan oleh at-Thabrani dalam kitabnya, al-Awsath, dengan redaksi sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Tidaklah dihalalkan dua kesepakatan (aqad) dalam satu kesepakatan (aqad).”*4)&lt;br /&gt;Maksud hadits ini sama dengan hadits yang telah dinyatakan dalam point 1 di atas. Dalam hal ini, Rasulullah Saw, dengan tegas melarang praktek dua akad (kesepakatan) dalam satu aqad (kesepakatan) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hadits Ibn Majah, al-Hakim dan Ibn Hibban dari ‘Amr bin Syuyb, dari bapaknya, dari kakeknya, dengan redaksi:&lt;br /&gt;“Tidak dihalalkan salaf (akad pemesanan barang) dengan jual-beli, dan tidak dihalalkan dua syarat dalam satu transaksi jual-beli.”*5)&lt;br /&gt;Hadits ini menegaskan larangan dalam dua konteks hadits sebelumnya, dengan disertai contoh kasus, yaitu akad salaf, atau akad pemesanan barang dengan pembayaran di depan, atau semacam inden barang, dengan akad jual-beli dalam satu transaksi, atau akad. Untuk mempertegas konteks hadits yang terakhir ini, penjelasan as-Sarakhsi —penganut mazhab Hanafi— bisa digunakan. Beliau juga menjelaskan, bahwa melakukan transaksi jual-beli dengan ijarah (kontrak jasa) dalam satu akad juga termasuk larangan dalam hadits tersebut.*6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalalah yang ada, baik yang menggunakan lafadz naha (melarang), maupun lâ tahillu/yahillu (tidak dihalalkan) menunjukkan, bahwa hukum muamalah yang disebutkan dalam hadits tersebut jelas haram. Sebab, ada lafadz dengan jelas menunjukkan keharamannya, seperti lâ tahillu/yahillu. Ini mengenai dalil dan hukum yang berkaitan dengan dua transaksi dalam satu akad, serta manath hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai akad (shafqah)-nya para ulama’ mendefinisikannya sebagai:&lt;br /&gt;Akad merupakan hubungan antara ijab dan qabul dalam bentuk yang disyariatkan, dengan dampak yang ditetapkan pada tempatnya.*7)&lt;br /&gt;Maka, suatu tasharruf qawli (tindakan lisan) dikatakan sebagai akad, jika ada ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan) , ijab (penawaran) dari pihak pertama, sedangkan qabul (penerimaan) dari pihak kedua. Ijab dan qabul ini juga harus dilakukan secara syar’i, sehingga dampaknya juga halal bagi masing-masing pihak. Misalnya, seorang penjual barang menyakan: “Saya jual rumah saya ini kepada anda dengan harga 50 juta”, adalah bentuk penawaran (ijab), maka ketika si pembeli menyakan: “Saya beli rumah anda dengan harga 50 juta”, adalah penerimaan (qabul). Dampak ijab-qabul ini adalah masing-masing pihak mendapatkan hasil dari akadnya; si penjual berhak mendapatkan uang si pembeli sebesar Rp. 50 juta, sedangkan si pembeli berhak mendapatkan rumah si penjual tadi. Inilah bentuk akad yang diperbolehkan oleh syara’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, Islam telah menetapkan bahwa akad harus dilakukan terhadap salah satu dari dua perkara: zat (barang atau benda) atau jasa (manfaat). Misalnya, akad syirkah dan jual beli adalah akad yang dilakukan terhadap zat (barang atau benda), sedangkan akad ijarah adah akad yang dilakukan terhadap jasa (manfaat). Selain terhadap dua hal ini, maka akad tersebut statusnya bathil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun praktek pemakelaran secara umum, hukumnya adalah boleh berdasarkan hadits Qays bin Abi Ghurzah al-Kinani, yang menyatakan:&lt;br /&gt;“Kami biasa membeli beberapa wasaq di Madinah, dan biasa menyebut diri kami dengan samasirah (bentuk plural dari simsar, makelar), kemudian Rasulullah Saw keluar menghampiri kami, dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik daripada sebutan kami. Beliau menyatakan: ‘Wahai para tujjar (bentuk plural dari tajir, pedagang), sesungguhnya jual-beli itu selalu dihinggapi kelalaian dan sesumpah, maka bersihkan dengan sedekah’.”*8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, yang perlu dipahami adalah fakta pemakelaran yang dinyatakan dalam hadits Rasulullah Saw sebagaimana yang dijelaskan oleh as-Sarakhsi ketika mengemukakan hadits ini adalah:&lt;br /&gt;”Simsar adalah sebutan untuk orang yang bekerja untuk orang lain dengan kompensasi (upah atau bonus). Baik untuk menjual maupun membeli.”*9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama’ penganut Hambali, Muhammad bin Abi al-Fath, dalam kitabnya, al-Mutalli’, telah meyatakan definisi tentang pemakelaran, yang dalam fiqih dikenal dengan samsarah, atau dalal tersebut, seraya menyakan:&lt;br /&gt;“Jika (seseorang) menunjukkan dalam transaksi jual-beli; dikatakan: saya telah menunjukkan anda pada sesuatu —dengan difathah dal-nya, dalalat(an), dan dilalat(an), serta didahmmah dalnya, dalul(an), atau dululat(an)— jika anda menunjukkan kepadanya, yaitu jika seorang pembeli menunjukkan kepadanya, maka orang itu adalah simsar (makelar) antara keduanya (pembeli dan penjual), dan juga disebut dalal.”*10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari batasan-batasn tentang pemakelaran di atas, bisa disimpulkan, bahwa pemakelaran itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, yang berstatus sebagai pemilik (malik). Bukan dilakukan oleh seseorang terhadap sesama makelar yang lain. Karena itu, memakelari makelar atau samsarah ‘ala samsarah tidak diperbolehkan. Sebab, kedudukan makelar adalah sebagai orang tengah (mutawassith) . Atau orang yang mempertemukan (muslih) dua kepentingan yang berbeda; kepentingan penjual dan pembeli. Jika dia menjadi penengah orang tengah (mutawwith al-mutawwith) , maka statusnya tidak lagi sebagai penengah. Dan gugurlah kedudukannya sebagai penengah, atau makelar. Inilah fakta makelar dan pemakelaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Dua Akad Dan Makelar Dalam Praktek MLM&lt;br /&gt;Mengenai status MLM, maka dalam hal ini perlu diklasifikasikan berdasarkan fakta masing-masing. Dilihat dari aspek shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, maka bisa disimpulkan:&lt;br /&gt;1. Ada MLM yang membuka pendaftaran member, yang untuk itu orang yang akan menjadi member tersebut harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi member —apapun istilahnya, apakah membeli posisi ataupun yang lain— disertai membeli produk. Pada waktu yang sama, dia menjadi referee (makelar) bagi perusahaan dengan cara merekrut orang, maka praktek MLM seperti ini, jelar termasuk dalam kategori hadits: shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah. Sebab, dalam hal ini, orang tersebut telah melakukan transaksi jual-beli dengan pemakelaran secara bersama-sama dalam satu akad. Maka, praktek seperti ini jelas diharamkan sebagaimana hadits di atas.&lt;br /&gt;2. Ada MLM yang membuka pendaftaran member, tanpa harus membeli produk, meski untuk itu orang tersebut tetap harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi member. Pada waktu yang sama membership (keanggotaan) tersebut mempunyai dampak diperolehnya bonus (point), baik dari pembelian yang dilakukannya di kemudian hari maupun dari jaringan di bawahnya, maka praktek ini juga termasuk dalam kategori shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah. Sebab, membership tersebut merupakan bentuk akad, yang mempunyai dampak tertentu. Dampaknya, ketika pada suatu hari dia membeli produk –meski pada saat mendaftar menjadi member tidak melakukan pembelian– dia akan mendapatkan bonus langsung. Pada saat yang sama, ketentuan dalam membership tadi menetapkan bahwa orang tersebut berhak mendapatkan bonus, jika jaringan di bawahnya aktif, meski pada awalnya belum. Bahkan ia akan mendapat bonus (point) karena ia telah mensponsori orang lain untuk menjadi member. Dengan demikian pada saat itu ia menandatangani dua akad yaitu akad membership dan akad samsarah (pemakelaran) .&lt;br /&gt;3. Pada saat yang sama, MLM tersebut membuka membership tanpa disertai ketentuan harus membeli produk, maka akad membership seperti ini justru merupakan akad yang tidak dilakukan terhadap salah satu dari dua perkara, zat dan jasa. Tetapi, akad untuk mendapad jaminan menerima bonus, jika di kemudian hari membeli barang. Kasus ini, persis seperti orang yang mendaftar sebagai anggota asuransi, dengan membayar polis asuransi untuk mendapatkan jaminan P.T. Asuransi. Berbeda dengan orang yang membeli produk dalam jumlah tertentu, kemudian mendapatkan bonus langsung berupa kartu diskon, yang bisa digunakan sebagai alat untuk mendapatkan diskon dalam pembelian selanjutnya. Sebab, dia mendapatkan kartu diskon bukan karena akad untuk mendapatkan jaminan, tetapi akad jual beli terhadap barang. Dari akad jual beli itulah, dia baru mendapatkan bonus. Dan karenanya, MLM seperti ini juga telah melanggar ketentuan akad syar’i, sehingga hukumnya tetap haram.&lt;br /&gt;Ini dilihat dari aspek shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, yang jelas hukumnya haram. Adapun dilihat dari aspek samsarah ‘ala samsarah, maka bisa disimpulkan, semua MLM hampir dipastikan mempraktekkan samsarah ‘ala samsarah (pemakelaran terhadap pemakelaran) . Karena justru inilah yang menjadi kunci bisnis multilevel marketing. Karena itu, dilihat dari aspek samsarah ‘ala samsarah, bisa dikatakan MLM yang ada saat ini tidak ada yang terlepas dari praktek ini. Padahal, sebagaimana yang dijelaskan di atas, praktek samsarah ‘ala samsarah jelas bertentangan dengan praktek samsarah dalam Islam. Maka, dari aspek yang kedua ini, MLM yang ada saat ini, prakteknya jelas telah menyimpang dari syariat islam. Dengan demikian hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Inilah fakta, dalil-dalil, pandangan ulama’ terhadap fakta dalil serta status tahqiq al-manath hukum MLM, dilihat dari aspek muamalahnya. Analisis ini berpijak kepada fakta aktivitasnya, bukan produk barangnya, yang dikembangkan dalam bisnis MLM secara umum. Jika hukum MLM dirumuskan dengan hanya melihat atau berpijak pada produknya —apakah halal ataukah haram— maka hal itu justru meninggalkan realita pokoknya, karena MLM adalah bentuk transaksi (akad) muamalah. Oleh karenanya hukum MLM harus dirumuskan dengan menganalisis keduanya, baik akad (transaksi) maupun produknya. Mengenai akad (transaksi) maupun produknya. Mengenai akad (transaksi) yang ada dalam MLM telah dijelaskan dalam paparan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dari aspek produknya, memang ada yang halal dan haram. Meski demikian, jika produk yang halal tersebut diperoleh dengan cara yang tidak syar’i, maka akadnya batil dan kepemilikannya juga tidak sah. Sebab, kepemilikan itu merupakan izin yang diberikan oleh pembuat syariat (idzn asy-syari’) untuk memanfaatkan zat atau jasa tertentu. Izin syara’ dalam kasus ini diperoleh, jika akad tersebut dilakukan secara syar’i, baik dari aspek muamalahnya, maupun barangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat analisis di atas maka sekalipun produk yang diperjual-belikan adalah halal, akan tetapi akad yang terjadi dalam bisnis MLM adalah akad yang melanggar ketentuan syara’ baik dari sisi shafqatayn fi shafqah (dua akad dalam satu transaksi) atau samsarah ‘ala samsarah (pemakelaran atas pemakelaran) ; pada kondisi lain tidak memenuhi ketentuan akad karena yang ada adalah akad terhadap jaminan mendapat diskon dan bonus (point) dari pembelian langsung; maka MLM yang demikian hukumnya adalah haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika ada MLM yang produknya halal, dan dijalankan sesuai dengan syariat Islam; tidak melanggar shafqatayn fi shafqah (dua akad dalam satu transaksi) atau samsarah ‘ala samsarah (pemakelaran atas pemakelaran) . Serta ketentuan hukum syara’ yang lain, maka tentu diperbolehkan. Masalahnya adakah MLM yang demikian?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAMBU _RAMBU SYARIAH ISLAM YANG DI LANGGAR SISTEM MLM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pola bisnis yang saat ini sangat marak dilakukan adalah bisnis dengan sistem MLM (Multi Level Marketing). Hukum asal mu’amalah itu adalah al-ibaahah (boleh) selama tidak ada dalil yang melarangnya. Meski demikian, bukan berarti tidak ada rambu-rambu yang mengaturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejelasan Akad&lt;br /&gt;Berbicara mengenai masalah mu’amalah, Islam sangat menekankan pentingnya peranan akad dalam menentukan sah tidaknya suatu perjanjian bisnis. Yang membedakan ada tidaknya unsur riba dan gharar (penipuan) dalam sebuah transaksi adalah terletak pada akadnya. Sebagai contoh adalah akad murabahah dan pinjaman bunga dalam bank konvensional. Secara hitungan matematis, boleh jadi keduanya sama. Misalnya, seseorang membutuhkan sebuah barang dengan harga pokok Rp 1000. Jika ia pergi ke bank syariah dan setuju untuk mendapatkan pembiayaan dengan pola murabahah, dengan marjin profit yang disepakatinya 10 %, maka secara matematis, kewajiban orang tersebut adalah sebesar Rp 1100. Jika ia memilih bank konvensional, yang menawarkan pinjaman dengan bunga sebesar 10 %, maka kewajiban yang harus ia penuhi juga sebesar Rp 1100. Namun demikian, transaksi yang pertama (murabahah) adalah halal, sedangkan yang kedua adalah haram. Perbedaannya adalah terletak pada faktor akad.&lt;br /&gt;Bisnis MLM yang sesuai syariah adalah yang memiliki kejelasan akad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Murabahah&lt;br /&gt;Jika akadnya murabahah, maka harus jelas barang apa yang diperjualbelikan dan berapa marjin profit yang disepakati. Murabahah adalah menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba.&lt;br /&gt;Misalnya A membeli produk dari PT.MLM. Kemudian A menjual kepada B dengan mengatakan, “Saya menjual produk ini kepada anda dengan harga Rp 11.000,-. Harga pokoknya Rp 10.000,- dan saya ambil keuntungan Rp 1.000,-.&lt;br /&gt;Selanjutnya B tidak dapat langsung bertransaksi dengan PT.MLM. Jika B mau menjual kepada C, maka prosesnya sama dengan A (keuntungan yang hendak diambil terserah kepada B).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Mudharabah&lt;br /&gt;Jika akadnya mudarabah, maka harus jelas jenis usahanya, siapa yang bertindak sebagai rabbul maal (pemilik modal) dan mudarib-nya (pengelola usaha), serta bagaimana rasio bagi hasilnya. Mudharabah adalah Akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (malik, shahib al-maal, LKS) menyediakan seluruh modal, sedang pihak kedua (’amil, mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Jika ada keuntungan, ia dibagi sesuai kesepakatan di antara pemodal dan pengelola modal, sedangkan kerugian ditanggung hanya oleh pemodal. Sebab, dalam mudharabah berlaku hukum wakalah (perwakilan) , sementara seorang wakil tidak menanggung kerusakan harta atau kerugian dana yang diwakilkan kepadanya (An-Nabhani, 1990: 152). Namun demikian, pengelola turut menanggung kerugian, jika kerugian itu terjadi karena kesengajaannya atau karena melanggar syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal (Al-Khayyath, Asy-Syarikat fî asy-Syari‘ah al-Islamiyyah, 2/66).&lt;br /&gt;Mudharabah sendiri terdiri dari Mudharabah Muqhthalaqah dan Mudharabah Muqayyadah.&lt;br /&gt;Misalnya PT.MLM meminta A menjual produknya. Kemudian PT.MLM menyerahkan barang-barangnya untuk dijual oleh A. Selanjutnya hak yang diperoleh A adalah berdasarkan kesepakatan antara A dengan PT.MLM.&lt;br /&gt;Mudhorobah Muthlaqoh adalah kontrak mudhorobah yang tidak memiliki ikatan tertentu. Sedangkan Mudhorobah Muqoyyadah adalah jenis mudhorobah yang pada akadnya dicantumkan persyaratan- persyaratan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya PT.MLM meminta A menjual produknya dengan syarat dijual kepada member dengan harga Rp 100.000,-. Kemudian PT.MLM menyerahkan barang-barangnya untuk dijual oleh A. Jika A menjual produk kepada member PT.MLM, maka ia harus menjual dengan harga Rp 100.000,-, sedangkan jika ia menjual kepada non member, maka ia bebas menjual berapapun harga yang diinginkan A. Selanjutnya hak A adalah kesepakatan antara A dan PT.MLM atas pembagian keuntungan dari penjualan produk kepada non member.&lt;br /&gt;Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana jika A melakukan proses mudharabah kepada B (sebagai downline nya) ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut madzhab Hanafi hal ini tidak diperbolehkan kecuali jika produk itu diserahkan kepada PT.MLM [pemilik modal]. Golongan ini berpendapat bahwa A [mudhorib pertama] tidak bertanggung jawab terhadap produk yang diserahkannya kepada B [mudhorib kedua] kecuali jika yang terakhir ini telah benar-benar melaksanakan perniagaan dan mendapatkan keuntungan atau kerugian. Pembagian keuntungan di sini adalah sebagai berikut. PT.MLM [pemilik modal] mendapatkannya sesuai dengan kesepakatan antara dia dan A [mudhorib pertama]. Sementara itu bagian keuntungan dari A [mudhorib] dibagi berdua dengan B [mudhorib yang kedua] sesuai dengan porsi bagian yang telah disepakati antara keduanya [antara A dan B].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hak-hak A [mudhorib] yang dapat ia nikmati pada saat menjalankan usaha yaitu, pertama, biaya operasi dan keuntungan yang disepakati dalam kontrak. Hanafiyah tidak membolehkan A [mudhorib] menggunakan modal untuk biaya operasi kecuali diizinkan oleh PT.MLM [pemodal]. Sedangkan jumhur ulama membolehkannya. Adapun besarnya biaya operasi ini ditentukan oleh kebiasaan yang berlaku dengan menghindari kemubadziran. Biaya operasi ini akan diambil dari keuntungan, jika memang ada. Apabila ternyata usaha ini tidak mendapatkan keuntungan, maka hal itu diambilkan dari modal karena merupakan bagian penyusutan dari modal. Kedua, A [mudhorib] mendapatkan bagian keuntungan yang telah disepakati dalam kontrak jika memang menghasilkan laba. Jika tidak ada laba, maka mudhorib tidak mendapatkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Musyarakah&lt;br /&gt;Jika akadnya adalah musyarakah, maka harus jelas jenis usahanya, berapa kontribusi masing-masing pihak, berapa rasio berbagi keuntungan dan kerugiannya, dan bagaimana kontribusi terhadap aspek manajemennya. Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (modal) dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya PT.MLM bekerja sama dengan A untuk menjual produknya. Dalam kesepakatan, PT.MLM menyediakan barang, sedang A menanggung biaya transportasi pemasaran. Selanjutnya hak masing-masing dibagi sesuai dengan kesepakatan.&lt;br /&gt;Jika akadnya ijarah, maka barang apa yang disewakannya, berapa lama masa sewanya, berapa biaya sewanya, dan bagaimana perjanjiannya. Secara prinsip, Ijarah sama dengan transaksi jual beli, hanya saja yang menjadi objek dalam transaksi ini adalah dalam bentuk manfaat. Pada akhir masa sewa dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya selama masa sewa akan dijual belikan antara pemilik barang dan penyewa yang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau akadnya adalah akad wadi’ah atau titipan, maka tidak boleh ada tambahan keuntungan berapapun besarnya. Secara istilah wadi’ah adalah memberikan kekuasaan kepada orang lain untuk menjaga hartanya/barangnya dengan secara terang-terangan atau dengan isyarat yang semakna dengan itu. Namun kalau orang yang dititipkan barang/penjaga barang mengharuskan pembayaran, semacam biaya administrasi misalnya, maka akad wadiah ini berubah menjadi “akad sewa” (ijaroh) dan mengandung unsur kelaziman. Artinya penjaga barang harus menjaga dan bertanggung jawab terhadap barang yang dititipkan. Pada saat itu penjaga barang tidak dapat membatalkan akad ini secara sepihak karena dia sudah dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula kalau bisnis tersebut dikaitkan sebagai sarana tolong menolong dengan mekanisme infak dan shadaqah sebagai medianya, maka embel-embel pemberian royalti harus dihindari. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Bisnis MLM yang akadnya tidak jelas dan semata-mata hanya memanfaatkan networking, merupakan salah satu bentuk money game yang dilarang oleh ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika bisnis riil&lt;br /&gt;Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah logika bisnis riil. Apakah mungkin suatu usaha bisnis riil dapat menjanjikan keuntungan berlipat-lipat, bahkan hingga ribuan persen, dalam waktu yang sangat singkat? Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Biasanya profit semacam itu hanya dihasilkan dari aktivitas spekulasi di pasar uang dan pasar modal konvensional, dengan instrumen bunga dan gharar yang sangat kental.&lt;br /&gt;(&lt;br /&gt;Sumber : Berbisnis Secara Syariah, Mengkaji Ulang MLM, Irfan Syauqi Beik, Msc [Anggota Dewan Asatidz PV dan Dosen FEM IPB dan Kandidat Doktor IIU Malaysia, sumber tulisan : www.pesantrenvirtua l.com dengan sedikit edit tanpa mengurangi maksud dari tulisan beliau]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta Yang Terjadi Pada MLM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan-penjelas an di atas, dapat diketahui bahwa sangat terlihat dengan jelas bahwa system MLM yang berjalan saat ini tidak sesuai dengan syari’at.&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin para pebisnis MLM dapat menuai hasil jutaan rupiah hanya dengan menkonsumsi/ membeli/menjual sekian produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, A terdaftar sebagai member PT.MLM. Sesuai dengan kesepakatan dari PT.MLM, untuk mendapatkan bonus, A harus menjual/membeli/ mengkonsumsi produk PT.MLM sebanyak 50 poin (misalkan bonus Rp 1 Juta). Dengan mengkonsumsi/ menjual/membeli dengan nilai 50 poin, A akan mendapatkan bonus atas penjualan/pembelian /konsumsi pribadi dan bonus poin jaringan group. Selanjutnya A merekrut 3 orang downline, dan masing-masing downline melakukan hal yang sama seperti A. Kemudian pada akhir bulan (atau istilahnya closing), A berhasil menjual/mengkonsums i/membeli produk senilai 50 poin, sedangkan poin jaringan group berhasil menjual/mengkonsums i/membeli produk senilai 500 poin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalkulasi yang umum terjadi kemudian adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Bonus yang didapat oleh A :&lt;br /&gt;Penjualan/konsumsi pribadi = 50 poin&lt;br /&gt;Penjualan/konsumsi group = 500 poin&lt;br /&gt;Total Bonus = 550 poin&lt;br /&gt;Dari sini dapat kita lihat, total bonus yang akan dikalkulasikan untuk bonus A adalah sebesar 550 poin. Bagaimana mungkin A mendapatkan bonus senilai 550 poin, sedangkan A hanya berhasil mencapai target 50 poin. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hak A adalah hanya sebesar 50 poin, sedangkan sisanya bukan haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, para pebisnis MLM seakan tidak tahu, tidak mengerti atau mungkin tidak mau tahu dan tidak mau mengerti dengan realita seperti ini. Kemudian mereka akan mengatakan, “Saya berhak mendapat bonus dari jaringan saya karena saya yang merekrut mereka melalui para downline-downline saya“. Sistem seperti inilah yang memang ditetapkan oleh perusahaan yang menjalankan system MLM. Dan ini bertentangan dengan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang menjadi permasalahan. Para promoter (upline) merasa bahwa mereka berhak mendapatkan kontribusi dari hasil kerja downline mereka. Persepsi seperti ini yang diterapkan kepada para downline mereka. Mereka mengatakan kepada para downline-nya, “Jika anda ingin seperti saya, maka anda harus menerapkan hal yang sama kepada para downline anda“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin mereka akan mengatakan, “Sistemnya memang seperti ini“. Tapi para pebisnis MLM tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) bahwa ini bertentangan dengan aturan bermuamalah dalam syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga para pebisnis MLM yang mengatakan, “Sistem yang dijalankan tidak zhalim. Bisa saja para downline memiliki peringkat dan penghasilan yang lebih besar daripada upline, karena para downline bekerja lebih baik daripada upline mereka. Jadi tidak zhalim“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas siapa yang berhak menentukan criteria zhalim atau tidaknya system yang berjalan ? Tidak lain yang mengatakannya adalah para pemilik perusahaan dengan system MLM dan para pebisnis MLM. Bagaimana mungkin mereka bisa mengatakan “ini tidak zhalim”, sedangkan mereka mendapatkan bonus dari hasil kerja downline mereka, atau bonus mereka didapatkan dari perhitungan bonus group (hasil kerja downline) mereka. Seakan mereka merasa berhak mendapatkan kontribusi atau apapun namanya dari hasil kerja downline mereka, inilah yang dinamakan zhalim dan bathil. Sedangkan dalam Al Qur’an sudah jelas dikatakan, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil…” [QS Al Baqarah 188]. Dan firmanNya, “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan” [QS Asy Syu'araa' 183].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mereka mau mengakui dengan sejujurnya, bahwa bonus yang benar-benar menjadi hak mereka hanyalah dari hasil penjualan/konsumsi/ pembelian pribadi mereka. Para downline dan upline bekerja dalam satu team. Dalam artian, para downline tidak bekerja untuk upline, karena bonus yang didapatkan tidak dibayarkan dari kantong pribadi upline mereka. Terkecuali, bonus para downline dibayarkan oleh para upline, maka bisa dikatakan para downline memang bekerja untuk upline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya hal ini sudah jelas dan sangat jelas untuk dipahami. Hanya saja para pebisnis MLM dan perusahaan dengan system MLM menyamarkan kondisi ini, dan bisa juga karena kejahilan atau ketidakmautahuan para pebisnis itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- On Thu, 7/9/09, Masyhurim &lt;huriquais@yahoo. com&gt; wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    From: Masyhurim &lt;huriquais@yahoo. com&gt;&lt;br /&gt;    Subject: (InfoPMIK)&gt; Merajut Cahaya Hati&lt;br /&gt;    To: anggotaicmi@ yahoogroups. com, "Abdul Pari" &lt;pemikir_islam@ yahoo.com. my&gt;, pcim_kairo_mesir@ yahoogroups. com, infopmik@yahoogroup s.com, "false" &lt;wps1677@yahoo. com&gt;, forkit@yahoogroups. com&lt;br /&gt;    Date: Thursday, July 9, 2009, 5:39 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Assalamualaikum wR wB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    PAGI!!! LUAR BIASA!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rasulullah saw telah bersabda tentang hati itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yang bermaksud :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Ketahuilah bawaha didalam jasa ada segumpal (seketul) daging, jika baik dia, (maka) baiklah jasad keseluruhannya, dan jika rosak dia, (maka) rosaklah jasad keseluruhannya. Ketahuilah dia itulah “HATI”. (H.R. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hati itu bagaikan sebuah antenna yang sangat sensitive, antenna yang sensitive akan menerima segala macam siaran yang sedang mengudara, sehingga semua siaran masuk kedalam radio yang sedang dihidupkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitu juga hati manusia itu ketika bangun dipagi hari dalam keadaan bersih atau baru “ON” kemudian seorang manusia berhadapan dengan perjuangan “hidup” yang bemacam ragamnya, sehingga hati tadi menerima sinyal yang berbeda-beda, setiap sinyal yang diterima telah memberi efek terhadap hati, hati yang pagi tadi keadaannya masih bersih kini dia sudah merekam berbagai-bagai problematika kehidupan sehingga dipetang hari hati itu mula calar dan ternoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sinyal pada harinya itu  ada yang menyenangkan sehingga hati seseorang itu menjadi gembira ada pula yang menyakitkan sehingga hatinya menjadi sedih, ada pula yang mengecewakan sehingga hatinya menjadi geram dan resah. Begitulah seterusnya kehidupannya bergulir penuh dengan sinyal-sinyal permasalahan baik ataupun buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hati itupun semakin tua, beriringan dengan usia orang yang membawanya, maka hati yang putih itu semakin bertambah runyam dan sekrang kelihatan berkarat, setiap hari hatinya semakin keras dan menghitam, karena tidak pernah disirami oleh sinar-sinar lembutnya “alunan” al-Quran, hatinya tidak disinari oleh belaian kasih sayang  nabinya, hatinya tidak pernah diusahakan untuk di “defrag” kembali agar kehidupan esoknya dapat dengan tegar menerima sinyal yang berbagai rupa dan kerenahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hati itupun keras. Adakah ianya sekeras batu? Tidak ia tidak sekeras batu tetapi lebih keras lagi, apakah itu agaknya? Besikah yang lebih keras dari batu. Betul, hatinya telah menjadi keras lebih keras dari batu!!! Manakala batu-batu itu ada yang memancar darinya sungai-sungai, ada pula diantara batu-batu itu yang pecah kemudian mengalir pula darinya air, dan adapula yang runtuh  karena takut kepada Allah swt . Maka berfirmanlah Allah swt didalam surah al-Bqarah mengenai hati manusia itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاء وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ) (البقرة : 74 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kemudian sesudah itu, hati kamu juga menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. padahal di antara batu-batu itu ada Yang terpancar dan mengalir air sungai daripadanya; dan ada pula di antaranya Yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya; dan ada juga di antaranya Yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah; sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa Yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Baqarah : 74)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ternyata sang hati walaupun ia sangat sensitive ternyata lebih keras daripada batu-batu ditepian sungai, jika hatinya sudah mengeras seperti besi, ataupun lebih dari itu? Maka hati itu bagaikan tanah yang gersang dan tandus, hati itu menjadi tidak sensitive hati itu tidak dapat menerima kebenaran, hati itu tidak lagi dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dihatinya tidak lagi terbit perasaan kasih sayang, hatinya sudah tertutup dari pintu-pintu hidayah yang tebuka lebar. Bunga-bunga hikmah kehidupan yang harum baunya sungguh tidak dapat tumbuh dengan subur bahkan tidak dapat hidup padanya. Hatinya membesi, hatinya sakit, hatinya perlu obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Islam agama rahmatan lil alamiin, agama yang membawa rahmat bagi semesta alam. Allah swt telah menciptakan manusia dengan segala persiapan yang sempurna, karena hanya manusia saja yang dijadikan khalifahnya, dan sebagai seorang “wakil” Allah swt dimuka bumi dengan segala problematikanya, maka Allah swt menggenggam hatinya, dan Allah swt Maha Mengetahui tentang hati itu, hati yang senantiasa berhadapan dengan sepak terjang kehidupan, hati yang senantiasa bertukar rasa, hati yang cenderung untuk menjadi resah dan berkarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Demi melihat kondisi hati manusia yang sangat komplek itu, maka Allah swt punya cara tersendiri bagaimana mengembalikan kemurnian hati manusia agar ia dapat menerima kembali sinyal dengan sempurna sebagaimana fitrahnya diciptakan dahulu kala, maka Allah swt memberikan obat-obat untuk menjaga kebugaran hati itu, sebagaimana yang diperintahkan didalam al-Quran dan sunnah rasluNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pertama : Menunaikan solat lima waktu. Dengan solat lima waktu maka hati kita akan tertata rapi, jika hati sudah tertata rapi, maka pandangan kita akan menjadi baik, pendengaran akan menjadi baik, perkataan akan menjadi baik, pemikiran akan menjadi baik dan perbuatan akan menjadi baik. Demikianlah yang diceritakan oleh Allah swt kepada kita didalam surah al-Nahl ayat ke 90 dan surah al-Ankabut ayat ke 45. Akan lebih besar kesan atau efeknya jika solat itu dikerjakan secara berjamaah sebagaiman perintah Allah swt war ka’uu maarraki’iina “dan rukuklah kamu semua bersama orang-orang yang rukuk” (Q.S. al-Baqarah : 42) demikian pula sang Rasul mulia bersabda : “Solat berjamaah lebih afdhal dari solat bersendirian sebanyak 25 derajat” (H.R. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kedua : Gemar bersedekah. Dengan bersedekah maka hilanglah perasaan pelit bin kedekut dari hatinya, gemar bersedekah pula bertambah berkah hartanya, suka bersedekah akan bertambah hartanya. Demikianlah janji Allah swt didalam quranNya : “Bandingan (derma) orang-orang Yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih Yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa Yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi meliputi ilmu pengetahuanNya”. (Q.S. al-Baqarah : 261).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jika dermawan kita, maka banyak pintu  kebaikan yang terbuka, namun jika pelit dan kedekut kita, kawan-kawan dan saudaramara- pun tinggalkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketiga : Membaca al-Quran. Rasulullah saw bersabda didalam sebuah hadis yang bermaksud : “Sesungguhnya hati itu boleh menjadi keras seperti kerasnya besi” maka dikatakan kepada beliau : wahai Rasulullah saw dan apa obatnya? Maka beliau berkata : “Membaca al-Quran dan ingat mati”. Orang yang membaca al-Quran dan tidak memahami maknanya, janganlah bersedih hati dan jangan pula beranggapan itu merupakan perbuatan sia-sia karena Allah swt tidak akan menyia-nyiakan amal solehnya demikianlah Allah swt menghibur hati kita seperti yang telah dijelaskan olehnya didalam firmanNya : “Dan sesungguhnya Allah swt tidak akan mempersia-siakan amalan orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Ali Imran : 171, Al-Taubah : 170, Hud : 115 dan Yusuf : 90). Manakala orang-orang yang membaca al-Quran seraya dia memahami maknanya, maka renungkanlah janji-janji Allah swt, renungkan keindahan surga-surgaNya, bayangkan pahit azab nerakanya. Maka dengan cara demikian hati itu akan menjadi lembut, jika hati sudah lembut maka ia bagaikan lahan yang subur yang tumbuh padanya segala macam pohon-pohon yang berwarna-warni bunganya dan semerbak mengharum bunga-bungaannya. Adapun cara yang paling diridhai oleh Allah swt didalam membaca al-Quran, hendaklah seseorang itu membacanya dengan tartil ataupun perlahan sambil mentadabburkan bacaan yang sedang dibaca olehnya. Demikianlah Allah swt memerintahkan didalam firmanNya : dan bacalah Al-Quran Dengan "Tartil". (Q.S. Al-Muzammil : 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keempat : Mengingat kematian. Jika dihadapkan kepada kematian, maka hati yang keras akan menjadi lembut. Berapa ramai manusia yang tadinya mata mereka itu bersinar-sinar dan angkuh? Berapa ramai manusia yang tadinya sangat berambisi dalam mengejar cita-cita? Berapa ramai manusia tadinya merancang plan-plan kejayaan dunianya? Namun ketika datang malaikat maut kepadanya, maka dimanakah letaknya mata yang bersinar-sinar itu? Maka dimanakah ambisi yang besar itu? Maka dimanakah rancangan plan-plan itu? Dimana semua itu? Yang ada sekarang hanya tubuh kaku dan tidak berdaya, bahkan mata itu menjadi sayu, pandangannya menjadi kosong, pandangannya terkadang menggambarkan kekecewaan, tetapi apa yang dikecewakan? Tubuhnya yang dahulunya gagah itu, tubuhnya yang dahulu menggoda itu sekarang tidak lagi laku. Dia tidak lama lagi akan masuk kedalam tanah dan akan menjadi santapan lezat binatang-binatang didalam tanah, melainkan mereka yang Allah swt jaga jasad kasarnya. Duhai tubuh itu, duhai cita-cita itu, duhai dunia, dimana sekarang dikau berada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kelima : Memperbanyak muhasabah diri atau menghitung amalan-amalan sepanjang hari. Orang yang senantiasa bermuhasabah akan menyadari kemana telah melangkah kakinya, apa yang telah disentuh oleh tangannya dan apa yang telah dimakan olehnya. Jika kita senantiasa bermuhasabah diri, maka hati ini akan menjadi hidup, dapat merasa. Dia dapat bersinar kemudian menerangi jalan hidup pemiliknya. Hatinya menjadi lentera penerang didalam melalui gelapnya celah-celah kehidupan yang pengap dan kelam. Adapun waktu yang paling baik untuk bermuhasabah adalah sebelah malam, karena saat inilah manusia lebih bersedia untuk melihat kedalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keenam : Berpuasa. Jika berpuasa seorang hamba, maka bersih hatinya. Jika bersih hatinya maka tidak susah baginya untuk menerima ilmu dan kebenaran. Namun jika kotor hati manusia itu, bebal jadinya dan gelap pandangannya, jika sudah gelap pandangannya maka kemana arah melangkahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketujuh : Lihatlah orang-orang yang lebih rendah dari kita. Rasulullah saw bersabda didalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عن أبي هريرة : عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ( إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yang bermaksud :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Daripada Abu Hurairah ra : Rasulullah saw telah bersabda : “Jika seorang darimu melihat kepada orang yang dilebihkan keatasnya dalam harta dan ciptaan, maka hendaklah dia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya”. (H.R. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penjelasan hadis : Jika kita melihat mereka yang dilebihkan dalam harta, maka jangan kita berkecil hati, ataupun jika kita melihat mereka lebih cantik, lebih handsome, lebih gagah, lebih tinggi, lebih putih dan mulus kulitnya, lebih mancung hidungnya, lebih lentik bulu matanya, lebih tebal alis matanya, lebih lurus berderai rambutnya, jangan mengatakan Allah tidak adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Palingkan pandangan kita kepada mereka yang lebih miskin dari kita, dalam artian jika mereka memiliki kereta atau mobil lebih mewah dari kita punya, maka bersyukurkalah karena  tetangga kita tidak dapat membeli kereta yang buruk sekali-pun, jika kita hanya memiliki motosikal, maka jangan berkecil hati karena ternyata tetangga kita kemana-mana pergi naik bas, jika tidak memiliki kendaraan, maka janganlah berkecil hati karena ternyata tetangga kita  tidak dapat berjalan disebabkan kakinya diamputasi ataupun terkena lumpuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mereka kurang cantik, kurang handsome, kurang gagah, kurang tinggi, kurang putih mulus kulit, kurang mancung hidung, kurang lentik bulu mata, kurang tebal alis mata, tidak lurus rambutnya (kribo) bersyukurlah karena saudara masih menjadi hamba Allah swt dan bukan hamba nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lihatlah mereka yang kurang darimu niscaya tentram jiwamu, namun jika kamu melihat orang-orang yang lebih darimu, maka akan dikhawatirkan hatimu menjadi rosak dan tidak dapat mensyukuri apa yang dikau dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kedelapan : Mengasihi orang dhaif dan anak yatim. Jika saudara sudah memiliki ketujuh obat diatas, maka agar lebih mujarab, manjur dan lebih berkesan kepada kesehatan hati, maka sempatkanlah diri saudara untuk melihat mereka yang dhaif. Renungkanlah wahai saudara bagaimana sang bayi menangis meminta-minta makan dari ibunya? Lihatlah wahai saudara bagaimana seorang buta yang tercari-cari jalan? Perhatikanlah bagaimana orang-orang miskin itu berebut sedikit makanan? Amat-amatilah wahai saudara bagaimana seorang ibu kebingungan karena tidak dapat membeli makan bayinya? Pikir-pikirkanlah wahai saudara bagaimana keadaan seorang ayah yang tidak lagi mampu berusaha untuk membesarkan anak-anaknya? Dan bayangkanlah wahai saudara, bagaimana keadaan anak-anak yatim yang tidak sempat merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Maka jika kita masih lagi merasakan desakan-desakan hiba didalam jiwa, insya Allah hati kita masih sehat sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Demikianlah yang dapat saya sampaikan saat ini semoga kita yang masih diberikan kesempatan ini (hidup) dapat menambahkan amal dan memperbaiki segala kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wallahu a’lam bi al shawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    DI SADUR DARI :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    : liqoah.blogspot. com/2009/ 06/hukum- mlm-dalam- islam.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-2198442155535821332?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/2198442155535821332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=2198442155535821332' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/2198442155535821332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/2198442155535821332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/12/multi-level-marketing-halal-atau-haram.html' title='Multi Level Marketing, HALAL ATAU HARAM ?'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-492161190822773826</id><published>2009-09-26T02:16:00.000-07:00</published><updated>2009-09-26T02:18:02.746-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAK'/><title type='text'>Memaafkan Itu Bisa Menyehatkan</title><content type='html'>Forgiveness is a choice. Memaafkan adalah pilihan yang hanya bisa ditentukan oleh Anda sendiri. Bagi mereka yang tidak bisa dan tidak mau memaafkan, maka akan tersiksa karena pikiran dan batinnya bisa selalu kotor. Di samping itu, hubungan dengan yang bersalah pun akan tetap buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Putting Forgiveness into Practice, Doris Donneley (1982) menjabarkan langkah-langkah memaafkan sebagai berikut: mengenali luka batin kita, memutuskan untuk memaafkan, menyadari kesulitan dalam memberi maaf, dan menyadari dampak negatif dari ketiadaan permaafan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara David Norris (1984) dalam Forgiving from the Heart mengusulkan lima langkah: memperteguh niat memaafkan, secara akurat memeriksa  kembali pelanggaran (kesalahan) orang yang akan dimaafkan, memaknakan kembali luka batin akibat kesalahan, membina kembali relasi yang terputus, dan mengintegrasikan kembali berbagai retak psikis yang dialami akibat luka batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila benar-benar mau memaafkan seseorang, harus bersedia menguras dan mencuci bersih seluruh arsip kotor kesalahan orang tersebut. Jadi bukan hanya di bibir saja, melainkan sampai bagian terdalam batin. Ini bisa terlaksana bila melakukan tahapan sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Change of action. Perubahan dari segi lahir, dari muka cemberut, bibir mencibir dan pandangan yang merendahkan, kembali kepada tahapan normal. Mulai menyapa dan memberikan salam. Mengubah dan mengembalikan penampilan lahiriah tidaklah mudah, apalagi kalau sudah lama bermusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Change of mind. Perubahan dalam pikiran. Ini lebih sukar sebab harus merubah pikiran maupun pandangan terhadap orang tersebut. Bisa terjadi bila kita mau mengosongkan pikiran negatif terhadap orang tetrsebut dengan cara melupakan kesalahannya, kemudian diisi dengan pikiran positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Change of heart. Perubahan dalam hati atau batin. Sifat bermusuhan bukan sekadar dihapus namun diubah menjadi kasih. Dari yang tadinya jauh menjadi dekat, musuh jadi sahabat. Ingat, orang yang dapat memaafkan kesalahan seseorang adalah orang yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa memaafkan dan melupakan kesalahan seseorang adalah orang bijak. Tetapi orang yang bisa memaafkan dan melupakan kesalahan seseorang ”sebelum” orang tersebut minta maaf adalah orang yang memiliki sifat Illahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Suprayoga&lt;br /&gt;Jl Dieng I/40 Pondok Brangsong, Kendal&lt;br /&gt;Hp. 081325544849&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-492161190822773826?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/492161190822773826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=492161190822773826' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/492161190822773826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/492161190822773826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/memaafkan-itu-bisa-menyehatkan.html' title='Memaafkan Itu Bisa Menyehatkan'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-5531575814643398990</id><published>2009-09-25T14:48:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T14:49:12.489-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAK'/><title type='text'>Yang Terlupa Dari Keikhlasan</title><content type='html'>Oleh :  Ustadz Ahmad Daniel, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman yang artinya ” Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Az Zumar : 2) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam . ibnu Mas’ud Rhodiyallahu anhu berkata “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam)“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu Ikhlas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab shohihnya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain Nawawi dan Riyadhus Sholihinnya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata ” Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun saudaraku, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah.  Ketika engkau tersenyum terhadap saudaramu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudaramu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudaramu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudaramu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudaramu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudaraku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda : “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya “hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini”. Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab :”tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karenaNya” (HR Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah hadits ini wahai saudaraku, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain, Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu” (HR Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkanlah sabda beliau ini wahai saudaraku, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang kita letakkan di mulut istri kita, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mubarak berkata “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda : “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata : demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya” (HR Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah saudaraku,  betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda : “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya ” (HR Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ?. Dan sebaliknya, wahai saudaraku, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili , dia berkata :” seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya : wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain, maka Rasulullah pun menjawab : Dia tidak mendapatkan apa-apa. Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab : Dia tidak mendapatkan apa-apa. Kemudian beliau berkata : Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya” (Hadits Shohih Riwayat Abu Daud dan Nasai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dari Ikhlas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya : “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka” (Shod : 82-83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf  yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. ” ( Yusuf : 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan  perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai saudaraku, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka instropeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Robbal alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: millist assunnah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-5531575814643398990?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/5531575814643398990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=5531575814643398990' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5531575814643398990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5531575814643398990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/yang-terlupa-dari-keikhlasan.html' title='Yang Terlupa Dari Keikhlasan'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-3550909837245434047</id><published>2009-09-25T14:46:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T14:47:05.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAK'/><title type='text'>Ketika Bertamu dan Menerima Tamu</title><content type='html'>Ada hal-hal yang terkadang luput dari perhatian kita bagaimana etika dalam bertamu maupun saat menerima tamu, untuk itu berikut ini beberapa point yang penting untuk diperhatikan bagaimana etika saat menerima tamu maupun etika bagi seorang tamu yang saya ambil dari tulisan di buku “Al Qismu Al Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan”, penulis Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia: “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk orang yang mengundang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Hendaknya mengundang orang-orang yang bertaqwa, bukan orang yang fasiq. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Janganlah  kamu bersahabat kecuali dengan seorang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa”. (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan orang-orang fakir. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Seburuk-buruk makanan adalah makanan pengantinan (walimah), karena yang diundang hanya orang-orang kaya tanpa orang-orang faqir.” (Muttafaq’ alaih).&lt;br /&gt;   3. Undangan jamuan hendaknya tidak diniatkan berbangga-bangga dan berfoya-foya, akan tetapi niat untuk mengikuti sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan membahagiakan teman-teman atau sahabat.&lt;br /&gt;   4. Tidak memaksa-maksakan diri untuk mengundang tamu. Di dalam hadits Anas Radhiallaahu anhu ia menuturkan, “Pada suatu ketika kami ada di sisi Umar, maka ia berkata: “Kami dilarang memaksa diri” (membuat diri sendiri repot).” (HR. Al-Bukhari)&lt;br /&gt;   5. Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan.&lt;br /&gt;   6. Jangan kamu menampakkan kejemuan terhadap tamumu, tetapi tampakkanlah kegembiraan dengan kahadirannya, bermuka manis dan berbicara ramah.&lt;br /&gt;   7. Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya.&lt;br /&gt;   8. Jangan tergesa-gesa untuk mengangkat makanan (hidangan) sebelum tamu selesai menikmati jamuan.&lt;br /&gt;   9. Disunnatkan mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan tamu yang baik dan penuh perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi tamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Hendaknya memenuhi undangan dan tidak terlambat darinya kecuali ada udzur, karena hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengatakan, “Barangsiapa yang diundang kepada walimah atau yang serupa, hendaklah ia memenuhinya”. (HR. Muslim).&lt;br /&gt;   2. Hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir dengan undangan orang yang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang faqir itu merupakan pukulan (cambuk) terhadap perasaannya.&lt;br /&gt;   3. Jangan tidak hadir sekalipun karena sedang berpuasa, tetapi hadirlah pada waktunya, karena hadits yang bersumber dari Jabir Radhiallaahu anhu menyebutkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda,”Barangsiapa yang diundang untuk jamuan sedangkan ia berpuasa, maka hendaklah ia menghadirinya. Jika ia suka makanlah dan jika tidak, tidaklah mengapa.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh  Al-Albani).&lt;br /&gt;   4. Jangan terlalu lama menunggu di saat bertamu karena ini memberatkan yang punya rumah juga jangan tergesa-gesa datang karena membuat yang punya rumah kaget sebelum semuanya siap. Bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih dari itu.&lt;br /&gt;   5. Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurangan apa saja yang terjadi pada tuan rumah.&lt;br /&gt;   6. Hendaknya mendo`akan untuk orang yang mengundangnya seusai menyantap hidangannya. Dan di antara do`a yang ma’tsur adalah, “Orang yang berpuasa telah berbuka puasa padamu. dan orang-orang yang baik telah memakan makananmu dan para malaikat telah bershalawat untukmu”. (HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani). “Allahummagh firlahum fiima rozaqtahum wagh firlahum, warhamhum” “Ya Allah, berikan keberkahan (kebaikan yang terus-menerus) untuk mereka (tuan rumah) pada apa-apa yang Engkau rizkikan untuk mereka. Ampunilah dan sayangilah mereka.” (HR. Muslim 3/1615)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: millist assunnah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-3550909837245434047?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/3550909837245434047/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=3550909837245434047' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/3550909837245434047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/3550909837245434047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/ketika-bertamu-dan-menerima-tamu.html' title='Ketika Bertamu dan Menerima Tamu'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-8287611949341745313</id><published>2009-09-25T14:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T14:35:27.641-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH BIJAK'/><title type='text'>Rela Dinikahi Pria Mana Saja Asal Biayai Pengobatan Teman Irwan Nugroho - detikNews</title><content type='html'>Dan Dan (ananova)&lt;br /&gt;Shandong - Seorang gadis di negeri tirai bambu China bersedia menikah dengan pria mana saja asal mau membiayai pengobatan teman sekelasnya yang sedang sakit. Berminat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Dan, nama gadis berusia 22 tahun tersebut. Dia adalah mahasiswi sebuah universitas di Deshou, Provindi Shandong, China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui internet, dia mengumumkan Zhang Yuemei didiagnosa dokter mengidap encephalomyelitis, semacam radang otak. Yuemei juga menderita gangguan pada tulang belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dan Dan seperti dilansir ananova, Jumat (25/9/2009), keluarga Yuemei tidak punya uang untuk berobat. Sementara kesehatan teman perempuannya itu semakin memburuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang tuanya hanya seorang petani. Mereka tidak sanggup untuk membiayai operasi yang cukup tinggi dan biaya perawatan setelahnya," tutur Dan Dan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Dan pun ingin berbuat sesuatu agar nyawa temannya itu dapat diselamatkan. Dia akan menerima lamaran pria mana pun yang bersedia menanggung biaya pengobatan Yuemei. Jumlahnya 15 ribu pundsterling atau sekitar Rp 300 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha yang dilakukan Dan Dan bukannya tanpa kritik. Dia dianggap memanfaatkan keadaan temannya untuk mencari pria-pria kaya. Namun, pihak Jinan Qilu Hospital, tempat Yuemei dirawat, mendukungnya. (irw/irw)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-8287611949341745313?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/8287611949341745313/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=8287611949341745313' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/8287611949341745313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/8287611949341745313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/rela-dinikahi-pria-mana-saja-asal.html' title='Rela Dinikahi Pria Mana Saja Asal Biayai Pengobatan Teman Irwan Nugroho - detikNews'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-5564245051778171682</id><published>2009-09-12T09:04:00.000-07:00</published><updated>2009-09-12T09:05:32.140-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAK'/><title type='text'>Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi (3)</title><content type='html'>Ada tiga tingkatan orang sabar :&lt;br /&gt;1. Orang yang dapat menekan habis dorongan hawa nafsu hingga tidak &lt;br /&gt;ada perlawanan sedikitppun, dan orang itu bersabar secara konstan. &lt;br /&gt;Mereka adalah orang yang sudah mencapai tingkat shiddiqin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Orang yang tunduk total kepada dorongan hawa nafsunya sehingga &lt;br /&gt;motivasi agama sama sekali tidak dapat  muncul. Mereka termasuk &lt;br /&gt;kategori  orang-orang yang lalai (al ghofilun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Orang yang senantiasa dalam konflik antara dorongan hawa nafsu &lt;br /&gt;dengan dorongan  keberagamaan. Mereka adalah orang yang &lt;br /&gt;mencampuradukkan kebenaran dengan kesalahan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secara ppsikologis, tingkatan  orang sabar dapat dibagi menjadi tiga, &lt;br /&gt;yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Orang yang sanggup meninggalkan dorongan syahwat. Mereka termasuk &lt;br /&gt;kategori orang-orang yang bertaubat (at Taibin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Orang yang ridla (senang/puas)  menerima apapun yang ia terima &lt;br /&gt;dari Tuhan, mereka termasuk kategori zahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Orang yang mencintai apapun yang diperbuat Tuhan untuk dirinya, &lt;br /&gt;mereka termasuk kategori shidddiqin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-5564245051778171682?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/5564245051778171682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=5564245051778171682' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5564245051778171682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5564245051778171682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/sabar-kunci-kecerdasan-emosi-3.html' title='Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi (3)'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-8000954821776680360</id><published>2009-09-11T06:25:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T06:26:50.827-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUZULUL QUR&apos;AN'/><title type='text'>Ceramah Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1422 H Masjid Istiqlal Jakarta</title><content type='html'>KH. Abdullah Gymnastiar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah SWT. Alhamdulillahilladzi liyadzadu iimaanan maa ‘aimaanihim. Sholawat dan salam semoga tercurah selalu bagi Rasulullah panutan kita yg membangunkan dan menuntun hati nurani kita menjadi cahaya bagi segala perbuatan mulia. Bangsa kita sesungguh dikaruniaiAllah potensi yg begitu dahsyat yg jika disyukuri dgn cara mengelola dgn tepat niscaya berpeluang menjadi negara besar yg berwibawa dan bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan potensi sumber daya alam yg melimpah ruah baik berupa daratan lautan serta apapun yg terkandung didalamnya; maupun lokasi geografis dan keindahan alam negeri kita bagaikan percikan surga yg tertetes di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi manusia dgn jumlah dua ratus duapuluh juta lbh dgn aneka kemampuan merupakan aset berharga jika disinergikan dgn formula yg tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aset yg tak ternilai harga adl sumber keyakinan bagi mayoritas penduduk Indonesia yaitu aqidah Islam yg diyakini bersama sebagai agama yg paripurna rahmatan lil `alamiin yg dapat menjadi solusi yg universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila kita melihat kenyataan ternyata semua potensi seakan-akan tak berbuah kenyataan yg dicita- citakan bersama. Bahkan aneka bala dan musibah dari berbagai sisi kehidupan begitu lekat dan memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah kita dengar bersama upaya utk menyehatkan dan mensejahterakan masyarakat namun kita wajib mengevaluasi hal-hal pokok yg menjadi kunci permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kita relatif berbadan sehat juga berpikir normal bahkan sebagian ada yg berfisik sangat kuat dan berotak cerdas. Ha sedikit masyarakat yg berpenyakit lahir dan ia juga berpenyakit akal. Rupa yg sedang berjangkit di negara kita secara umum justru penyakit qolbu/hati nurani. Karena orang yg kuat dan cerdas akal pikiran yg tak sehat qolbu ternyata mereka itulah yg menjadi biang-biang kerusakan dan kesengsaraan bagi bangsa ini. Dengan kata lain kelemahan bangsa kita ini adl belum sungguh-sungguh memprogram utk menghidupkan dan membangkitkan kekuatan nurani yg akan menuntun akal pikiran sikap dan tingkah laku menjadi penuh nilai kemuliaan dan kehormatan yg hakiki krn qolbu adl inti terpenting dari manusia yg akan mengatur segala sikapnya. Sabda Rasulullah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaa inna fil jasad mudhgoh Idza soluhat soluha jazadukuluhu Waidza fasadat fasada jasadukuluhu Alaa wa hiyal qolbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi bila rusak niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sumber kerusakan ini menurut Rasulullah adalah: Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkok. Para sahabat berta Apakah pada saat itu jumlah kami sediit ya Rasulullah? Beliau menjawab Tidak bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah dan kalian ditimpa penyakit wahn . Mereka berta lagi Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah? beliau menjawab Hubbud du {kecintaan yg amat sangat kepada dunia } dan takut mati . HR Abu Dawud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala bisa kita lihat dari tingkah polah dalam memperebutkan duniawi ini {harta kedudukan kekuasaan popularitas kesenangan duniawi gelar pangkat jabatan yg ditujukan hanya utk kepuasan dunia belaka} tak sedikit orang yg menghalalkan cara-cara tak terpuji sehingga mendzolimi hak-hak orang lain. Bagi yg telah mendapatkan juga melakukan perbuatan yg tak mulia yaitu dgn gemar pamer kemewahan hidup dgn biaya tinggi menjadi jalan kecurigaan dan kedengkian bagi yg lain; dan utk mempertahankan dunia yg dimiliki sering pula melakukan tindakan yg melupakan kepentingan masyarakat. Bagi masyarakat yg ada dalam keterbatasan melihat situasi yg materialistis membuat terbuai angan-angan sehingga melakukan tindakan yg mencoreng harga dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata budaya cinta dunia atau materialistis adl biang masalah yg beranak-pinak dgn kesombongan kemewahan kedengkian keserakahan kezoliman dan bercucu pada permusuhan keinginan utk menghancurkan orang lain dan akibat seperti yg kita rasakan sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mulai membangunkan nurani masyarakat dgn cara mensosialiksasikan obat penyembuh yaitu membangun hidup mulia dgn bersahaja hidup proporsional tak berbudaya bersembunyi dibalik topeng duniawi dan hal ini sangat memungkinkan kita lakukan setak dgn empat kunci :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Suri tauladan yg nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus menjadi kesadaran para pemimpin bahwa mereka benar-benar diperhatikan dan ditiru oleh masyarakat. Kita harus membudayakan memilih para pemimpin yg berani hidup bersahaja dan mengutamakan kemampuan memimpin dgn adil dan profesional dibanding dgn orang yg hanya mampu mempertontonkan kedudukan dan kekayaaannya. Nabi Muhammad SAW membangun peradaban dgn menjadi suri tauladan yg nyata. Ini harus menjadi budaya bagi para pemimpin dgn tak menyuruh orang lain sebelum menyuruh diri sendiri. Tidak melarang orang lain sebelum melarang diri sendiri. Lebih banyak berkata dgn karya dan tauladan nyata daripada hanya berbuat dgn perkataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat sesungguh sangat tercuri hati kepada para pemimpin yg bisa berbuat banyak namun amat bersahaja dalam hidupnya. Pada saat yg sama masyarakatpun teramat curiga dan dengki kepada para pemimpin yg hidup glamour yg mereka yakini semua itu adl uang rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendidikan dan pelatihan juga pembinaan secara sistematis berkesinambungan terhadap masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kesadaran dan kesepakatan bersama utk mendidik segala lapisan masyarakat dgn menggunakan seluruh media yg ada utk mengetahui nilai-nilai keutamaan hidup berhati bersih bernurani dan hidup tak materialistis baik lewat pendidikan di sekolah/kampus melalui aneka sinetron film/televisi ataupun radio utk mendampingi pendidikan lewat suri tauladan dari para pemimpin / tokoh panutan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sistem yg kondusif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitapun harus bekerja keras utk membangun system dalam bentuk undang-undang aturan-aturan lain yg mendukung perubahan sikap di masyarakat utk tak berjiwa materialistis dan sangat menghargai nilai-nilai kemuliaan ahlak dan moral dgn cara membuat peraturan yg benar- benar adil dan konsisten utk menegakkannya. Nabi Muhammad berlaku adil terhadap siapapun termasuk kepada keluarga sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegakkan supremasi hukum adl bagian kunci yg teramat penting utk membangun harapan di masyarakat bahwa memburu dunia tak dgn cara yg benar akan mendapatkan hukuman yg setimpal. Menegakkan hukum dgn adil tak dgn kebencian dan dendam akan membuat keadilan menjadi sesuatu yg indah dan menjadi tumpuan semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidak-seriusan menegakkan sistem yg adil akan mengundang ketidakpuasan dan ini akan mengundang pula aneka masalah yg lbh pelik dan merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Membangun kekuatan ruhiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yg beriman selalu harus kita sadari bahwa kita semua hanya sekedar mahluk yg sangat banyak memiliki keterbatasan danAllah-lah yg Maha Kuasa menolong siapapun yg Dia kehendaki krn Dia-lah yg menggengam segala masalah dan jalan keluarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa haulaa walaa quwwata illa billahil aliyil’aziim. Maka harus dicanangkan kebangkitan ruhiyah nasional dgn memotivasi masyarakat utk melakukan kebangkitan ibadah dgn benar lbh intensif. Baik yg fardhu maupun sunah yg tentu diawali dgn suri teladan dari semua tokoh panutan dan difasilitasi baik tempat waktu/kesempatan dan dana agar masyarakat -selain lbh terkendali- juga doa-doa mendatangkan pertolongan Allah seperti yg dijanjikan. Surat at Thalaq ayat 23 menyatakan yg arti Barang siapa yg bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memberi jalan keluar dari segala urusan dan memberi rezeki dari tempat yg tak disangka-sangka dan barang siapa yg bertawakal niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya. Amatlah tipis harapan kita akan keluar dgn baik dari permasalahan ini tanpa bimbingan Allah krn manusia amatlah terbatas dalam segala tak mampu berbuat apa pun tanpa izin-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dgn kombinasi ikhtiar lahir batin suri tauladan yg nyata pola pendidikan dan pembinaan juga sistem yg kondusif dan ketangguhan dalam ibadah seluruh elemen masyarakat menjadikan semua masalah yg ada pada bangsa kita ini akan membuahkan budaya hidup baru yg benar-benar akan menjadi fondasi bagi masyarakat maju yg beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu masyarakat yg produktif dalam aktivitas di dunia namun didasari dgn niat yg bersih krnAllah menjalankan aktivitas sebagai ibadah dan diwarnai dgn kebersihan hati jauh dari segala kesombongan riya kedengkian cinta dunia atau aneka penyakit hati lain yg semua ini akan terpancar dari ahlak yg bermutu tinggi di lapisan manapun mereka berkiprah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan warisan terbesar dari tiap insan yg diberi amanah adl kemuliaan pribadi buah dari kebersihan hati yg merupakan tanda kesuksesan dan keselamatan kehidupan seorang manusia yg lbh tinggi nilai dari topeng duniawi apapun yg disandang sejenak didunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha kepadaAllah-lah kembali segala urusan dan hanya Dia-lah yg akan menerima amal dan tiada pertemuan dengan-Nya kecuali hanya orang yg berhati bersih dan selamat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-8000954821776680360?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/8000954821776680360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=8000954821776680360' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/8000954821776680360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/8000954821776680360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/ceramah-nuzulul-quran-17-ramadhan-1422.html' title='Ceramah Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1422 H Masjid Istiqlal Jakarta'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-5352776577333868520</id><published>2009-09-11T06:17:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T06:18:15.031-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAK'/><title type='text'>Mengekspresikan Kemarahan Cegah Hipertensi</title><content type='html'>Kapsul&lt;br /&gt;11 September 2009 | 13:40 wib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan terlalu sering memendam amarah. Bila tak kuasa menahan emosi, ekspresikan kemarahan Anda dengan berteriak atau melakukan apapun untuk melepaskan beban. Pasalnya, memendam amarah berakibat buruk bagi kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil temuan terbaru para peneliti dari Carnegie Mellon University di Pittsburgh menunjukkan, marah-marah dalam skala ringan bermanfaat bagi kesehatan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang merespon situasi yang penuh tekanan dengan kemarahan yang sewajarnya terbukti lebih bisa mempertahankan tekanan darah lebih rendah dan melepaskan lebih sedikit cortisol (yang dikenal sebagai hormon stres), dibandingkan partisipan yang merespon dengan rasa takut atau hanya memendam perasaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi sesuatu hal yang tidak menyenangkan dengan amarah yang proporsional membantu Anda mengendalikan diri dan tetap optimistis. Tetapi, jika Anda merespon dengan rasa takut atau memendamnya saja, justru akan memperbanyak produksi hormon cortisol. Jika hal ini berlangsung dalam waktu lama justru bisa memicu penyakit jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam studi tersebut, psikiater Jennifer Lerner mengganggu 92 mahasiswa dengan cara menugasi mereka mengerjakan tes sulit di bawah tekanan. Selama tes berlangsung, Lerner berkali-kali mengubah peraturan. Jika partisipan memberikan jawaban yang salah, maka mereka diminta mengulang kembali dari awal, sehingga membuat mereka frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama proses berlangsung, peneliti menggunakan video camera untuk merekam ekspresi muka para partisipan. Selanjutnya para peneliti akan mengidentifikasi ekspresi yang menunjukkan rasa takut, marah dan muak. Peneliti juga mengukur tekanan darah, detak jantung dan jumlah cortisol yang dilepaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi menemukan, mereka yang menunjukkan ekspresi wajah ketakutan selama mengikuti tes memiliki tekanan darah dan kadar hormon cortisol yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang merespon situsi penuh tekanan tersebut dengan kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah jika selama ini Anda termasuk orang yang selalu berusaha meredam amarah dan bertingkah sekalem mungkin, tidak ada salahnya mulai meluapkan emosi dengan marah-marah. Selain membuat Anda merasa lebih baik, juga bagus untuk kesehatan tubuh.&lt;br /&gt;(MHS/dila)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-5352776577333868520?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/5352776577333868520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=5352776577333868520' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5352776577333868520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5352776577333868520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/mengekspresikan-kemarahan-cegah.html' title='Mengekspresikan Kemarahan Cegah Hipertensi'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-3406496086913258708</id><published>2009-09-02T12:59:00.001-07:00</published><updated>2009-09-02T12:59:39.366-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH BIJAK'/><title type='text'>Bosan Hidup</title><content type='html'>Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru ngaji, “Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ustad pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian ujar sang Ustad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang Ustad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustad edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?&lt;br /&gt;” Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya. Sesampainya dirumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang ustad pun berkata “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini……&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-3406496086913258708?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/3406496086913258708/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=3406496086913258708' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/3406496086913258708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/3406496086913258708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/bosan-hidup.html' title='Bosan Hidup'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-6274968640915999409</id><published>2009-09-02T12:47:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T12:48:27.833-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH BIJAK'/><title type='text'>Kisah Tsabit Bin Ibrahim</title><content type='html'>Posted on Februari 4, 2009 by sigit setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, “Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”. Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”. Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !” Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !” Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !” Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum….” Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya. Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ? Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya……Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIarsipkan di bawah: Cerita Islam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-6274968640915999409?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/6274968640915999409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=6274968640915999409' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/6274968640915999409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/6274968640915999409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/kisah-tsabit-bin-ibrahim.html' title='Kisah Tsabit Bin Ibrahim'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-5693202852389863597</id><published>2009-09-01T13:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T13:35:32.830-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH BIJAK'/><title type='text'>Calon Raja</title><content type='html'>Pada suatu hari di jaman dulu, hidup seorang raja yang sudah tua. Umurnya kira-kira 75 tahun. Raja itu memang memiliki banyak isteri, namun tidak ada satupun dari istri-istrinya  mampu memberinya keturunan untuk meneruskan dinasti kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal saat itu raja sudah lelah, ia ingin segera beristirahat dari tahtanya. Akhirnya sang raja memutuskan untuk memilih salah satu dari anak muda di kerajaan untuk meneruskan tahtanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja segera mengeluarkan pengumuman kepada seluruh pemuda di kerajaannya untuk berkumpul di halaman istana untuk dipilih menjadi raja. Sekonyong-konyong ratusan anak muda langsung berkumpul di halaman istana tersebut. Tak terkecuali Ali, pemuda itu juga turut berdiri berdesak-desakan diantara pemuda lain untuk mengikuti kompetisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan memilih salah satu dari kalian untuk menjadi penggantiku !”. Raja berseru.&lt;br /&gt;“Tetapi sebelumnya, aku akan menilai kalian semua, aku akan membagi kepada kalian satu buah biji per orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin kalian menanam dan merawat biji itu selama satu tahun, dan bawalah kembali padaku, aku ingin tahu apa yang dapat kalian tumbuhkan dari biji itu.” Raja melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya mereka yang mampu menumbuhkan tanaman terbaiklah yang akan aku pilih sebagai raja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkata demikian, para punggawa kerajaan segera membagi-bagikan biji itu kesemua pemuda yang hadir. Ali juga mendapat satu buah biji, dan segera pulang untuk menanam biji itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berkata dengan bangga pada ibunya bahwa ia telah turut serta dalam kompetisi itu, dan ibunya pun juga terlihat sangat menyetujui keputusan anaknya itu. Ali lalu mengambil sebuah pot yang tidak terpakai di belakang rumah, memberinya tanah tersubur, lalu membenamkan biji itu ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hari, Ali dan ibunya menyirami pot itu. beberapa minggu kemudian Ali pergi ke rumah teman-temannya untuk melihat biji yang ditanam oleh mereka. Ali melihat biji milik teman-temannya mulai tumbuh, bahkan ada yang sudah mengeluarkan beberapa lembar daun. Berbeda dengan biji milik Ali, biji itu belum tumbuh sama sekali, walaupun sudah ditanam selama 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan telah berlalu, dan keadaan di pot milik Ali tidak berubah. Biji itu belum tumbuh sama sekali. Tetapi Ali tidak menyerah, ia tetap merawat pot itu dengan menyiraminya tiap hari. Teman-teman Ali pun mulai mengetahui hal tersebut, dan mereka mulai mentertawakan Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya satu tahun pun berlalu. Seluruh pemuda yang mengikuti kompetisi itu pun datang beramai-ramai ke halaman istana. Mereka masing-masing membawa tanaman di dalam pot. Sangat indah dan subur tanaman-tanaman mereka, bahkan beberapa diantaranya telah berbunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi berbeda dengan milik Ali, potnya tidak berubah. Tidak ada apapun yang tumbuh di pot itu. Ali pun mulai putus asa, dan mengambil keputusan untuk tidak kembali menghadap raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan begitu nak.” Kata ibunya, “Kamu sudah berniat mengikuti kompetisi itu, sudah selayaknya kamu juga menyelesaikannya, tidak masalah jika pot itu masih kosong, toh raja juga tidak akan menghukum kamu kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai bujuk rayu dari ibunya, akhirnya Ali bersedia membawa pot yang cuma berisi tanah itu menghadap raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan, para pemuda mentertawainya. Tetapi Ali mencoba cuek ‘n jalan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ratusan pemuda itu semua telah berkumpul di halaman istana. Raja segera turun dari singgasananya dan mencoba memeriksa pot-pot yang dibawa pemuda itu satu per satu. Raja itu berjalan hilir mudik di antara pot-pot yang dipegang oleh para pemuda itu beberapa kali, seolah-olah sedang mencari sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya raja berdiri tepat di hadapan Ali. Ali gemetaran, karena dia memang belum pernah berhadapan dengan raja sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa namamu? dan ada apa dengan potmu, kenapa tidak ada tanamannya sama sekali?” Tanya sang raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf baginda.” Ali menjawab, “Nama saya Ali. Hamba sudah berusaha, tetapi kenyataannya memang begini, bibit ini tidak mau tumbuh sama sekali, padahal saya sudah menyiraminya tiap hari.” Para pemuda di sekitarnya saling tertawa cekikikan mendengar jawaban Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo begitu, kamu maju ke depan dengan saya!” Perintah sang raja. Sambil ketakutan karena khawatir dihukum, Ali maju ke depan beriringan dengan sang raja. Para pemuda sekitarnya masih tertawa cekikikan melihat wajah Ali yang pucat bagai mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku umumkan kepada kalian semua..” Raja berseru di depan ratusan pemuda itu. “Aku umumkan bahwa mulai besok pagi, seorang pemuda - yang bernama Ali - yang saat ini berdiri disampingku - akan menggantikan kedudukanku menjadi Raja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pemuda itu heran, terutama Ali sendiri, ia kaget setengah mati mendengar keputusan sang raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tahu kenapa?” Raja melanjutkan, “Satu tahun yang lalu aku sebenarnya hanya memberi sebuah biji mandul kepada masing-masing kalian. Semua biji itu sudah dipotong bakal tunasnya oleh seorang pengawalku, sehingga tidak mungkin dapat tumbuh menjadi sebatang pohon. Sehingga saya menarik kesimpulan, bahwa apa yang kalian bawa ke hadapanku itu bukanlah tanaman yang tumbuh dari biji yang aku berikan. Kalian semua telah menukarnya dengan biji lain agar bisa  tumbuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecuali dengan anak muda ini.” Raja berkata dengan tersenyum bangga. “Ali telah berani jujur padaku, ia berani mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi, sekalipun ia tahu betul bahwa itu akan sangat memalukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang jujur seperti inilah yang aku butuhkan untuk melanjutkan cita-citaku untuk membangun kerajaan ini …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: sebuah cerita dari timur jauh yang termuat di buku “About Leadership” oleh Kyoto M,  author unknown)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;——————————————————————————–&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-5693202852389863597?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/5693202852389863597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=5693202852389863597' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5693202852389863597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5693202852389863597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/calon-raja.html' title='Calon Raja'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-5740104053565503027</id><published>2009-09-01T13:20:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T13:21:02.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH BIJAK'/><title type='text'>Paku</title><content type='html'>PakuPada suatu ketika, hidup seorang anak yang sangat pemarah. Hal-hal sepele bisa menjadikannya naik pitam. Tapi beruntung bagi anak itu, ia memiliki seorang bapak yang sangat bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, sang bapak memberikan anak itu sekarung paku. Bapak itu meminta agar anaknya melampiaskan kemarahannya dengan memakukan 1 paku ke tembok belakang rumah. Satu paku untuk setiap satu kali marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama pun dilalui. Hari ini anak itu marah sebanyak 35 kali, maka sebagai konsekwensinya, anak itu harus memasang 35 paku pula di tembok belakang rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari pun berlalu, dan tampaknya terapi ini mulai berjalan lancar. Setiap hari, jumlah paku yang ditanamkan ke tembok itu makin berkurang, dari 35 menjadi 30, menjadi 23 dan seterusnya. Bahkan setelah menginjak hari ke seratus, anak itu sudah sama sekali tidak menanamkan paku ke tembok. Dengan gembira anak itu mengabarkan kepada bapaknya, bahwa sekarang ia lebih dewasa dan dapat mengendalikan emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang bapak langsung memeluk anak itu, dan mengucapkan selamat kepadanya. “Masih ada satu tahap lagi, nak” kata bapak itu. “Mulai sekarang, cabutlah 1 paku dari tembok setiap saat kamu dapat bersabar dan memaafkan orang yang membuatmu marah..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu pun segera menuruti perintah bapaknya. Setiap kali ia dapat bersabar dan memaafkan kesalahan orang, ia mencabut satu paku dari tembok. Hari demi hari pun berlalu, hingga tiba saat dimana ratusan paku di tembok tersebut telah habis dicabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu pun kembali pada bapaknya, dan melaporkan keberhasilannya tersebut. “Kamu telah berhasil nak.. kamu telah menjadi seorang anak yang luar biasa.” Bapak itu melanjutkan, “Tetapi coba amati sekali lagi tembok itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengelus lubang-lubang bekas paku di tembok, bapak itu kembali melanjutkan kata-katanya. “Lihatlah tembok ini, sekalipun kamu sudah mencabut seluruh paku yang ada, tetapi tembok tidak dapat kembali utuh lagi seperti sedia kala, banyak sekali lubang menganga dan retakan di tembok ini.” Bapak itu kemudian melanjutkan, “Setiap kamu melukai orang lain.. selamanya kamu tidak akan dapat menghapuskan luka itu.. sekalipun kamu sudah meminta maaf dan mencabut semua kemarahan dari orang-orang sekitarmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(author unknown, diterjemahkan dari “Maryland”, Robert Gary Lee, 1998)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-5740104053565503027?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/5740104053565503027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=5740104053565503027' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5740104053565503027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/5740104053565503027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/09/paku.html' title='Paku'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-439942134505194765</id><published>2009-08-29T09:12:00.001-07:00</published><updated>2009-08-29T09:12:53.646-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAK'/><title type='text'>OBAT MUJARAB MARAH</title><content type='html'>Oleh: KH.Shohibul Faroji Al-Robbani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia mempunyai benih sifat pemarah. Namun ada “marah karena Allah” (ghodhobullah), dan “marah karena setan” (ghodhobus-syaitan). Apa batasan kriterianya?&lt;br /&gt;GADHAB (baca: ghodhob) secara harfiah memang berarti “marah” atau “pemarah”. Maka, marah dalam pengertian ghodhob bersifat negatif. Tentu saja, sifat pemarah seperti itu dapat membakar jiwa dan menghanguskan akal. Itulah sifat pemarah yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata: Si Fulan marah kepada si Fulanah berilah saya wasiat. Nabi saw bersabda: Janganlah kamu marah, (kemudian) orang itu mengulangi perkataannya beberapa kali. Nabi saw bersabda: Janganlah kamu marah”. (HR. Bukhari, dari Abu Hurairah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah Negatif &amp; Marah Positif&lt;br /&gt;Dalam kaitan hadis di atas, berarti: “si Fulan tidak sayang kepada si Fulanah”? Tidak. Dalam konteks ini kita harus memahami motif di balik kemarahan itu. Dengan demikian kita akan tahu pasti sifat marah si Fulan kepada si Fulanah. Apakah kemarahannya masuk kategori positif atau negatif.&lt;br /&gt;Sejarah menunjukkan, para utusan Allah pun pernah marah. Mereka marah saat menyaksikan umatnya tidak mengikuti norma-norma hukum syari’at yang telah ditetapkan Allah. Begitu pun para guru; mereka akan marah kepada murid-muridnya yang tidak patuh. Juga para orang tua, mereka akan marah kepada anak-anaknya yang tidak berbakti dan tidak hormat kepadanya, dst. Itulah sifat marah positif yang diperbolehkan Allah dan RasulNya.&lt;br /&gt;Beda dengan amarah negatif yang bersumber dari nafsu lawwamah. Itu marah negatif. Sifat semacam itu dilarang oleh Allah dan RasulNya. Jadi, marah positif adalah marah karena Allah (ghodhobullah). Sedang marah negatif adalah marah karena syaitan (ghodhobus syaitan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah Karena Allah&lt;br /&gt;Marah karena Allah (ghodhobullah) berarti bahwa “tidak seseorang marah kecuali bila ia melihat kekufuran, kemaksiatan dan berbagai kejahatan lahir dan bathin. Baik muncul dari diri sendiri maupun orang lain (masyarakat)”. Sebab, bila orang marah karena melihat perbuatan keji dan munkar, maka tidak lain yang marah ialah Allah.&lt;br /&gt;Contoh Marah Karena Allah:&lt;br /&gt;1. Marahnya Nabi Hud kepada pembangkangan kaum ‘Aad.&lt;br /&gt;2. Marahnya Nabi Sholeh kepada pembangkangan kaum Tsamud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah Karena Setan&lt;br /&gt;Apa pula yang dimaksud ghodhobus-syaitan (marah karena setan)? Ialah: “Tidak seorang marah melainkan terdorong oleh kebutuhan syahwat duniawi”. Maksudnya ialah marah yang diselimuti kemaksiatan atas dasar hembusan nafsu lawwamah bersifat ghodhob.&lt;br /&gt;Sifat ghodhob itu senantiasa meliputti jiwa orang-orang yang cenderung ingin menguasai sarana kehidupan dunia. Itulah suatu kemaksiatan batin. Sebentuk aniaya bagi dirinya. Dan disebut marah karena setan sebab marahnya tidak berlandaskan norma-norma ajaran Islam.&lt;br /&gt;Setan itu dari bangsa jin. Ada pula yang dari bangsa manusia. Maka jika ada orang marah-marah karena tidak tercukupi urusan syahwatnya, itulah setan dari bangsa manusia yang sedang marah-marah!&lt;br /&gt;Marah sebagai hembusan ghodhob atau sifat nafsu lawwamah tentu merupakan marah negatif. Si pemarah atas dasar nafsu tersebut layak disebut setan. “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan itu dijadikan dari api”, demikian Hadis Nabi. (HR. Ahmad, Abu dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh marah karena setan adalah:&lt;br /&gt;1. Amarah Qabil yang membunuh adiknya,&lt;br /&gt;2. Amarah Fir’aun kepada Nabi Musa&lt;br /&gt;3. Amarah Namrud kepada nabi Ibrahim&lt;br /&gt;4. Amarah Abu Lahab kepada Nabi Muhammad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Pelopor Sifat Ghodob&lt;br /&gt;Sifat ghodhob merupakan benih kejahatan dalam diri manusia. Sifat tersebut tentu amat berbahaya. Bencana akan terjadi di muka bumi jika jiwa didominasi sifat ghodhob. Bahkan dampaknya akan berjejak sampai kehidupan di akhirat.&lt;br /&gt;Sifat pemarah adalah penyakit jiwa. Manusia mendapat warisan sifat itu dari setan, dan setan mendapat warisan dari Iblis -- pelopor sifat ghodhob.&lt;br /&gt;Iblis pernah bersengketa dengan Allah. Pangkal masalahnya: Iblis disuruh bersujud sebagai tanda hormat pada Adam as. Namun Iblis menolak. Bahkan marah-marah di hadapan Allah. Alasannya, dirinya lebih mulia dibanding Adam. Adam dicipta Allah dari tanah, sedang ia dari api.&lt;br /&gt;Amarah Iblis memuncak setelah ia mendapat murka Allah. Iblis pun berjanji akan menyesatkan Adam as dan anak cucunya sampai hari kiamat. Tentu, ajakan sesat Iblis dan pasukannya takkan mempan bagi manusia yang beramal saleh dan ikhlas karena Allah.&lt;br /&gt;“Bukanlah orang yang kuat itu kuat bergulat, (tetapi) sesungguhnya orang yang kuat itu ialah orang yang dapat (mampu) menguasai nafsunya tatkala marah“. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihadul Akbar&lt;br /&gt;Jelaslah, sifat ghodhob amat berbahaya bagi keselamatan jiwa manusia. Terutama bagi akidah. Sebab sifat itu dapat menumbuhkan kemunafikan, kefasikan, dan perbuatan jahat lainnya. Akibatnya, timbullah bencana yang akan merugikan. Bukan saja bagi orang-orang lain, tapi terutama bagi diri sendiri.&lt;br /&gt;Maka, tidak ada satu obat penawar untuk penyakit ghodhob kecuali dengan mandi air ma’fu. Dengan kata lain, jika ada orang dirasa merangsang amarah, segeralah istighfar dan maafkan dia. Dengan memaafkan maka lenyaplah benih amarah dalam diri kita. Itulah kemenangan yang sebenarnya. Yakni kemenangan dalam memerangi hawa nafsu (Jihadul Akbar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Sang Pemaaf&lt;br /&gt;Sejarah menunjukkan, Rasulullah saw adalah Nabi yang dikenal amat pemaaf. Sifat itu tercermin antara lain ketika budak Habtsi membunuh paman beliau, Rasulullah saw tetap memaafkan si budak. Bahkan, tidak sedikit peristiwa yang menimpa Nabi, namun beliau tetap tidak menutup pintu maaf.&lt;br /&gt;Ada peristiwa lain yang sangat mengharukan. Syahdan, suatu hari Rasulullah saw pernah dilempari batu oleh seorang pemuda musyrikin. Akibatnya, mulut beliau berdarah. Bahkan beberapa gigi beliau rontok. Bagaimana sikap beliau? Dengan sabar, beliau tetap saja memaafkan.&lt;br /&gt;Melihat peristiwa itu, keruan para sahabat cemas. Ada juga yang geram. Tak ayal, salah seorang sahabat berkata: ”Ya Rasulullah, engkau adalah Habibullah (kekasih Allah). Jika kau doakan celaka orang itu, maka akan celakah orang itu.” Apa jawaban Rasulullah? ”Aku dibangkitkan ke dunia ini bukan untuk mencelakakan orang lain,” sabda beliau. Bahkan, dengan penuh kesabaran kemudian beliau berdoa: “Allahummaghfir liqaumi fainnahum laa ta’lamun.” (“Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak tahu siapa aku.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat Mujarab: Memaafkan&lt;br /&gt;Sulit memang menghitung kalimat maaf yang telah terlontar dari mulut Nabi saw yang shiddiq. Sifat tersebut tentu juga tak lepas dari bimbingan dan petunjukNya.&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah: “Maka bersabarlah kamu (, hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika berdoa, sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)”. (QS. 68 : 48 )&lt;br /&gt;Maka, sebagai umat Islam, selayaknyalah kita bertauladan pada Rasulullah saw. Kita harus berani memaafkan siapa pun yang berlaku aniaya pada diri kita.&lt;br /&gt;Maka, jika ada amarah terpendam dalam jiwa, hendaknya segera dibersihkan dengan maaf. Jika tidak, amarah itu akan menjadi gumpalan dendam yang berkarat. Jika hati berkarat oleh dendam, maka akan merusak jiwa. Bahkan akan tumbuh menjadi kemunafikan.&lt;br /&gt;Marah adalah dosa yang mengotori jiwa. Agar jiwa selalu suci dan bersih dari noda dan dosa, maka maafkanlah segera orang yang memicu kemarahan kita.&lt;br /&gt;Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa (mampu) menahan marahnya (tatkala timbul marah), Allah akan menahan siksaNya.” Itu berarti, obat paling mujarab untuk menyembuhkan sifat ghodhob (marah) tidak lain ialah: memaafkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6346512695070098568-439942134505194765?l=djohar1962.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djohar1962.blogspot.com/feeds/439942134505194765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6346512695070098568&amp;postID=439942134505194765' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/439942134505194765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6346512695070098568/posts/default/439942134505194765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djohar1962.blogspot.com/2009/08/obat-mujarab-marah.html' title='OBAT MUJARAB MARAH'/><author><name>djohar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11678247372952390738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ewo7LVhNqTM/ShxDsO58pOI/AAAAAAAAABE/nfaVxYHoh2g/S220/Djohar(031).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6346512695070098568.post-4224812311393010551</id><published>2009-08-29T00:29:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T00:31:16.606-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AKHLAK'/><title type='text'></title><content type='html'>* Berita&lt;br /&gt;    * Hiburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Yahoo!&lt;br /&gt;    * Mail&lt;br /&gt;    * Lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Selamat Datang,&lt;br /&gt;    * djohar1962&lt;br /&gt;    * Sign Out&lt;br /&gt;    * Mail Baru&lt;br /&gt;    * Bantuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Bantuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahoo! Mail&lt;br /&gt;Yahoo! CariCari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Mail&lt;br /&gt;    * Kontak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Apa yang baru?&lt;br /&gt;    * Mail di Ponsel&lt;br /&gt;    * Opsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cari Email&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;         1.&lt;br /&gt;            Folder&lt;br /&gt;                o Email Masuk (199)&lt;br /&gt;                o Draft&lt;br /&gt;                o Email Keluar&lt;br /&gt;                o Spam[Kosongkan semua pesan dari folder Spam ]&lt;br /&gt;                o Sampah[Kosongkan semua pesan dari folder Sampah ]&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;      Chat &amp; SMS&lt;br /&gt;      [Sembunyikan]&lt;br /&gt;      Saya Ada&lt;br /&gt;          o&lt;br /&gt;            7 Kontak Online&lt;br /&gt;            [Tambah]&lt;br /&gt;               1. Bukhori KBRI -&lt;br /&gt;               2. Hamid Muhammad -&lt;br /&gt;               3. M Djohar -&lt;br /&gt;               4. PoE de Bimo -&lt;br /&gt;               5. Rofii - sdg tdk di tempat&lt;br /&gt;               6. SILN Masykur Hasan - Tidak Ada Aktivitas&lt;br /&gt;               7. wie haddary - I'm using YMTiny&lt;br /&gt;            Tidak ada di daftar? Chat Baru&lt;br /&gt;          o&lt;br /&gt;            12 Kontak di Ponsel&lt;br /&gt;            [Tambah]&lt;br /&gt;               1. andrew 7188665159&lt;br /&gt;               2. burhan baba +628122159205&lt;br /&gt;               3. Candra 08129902373&lt;br /&gt;               4. Cathy Angklung 08158380750&lt;br /&gt;               5. Hestyani Hassan,SH,MKn +62811893231&lt;br /&gt;               6. lg apa lg apa&lt;br /&gt;               7. lg apa ya ? gmana nilai udah diterjemashlam n dah dilegalisir kbri lg apa ya ? gmana nilai udah diterjemashlam n dah dilegalisir kbri&lt;br /&gt;               8. miftah hidayatullah ti maannajah fil imtiha&lt;br /&gt;               9. Rasyidin +966506507910&lt;br /&gt;              10. Sonny Pwt +62864280738&lt;br /&gt;              11. Sri Wuryanti +66846635403&lt;br /&gt;              12. ZUHRI HALIM +6281226644477&lt;br /&gt;            Tidak ada di daftar? SMS Baru&lt;br /&gt;      Pengaturan&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;         1.&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;            Folder Saya&lt;br /&gt;            [Tambah folder baru - Edit folder]&lt;br /&gt;               1. tidak berjudul&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;      Shortcut Pencarian&lt;br /&gt;          o Foto Saya&lt;br /&gt;          o Lampiran Saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke pesan Sebelumnya | Ke pesan Selanjutnya | Kembali ke Daftar Email&lt;br /&gt;Tandai sebagai Belum Dibaca | Cetak  &lt;br /&gt; Beri bendera pesan ini&lt;br /&gt;Free Hot Article&lt;br /&gt;Sabtu, 29 Agustus, 2009 07:16&lt;br /&gt;Dari:&lt;br /&gt;"Free Hot Articles" &lt;toocool@hotarticle.org&gt;&lt;br /&gt;Tambahkan Pengirim ke Kontak&lt;br /&gt;Kepada:&lt;br /&gt;djohar1962@yahoo.co.id&lt;br /&gt;Free Hot Article&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Shodaqolloohul ‘Azhiim&lt;br /&gt;    * Ulama’ yang Menyesatkan Ummat&lt;br /&gt;    * Agen Barat dan Kaum Penyempal&lt;br /&gt;    * Bintang Petunjuk&lt;br /&gt;    * Pilih yang Asli&lt;br /&gt;    * Menahan Marah&lt;br /&gt;    * Keikhlasan&lt;br /&gt;    * Penghinaan Mereka Terhadap Islam&lt;br /&gt;    * Kemulyaan Kebaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shodaqolloohul ‘Azhiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted: 17 Jul 2009 04:49 PM PDT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. [QS. Ali Imran: 95]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari ayat di atas adalah agar Nabi Muhammad dan ummatnya berkata: “Benarlah Allah akan segala yang Dia beritakan dan Dia syari’atkan dalam Al-Qur`an,” dan agar Nabi Muhammad dan ummatnya mengikuti millah Nabi Ibrahim yang Allah syari’atkan di dalam Al-Qur`an melalui lisan Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya apa yang diberitakan dan disyari’atkan dalam Al-Qur`an itu adalah haqq (benar), tidak ada syak di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” (Benarlah Allah Yang Mahaagung) setelah membaca ayat Al-Qur`an adalah boleh, bahkan dianjurkan. Karena lafazh tersebut adalah suatu pengakuan akan benarnya Allah atas segala yang difirmankan-Nya, atas segala yang diberitakan-Nya dan atas segala yang disyari’atkan-Nya dalam Al-Qur`an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tidak benar sangkaan sebagian orang yang berkata bahwa mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” setelah membaca ayat Al-Qur`an itu adalah bid’ah. Pembid’ahan terhadap hal ini hanyalah terbit dari hati-hati yang keruh yang kurang mengenal syari’at Islam. Pembid’ahan terhadap hal ini hanya terbit dari hati-hati yang tertipu oleh hawa nafsunya yang terus membisikkan dia agar mengikuti segala fatwa keliru guru-gurunya secara buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” setelah membaca ayat Al-Qur`an itu adalah perihal yang baik. Dan Allah memerintahkan kita agar berbuat yang baik. Maka segala yang baik itu adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah melalui firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan… [QS. An-Nahl: 90]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mereka yang membid’ahkan hal ini, anehnya, tidak membid’ahkan ucapan “rodhiyalloohu ‘anhu/’anhaa/’anhum” setelah menyebut nama shahabat. Padahal tak ada perintah untuk mengucapkan itu. Yang ada hanyalah berita dari Allah akan kedudukan mereka melalui firman-Nya seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [QS. At-Taubah: 100]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak ada perintah atau pun contoh dari Rasulullah untuk mengucapkan “rodhiyalloohu ‘anhu/’anhaa/’anhum” setelah menyebut nama shahabat. Nabi hanya berkata: “Yaa Mu’adz!” atau “Yaa ‘Umar!” atau “Yaa ‘A-isyah!”. Namun ihsannya mengucapkan “rodhiyalloohu ‘anhu/’anhaa/’anhum” setelah menyebut nama shahabat memang tak ada yang menyangkal. Karena Allah menyuruh kita untuk berbuat ihsan. Termasuk perkara yang ihsan adalah mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” setelah membaca ayat Al-Qur`an. Termasuk perkara yang ihsan juga adalah melepaskan alas kaki sebelum masuk ke dalam Masjid walau hal ini tak dicontohkan oleh Nabi, bahkan hal itu merupakan kebiasaan Nabi Musa dan ummatnya. Termasuk perkara yang ihsan adalah membukukan Al-Qur`an, walau Nabi tak pernah menyuruhnya. Termasuk perkara yang ihsan adalah membukukan Hadits walau Nabi tak pernah menyuruhnya. Namun semua itu adalah ihsan menurut shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan para ulama shalih yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Dan segala yang ihsan seperti itu cukup didasari ayat, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan… “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama’ yang Menyesatkan Ummat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted: 16 Jul 2009 04:55 PM PDT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku heran dari (perbuatan) orang yang menjual kesesatan dengan petunjuk!&lt;br /&gt;Dan aku lebih heran dari orang yang membeli dunia dengan Agama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kurang lebih ungkapan dua bait syair yang menggambarkan tentang keberadaan dua golongan pengacau da’wah dan perusuh di kalangan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tiada lain adalah para bandit-bandit da’wah, yang zhahirnya berbicara tentang agama tetapi kenyataannya justru jauh memalingkan umat dari agama, mereka tiada lain adalah para calo-calo da’wah yang senantiasa mengabaikan dan menjual prinsip-prinsip agama demi untuk menggapai kelezatan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mereka adalah orang-orang yang telah dinyatakan dalam sabda Rasulullah saw, “Di malam hari saat aku isro’, aku melihat suatu kaum di mana lidah-lidah mereka dipotong dengan guntingan dari api” - atau ia (Rasulullah) berkata, “dari besi. Aku bertanya siapa mereka wahai Jibril? Mereka adalah para khatib-khatib dari umatmu!” (H.R. Abu Ya’la dari sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhuma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah para da’i dan ulama-ulama su’ yang telah Allah beberkan keberadaannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab. Dan mereka mengatakan ia (yang dibacanya itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imron: 78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah juga berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaithon (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al A’raf: 175-176).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw mengistilahkan mereka ulama su’ dengan sebutan “para dai yang berada di tepi pintu-pintu neraka”. Beliau peringatkan kita dari keberadaan mereka sebagaimana dalam sabdanya, “… Dan sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku ialah para ulama-ulama yang menyesatkan.” (H.R. Abu Daud dari sahabat Tsauban ra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sahabat Umar ibnul Khaththab beliau mengistilahkan mereka dengan sebutan “al munafiq al alim”, ketika ditanya maksudnya, beliau menjawab “aliimul lisaan jaahilul qolbi!” (pandai berbicara tetapi bodoh hatinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt dan rasul-Nya tetap akan menjaga agama ini dari upaya penyesatan yang dilakukan oleh para ulama dan dai-dai sesat, sehingga kita dibimbing oleh Allah untuk senantiasa bersikap antipati dari seruan dan fatwa-fatwa mereka. Perhatikanlah peringatan-peringatan Allah berikut ini agar menjauh dan tidak mengikuti fatwa-fatwa mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim yahudi dan rahib-rahib nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.” (Q.S. At Taubah: 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: “Hai orang-orang yang beriman jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang kafir setelah kamu beriman.” (Q.S. Ali Imron: 100).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: “… Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (Q.S. Al Maidah: 49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: “Dan demikianlah kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan yang benar dalam bahasa Arab dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap siksa Allah.” (Q.S. Ar Ra’d: 37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: “Kemudian kami jadikanlah kamu berada suatu syari’at dan urusan agama, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Q.S. Al Jaatsiyah: 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam: “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” (Q.S. Al Baqoroh: 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agen Barat dan Kaum Penyempal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted: 16 Jul 2009 03:33 PM PDT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan bahwa Anda adalah agen CIA bernama Michael yang ditugaskan untuk menyusup ke KGB. Namun Anda tidak ditugaskan untuk menyusup langsung, melainkan Anda ditugaskan merekerut seorang agen KGB yang bisa disetir demi kepentingan CIA dan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael berhasil merekerut Abramovic, seorang agen KGB. Tugas Abramovic adalah membentuk kelompok di dalam KGB yang bekerja mengkritik prosedur-prosedur KGB yang telah baku agar diubah sesuai keinginan CIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abramovic berhasil mendapatkan pengikut yang mendukung pemikirannya. Mengenai kevokalannya dalam menghina Amerika, jangan ditanya. Itu bagian dari instruksi yang diberikan Michael. Sebagai kaki-tangan CIA di KGB, adalah bodoh jika Abramovic membela Amerika. Jika demikian, mudahlah kedok Abramovic terbongkar. Menghina Amerika tak selalu menunjukkan bahwa seseorang itu adalah musuh Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael juga merekerut agen KGB lainnya untuk menguatkan kedudukan Abramovic. Agen tersebut direkerut untuk dijadikan tumbal. Agen yang bodoh. Dia mati demi uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sergei, direkerut untuk mengajarkan hal yang lebih liberal dalam tubuh KGB. Sasaran empuk bagi kelompok Abramovic untuk dieliminasi. Setelah mengeliminasi kelompok Sergei, kelompok Abramovic semakin dikenal sebagai pembenci Amerika sejati. Padahal yang dibunuhnya adalah orang-orang KGB juga. Tidak ada kerugian yang ditanggung Amerika atau pun CIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses membuat kelompok Abramovic di KGB, Michael ditugaskan merekerut agen di Timur Tengah. Direkerutlah pemuda bernama Ibnu Kirdun. Tugasnya mengubah tatanan syari’at Islam yang telah mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah Ibnu Kirdun membuat kelompok gerakan yang mengkafirkan dan memvonis musyrik kepada mereka yang berziaroh ke makam Rasul SAW dan bertawassul di sana. Mulailah kelompok yang disebut Kirduniyah ini menjauhkan ummat Islam dari mencintai Rasul. Mencintai Rasul menjadi sekedar hiasan bibir semata tanpa boleh memuji Rasul. Memuji Rasul dianggapnya syirik. Bahkan kelompok ini telah menumpahkan banyak darah dari kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat kedok Kirduniyah ini hampir terkuak, mulailah mereka memperlihatkan kebencian mereka kepada Amerika. Tetapi tak pernah mereka digerakkan untuk menumpahkan darah tentara Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok seperti Kirduniyah ini, memang ada pada kehidupan nyata. Kita tahu bahwa Ahmedi Nejad terlihat begitu vokal terhadap zionisme. Namun sejarah membuktikan bahwa Syi’ah itu hasil kerja agen zionis kuno, Abdullah bin Saba’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kelompok-kelompok lain juga telah terkuak kedok mereka. Bukan hanya dari sejarah, tetapi juga dari agenda-agenda mereka yang terus merongrong kemapanan syari’at Islam yang telah berlaku sejak masa salafush shalih. Namun para agen ini menggunakan istilah salafush shalih untuk agenda-agenda licik mereka. Mereka menghapus sistem bermadzhab yang benar. Ketika surat-surat yang menunjukkan persekongkolan antara pemimpin mereka dengan para agen Eropa terkuak, para pakar barat pun berusaha keras untuk menutup-nutupi dengan mengatakan bahwa surat-surat itu palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kelompok-kelompok itu ada yang sangat kelihatan wajah aslinya, ada pula yang tersamar dengan baik oleh kedok yang terlihat indah. Maka hindarilah mereka yang telah jelas wajah aslinya. Dan waspadalah terhadap mereka yang tersamar. Adapun mereka yang jelas wajah aslinya, sangat mudah bagi kita untuk memperingatkan masyarakat dari kelompok tersebut. Tidak sesulit memperingatkan masyarakat dari kelompok yang pandai menyamarkan diri. Mengaku ahlus sunnah, padahal mu’tazilah, khawarij, wahhabiyah. Maka dalam hal yang terakhir inilah kerja keras kami lebih ditujukan. Menguak kedok mereka hingga ke akar-akarnya itu penting, di samping menguak kekeliruan mereka dalam aqidah dan syari’ah. Namun ingat, mereka hanyalah boneka. Dalang sesungguhnya adalah Yahudi dan Nashoro. Maka penting pula menanggapi dan membuka kedok dan kekeliruan zionis dan missionaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang Petunjuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted: 14 Jul 2009 01:32 AM PDT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi bintang ketika turun (di waktu fajar), kawanmu (yaitu Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) [QS. An-Najm: 1-4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia. [QS. Al-Waqi'ah: 75]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian mufassir menafsirkan “An-Najm” (bintang) dalam ayat-ayat di atas sebagai Al-Qur`an. Dan sebagian lainnya menafsirkannya sebagai Nabi Muhammad. “An-Najmu idzaa Hawaa” dapat bermakna “Demi Al-Qur`an ketika diturunkan,” atau “Demi Nabi Muhammad ketika diutus”. Kita semua tahu bahwa bintang itu ‘terbenam’ atau ‘turun’ ketika fajar. Dan Nabi Muhammad pun lahir ketika fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun “Mawaqi’in Nujuum” dapat bermakna “Tempat diturunkannya ayat-ayat Al-Qur`an” atau tempat awal Nabi Muhammad mengajarkan risalah-risalahnya, yaitu Makkah dan Madinah. Kedua kota ini adalah kota suci yang tidak akan dimasuki oleh Dajjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Al-Qur`an atau Nabi Muhammad dikiaskan dengan “Bintang”? Karena, jika kita tengah berjalan di malam yang gelap gulita, baik itu di darat mau pun di laut, dan kita tidak tahu arah selatan atau pun utara, tidak tahu barat mau pun timur, maka yang kita butuhkan adalah petunjuk dari letak bintang-bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. [QS. An-Nahl: 16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. [QS. Al-An'am: 97]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur`an dan Nabi Muhammad adalah bintang yang kita butuhkan ketika kita tengah berada dalam zhulumat, kegelapan hati, ketika kita tak tahu lagi mana jalan yang lurus. Ketika kita tengah diliputi oleh kezhaliman dan kegelapan dosa, yang kita butuhkan adalah petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yaitu Al-Qur`an dan sunnah beliau SAW. Jalan beliau SAW adalah jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus. [QS. Yaa Siin: 3-4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka barangsiapa mengikuti thoriqotun Nabi, jalannya sang Nabi, sunnah sang Nabi, maka dia berada pada jalan yang lurus, jalan yang selamat. Inilah jalannya ahlus sunnah wal jama’ah. Adapun mereka yang menolak dan menafi’kan sunnah sang Nabi, maka mereka adalah orang-orang yang tak ingin masuk ke dalam surga. Barangsiapa tak ingin masuk surga, maka dia tak dapat berjumpa dengan Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang dalam kelembutan-Nya yang agung. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang benar-benar mengikuti sunnah sang Nabi dan terhindar dari sunnah-sunnah ummat-ummat terdahulu yang dimurkai Allah dan sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, ya Rohman, ya Rohim, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orangtua kami. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih yang Asli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted: 13 Jul 2009 02:23 PM PDT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang Kristen percaya bahwa Alkitab memang karangan manusia. Tidak ada yang menyangkal ini. Namun tidak semua Kristiani rela untuk berkata bahwa Alkitab itu tidak otentik walau telah banyak pakar Alkitab menyatakan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar Alkitab dari luar negeri dan juga dari dalam negeri, bahkan Lembaga Alkitab Indonesia, telah mengakui bahwa Alkitab yang ada saat ini pasti berbeda dengan Alkitab pada masa awal. Ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Alkitab tidaklah otentik. Bahkan Alkitab pada masa awal juga dikarang oleh manusia yang bisa saja salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini jauh berbeda dengan Al-Qur`an yang memang wahyu dari Allah dan terjaga keasliannya. Walau sebagian manusia mengatakan bahwa Al-Qur`an itu hanyalah karangan Nabi Muhammad, namun pernyataan itu tidak timbul kecuali dari rasa benci mereka dan bukan dari penelitian yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang benar-benar meneliti Al-Qur`an akan melihat bahwa Al-Qur`an tidak mengalami pengeditan, pengubahan, pengurangan, penambahan, dan pengubahan lainnya. Al-Qur`an yang ada saat ini sama dengan Al-Qur`an yang diterima oleh Nabi Muhammad dari Allah SWT dan diajarkan kepada para shahabatnya. Orang yang jujur juga akan mengakui bahwa Al-Qur`an tidak memuat kontradiksi dan bahkan Al-Qur`an sangat sesuai dengan ilmu pengetahuan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Dr. Welter Lempp menyatakan, “Susunan semesta alam yang diuraikan dalam Kitab Kejadian pasal I tidak dapat dibenarkan lagi oleh ilmu pengetahuan modern. Pandangan kitab Kejadian pasal I dan seluruh Alkitab tentang susunan semesta alam adalah berdasarkan ilmu kosmografi bangsa Babel. Pandangan itu sudah ketinggalan zaman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Dr. R. Soedarmo menyatakan, “Dengan memandang bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan.” (Ikhtisar Dogamtika, BPK Jakarta, 1965 hal. 47).&lt;br /&gt;Dr. R. Soedarmo juga menyatakan, “Di dalam Perjanjian Baru pun ada kitab-kitab yang diragukan antara lain Surat Wahyu dan Yakobus yang disebut surat Jeram” (Ikhtisar Dogmatika, BPK Jakarta, 1965 hal. 49)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melihat semua hasil penelitian para pakar, masihkah kita akan lebih mengunggulkan Alkitab dari Al-Qur`an? Mungkin Kristiani masih berkata bahwa Nabi Muhammad adalah pengarang Al-Qur`an. Tetapi Alkitab mereka juga karangan manusia. Namun keunggulan Al-Qur`an adalah keotentikannya dan kesesuaian ayat-ayatnya serta relevansinya dengan imu pengetahuan modern. Dengan menyatakan bahwa Al-Qur`an itu karangan Nabi Muhammad, berarti mereka mengakui bahwa Nabi Muhammad lebih jenius daripada para pengarang Alkitab. Padahal para pengarang Alkitab itu jumlahnya banyak dan punya pengalaman ratusan tahun. Namun dapat dikalahkan oleh Nabi Muhammad yang tidak bisa baca-tulis, yang artinya beliau terputus dari informasi ratusan tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang (kualitasnya) semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. [QS. Al-Baqoroh: 23-24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peliharalah dirimu dengan beriman kepada Allah, kepada Al-Qur`an dan kepada Nabi Muhammad. Bersaksilah bahwa tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah. Akuilah bahwa Al-Qur`an itu memang firman Allah yang suci. Bersaksilah bahwa Nabi Muhammad memang utusan Allah. Maka bagimu surga yang mengalir sungai-sungai yang indah di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menahan Marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted: 07 Jul 2009 03:36 PM PDT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Mrah itu bara api maka siapa yang merasakan demikian, jika ia sedang berdiri makan hendaklah duduk, bila ia sedang duduk hendaklah bersandar (berbaring).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Awaslah kamu dari marah-marah, kerana marah itu bererti menyalakan api dalam kalbu anak Adam, tidakkah kamu melihat seseorang yang marah itu merah matanya dan tegang urat-uarat lehernya, kerana itu bila seseorang merasakan yang demikian hendaklah berbaring dan meletakkan badannya ditanah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ada diantara kamu orang yang lekas marah tetapi juga lekas reda, maka ini seimbang dan ada yang lambat marah dan lambat sembuh (reda), ini juga seimbang, dan sebaik-baik kamu lambat marah dan cepat re;a. dan sejahat-jahat kamu yang cepat marah dan lambat sembuhnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Umamah Albahili r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang dapat menahan marah padahal ia dapat (kuasa) untuk memuaskan marahnya itu, tetapi tidak dipuaskan bahkan tetap ditahan/disabarkan, maka Allah s.w.t. mengisi hatinya dengan keridhoan pada hari kiamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercantum dalam Injil: “Hai anak Adam,ingatlah kepadaKu ketika kau marah, nescaya Aku ingat kepadamu diwaktu Aku marah (Yakni akan dirahmati oleh Allah s.w.t.) Dan relakan hatimu dengan pembelaanKu kepadamu, sebab pembelaanKu kepadamu lebih baik dari pembelaanmu terhadap dirimu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz berkara kepada orang yang telah memarahkannya: “Andaikan engkau tidak membikin marahku, nescaya sudah saya beri hukuman.” Yakni Umar ingin menurut kepada unjuran Allah s.w.t. didalam ayat yang berbunyi: “Walkaa dziminal ghaidha.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang dapat menahan marah.” kerana itu, ketika ia mendapat kesempatan untuk menahan maka langsung dipergunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz melihat seorang yang mabuk, maka ketika akan ditangkap untuk dihumkum dera, tiba-tiba dimaki oleh orang yang mabuk itu, maka Umar kembali tidak jadi menghukum dera, dan ketika ditanya: “Ya Amirul mukminin, mengapakah setelah ia memaki kepadamu tiba-tiba engk
